MENDEKATI ISLAM DARI SEGI AGAMA

Maret 31, 2010 nezzasalsabila

Saya menemukan adanya perbedaan peran kitab suci melalui pendekatan agama secara histories. Dari satu tradisi keagamaan dengan tradisi keagamaan yang lain. Dalam salah satu karya terkenal Sacred Book of the East, yang diedit oleh Maz Muller pada akhir abad ke 19, ditemukan sebuah kasus dimana terdapat seratus lusin kitab suci yang kurang lebih sesuai dengan mayoritas para pemeluk keyakinan. Atau dalam agama Budha di mana seseorang dapat menemukan adanya overlapping dengan skriptur yang lainnya dalam bahasa yang berbeda. Ini menunjukkan permasalahan yang ditampilkan adalah sebagian besar tradisi agama lain tidak memiliki satupun kecocokan skriptur yang sama dengan bible.
Akan tetapi focusnya telah mengarah pada ekspektasi bahwa seseorang akan dapat memahami tentang segala hal penting dari agama lain bila seseorang tersebut mengetahui apa yang dikatakan dalam skriptur mereka. Konsep ini menarik , yang mengasumsikan bahwa semua ayat skriptur sama-sama berbobot tidak diperdebatkan lagi makna-makna dan tidak pernah ada perubahan selama berabad-abad dalam pemahaman ayat-ayat khusus. Ini berarti setiap kelompok agama sama-sama mengikuti anjuran yang termaktub dalam kitab suci.
Selain itu, kesulitan dalam melakukan evaluasi ketaatan agama tertentu perlu diperhatkan. Bagaimana defininisinya pun perlu diperhatikan. Karena hasilnya akan berbeda-beda secara dramatic sesuai dengan ukuran yang digunakan seseorang. Namun, kesulitan dalam kategorisasi dan pemaknaan agama menjadi tampak sulit untuk dihindari. Khususnya mengenai Islam meskipun ada upaya dari para sarjana, tingkat pengetahuan tentang Islam masih cukup rendah secara umum. Hal ini terjadi karena studi Islam masih mengabadikan tradisi studi akademik khusus mengenai peradaban masa lampau. Dalam studi Timur Tengah yang leibh modern yang didanai oleh pemerintahan Federal sebagai bantuan pemegang kebijakan, memiliki kecenderungan untuk memfokuskan isu politik kontemporer dalam pembiayaan tema mengenai subjek budaya dan humanistic. Di Amerika Utara, pertumbuhan studi agama bersamaan dengan ekspansi pada tahun 1960, studi Islam telah tertinggal jauh dibelakang yang lain. Terdapat 200 sarjana yang menyebut diri mereka secara spesialis dalam Islamic Studies. Meskipun terdapat sedikit lebih banyak jumlah spesialis dalam sejarah Timur Tengah dan politik namun kontribusi yang signifikan dan wawasan yang luas mengenai masyarakat muslim dan kebudayaan melalui publikasi mereka. Sayangnya, banyak informasi yang tidak dapat diakses untuk kalangan umum, karena pada jurnal-jurnal akademik yang sulit ditemukan atau terbatas pada publikasi universitas (kalangan sendirai).
Di sinilah tugas dari masyarakat kontemporer untuk menawarkan mengenai agama tanpa terpaku pada klaim-klaim otoritatif dengan mengeluarkan kelompok tertentu dari pembicaraan. Studi akademis agama menawarkan pisau analisa yang dapat membantu meciptakan diskursi civil mengenai Islam.
Dalam pembahasan selanjutnya saya mencermati adana diskoneksi yang mungkin muncul antara keyakinan agama dan identitas agama yang diilustrasikan secara baik oleh sebuah kisah mengenai seorang murid yang mengisi belangki registrasi dari universitas Amerika sementara di adalah seorang atheis. Di sini, statistic dan sensus figure agama harus dilihat secara ketat. Seluruh kategori adalah subjek untuk diperdebatkan dan kualifikasi untuk keanggotaan sangat bervariasi. Beberapa langkah untuk mengkondisikan sensus agama adalah diberlakukannya oleh pemerintah Kolonial Inggris di India pada tahun 1881. Adiministrator Inggris mengasumsikan bahwa dalam partai politik kemungkinan saja seseorang meyakini agama pada suatu waktu saja, akan tetapi di India sudah menjadi hal yang biasa. Selama berabad-abad seseorang menganut multi agama.
Ini bisa kita bandingkan dengan adanya konsiderasi diversity diantara penduduk muslim Eropa secara baik, hasil ini bukan hanya berasal dari beragam spectrum yang meliputi konservatif tradisional fundamentasi bahkan sekuratisme kiri. Perlu dikaji ulang pula adanya literature yang bersifat tidak orisinil yang masih banyak digunakan.

Entry Filed under: Pendekatan dan Pengkajian Islam

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Salsabila

Nez Arsip

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 9 pengikut lainnya

Nez Facebook

Nez Yahoo

Nez Penanggalan

Maret 2010
S S R K J S M
« Des   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Klik favorite ^_^

Komentar Terakhir

www.nanoindian.com di HUKUMAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM…
ummurafifghozy di HUKUMAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM…
Nuril Aziz di HUKUMAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM…
Nuril Aziz di HUKUMAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM…
printer parts di Manajemen Sumber Daya Man…

Pos-pos Terbaru

Laman

Kategori

Arsip

Tulisan Teratas

Blogroll

Meta

Yuk Gabung di twitterku

 
%d blogger menyukai ini: