NAFKAH DAN KEPEMIMPINAN MENURUT ISLAM DALAM KELUARGA (Analisis Pendekatan Aminah Wadud Muhsin)

April 1, 2010 nezzasalsabila

I. PENDAHULUAN Berbicara mengenai keluarga dan perkawinan, maka di dalamnya ditemukan beberapa unsur penting, seperti keadilan, kewajiban dan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Hal ini sejalan dengan tiga prinsip yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw, sebagaimana yang diungkapkan oleh Thoha Husein, dalam bukunya yang terkenal, al-Fitnah al-Kubra, yaitu keadilan, persamaan dan musyawarah. Ini membuktikan bahwa dalam ajaran Islam sangat menjunjung tingi nilai-nilai keadilan dan persamaan antara hak dan kewajiban dalam rangka menegakkan hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan perkawinan. Pembicaraan tentang hubungan perempuan dan laki-laki seolah-olah tidak memiliki ujung pangkal, karena semakin hari semakin menarik untuk diperbincangkan dan terkadang memicu kesenjangan ideology social yang dilabeli dengan istilah Kesenjangan gender. Dewasa ini juga terjadi peneguhan pemahaman yang tidak pada tempatnya ditengah-tengah masyarakat Dimana sifat yang dikonstruksi secara social dan cultural sehingga dianggap sebagai kodrat wanita, misalnya mengasuh dan mendidik anak-anak, membuat rumah menjadi nyaman dan tenang, merawat dan membersihkan kenyamanan rumah tangga juga sering dianggap kodrat wanita. Padahal dalam tatanan realitasnya peranan perempuan menduduki peran gender dalam mendidik anak-anak hingga mengelola kenyamanan rumah tangga adalah konstruksi social dalam suatu lapisan masyarakat tertentu. Karena itu, bisa jadi hal tersebut dilakukan oleh laki-laki karena bisa dipertukarkan dan tidak bersifat baku. Sementara yang sering disebut-sebut sebagai kodrat wanita seperti mendidik anak hingga mengelola kenyamana rumah tangga sesungguhnya adalah kesenjangan gender itu sendiri. Untuk dapat memposisikan kembali berbagai pemahaman yang keliru seputar hubungan laki-laki dan perempuan dalam Islam maka harus dikritisi lebih jauh dengan mengedepankan pemikiran yang mendalam tentang re-interpretasi al-Qur’an dan Sunnah yang berkaitan langsung dengan hal tersebut. Aminah Wadud Muhsin adalah tokoh yang memiliki pikiran yang berbeda kaitannya dengan hubungan laki-laki dan perempuan dalam kehidupan perkawinan. Dengan basic pendidikan yang tinggi, dia menjadi pakar dalam kajian Islamic studies. Karena itulah dengan menggunakan pendekatan yang beliau gunakan, dasar-dasar argument yang beliau pakai, serta hal-hal lain yang beliau pergunakan penulis ingin mengkaji lebih dalam mengenai nafkah keluarga dan kepemimpinan, yang dewasa ini tidak sedikit dipegang oleh kaum wanita. II. PEMBAHASAN A. Biografi Singkat Aminah Wadud Muhsin Beliau adalah salah satu dari feminis muslimah terkemuka yang kehadirannya menambah aktifis feminis muslim. Beliau membangun suatu paradigma baru tentang kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan berdasarkan perspektif al-Qur’an dan Sunnah. Bukunya Qur’an and Women merupakan bukti bagaimana kepeduliaannya melihat ketidakadilan yang dialami kaum wanita dalam sector kehidupan (domestic dan public) yang memicu semangatnya untuk menggali secara seksama dan rekonstruktif terhadap paradigma kesetaraan laiki-laki dan perempuan. Beliau lahir tahun 1952 M dan merupakan keturunan Afro-Amerika. Pendidikan dasar hingga perguruan tingginya ditempuh di Malaysia, dengan meraih gelar Sarjananya dari Universitas Antar Bangsa dan gelar Masternya dari Machigan University (1988-1989). Jenjang doctoral berhasil diraih dari Harvard University USA (1991-1993). Saat ini beliau menjadi salah seorang professor di Departemen Filsafat dan Studi Agama di Universitas Common Wealth di Virginia USA. Kehidupannya banyak didominasi oleh riset dan kegiatan-kegiatan di almamaternya. Sebagai theology, yurist dan aktifis sosok beliau dikenal baik di tingkat nasional maupun internasional terlebih dengan kehadiran bukunya Qur’an and Women sehingga beliau kerap melakukan kunjungan akademis maupun keagamaan. Meskipun beliau hidup dalam lingkungan berperadaban maju, beliau tergerak untuk menengok kembali pada khazanah dan bibliografi klasik maupun modern guna membangun sebuah paradigma baru tentang relasi gender, yaitu hubungan tanpa stereotype yang diatributkan pada sosok perempuan. Seperti yang beliau katakan bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan tidaklah terstruktur sebagaimana yang dibuat oleh nenek moyang (dikonsturk secara sosil dan cultural). Selain terlibat dalam riset ilmiah, beliau juga terlibat aktif dalam LSM yang secara intensif peduli pada advokasi bagi pembelaan hak-hak perempuan diantaranya SIS (Sister in Islam) yang berkonsentrasi pada gagasan kesetaraan dan pembebasan perempuan Islam di era modern. Visinya adalah menjadikan al-Qur’an sebagai primary source dalam menyelamatkan perempuan dari konservatisme Islam. Sekembalinya ke Amerika, beliau menjadi Guru Besar di Departemen Filsafat dan Studi Islam di Common Wealth University Virginia Amerika, dan menjadi dosen di Divitiny School Harvard University. Di sini beliau tergabung dalam komunitas yang sering disebut Moslem Wake Up (MWU) yang berjuang keras untuk meneguhkan integritas kaum muda progresif ditengah tuduhan kepada mereka sebagai kelompok radikalis. Bulan Maret 2005 beliau bersama komunitas ini menyelenggarakan jamaah shalat Jum’at yang mana beliau bertindak sebagai khatib sekaligus imamnya. Ini adalah kejadian yang sangat menghebohkan dan menarik perhatian dunia. Di antara alasan beliau adalah sebuah hadits Sunan Ibnu Daud ketika Nabi Muhammad Saw menyuruh Umi Waroqoh salah satu pengumpul al-Qur’an untuk mengimai orang-orang termasuk didalamnya laki-laki di lingkungannya. Dan masih banyak lagi agenda Aminah Wadud yang membuktikan bahwa kepeduliannya terhadap persoalan perempuan yang mengalami penindasan dan marginalisasi dari kerasnya hegemoni laki-laki sangat tinggi yang merupakan wujud tanggung jawab sebagai salah satu feminis muslimah yang tidak mau tinggal diam melihat kaumnya terus menerus mengalami penindasan dari budaya patriarkhi yang banyak dimotori oleh kaum laki-laki. B. Pendekatan dan metode yang digunakannya Beliau menggunakan pendekatan metode penafsiran untuk mendapatkan pemahaman mengenai al-Qur’an dalam mengatasai problematika dalam Islam yang pernah digunakan oleh Fazlur Rahman, yaitu metode dari rangkaian pemikiran neo-modernismenya yang terkenal dengan teori double movement (gerak ganda interpretasi). Fazlur Rahman berpendapat bahwa ayat-ayat al-Qur’an yang diturunkan dalam waktu tertentu dalam keadaan umum dan khusus yang menyertainya menggunakan ungkapan yang relative mengenai situasi yang bersangkutan. Oleh karena itu pesan al-Qur’an tidak bisa dibatasi oleh situasi histories pada saat diwahyukan saja. Seorang sahabat yang membaca al-Qur’an harus memahami implikasi dari pada pernyataan-pernyataan al-Qur’an pada waktu diwahyukan untuk menentukan makna utama yang dikandungnya. Di sisi lain umat Islam selanjutnya yang dihadapkan pada situasi dan kondisi yang berbeda dengan masa Rasulullah harus tetap membuat aplikasi praktis dari pernyataan-pernyataan al-Qur’an yang tetap mempertimbangkan makna utama yang dikandungnya. Untuk itu Aminah Wadud menggunakan metode hermeneutic yaitu sebuah bentuk metode penafsiran kitab suci yang dalam menyimpulkan makna dari suatu teks menggunakan tiga aspek, yaitu: 1. Konteks saat nash itu ditulis yaitu dimana al-Qur’an itu diwahyukan. 2. Komposisi nash dari segi gramatikanya bagaimana nas menyatakan apa yang dinyatakan. 3. Nas secara keseluruhan atau pandangan dunianya. Semua yang terkait dianalis dengan metode tradisional yang disebut dengan Tafsir a-Qur’an bi al-Qur’an (tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an). Dengan metode ini beliau berharap dapat menemekan interpretasi al-Qur’an yang mempunyai makna dan kandungan yang selaras dengan konteks kehidupan di dunia modern. Ia juga ingin agar makna utama yang menjadi dasar dari al-Qur’an dapat dipahami sehingga ayat-ayat al-Qur’an selalu tidak dapat dibatasi atau direduksi oleh situasi histories pada saat diwahyukan saja. Dengan argument ini beliau yakin bahwa dalam usaha memelihara relevansinya dengan kehidupan manusia al-Qur’an harus terus menerus ditafsirkan ulang. C. Nafkah dan kepemimpinan dalam keluarga berdasarkan pendekatan Aminah Wadud 1. Nafkah dalam keluarga Dalam menyoroti berbagai aspek yang dianggap penting terkait dengan nafkah keluarga oleh Aminah Wadud, terlebih dahulu kita lihat landasan pemikirannya bahwa al-Qur’an sebagai landasan utama dalam hukum Islam sejatinya memperlakukan perempuan sebagai individu sama dengan laki-laki. Satu-satunya yang menjadi pembeda adalah level ketaqwaannya yang tidak ditentukan oleh jenis kelamin. Hanya saja banyaknya problematika seputar perempuan di dunia ini ditinjai dari perspektif al-Qur’an berhubungan dengan pemahaman yang berkembang di masyarakat. Segala perilaku di dunia ini dibentuk dari sudut pandang hidup manusia demikian pula sebaliknya. Pada hakikatnya memang masyarakat muslim belum mampu mencapai gagasan ideal yang terkandung dalam al-Qur’an. Begitu ayat-ayat al-Qur’an dijadikan sebagai tumpuan di dalam pendapat tentang pelaksanaan ketentuan-ketentuan al-Qur’an di dunia ini, maka kontroversi tetap terjadi. Berbagai gagasan popular atau dominan di masyarakat mengenai status perempuan tidak memiliki pijakan yang ideal dalam al-Qur’an. Maka jalan keluar dari masalah ini adalah jangan terlalu banyak bergaul dengan analisis logika ayat-ayat, tetapi harus diterapkan analisis baru dalam konteks di mana masyarakat muslim melangsungkan kehidupannya. Dengan kata lain kita harus tetap melakukan interpretasi terhadap al-Qur’an sehingga tetap sesuai dengan dinamika kehidupan masyarakat yang sedang berkembang. Inilah yang dituangkan oleh Amniah Wadud dalam setiap pemikirannya. Nafkah yang pada pokoknya adalah pengeluaran yang biasanya dipergunakan oleh seseorang untuk sesuatu yang baik dan dibelanjakan untuk orang yang sudah menjadi tanggung jawabnya. Para ulama sepakat bahwa nafkah minimal yang harus dikeluarkan harus memenuhi kebutuhan berupa makanan, pakaian serta tempat tinggal. Terkait dengan fenomena social yang selalu mengalami perubahan khususnya dalam konteks sekarang, banyak perempuan yang terlibat dalam dunia kerja dalam sector kehidupan. Beliau mencotohkan kehidupan perempuan Amerika pasca perbudakan , bahwa perempuan kulit hitam justru lebih banyak yang terlibat dunia ketimbang pria kulit hitam. Bahkan wanitanya menjadi penyokong tunggal dalam keluarga ini. Padahal sejatinya ini merupakan beban tambahan bagi pundak perempuan, karena disisi lain perempuan masih harus mengerjakan tugas-tugas khususnya yang tidak bisa dikerjakan oleh laki-laki yaitu mengandung, melahirkan dan mengasuh anak. Namun yang terjadi meskipun perempuan menjadi objek beban ganda, kerapkali perlakuan kekerasan masih dialami dari suami-suami mereka. Hal ini sering terjadi karena dominasi laki-laki dalam kehidupan rumah tangga yang masih dibiarkan oleh struktur social, juga karena pola pembagian pekerjaan antara laki-laki dan perempuan. Padahal apabila mengacu pada al-Qur’an sebagai sumber utama hukum Islam ,ternyata memberikan kesempatan dan penghargaan yang sama kepada keduanya. Bisa kita lihat pada ayat al-Qur’an surat An-Nisa (4) ayat 32 yang artinya: “Bagi laki-laki ada bagian yang mereka usahakan dan dari wanita pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan”. Dengan demikian Aminah Wadud menginginkan untuk konteks sekarang sesuai dengan konteks perubahan social, sudah tidak pada tempatnya apabila kewajiban mencari nafkah diberlakukan secara kaku, tetapi harus diterapkan dengan system kerjasama yang fleksibel. Sebab kalau tidak bisa menyebabkan istri ketergantungan kepada suaminya. Bahkan bahaya bisa timbul apabila dipaksakan seperti ini, misalnya istri yang kebetulan memiliki suami penyandang cacat yang terhalangi mencari nafkah, maka istrilah yang harus tampil menggantikan suami bahkan urusan kepemimpinan keluargapun harus diambil alih oleh istrinya daripada keluarga bisa berantakan karena kondisi suami yang tidak memungkinkan. Dari pemaparan di atas, tercermin apa yang diinginkan oleh Aminah Wadud adalah terbukanya kesempatan yang sama antara laki-laki dan perempuan (istri dan suami)seperti dalam urusan maintenance di mana perempuan bisa membuktikan dirinya mampu berpartisipasi dalam pertumbuhan dan produktifitas sebuah keluarga. Aminah Wadud pun menuntut bahwa kaum pria pun harus bisa atau mampu ikut serta dalam memelihara, mengasuh serta merawat rumah tangga. Hal ini penting sekali artinya lebih-lebih ketika kondisi istri tidak bisa melakukan pekerjaan rumah tangga seperti biasanya, karena sakit misalnya. Sehingga diharapkan keduanya bisa menjadi pasangan yang serba bisa serta saling mengisi antara keduanya. Sehingga manfaatnya pun dapat dirasakan oleh keduanya, bagi anak-anak dan juga bagi masyarakat luas. Pembahasan tentang nafkah menurut pendekatan yang digunakan oleh Aminah Wadud ini, penulis akhiri dengan firman Allah yang dijadikan landasan pemikiran Aminah Wadud untuk mengatakan bahwa pada prinsipnya bahwa laki-laki dan perempuan itu setara dalam persoalan keluarga termasuk di dalamnya nafkah keluarga. Firman Allah yang melandasi pemikiran Aminah Wadud adalah dalam Qur’an surat An-Nisa (4) ayat 1 yang artinya: “Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya dan daripada keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak dan bertaqwalah pada Allah dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan peliharalah hubungan silaturrahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” Dari pemikiran Aminah Wadud di atas dapat disimpulkan bahwa memang pada dasarnya secara teologis, laki-laki (suami) itu diberi tanggung jawab utama dalam hal mencari nafkah bagi keluarganya, sebagaiman perempuan (istri) dibebani tanggung jawab terutama dalam hal reproduksi atau regenerasi. Seandainya perempuan masih dibebani dengan tanggung jawaab nafkah akan membahayakan tuntutan penting tanggung jawab yang hanya ia yang dapat memenuhinya. Idealnya menurut beliau, segala sesuatu yang dibutuhkan oleh perempuan (istri) untuk dapat melangsungkan kewajiban utamanya seharusnya disediakan oleh laki-laki (suami) berupa perlindungan fisik dan dukungan dari segi kebutuhan mainteannce. Adapun dalam situasi dan kondisi tertentu kadangkala juga harus memaksa istri harus ambil bagian dalam urusan mencari nafkah seperti misalnya suaminya yang lagi sakit. Inilah maksud ungkapan Aminah Wadud yang mengatakan bahwa sebuah keluarga pada hakekatnya merupakan arena awal untuk mengembangkan model kerjasama (partner) minimal antara suami dan istri, yaitu kerjasama yang menguntungkan kedua belah pihak. Pemikiran beliau mengenai kewajiban nafkah keluarga ini sealur dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Marhumah terhadap hadits-hadits Nabi Muhammad Saw yang mewajibkan nafkah atas suami. Marhumah berkesimpulan pada dasarnya suami berkewajiban atas nafkah, namun kewajiban ini menjadi relative jika keadaan berkata lain dan otomatis kewajiban itu menjadi tidak dapat dipaksakan. Dengan demikian adanya kerjasama yang fleksibel antara laki-laki dan perempuan (suami-istri) dalam kehidupan berkeluarga, maka diharapkan persoalan seputar nafkah ini seperti seringnya nafkah dijadikan tameng kekerasan terhadap istri ditambah lagi dengan konteks kehidupan sekarang yang masih terkungkung oleh krisis ekonomi ditambah naiknya harga BBM dan banyaknya pekerja yang di PHK dapat mengganggu keharmonisan keluarga, maka disinilah arti pentingnya kerjasama antar suami dan istri. Nafkah memang pada dasarnya merupakan tanggung jawab dan tugas utama suami namun, jika keadaan berkata lain, tentu kewajiban tersebut tidak dapat dipaksakan dengan sendirinya. Jadi bagi Aminah Wadud, nafkah itu bersifat kontekstual dan bukan tekstual. 2. Kepemimpinan dalam keluarga Mengenai kepemimpinan dalam keluarga, Aminah Wadud terlebih dahulu berbicara tentang kelebihan yang terdapat dalam al-Qur’an surat An-Nisa ayat 34. kalimat faddala merupakan ujian bagi seseorang yang dianugrahi Allah dengan faddala (kelebihan) itu. Tetapi faddala itu tidak bisa diperoleh dengan melakukan amal shaleh tertentu, tetapi hanya dapat diperoleh dari Allah untuk siapapun dan kapanpun kepada yang dikehendaki-Nya. Aminah mengatakan qiwamah hanya berkaitan dengan urusan anggota keluarga karena ayat-ayat berikutnya menyinggung masalah perkawinan dan penggunaan istilah tersebut untuk konteks suami istri. Karena itu qiwamah cenderung digunakan dalam hubungan suami istri untuk kebaikan kolektif antara keduanya sebagai bagian dari masyarakat secara keseluruhan. Aminah Wadud menjelaskan bahwa ayat ini secara klasik kerapkali sipandang sebagai salah satunya ayat yang paling penting yang berkaitan dengan hubungan laki-laki dan perempuan. Laki-laki merupakan qawwamun ‘ala wanita-wanita. Beliau membahas ayat tersebut dengan menekankan pada dua hal pokok yang menjadi kelebihan laki-laki sehingga diberi kedudukan oleh Allah sebagi pemimpin bagi perempuan, yaitu kelebihan yang seperti apa diberikan kepada laki-laki dan apakah yang telah mereka belanjakan dari harta benda yang mereka miliki (untuk mendukung perempuan), yaitu norma social-ekonomi dan idealnya. Beliau menyoroti kata bi dalam ayat tersebut, yang menurutnya karakteristik sebelum kata bi ditentukan atas dasar apa yang datang sesudahnya. Maka laki-laki (suami) akan dikatakan sebagai pemimpin atas perempuan apabila memenuhi dua syarat, yaitu preference yang mereka miliki dan maintenance yang mereka berikan kepada istri-istri mereka. Dan apabila kedua syarat tersebut tidak dapat dipenuhi maka perannya sebagai pemimpin perempuan tidak layak mereka emban. Hal yang begitu menarik dari pernyataan beliau adalah jika yang dimaksudkan dengan faddila (kelebihan) itu adalah kelebihan materi, maka hanya terdapat satu ayat saja yang menentukan bahwa bagian seorang laki-laki dua kali lipat dari bagian seorang perempuan. Dengan demikian QS. An-Nisa ayat 11 mendukung ayat 34 yang berbicara tentang kepemimpinan karena syarat lain dari kepemimpinan adalah adanya kemampuan dalam hal memberi nafkah. Sehingga terdapat unsur timbal balik antara kelebihan dan tanggung jawab. Dengan kata lain adanya kewajiban atau tanggung jawab dalam memberi nafkah dan kepemimpinan tersebut merupakan konsekuensi terhadap penerimaan harta waris yang banyaknya dua kali lipat dari perempuan. Menurut Aminah Wadud, kelebihan (faddala) yang dimaksudkan dalam QS.4:34 tidak bisa tidak bersyarat karena memang disitu tidak disebutkan bahwa laki-laki dilebihkan atas perempuan secara keseluruhan. Tidaklah semua laki-laki itu unggul dari perempuan dalam segala hal. Jadi, sebagian laki-laki memilih kelebihan atas perempuan dalam hal-hal tertentu demikian pula sebaliknya, perempuan juga bisa saja mengungguli laki-laki dalam hal-hal tertentu. Jika kelebihan dalam QS. 4: 34 bersifat material, maka hakekat dari kelebihan tersebut telah disebutkan pula pada QS. 4: 11, dan itu tidak bersifat absolute. Bahkan jika dimaknai lebih dari sekedar material pun tidak bersifat absolute. Bagaimanapun isu yang terdapat dalam QS. 4: 34 tidak dapat dilihat secara dangkal. Karena ayat tersebut memberikan suatu tanggung jawab yang ideal bagi laki-laki atau perempuan untuk membentuk suatu kehidupan yang seimbang. Tanggung jawab tersebut tidak berbentuk biologis atau inheren tetapi tanggung jawab yang valueable, yang tidak terbatas pada masalah material tapi hendaknya mencakup dimensi religius, moral, intelektual dan kejiwaan. Perspektif itulah yang dapat menghantarkan manusia dapat bersungguh-sungguh menjadi khalifah fil ardh. Juga dapat menghilangkan cara pandang kompetitif dan hierarkis strukturalis dalam suatu komunitas masyarakat. Sehingga diharapkan terciptanya hubungan suami-istri yang tidak tertutup dan tidka menciptakan ketergantungan para istri-istri terhadap suami-suami mereka. Aminah mencatat kenapa perempuan mendapat perlindungan dan dukungan materi (nafkah) dari laki-laki? Aminah menjawab bahwa perempuan berfungsi melahirkan keturunan yang membutuhkan tanggung jawab dan kekuatan jiwa yang serius dari perempuan dan sekaligus menonaktifkannya dari aktifitas luar. Al-Qur’an menegaskan kewajiban laki-laki sebagai qiwwamah tujuannya adalah untuk menjaga perempuan agar tidak dibebani kewajiban tambahan yang dapat membahayakan kewajiban utamanya yang berat yang hanya dapat dilakukan oleh perempuan. Di sini pengertian qiwwamah lebih berarti pelindung dan penegak terhadap urusan-urusan perempuan. Untuk lebih memperkuat argumentasi ini, Aminah Wadud pernah mempraktekan sebagai khatib dan imam dalam shalat Jum’at. Di antara alasannya adalah sebuah hadis Sunan Ibnu Daud ketika Nabi memerintahkan Umi Warakah sebagai salah satu pengumpul al-Qur’an untuk mengimami shalat dimana didalamnya terdapat laki-laki dan perempuan di lingkungannya. Alas an berikutnya adalah terkait dengan kepemimpinan Ratu Balqis yang disebutkan oleh al-Qur’an, merupakan indikasi adanya hak bagi perempuan dalam berbagai bidang untuk menjadi imam termasuk di dalamnya adalah ritual ibadah. Ini juga dapat dijadikan dasar argumentasi Aminah Wadud bahwa tidak semua kelebihan berpihak pada laki-laki tapi terdapat pula perempuan yang bisa mengungguli laki-laki. Berdasarkan alasan yang dikemukakan di atas terlebih pada alasan yang kedua, Aminah Wadud mengambil sejarah Ratu Balqis yang menjadi pemimpin kerajaan sebagai landasan pemikiran juga ikut mempengaruhi pemikiran Aminah Wadud sendiri mengenai posisi kepemimpinan laki-laki atas perempuan yang telah diuraikan di atas. III. KESIMPULAN 1. Beliau adalah salah satu dari feminis muslimah terkemuka yang kehadirannya menambah aktifis feminis muslim. Beliau membangun suatu paradigma baru tentang kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan berdasarkan perspektif al-Qur’an dan Sunnah. Bukunya Qur’an and Women merupakan bukti bagaimana kepeduliaannya melihat ketidakadilan yang dialami kaum wanita dalam sector kehidupan (domestic dan public) yang memicu semangatnya untuk menggali secara seksama dan rekonstruktif terhadap paradigma kesetaraan laiki-laki dan perempuan. 2. Meskipun beliau hidup dalam lingkungan berperadaban maju, beliau tergerak untuk menengok kembali pada khazanah dan bibliografi klasik maupun modern guna membangun sebuah paradigma baru tentang relasi gender, yaitu hubungan tanpa stereotype yang diatributkan pada sosok perempuan. Seperti yang beliau katakan bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan tidaklah terstruktur sebagaimana yang dibuat oleh nenek moyang (dikonsturk secara sosil dan cultural). 3. Beliau menggunakan pendekatan metode penafsiran untuk mendapatkan pemahaman mengenai al-Qur’an dalam mengatasai problematika dalam Islam yang pernah digunakan oleh Fazlur Rahman, yaitu metode dari rangkaian pemikiran neo-modernismenya yang terkenal dengan teori double movement (gerak ganda interpretasi). 4. Aminah Wadud menggunakan metode hermeneutic yaitu sebuah bentuk metode penafsiran kitab suci yang dalam menyimpulkan makna dari suatu teks menggunakan tiga aspek, yaitu: a. Konteks saat nash itu ditulis yaitu dimana al-Qur’an itu diwahyukan. b. Komposisi nash dari segi gramatikanya bagaimana nas menyatakan apa yang dinyatakan. c. Nas secara keseluruhan atau pandangan dunianya 5. Bagi Aminah Wadud, nafkah bersifat kontekstual dan bukan tekstual. Dengan adanya kerjasama yang fleksibel antara laki-laki dan perempuan (suami-istri) dalam kehidupan berkeluarga, maka diharapkan persoalan seputar nafkah ini seperti seringnya nafkah dijadikan tameng kekerasan terhadap istri ditambah lagi dengan konteks kehidupan sekarang yang masih terkungkung oleh krisis ekonomi ditambah naiknya harga BBM dan banyaknya pekerja yang di PHK dapat mengganggu keharmonisan keluarga, maka disinilah arti pentingnya kerjasama antar suami dan istri. Nafkah memang pada dasarnya merupakan tanggung jawab dan tugas utama suami namun, jika keadaan berkata lain, tentu kewajiban tersebut tidak dapat dipaksakan dengan sendirinya 6. Pada dasarnya Aminah Wadud menerima kepemimpinan laki-laki atas perempuan dengan dua syarat, yaitu Pertama, laki-laki harus dapat menunjukkan kelebihan yang mereka miliki, sementara kelebihan yang jelas dimiliki adalah dalam hal pembagian waris (2:1) dan inipun sangat terkait dengan keadaan harta yang akan diwariskan. Kedua, mendukung perempuan dengan harta benda yang mereka miliki. Maka dengan begitu Aminah Wadud berpendapat bahwa kepemimpinan itu bukanlah sesuatu yang bersifat normative tapi bersifat kontekstual. IV. PENUTUP Demikianlah sedikit pemaparan yang sangat sederhana mengenai nafkah dan kepemimpinan dalam Islam dengan menggunakan analais salah satu tokoh feminis musliah dunia, Aminah Wadud Muhsin. Semoga bermanfaat, dan tulisan ini penulis tutup dengan sedikit goresan kata yang diharapkan dapat memacu semangat kita untuk lebih semangat memperdalam kajian intelektual keberagamaan kita khususnya dengan pendekatan yang tepat. Agama Bukanlah singgasana yang membuatmu duduk lebih tinggi dari yang lain Bukan baju kebesaran yang membuatmu lebih agung dari yang lain Bukan tirai yang dapat menutupi borokmu dari yang lain Bukan pula ruang yang membuatmu terpisah dari orang lain Apalagi aksesoris yang membuatmu lebih meriah dari yang lain Tapi agama, Adalah cara kita meng-ada dalam penyatuan yang hakiki Sebagai pribadi, sebagai bagian dari masyarakat dan alam, Dan sebagai hamba ciptaan-Nya (Kota Pelajar, 2008) Bilahi fi sabilil haq fastabiqul khairat DAFTAR PUSTAKA Aminah Wadud Muhsin, Qur’an and Women, New York: Oxford UniversityPress, 1998 Fazlur Rahaman, Interpreting the al-Qur’an, Inquiry: 1986. ——————-, Islam and Modernity: Transformation of IntelectualTradition, Chicago: The Univercity of Chicago Press, 1982. Khoiruddin Nasution dalam Fazlur Rahman, Tentang Wanita, Cet. I Yogyakarta: Tazzafah+Akademis, 2002. Marhuman, Konsep Nafkah dalam Hadits, dalam Hamin Ilyas, dkk, Perempuan Tertindas, Kajian Hadits-Hadits Misoginis, Yogyakarta: PSW IAIN Sunan Kalijaga dan Ford Fondation , 2003. Masdar F. Mas’udi, Reinterpretasi Ajaran Islam Tentang Perempuan, dalam Lily Zakiyah Munir (ed), Memposisikan Kodrat: Perempuan dan Perubahan dalam Perspektif Islam, Bandung: Miza, 1999. Navin Reza Muslim Issues What Whould the ProphetDo? The Islamic Basis for Femail-Law Prayer, dalam http://www.muslimwakepu.com download pada tanggal 5 Mei 2008 Nik Nor’aini Nik Badlishah, Islamic Law and Justice For Muslim Women, Malaysia: Sister In Islam, 2003. sisterislam@pd.jaringan.my download pada tanggal 5 Mei 2008. Sayyid Qutb, Fi Dzila al-Qur’an,Kairo: Dar ar-Syuruq, 1980. Syekh Taqqiyudin Ahmad bin Abdul Halim, Muqaddimah fi al-Ushulil Tafsir, Beirut: Dar Ibn Hizam, 1997. http://www.iin.edu.my/islac-php download pada tanggal 5 Mei 2008.

Entry Filed under: Pendekatan dan Pengkajian Islam

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Salsabila

Nez Arsip

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 9 pengikut lainnya

Nez Facebook

Nez Yahoo

Nez Penanggalan

April 2010
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Klik favorite ^_^

Komentar Terakhir

www.nanoindian.com di HUKUMAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM…
ummurafifghozy di HUKUMAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM…
Nuril Aziz di HUKUMAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM…
Nuril Aziz di HUKUMAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM…
printer parts di Manajemen Sumber Daya Man…

Pos-pos Terbaru

Laman

Kategori

Arsip

Tulisan Teratas

Blogroll

Meta

Yuk Gabung di twitterku

 
%d blogger menyukai ini: