In Commemoration of Louis Massignon: Catholic Scholar, Islamicist dan Mistyc (Mengenang Louis Massignon: Sarjana Katolik, Pakar Islam dan Mistis)

Maret 31, 2010 nezzasalsabila

In Commemoration of Louis Massignon: Catholic Scholar, Islamicist dan Mistyc (Mengenang Louis Massignon: Sarjana Katolik, Pakar Islam dan Mistis)
Membaca judul tersebut, penulis heran dan merasakan kenyataan yang ironis, kenapa orang-orang non Islam bahkan para orientalis yang justru semangat mengkaji dan memahami ajaran-ajaran Islam, sehingga pemahaman mereka kadang melebihi pemahaman orang Islam sendiri. Salah satu bukti Louis Massignon (untuk selanjutnya kita sebut Louis) tokoh sentral dalam artikel ini, berdasarkan judul artikel di samping disebut sebagai sarjana katolik (Catholic Scholar) dia juga disebut sebagai pakar Islam (Islamicits) dan mistis (Mistyc).
Sebelum masuk pada inti pembahasan, penulis mencoba untuk mengenalkan terlebih dahulu siapa sebenarnya Louis tersebut. Dia adalah salah satu tokoh orientalis terkemuka berasal dari Perancis. Louis banyak belajar dari tokoh-tokoh orientalis Perancis terkenal seperti Goldziher, Hurgronje dan Le Chatell. Ia pernah mengunjungi dunia Islam selama tiga tahun sampai 1954. Di Baghdad, ia mengadakan misi penelitian dan penggalian arkeologis dan berhubungan baik dengan tokoh Iraq Al-Alusi. Pada tahun 1906-1909 ia pergi ke Mesir dan belajar di Universitas Al-Azhar. Pada tahun 1912 ia mengajar filsafat disitu dan diantara pengagumnya adalah Dr. Thaha Husein. Pada waktu berada di Timur Tengah, ia juga menjadi perwira militer pada kantor Gubernur Jenderal Perancis di Suria dan Palestina. Pengalamannya di dunia Islam itu menjadikannya orientalis yang sangat memahami politik di dunia Islam.
Karena konsentrasi dia pada dunia katolik atau kristen di Perancis, maka dia menikmati pengembaraan intelektual ke dunia Islam, baik negara Arab dan non Arab. Di Iran dia sangat akrab dengan beberapa tokoh semisal Muhammad Ali Foroughi, Badi al-Zaman Forounzafar, kemudian juga Jalaluddin Rumi dan lain sebagainya. Dia juga mempunyai beberapa murid yang di kemudian hari menjadi sarjana terkenal.
Louis selain mengkaji Islamologi, ia juga pernah menjadi pembimbing rohani pada perkumpulan missionarisme Perancis di Mesir. Bahkan ia tidak hanya dikenal sebagai sarjana katolik, akan tetapi juga pemimpin intelektual katolik (leading catholic intellectual) Ia berusaha keras memasukkan misi Kristen pada program-program pemerintah Perancis di tanah jajahannya di Timur Tengah. Bahkan ia berusaha sebagaimana Goldziher memasukkan unsur-unsur Katolik dalam Islam. Dimana ia menyamakan penghormatan kaum Muslim kepada Fatimah sebagaimana pemujaan Katolik ke “Bunda Maria”. Ia menulis sejumlah karya, di antaranya Yesus dalam Injil menurut Al-Ghazali (1932), Al-Mutanabbi dan Masa Dinasti Ismailiyah dalam Islam (1935), Sejarah Ilmu Pengetahuan di Kalangan Bangsa Arab (1957) dan lain-lain.
Selanjutnya berdasar data sejarah, pada abad ke 9 Masehi, berkembang kehidupan kerohanian Islam dengan jalan melakukan Zuhud (mengabaikan dunia) untuk mencapai kesempurnaan makrifat dan tauhid kepada Allah. Gagasan-gagasan para ahli sufi dan syiah pada abad tersebut telah ditemukan, baik yang berupa syair ataupun pemikiran yang menunjukkan keanekaragaman kemungkinan dalam kehidupan mistik, seperti halnya Al-Ghazali, Dzun Nun (859 M), Bayezid Bustami (874 M), Al Harith al Muhasibi (857 M) dan Husein Ibn Mansur Al hallaj (858 M)
Pemikiran dan peranan para tokoh inilah yang perlu kita ketahui sebagai wacana keilmuan dan sejarah, sekaligus menganalisa konflik pemikiran yang tidak pernah habis dibahas, karena pihak-pihak yang berbeda pendapat tidak pernah saling bertemu untuk memberikan klarifikasi dalam satu majelis, kecuali hanya saling mengecam dan mengkafirkan dengan musabab bibit konflik politik kekuasaan yang serakah dan licik sejak lama.
Banyak kisah keshalehan serta kata-kata bijak penuh hikmah yang mengisi setiap referensi kitab-kitab keislaman di Timur maupun di Barat yang berasal dari para tokoh Sufi ini, baik yang bisa difahami oleh kaum awam sampai pernyataannya yang banyak mengundang perdebatan yang tidak henti-hentinya sampai sekarang.
Menarik untuk dikaji kembali penyataan yang populer yang di lontarkan oleh Husein Ibnu Al-Hallaj “Akulah kebenaran Yang Tertinggi”. Peristiwa ini merubah pandangan masyarakat umum terhadap kaum Sufi atau para Zahid yang menjalankan olah kerohaniannya dengan melakukan dzikir secara rutin, shalat malam dan menjauhkan diri dari perbuatan maksiat. Sehingga pada ujungnya berpengaruh terhadap perkembangan ilmu tafsir yang menjadi mandek.
Terlihat para mufassirin agak ragu-ragu menafsirkan kata-kata hiperbolis kedalam pengertian proporsi yang sebenarnya, dan sampai kini orang menjadi merasa takut apabila membicarakan mengenai ilmu hakikat dan makrifat. Mereka mengira ilmu tasawuf adalah ajaran sesat dan membahayakan. Saya menganggap pandangan mereka terlalu gegabah dan tidak bijaksana. Pandangan yang mengakibatkan ajaran Islam menjadi amat dangkal, karena nilai spiritual yang seharusnya diajarkan telah hilang, yaitu nilai psikologi keihsanan kepada Allah dalam setiap peribadatan, yang mestinya paling dianggap menentukan dalam kaitan diterima atau ditolaknya perilaku keagamaan seseorang.
Sebagai tokoh yang tiada hentinya dibicarakan di dunia mistik Islam maupun dikalangan yang memusuhinya, Al Husain ibnu Mansur Al Hallaj pada tahun 922 M dijatuhi hukuman mati oleh para wakil kaum ahli hukum karena ajaran yang disebarkannya, yang dianggap telah keluar dari aqidah Islam yang terutama berasal dari ucapannya yang terkenal, Ana ‘l Haqq (Akulah Kebenaran Tertinggi). Pro dan kontra dari jatuhnya hukuman tersebut sampai sekarang masih juga terjadi
Ada banyak pendapat umum yang mengatakan Al-Hallaj mati karena ajaran mistiknya yang terkenal Ana’l Haqq (Akulah Kebenaran Tertinggi). Tidak banyak kaum muslimin yang mengetahui dengan persis apakah sebenarnya yang terjadi terhadap kasus yang didakwakan kepadanya. Benarkah Al-Hallaj penganut paham ittihad (pantheisme) yang banyak dipengaruhi ajaran Hindu dan mistik katholik, atau ajaran Zanadika, tentang cinta kasih manusia terhadap Allah sebagai suatu daya tarik material antara sumber cahaya dan percikan-percikan yang mengalir dari sumber itu (emanasi).
Di kalangan kaum mistis sendiri banyak yang berpendapat, bahwa kesalahan Al-Hallaj ialah menyiarkan dimuka umum kebenaran-kebenaran esoteris (merenggut selubung rahasia). Konon kabarnya As-Sibli mengatakan kepada seorang utusan menjelang eksekusinya, pergilah mencari Al-Hallaj dan katakan kepadanya, “Allah telah memberikan kepadamu jalan untuk mengetahui salah satu rahasia-Nya , tetapi karena engkau menyiarkan kepada umum, maka kau harus merasakan pedang”.
Ada juga yang berpendapat, bahwa ajarannya mengenai manunggalnya Allah dan manusia tidak dibenarkan, namun dapat dimaafkan sebagai suatu ketidaktelitian hiperbolis, akibat kekuatan ekstasis. Sementara para sufi moderat tidak memberikan komentar terlalu banyak atas kejadian ini. Mereka hanya berpendapat bahwa Al-Hallaj hanyalah menghayati firman Allah dalam surat Thaha: 14, innani Ana Allah laailaha illah Ana fa’budni …yang artinya “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah Shalat untuk mengingat Aku”.
Terlepas dari hal tersebut, Louis yang merupakan salah satu orientalis memberikan perhatian khusus kepada ajaran sufi Al-Hallaj. Terbukti pada tahun 1922, pada saat ia kembali ke Paris untuk menyelesaikan program doktornya di Universitas Sorbonne. Ia menulis disertasi mengenai tasawuf Islam dengan judul “La Passion d’ al-Hallaj, Martyr Mystique de l’Islam” (Derita Al- Hallaj, Sang Sufi yang Syahid dalam Islam). Dan bisa kita ambilkan beberapa karya lain yang memberi perhatian khusus pada studi Al-Hallaj dan dunia sufi, misalnya: The Sufi Path of Love karya William Chittick, World of Ecstasy is Sufism karya Carl Ernst, What is Sufism karya Martin Lings, The Death of Al-Hallaj karya H. Mason dan lain sebagainya.
Bila para ulama Islam mengkafirkan Al-Hallaj, maka tidak demikian dengan Louis, dia justru memujinya bahkan mengatakan bahwa Al-Hallaj adalah seorang saleh yang syahid. Bahkan dalam kata pengantar bukunya The Passion of Al-Hallaj, louis menyatakan bahwa Al-Hallaj adalah sosok historis, benar-benar hidup dalam sejarah yang dihukum mati pada tahun 922 M. Dia dikenal dan dikenang sebagai pahlawan legenda. Sekarang ini di beberapa negara Islam orang mengingat dan memunculkan sosok Al-Hallaj sebagai orang yang mabuk cinta kepada Tuhan, dan kadang-kadang pula seorang dukun gadungan. Di Iran, Turki dan Pakistan banyak tersebar karya-karya satra besar Persia, terdapat sebuah gaya dalam puisi yang dinisbatkan kepada orang suci ini, yaitu ektase ilahiyah, yang mereka sebut dengan “Mansur Hallaj”. Memang dialah yang dari atas tiang gantungan mengucapkan teriakan apokaliptik tentang Pengadilan di Hari Pembalasan: Ana’l Haqq (Akulah Sang Kebenaran). Di samping itu menurut Louis Al-Hallaj adalah sosok yang telah menemukan panggilan hidupnya sebagai “Pilar Mistik” atau “Martir Spiritual” Islam. Hal tersebut diperkuat ketika Al-Hallaj hendak pergi menunuaikan ibadah haji, dia berharap menjadikannya sebagai ganti untuk qurban-qurban yang disembelih di padang Arafah dalam rangka acara tahunan yang memohon ampun bagi ummat, dan setelah itu dia menyatakan di depan publik di Baghdad janjinya untuk mencari kematian dalam perang suci mencari cinta ilahi. Cerita Al-Hallaj versi Louis inilah yang kemudian banyak diambil oleh para aktivis Islam Liberal di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Selain desertasinya tentang Al-Hallaj.
Melalui studi tentang Al-Hallaj inilah, ia mencoba untuk mendemonstransikan bahwa ajaran sufi mempunyai akar dan dasar dalam Al-Qur’an serta jauh dari unsur bid’ah. Ia menyadari bahwa meditasi yang terdapat di kitab suci Al-Qur’an, ajaran para Nabi, beserta wahyu itu semua merupakan substansi sufi yang asli (the origin and substance of sufisme). Karena pada saat itu para orentalis menganggap bahwa ajaran sufi adalah jenis pohon asing yang ditanam di dunia Islam dan tidak berdasar.
Louis adalah salah satu pioner yang membuat kajian atau studi Islam lebih serius yang tidak hanya dari sisi filologi dan sejarah, akan tetapi juga keberagamaan dan spiritual. Sehingga ialah yang kemudian dikenal dengan tokoh yang mengkombinasikan studi islam antara agama dan spiritual (religious and spiritual).
Konon katanya Louis terkenal sebagai seorang tokoh yang sangat pemalu, sehingga sangat sulit untuk mendapatkan fotonya. Ada pengalaman menarik dari penulis artikel ini, di saat ia pergi ke Maroko untuk mengikuti seminarnya Louis, ia telah melakukan beberapa agar ia bisa mengambil foto louis, tetapi ia tidak mengijinkannya. Sehingga ia mencuri kesempatan bersembunyi di balik tembok, akan tetapi ia selalu kehilangan kesempatan. Inilah barangkali salah satu bentuk dari konsentrasi dan ketajaman spiritual. Louis memang tidak ingin mengekspos dirinya terlalu berlebihan.
Ia berusaha untuk menjadikan cinta sebagai dasar setiap melakukan sesuatu. Ada sebuah cerita, ketika dia memberikan kuliah di Universita Harvard, ada salah satu mahasiswanya yang bertanya: “Berapa jumlah sufi yang ada di dunia Islam” (How many Sufis are there in the Islamic world). Louis menanggapinya dengan senyum dan balik bertanya: ”Berapa jumlah pencinta yang ada di Cambridge” (How many lovers are there in Cambridge). Ajaran sufi adalah persoalan cinta (Sufism is matter of love). Louis melanjutkan, “Jika kamu mampu menjelaskan berapa jumlah pecinta yang ada di Cambridge, maka aku akan menjelaskan berapa jumlah sufi yang ada di dunia Islam”. Sungguh ini adalah jawaban yang luar biasa, jawaban yang hanya muncul dari sarjana yang luar biasa.
Demikianlah tulisan yang dapat kami presentasikan, tentunya masih banyak kekurangan, oleh karenanya penulis mengharap masukan dan kritikan dari segenap pembaca. Dan di akhir tulisan ini penutip ingin mengutip sebuah ungkapan sebagaimana yang tertulis dalam artikel ini:
He whose heart is brought to life through love never dies
Our perpetuity is recorded in the pages of the cosmic book
(Siapa yang hatinya dihidupkan dengan cinta maka dia tidak akan mati)
(Keabadian kita direkam di halaman buku alam semesta)

Entry Filed under: Pendekatan dan Pengkajian Islam

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Salsabila

Nez Arsip

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 9 pengikut lainnya

Nez Facebook

Nez Yahoo

Nez Penanggalan

Maret 2010
S S R K J S M
« Des   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Klik favorite ^_^

Komentar Terakhir

www.nanoindian.com di HUKUMAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM…
ummurafifghozy di HUKUMAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM…
Nuril Aziz di HUKUMAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM…
Nuril Aziz di HUKUMAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM…
printer parts di Manajemen Sumber Daya Man…

Pos-pos Terbaru

Laman

Kategori

Arsip

Tulisan Teratas

Blogroll

Meta

Yuk Gabung di twitterku

 
%d blogger menyukai ini: