The School of Rock _Budaya Pop

April 1, 2010 nezzasalsabila

The School of Rock (sekuel film komedi musical)

Dewey Finn (Jeff Black), yang bercita-cita menjadi bintang rock, dipecat dari bandnya. Akibatnya, ia harus menghadapi setumpuk utang dan depresi. Ia kemudian mengambil pekerjaan sebagai guru pengganti pada sebuah sekolah swasta. Ternyata, kehadirannya membawa pengaruh besar bagi perilaku murid-murid di sana.

Seperti dikutip Showbizspy, Selasa (15/7/2008), dalam School Of Rock 2: America Rocks, ceritanya akan tetap berfokus pada Finn yang kali ini mengajak murid-murid sekolah musim panasnya melakukan perjalanan lintas Amerika untuk menemukan sejarah rock, rap, blues, dan country.

Tak hanya Black saja, sutradara Richard Linklater dan produser Scott Rudin juga kembali turut serta dalam proyek tersebut.

Film School Of Rock pertama yang dirilis 2003 lalu itu berhasil masuk box office dengan meraih keuntungan USD30 Juta atau setara dengan 15 Juta poundsterling dan meraih USD131 Juta atau sebanding dengan 65,5 Juta poundsterling di seluruh dunia.

Budaya Pop (al-tsaqofah al-sya’biyyah: budaya kerakyatan)

Popular itu sesuatu yang berkaitan dengan orang kebanyakan atau manusia pada umumnya (common people).

Culture atau budaya merupakan produk pemikiran dan pemahaman manusia yang kemudian menjadi ways of life yang bergulir dari generasi ke generasi selanjutnya. Produk pemikiran ini kemudian diterjemahkan dalam bentuk simbol-simbol dan kode (tanda), misalnya saja, kode berprilaku, berpakaian, berbahasa, beragama dan ritual-ritual (upacara) lainnya.

Karena culture ini merupakan produk pemikiran panjang manusia, maka disana ada banyak culture, karena sejatinya pikiran manusia dengan kondisi dan lingkngan tertentu akan berbeda dengan pikiran manusia lainnya dengan kondisi dan lingkungan yang juga punya ciri khas tersendiri juga.

Ada keterkaitan erat antara popular culture dengan commercial culture (budaya komersil). Sesuatu sengaja diproduksi untuk konsumsi yang sifatnya massal (common people). Bisa dikatakan bahwa sesuatu itu diproduksi hanya berlandaskan keinginan pasar saja. Dengan demikian, hipotesa saya bahwa budaya pop hanya akan terjadi manakala keinginan pasar menjadi perhatian sentral. Singkatnya, ada selera mainstream di tengah-tengah masyarakat.

Secara sederhana, budaya populer-lebih sering disebut dengan budaya pop- adalah apapun yang terjadi di sekeliling kita setiap harinya. Apakah itu pakaian, film, musik, makanan, semuanya termasuk dalam bagian dari kebudayaan populer. Baik, sebelum kita lanjut lebih jauh, mari kita bahas definisinya satu persatu. Definisi dari popular/populer adalah diterima oleh banyak orang, disukai atau disetujui oleh masyarakat banyak. Sedangkan definisi budaya adalah satu pola yang merupakan kesatuan dari pengetahuan, kepercayaan serta kebiasaan yang tergantung kepada kemampuan manusia untuk belajar dan menyebarkannya ke generasi selanjutnya. Selain itu, budaya juga dapat diartikan sebagai kebiasaan dari kepercayaan, tatanan sosial dan kebiasaan dari kelompok ras, kepercayaan atau kelompok sosial.

Jadi, dapat didefiniskan kebudayaan pop adalah satu kebiasaan yang diterima oleh kelompok-kelompok sosial yang terus berganti/berkembang di setiap generasi

Popular culture itu sangat erat kaitannya dengan institusi bernama media, yakni media massa (mass media). Jika berfikir media, saya langsung punya persepsi kuat bahwa media itu tak bisa hidup tanpa iklan. Jika media melemparkan pesan ketengah-tengah masyarakat (audience) melalui televisi misalnya dan kemudian masyarakat luas menyukainya, maka pesan itupun akan diperbanyak produksinya. Makin tinggi pesan itu disukai khalayak audience, makin besar pula keinginan pengiklan untuk memasang iklan pada pesan tersebut, dan itu artinya makin besar pula suntikan nyawa buat media itu sendiri.

Jika pesan yang kemudian disukai khalayak ramai itu adalah berupa entertaintment, gossip, kisah hidup selebritis, bahkan film-film yang beraroma kekerasan, supersiti, dan agresi, maka itulah gambaran atau cermin budaya yang ada ditengah-tengah masyarakat.

Anak kecil yang sering menonton film yang berbau “kekerasan” maka ia akan terpola untuk menyelesaikan masalah dengan cara kekerasan pula, karena aroma kekerasan dalam film yang dia tonton akan menjadi sumber inspirasi buat dirinya. Bukan tidak mungkin, kekerasan ini akan menjadi bagian dari karakter dirinya. Bahaya juga kan !!!

Sesungguhnya pembahasan tentang budaya pop ini bisa merembet pula pada budaya konsumerisme, budaya dimana keseriuasan makin deficit, budaya dimana aspek hiburan menjadi kiblat dan bahkan agama baru, dan itu terjadi di zaman yang dijuluki modern ini.

Di samping produk-produk budaya pop sudah menggejala di bumi nuasantara ini, ternyata ramadhan pun saat ini sudah menjadi bagian dari budaya pop. Tidak hanya orang Islam aja yang memanfaatkannya, tapi non muslim juga. “Yang jualan kolak gak hanya orang Islam, tapi non-muslim juga. Inilah budaya pop,” papar penulis yang memiliki nama asli Ridho Al-Hamdi.

Tetapi yang jelas, budaya pop akan terus berkembang atau berganti dari setiap generasi. Kita bisa lihat perkembangannya, mari kita ambil Indonesia sebagai contohnya. Dari masa ’70-an hingga saat ini, budaya pop terus berganti seiring dengan perubahan generasi.

Bagaimana budaya pop bisa berkembang?Banyak hal yang bisa mempengaruhi perkembangan budaya pop di tengah masyarakat. Dari penelitian yang dilakukan oleh salah satu sekolah di Kanada, terdapat beberapa hal yang dapat mempengaruhi, antara lain: (1) Hiburan: nonton tv, bioskop, makan (2) Fashion: HP, anting, tattoo, motor, mobil, (3) Musik (4) Tempat nongkrong: mall, café (5) Olahraga: Baseball, bawling.

Remaja dan Budaya Pop

REMAJA adalah kelompok yang berjuang untuk menentukan identitas diri mereka yang

bersifat unik dalam hubungan antara dirinya dengan keluarga, komunitas kelompok sebaya, dan kelompok-kelompok lainnya yang lebih luas.

Periode perkembangan remaja sebagai periode yang bersifat tradisional, yaitu transisi antara masa anak dan masa dewasa, biasanya memiliki suatu budaya sebaya yang khas remaja.

Kehidupan sosial remaja berkembang lebih luas ke arah independensi dari pengaruh orangtua. Remaja sangat rentan atau mudah terpengaruh oleh tekanan social untuk berperilaku sama dengan teman-temannya.

Fenomena kebudayaan pop masuk tahun 70-an. Tandanya, industrialisasi barang-barang budaya seperti makanan, pakaian dan kesenian. Kebudayaan yang bercirikan global ini membawa paradigma konsumerisme.

Peranan media komunikasi sangat besar. Media sangat efektif sebagai pembentuk semangat konsumerisme masyarakat sekaligus alat dari produsen untuk memanipulasi kesadaran konsumen.

Mereka yang lahir tahun 80-an dan 90-an, saat ini telah menjadi remaja, pemuda, siswa sekolah menengah dan mahasiswa, hidup dalam hujan deras kebudayaan pop, terutama yang hidup di kota-kota besar.

Generasi itu hidup dalam multikulturalisme dan pluralisme nilai. Gaya hidup mereka adalah gaya hidup global, sehingga kerap sekali kehilangan identitas ketika harus merumuskan keindonesiaan.

Budaya pop adalah budaya yang ringan, menyenangkan, trendi dan cepat berganti. Kita bisa lihat bagaimana teman-teman remaja kita saat gandrung dengan tren yang muncul saat ini. Cepat sekali nyambungnya. Sudah tidak lagi berpikir tentang untung-rugi.

Ketika beberapa tahun lalu di AS sedang heboh Harry Potter, maka di sini juga wajib ikutan heboh. Begitu pula sekarang yang lagi ngetren Twillight, kurang seru kalau cuma diam saja. Semua serentak membahas tentang cerita vampir yang sedang jatuh cinta ini.

Memang tidak semua globalisasi itu buruk. Ada pula yang baik, namun mengapa yang buruk dan jelek cepat sekali menularnya. Budaya pop kerap dipopulerkan oleh selebriti lewat musik, film, iklan dan sinetron.

Kita sekarang butuh penguatan pondasi nilai suatu masyarakat kebudayaan pada remaja diperlukan. Ini diperlukan supaya para remaja tidak secara mentah terjebak ke dalam nilai-nilai budaya populer yang didominasi oleh budaya Barat.

Dalam upaya remaja mencapai kedewasaan diperlukan keseimbangan integratif antara nilai-nilai yang diwariskan oleh generasi sebelumnya dan perubahan kreatif yang dibutuhkan agar mereka dapat terus hidup dalam konteks tuntutan di zaman mereka.

Pop culture alias budaya populer memang selalu menarik untuk dikaji. Bagaimana tidak, jika ditelaah dengan pengamatan yang mendalam, keberadaan budaya populer bisa jadi merupakan refleksi dari keberadaan peradaban manusia itu sendiri, pada waktu itu. Dalam artian, jika ingin melihat fenomena yang sedang terjadi cukup amati melalui budaya yang tengah berkembang.

Namun di lain pihak, keberadaan budaya populer sering dianggap sebagai sebuah kewajaran. Maksudnya, apapun fenomena yang tengah berlaku dalam masyarakat cenderung dianggap hanya sebagai dampak dari perkembangan masa. Maka dari itu, nilai lebih dari sebuah budaya populer sering terabaikan.

Jika diamati lebih dalam, segala bentuk perkembangan dapat saja dikategorikan sebagai budaya populer. Perkembangan musik, misalnya, merupakan salah satu contoh yang paling dekat. Yang menarik dari kasus ini adalah bahwa ternyata musik dinilai sebagai hal yang dianggap dekat dengan remaja, dan disisi lain, remaja merupakan suatu bahasan yang selalu mengundang ransangan untuk selalu ditelaah.

(Perkembangan music): terutama pada lirik akhir-akhir ini, jika diamati lebih detil, memberikan satu benang merah yang bisa dicatat dan dianalisa. Pada lirik lagu saat ini ditemukan sebuah kelugasan. Semua hal yang ingin disampaikan lagu tersebut dirancang sedemikian rupa agar mudah di pahami hanya dengan sekali dengar. Dan fenomenanya, justru pada saat ini, lagu dengan lirik terbuka seperti itulah yang diterima oleh kalangan remaja.

Temanya pun tak terlalu jauh dari lagu-lagu lainnya yaitu cinta. Namun cinta yang diangkat dalam lirik lagu remaja saat ini adalah cinta yang dikhianati atau merupakan wujud dari cinta segitiga. Sebut saja ketahuan, Lelaki Cadangan, Dirimu Dirinya, Lelaki Buaya Darat dan lagu lain dengan tema yang sejenis. Semua makna yang ingin disampaikan diatur selugas mungkin.

Jika dilogikakan, tak ada yang salah dengan lagu dan lirik-lirik tersebut. Hanya saja seharusnya fenomena tersebut dapat ditanggapi sebagai refleksi dan dijadikan sebagai sarana acuan untuk menilai masyarakat terutama remaja.

Lirik yang lugas dan digemari remaja bisa jadi merupakan refleksi dari remaja itu sendiri. Maksudnya, lirik yang lugas merupakan perlambang dari sesuatu yang instan, tak perlu cernaan dan dapat di “makan” semaunya. Fenomena ini tampaknya memperjelas kecenderungan remaja saat ini yang lebih memilih gaya hidup konsumtif. Remaja tanpa berpikir panjang akan berlaku sekehendaknya sehingga jika dibawakan ke ekonomi mereka adalah makanan empuk para produsen.

Tak hanya mengacu dari lirik, kehidupan konsumtif remaja dengan sangat jelas dapat dilihat dalam kehidupan nyata. Mereka cenderung mengkonsumsi sesuatu yang bersifat instan. Jangankan untuk membelanjakan sesuatu, bahkan untuk mendapatkan sesuatu dari -sebut saja- orang tua, mereka lebih memilih instan. Ini harus ada, itu harus punya, bagaimanpun caranya. Makanya tidak salah, jika para pembuat lagu membaca fenomena ini dan menyajikannya dalam bentuk lirik yang juga instan, mudah dicerna, mudah diterima dan, yang penting, sangat me-remaja.

Di sisi lain, lirik instan dan remaja bisa juga dilihat dari perspektif lain. Lirik yang berkembang saat ini (yang bertemakan cinta segitiga, selingkuh dan semacamnya) jika benar merupakan refleksi remaja, maka akan menimbulkan pertanyaan besar jika dikaitkan dengan budaya yang selama ini dianut: budaya Minangkabau, misalnya.

Dalam budaya Minang ditemukan bahwa, secara tidak langsung, dianggap hubungan yang terjadi antara dua anak manusia yang berlainan jenis kelamin merupakan suatu hal yang dianggap kurang enak dipandang mata, bahkan bisa jadi dianggap tabu. Jika terdapat hubungan seperti di atas, maka pastilah mereka yang menjalaninya akan sembunyi-sembunyi, jangan sampai ketahuan oleh orang banyak apalagi oleh mamak. Layaknya seperti itu.

Namun jika ditilik dari lirik lagu yang sedang berkembang, maka rasa malu untuk berhubungan dengan lawan jenis sudah pudar. Jangankan untuk menjalani hubungan biasa, bahkan untuk berselingkuh pun diekspos dengan semaunya. Dan anehnya, lirik seperti itulah yang tengah laku di pasaran.

Pertanyaan yang muncul adalah, jika benar budaya populer merupakan refleksi dari kehidupan nyata yang sedang berlangsung, apakah ini merupakan gambaran dari kemerosotan remaja? Apakah fenomena ini menyimbolkan dekadensi moral?

(Film): Bagi remaja, tampil gaul dan ngetren adalah fardhu. Nah, budaya pop yang lagi ngetren saat ini adalah tentang pergaulan, cinta, dan fenomena bintang idola. Maka nggak heran dong kalo film-film dan nyanyian bertema pergaulan remaja laris manis diserbu penggemarnya.

Sobat muda muslim, terus terang aja kita prihatin dengan fenomena ini. Kita, remaja muslim, yang seharusnya mewarnai kehidupan ini dengan Islam, ternyata banyak di antara kita yang justru mewarnai kehidupannya dengan gaya hidup di luar Islam. Pacaran, seks bebas, juga narkoba. Menyakitkan sekali. Sebab, kita nyaris sudah tak punya lagi harga diri dan citra diri sebagai remaja muslim. Apa sekarang harga diri dan citra diri islami bukan lagi kebanggaan setiap remaja muslim? Rasanya nyesek banget kalo jawabannya “iya”. Itu artinya kita udah kalah perang. Meski masih hidup, tapi seperti kata Bung Ebiet G. Ade, kita itu seperti mati dalam hidup. Kebayang nggak sih, walah?

Iya dong. Sebab, udah nggak punya lagi identitas diri yang bisa dijadiin sebagai ukuran keberadaan dan kebanggaan seorang muslim. Celaka banget kan? Itu dia, yang bikin kita-kita ketar-ketir nyaksiin tingkah sebagai besar teman-teman remaja muslim. Kalo dibiarkan, bisa tambah ruwet sayang. Suer, apa nggak ada teladan Islam yang bisa dijadikan contoh?

Padahal, kita adalah umat yang mulia. Bahkan Allah telah meridhoi Islam sebagai agama kita. Nggak layak dong kalo berbuat seperti mereka-mereka yang telah dihinakan oleh Allah Swt. Firman Allah Swt.:

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (TQS al-Midah [5]: 3)

Jangan latah!

Derasnya arus informasi yang datang silih berganti bagai gelombang ini, bukan tak mungkin bakal menghadirkan petaka. Akibat yang sudah jelas kentara adalah sebagian dari kita hanyut terbawa budaya yang mendominasi kehidupan kita. Seluruh aktivitas yang kita lakukan, adalah wujud dari perilaku pembawa budaya tersebut. Raga boleh berbeda, tapi pikiran bisa sama dengan pikiran para pengusung budaya pop Barat. Nama bisa islami, tapi sayang jiwanya udah sesuai dengan gaya hidup yang dijajakan Barat. Jangan sampe deh. Naudzu billahi min dzalik!

Bener sobat, meski dalam contoh kasus adalah film Korea, India, CIna, Amerika pun sinetron lokal, tapi nggak ada bedanya dengan film-film buatan Hollywood. Yakni menjajakan gaya hidup sekularisme, khas ideologi kapitalisme. Bertentangan dengan Islam? Jelas dong.

Budaya yang dibangun dari sebuah kerusakan, maka hasilnya juga nggak jauh-jauh amat dari kerusakan. Budaya percintaan dan pergaulan bebas remaja yang ditampilkan dalam Meteor Garden dan juga termasuk dalam Siapa Takut Jatuh Cinta adalah jiplakan asli dari gaya hidup Amrik. Bener lho. Dan yang menggandrunginya saat ini adalah remaja Islam. Menyedihkan banget, sobat.

Sobat muda muslim, agak aneh memang. Kita ini suka latah ikut-ikutan dengan gaya yang lagi tren. Celakanya, adakalanya nggak ngerti dengan apa yang sedang dilakoninya. Wah, itu sih kayak kerbau dicocok hidungnya dong? Bener. Sebagian teman remaja ada juga yang tampil bak idola mereka (baca: njiplak abis).

Sebagai sebuah hiburan, film emang punya pesona. Tapi hati-hati sobat, sebab tidak semua yang indah dan gemerlap itu menghadirkan kebaikan. Bukan tak mungkin justru malah menghadirkan bencana. Emang sih, nggak langsung terasa akibatnya. Tapi kan, lambat laun, kamu pun akan bersikap seperti tokoh idola kamu dalam film tersebut. Sebab, kalo pemahaman udah nyetel dalam diri kamu, maka tingkah lakumu pun akan match banget dengan pemahaman kamu tentang sesuatu. Bahaya kan?

Inilah yang kita khawatirkan. Memang, itu hanyalah tontonan, tapi bukan berarti boleh ditelan mentah-mentah setiap gaya hidup yang ditampilkan di sana. Tepatnya, kita kudu punya filter (cieee…). Iya, jadi kita bisa memilih dan memilah. Mana yang baik, dan mana yang buruk. Yang baik kita ambil, yang buruknya kita tendang jauh-jauh. Gampang kan?

Jadi mulai sekarang bentengi diri kamu dengan ajaran Islam. Kalo belum? Mari kita benahi bersama. Nggak ada alasan untuk malas mengkaji Islam. So, semarakkan masjid-masjid dan sekolah dengan kajian Islam. Masuk akal kan? Mari berjuang sobat! Tinggalkan maksiat!

Remaja Islam, Remaja Dakwah

Dakwah? Hmm.. kok kayaknya berat banget kedengarannya ya? Lho, emangnya kenapa? Sebagian teman remaja biasanya denger atau ngucapin kata dakwah terasa sangat berat. Telinga pekak en lidah kelu dan yang terbayang di benaknya pasti urusannya dengan jenggot, kopiah, baju koko, sarung, dan jilbab. Well. Nggak salah-salah amat sih. Cuma nggak lengkap penilaiannya.

Lagian juga terkesan adanya pemisahan antara dakwah dan kehidupan umum, gitu lho. Kesannya kalo dakwah adalah bagiannya mereka yang ada di kalangan pesantren atau anak-anak ngaji aja. Anak-anak nongkrong sih nggak tepat kalo berurusan dengan dakwah. Dakwah kesannya jadi tugas mereka yang hobinya dengerin lagu-lagu nasyid macam Demi Masa-nya Raihan. Bukan tugas anak-anak yang hobinya dengerin lagu-lagu pop macam Terima Kasih Cinta-nya Afgan. Halah, itu salah banget, Bro. Nggak gitu deh seharusnya. Sumpah.

Gini nih, sebenarnya urusan dakwah atau tugas dakwah jadi tanggung jawab bersama seluruh kaum muslimin. Cuma, karena tugas dakwah ini cukup berat dan nggak semua orang bisa tahan menunaikannya, jadinya dakwah secara tidak langsung diserahkan kepada mereka yang ngerti aja. Anggapan seperti ini insya Allah nggak salah. Cuma, kalo dengan alasan seperti ini lalu kaum muslimin yang belum ngerti atau masih awam tentang Islam jadi bebas untuk nggak berdakwah, atau nggak mau terjun dalam dakwah, itu tentu salah, Bro. Why? Karena tetap aja punya kewajiban untuk belajar. Tetap punya kewajiban mencari ilmu. Jadi, nggak bisa bebas juga kan? Malah kalo nekat nggak mau belajar dan nggak mencari ilmu, hal itu dinilai berdosa, man! Bener.

Baginda kita, Rasulullah Muhammad saw. bahkan menyatakan bahwa aktivitas belajar dan mencari ilmu adalah kewajiban bagi seluruh kaum muslimin dari buaian ibu hingga ke liang lahat. Kalo mencari ilmu itu adalah wajib, berarti bagi yang nggak mencari ilmu selama hidupnya, jelas berdosa dong. Allah Swt. bahkan menjamin orang-orang yang beriman dan berilmu akan diberikan derajat lebih tinggi dibanding orang yang nggak berilmu (apalagi nggak beriman). Firman Allah Swt.:

“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Mujâdalah [58]: 11)

Bro, emang bener banget. Urusan dakwah ini sangat erat hubungannya dengan tingkat keilmuan. Dakwah itu jelas membutuhkan ilmu. Jadi, betul kalo dikatakan bahwa tugas berdakwah hanya diberikan kepada mereka yang udah menguasai ilmu agama. Tapi, buat kita yang belum menguasai ilmu agama secara mantap bukan berarti nggak ada kewajiban dakwah. Sebab, rasa-rasanya untuk ukuran sekarang nih, nggak mungkin banget ada kaum muslimin yang nggak ngerti sama sekali tentang Islam. Pasti deh, satu keterangan atau dua keterangan dalam ajaran agama Islam sudah pernah didengarnya dan menjadi pengetahuannya. So, sebenarnya tetap punya kewajiban nyampein dakwah meskipun cuma sedikit yang diketahui. Kalo pengen lebih banyak tahu tentang Islam, ya tentu saja kudu belajar lagi dan mencari ilmu lagi. Sederhana banget kan solusinya? Insya Allah kamu pasti bisa ngejalaninya, asal kamu mau. Yakin deh.

Mengapa dakwah itu wajib?

Jawabnya gini, sebab Islam adalah agama dakwah. Salah satu inti dari ajaran Islam memang perintah kepada umatnya untuk berdakwah, yakni mengajak manusia kepada jalan Allah (tauhid) dengan hikmah (hujjah atau argumen). Kepedulian terhadap dakwah jugalah yang menjadi trademark seorang mukmin. Artinya, orang mukmin yang cuek-bebek sama dakwah berarti bukan mukmin sejati. Bener, lho. Apa iya kamu tega kalo ada teman kamu yang berbuat maksiat kamu diemin aja? Nggak mungkin banget kan kalo ada temen yang sedang berada di bibir jurang dan hampir jatuh, nggak kamu tolongin. Iya nggak sih?

Boys and gals, bahkan Allah memuji aktivitas dakwah ini sebagai aktivitas yang mulia, lho. FirmanNya:

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim” (QS Fushshilat [41]: 33)

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS an-Nahl [16]: 125)

Menyeru kepada yang ma’ruf (kebaikan) dan mencegah dari perbuatan munkar merupakan identitas seorang muslim. Itu sebabnya, Islam begitu dinamis. Buktinya, mampu mencapai hingga sepertiga dunia. Itu artinya, hampir seluruh penghuni daratan di dunia ini pernah hidup bersama Islam. Kamu tahu, ketika kita belajar ilmu bumi, disebutkan bahwa dunia ini terdiri dari sepertiga daratan dan dua pertiga lautan. Wah, hebat juga ya para pendahulu kita? Betul, sebab mereka memiliki semangat yang tinggi untuk menegakkan kalimat “tauhid” di bumi ini. Sesuai dengan seruan Allah (yang artinya): “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah.” (QS al-Baqarah [2]: 193)

Kini, di jaman yang udah jauh berubah ketimbang di “jaman onta”, arus informasi makin sulit dikontrol. Internet misalnya, telah mampu memberikan nuansa budaya baru. Kecepatan informasi yang disampaikannya ibarat pisau bermata dua. Bisa menguntungkan sekaligus merugikan. Celakanya, ternyata kita kudu ngurut dada lama-lama, bahwa kenyataan yang harus kita hadapi dan rasakan adalah lunturnya nilai-nilai ajaran Islam di kalangan kaum muslimin. Tentu ini akibat informasi rusak yang telah meracuni pikiran dan perasaan kita. Utamanya remaja muslim. Kita bisa saksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa banyak teman remaja yang tergoda dengan beragam rayuan maut peradaban Barat seperti seks bebas, narkoba, dan beragam kriminalitas. Walhasil, amburadul deh!

Itu sebabnya, sekarang pun dakwah menjadi sarana sekaligus senjata untuk membendung arus budaya rusak yang akan menggerus kepribadian Islam kita. Kita lawan propaganda mereka dengan proganda kembali. Perang pemikiran dan perang kebudayaan ini hanya bisa dilawan dengan pemikiran dan budaya Islam. Yup, kita memang selalu “ditakdirkan” untuk melawan kebatilan dan kejahatan.

Sobat muda muslim, Islam membutuhkan tenaga, harta, dan bahkan nyawa kita untuk menegakkan agama Allah ini. Dengan aktivitas dakwah yang kita lakukan, maka kerusakan yang tengah berlangsung ini masih mungkin untuk dihentikan, bahkan kita mampu untuk membangun kembali kemuliaan ajaran Islam dan mengokohkannya. Tentu, semua ini bergantung kepada partisipasi kita dalam dakwah ini.

Coba, apa kamu nggak risih dengan maraknya pergaulan bebas di kalangan remaja? Apa kamu nggak merasa was-was dengan tingkat kriminalitas pelajar yang makin tinggi? Apa kamu nggak kesel ngeliat tingkah remaja yang hidupnya nggak dilandasi dengan ajaran Islam? Seharusnya masalah-masalah model beginilah yang menjadi perhatian kita siang dan malam. Beban yang seharusnya bisa mengambil jatah porsi makan kita, beban yang seharusnya menggerogoti waktu istirahat kita, dan beban yang senantiasa membuat pikiran dan perasaan kita nggak tenang kalo belum berbuat untuk menyadarkan kaum muslimin yang lalai.

Sesungguhnya pembahasan tentang budaya pop ini bisa merembet pula pada budaya konsumerisme, budaya dimana keseriuasan makin deficit, budaya dimana aspek hiburan menjadi kiblat dan bahkan agama baru, dan itu terjadi di zaman yang dijuluki modern ini.

Saya pikir itu saja, untuk pembahasan kali ini tentang budaya pop. Paling tidak pembahasan super simple ini bisa menjadi start untuk membuka jendela dunia secara lebih lebar dan lebih leluasa dalam melihat dunia. Masukan konstruktive dari teman-teman akan saya apresiasi sekali dan akan menjadi second opinion yang harus saya pelajari dan sesuatu yang sangat saya perhitungkan. Salam pergerakan baut semuanya dari suara sepoi-sepoi di padang pasir.

_dari berbagai sumber_

Nezza_salsabila

2010

Entry Filed under: Budaya

2 Comments Add your own

  • 1. jendelakatatiti  |  April 1, 2010 pukul 12:18 pm

    Tulisan yang bagus, menambah pengetahuanku, salam jendelakatatiti.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Salsabila

Nez Arsip

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 9 pengikut lainnya

Nez Facebook

Nez Yahoo

Nez Penanggalan

April 2010
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Klik favorite ^_^

Komentar Terakhir

www.nanoindian.com di HUKUMAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM…
ummurafifghozy di HUKUMAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM…
Nuril Aziz di HUKUMAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM…
Nuril Aziz di HUKUMAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM…
printer parts di Manajemen Sumber Daya Man…

Pos-pos Terbaru

Laman

Kategori

Arsip

Tulisan Teratas

Blogroll

Meta

Yuk Gabung di twitterku

 
%d blogger menyukai ini: