Posts filed under: ‘Sejarah Peradaban Islam‘




PERJALANAN HIDUP NABI MUHAMMAD SAW SEBAGAI SAUDAGAR DAN NABI AKHIR ZAMAN


I. PENDAHULUAN

Sebagai nabi akhir zaman, peran  Nabi Muhammad SAW sangatlah sempurna, tidak hanya sebagai negarawan, tetapi peranannya sebagai pemimpin umat dan penyebar agama. Tak habis untuk digali dan didiskusikan oleh seluruh umat manusia karena pribadi beliau yang lengkap, sehingga hampir seluruh dimensi kehidupannya telah dikupas dan dikaji. Ini bisa kita lihat betapa banyaknya literature yang akan kita temukan seputar kehidupan beliau sejak kanak-kanak hingga dewasa. Bisa dibilang tidak ada catatan  histories yang begitu lengkap tentang seorang nabi, kecuali biography Nabi Muhammad SAW. Karena detail dan lengkapnya itulah maka berbagai penafsiran baik yang pro maupun kontra lalu muncul.

Namun, sisi lain yang kurang mendapat sorotan adalah karir beliau sebagai saudagar[1]. Di dalam literature dan cerita di sekitar masa muda beliau banyak selukiskan sebagai al-Amin, As-Shiddique, dan pernah mengikuti pamannya berdagang ke Syam dan Siria. Uraian mendalam tentang kehidupan dan ketrampilan sebagai saudagar kurang memperoleh pengamatan untuk diteladani. Padahal sebelum diangkat menjadi Nabi, beliau telah meletakkan dasar-dasar etika, moral dan etos kerja yang mendahului zamannya. Dasar-dasar etika bisnis yang mendapat legitimasi keagamaan setelah beliau diangkat menjadi Nabi dan mendapat pembenaran akademis di awal abad 21. Prinsip bisnis modern seperti Customer Oriented, Strife for Excellent, kompetensi, efisiensi, trnasparansi, persaingan yang sehat, kompetitif, semuanya telah menjadi gambara pribadi Nabi Muhammad SAW ketika muda. Hingga begitu lekat diingatan penulis, bahwa Nabi Muhammad SAW memberikan mahar kepada Khadijah 40 ekor unta[2] yang setara dengan kurang lebih 300 juta rupiah mata uang kita sekarang, suatu hal besar dan keberanian yang hanya bisa dilakukan oleh orang terpandang. Dan itu dilakukan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW.

Banyaknya kecurangan yang dilakukan oleh produsen atau pedagang yang akhirnya merugikan konsumen dan masyarakat tentunya sangat menggugah hati. Bukankah Rasulullah telah memberikan tauladan yang jelas bagi kita semua dalam hal berbisnis, namun mengapa kecurangan itu masih saja terjadi. Kemungkinan besar hal itu karena kurang pahamnya pengusaha-pengusaha kita akan etika berbisnis Rasulullah. Karena itu berangkat dari title Nabi Muhammad SAW sebagai nabi akhir zaman, saya akan mengupas secara sederhana mengenai kesuksesan beliau sebagai saudagar yang nantinya akan melahirkan etika bisnis dalam Islam yang dicontohkan oleh beliau.

II. PEMBAHASAN

  1. Menelusuri Jejak Nabi Muhammad SAW: Sebagai Peletak Dasar Etika Bisnis dalam Islam

Kelahiran Nabi Muhammad merupakan peristiwa yang tiada bandingnya ‎dalam sejarah umat manusia, karena kehadirannya telah membuka zaman baru dalam ‎pembangunan peradaban dunia bahkan alam semesta (rahmatul-lil’alamin 21:107) ‎Beliau menjadi adalah utusan Allah SWT yang terakhir sebagai pembawa kebaikan dan ‎kemaslahatan  bagi seluruh umat manusia. Michael Hart dalam bukunya, ‎The 100 a Ranking of the Most Influential Person in History yang diterjemahkan oleh H. Mahbub Djunaidi menempatkan beliau sebagai orang nomor satu dalam daftar seratus orang yang ‎memiliki pengaruh yang sangat besar dalam sejarah. Kata Hart, “Muhammad Saw ‎terpilih untuk menempati posisi pertama dalam urutan seratus tokoh dunia yang paling ‎berpengaruh, karena beliau merupakan satu-satunya manusia yang memiliki ‎kesuksesan yang paling hebat di dalam kedua bidang-bidang sekaligus : agama dan ‎bidang duniawi”.

Nabi Muhammad SAW memiliki kebebasan dan memupuk kepercayaan diri melalui pengalaman yang menyenangkan ketika hidup dalam asuhan Halimah[3] ataupun masa pahit ketika ia lahir sebagai anak yatim, kemudian pada usia enam tahun dalam perjalanan menengok keluarga dan makam ayahnya di Madinah ibunya meninggal dunia. Setelah itu Baginda Nabi dibesarkan oleh kakeknya Abdul Muthalib dan Abu Thalib. Semuanya itu dijalani oleh Muhammad muda yang menguatkan psikologis beliau menjadi sosok yang kuat, dan paling kokoh sehingga suatu hari kelak menjadi landasan sikap yang menjadikan beliau sebagai saudagar yang ternama dan teladan.

Ketika usianya 12 tahun, beliau pergi ke Syiria untuk berdagang bersama pamannya sehingga beliau tumbuh sebagai wirausahawan yang mandiri. Ini ditunjukkan ketika pamannya bangkrut menjelang usia Nabi Muhammad SAW dewasa, beliau sudah mampu berdiri sendiri dengan melakukan perdagangan di kota Makkah. Kecerdasan, kejujuran dan kesetiaan Nabi Muhammad SAW adalah etika dasar bisnis yang sangat modern. Dan sifat inilah yang membuka peluang kemitraan antara Muhammad dengan para pemilik modal.

Salah satunya adalah Khadijah[4] yang menawarkan kerja sama dengan system bagi hasil. Kecakapan beliau mendatangkan keuntunan di semua bisnis yang ditangani beliau. Hingga nama beliau begitu dikenal di Yaman, Syiria, Busra, Iraq, Yordania dan kota-kota perdagangan di jazirah Arab setelah 20 tahun bergelut didalamnya.

Begitulah sosok Nabi Muhammad SAW dari muda hingga beliau berhasil menjadi saudagar yang berhasil dan dikagumi oleh semua orang dengan bekal kejujuran dan idealisme untuk bekerja keras dan adil pada para pelanggannya. Tentunya ini harus dicontoh oleh generasi saat ini khususnya para pengusaha yang ingin berhasil dalam menghadapi tantangan global sekarang ini dan pastinya diberkahi oleh Allah SWT.

B. Makna Nabi Muhammad SAW Sebagai Penutup Para Nabi

Jauh sebelum Frederick W. Taylor (1856-1915) dan Henry Fayol mengangkat prinsip manajemen sebagai suatu disiplin ilmu, Nabi Muhammad SAW sudah mengimplementasikannya dalam kehidupan dan praktek bisnisnya sehingga mengantarkan beliau menjadi saudagar yang sukses. Beliau dengan sangat baik mengelola proses, transaksi, dan hubungan bisnis dengan seluruh elemen bisnis serta pihak yang terlihat di dalamnya. Sebagaimana digambarkan oleh Prof. Afzalul Rahman[5] bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang pedagang yang jujur dan adil dalam membuat perjanjian bisnis. Beliau tidak pernah membuat pelanggannya komplen. Beliau selalu menjaga janjinya dan menyerahkan barang-barang yang dipesan dengan tepat waktu. Beliau senantiasa menunjukkan rasa tanggung jawab yang besar dan integritas yang tinggi dengan siapapun. Reputasi beliau sebagai seorang pedagang yang jujur dan benar-benar telah dikenal luas sejak beliau berusia muda.

Hal ini tentunya tidak luput dengan tugas beliau sebagai penutup para Nabi yang akhirnya diberi legitimasi keagamaan untuk dasar dan etika bisnis beliau setelah beliau diangkat menjadi Nabi. Ada beberapa unsure yang harus kita imani dalam makna Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi, yaitu:

1. (ناَسِخُ الرِّسَالَةِ) Menghapus Risalah sebelumnya

Risalah sebelumnya adalah semua kitab dan hukum yang pernah diturunkan oleh Allah swt. kepada para nabi dan dikabarkan oleh Allah swt. di dalam Al-Qur’an maupun di dalam As-Sunnah yang shahih.[6]

Semua kitab-kitab tersebut hukumnya telah di-nasakh (dihapuskan) oleh Al-Qur’an, kecuali beberapa hukum dan kisah. Dan semua yang belum di-nasakh tersebut disebutkan secara jelas dalam Al-Qur’an ataupun Al-Hadits

2. (مُصَدِّقُ اْلأَنْبِيَاءِ) Membenarkan Para Nabi Sebelumnya[7]

Membenarkan para nabi sebelumnya, maksudnya bahwa Islam melalui kitabnya, yaitu Al-Qur’an, membenarkan keberadaan para nabi yang ada sebelum Nabi Muhammad saw. dan meyakini bahwa Allah swt. menurunkan kitab-kitab kepada para nabi tersebut. Kita pun membenarkan seluruh berita yang ada dalam semua Kitab-kitab tersebut adalah dari Allah swt., selain yang telah diselewengkan dan diubah oleh para ahli kitab; serta mengerjakan semua hukumnya kalau ada yang belum di-nasakh (dihapuskan) oleh Al-Qur’an.[8]

3. (مُكَمِّلُ الرِّسَالَةِ) Penyempurna Risalah Sebelumnya.[9]

Bahwa Islam adalah agama terakhir, maka nabinya pun adalah nabi penutup, sehingga kitabnya, yaitu Al-Qur’an ini, diturunkan oleh Allah swt. untuk menyempurnakan semua risalah sebelumnya. Oleh karena semua risalah sebelum Nabi Muhammad saw. tersebut telah mengalami perubahan dan penyimpangan dari masa ke masa yang dilakukan oleh generasi setelahnya.[10]

4. (كاَفَّةٌ لِلنَّاسِ) Berlaku untuk Semua Manusia.[11]

Perbedaan syariat Nabi Muhammad saw. dibandingkan para nabi sebelumnya adalah bahwa syariat beliau berlaku untuk seluruh ummat manusia sampai akhir zaman. Hal ini berbeda dengan syariat para nabi yang lainnya yang hanya terbatas untuk umatnya saja.

Hal ini mengandung dua pelajaran bagi kita, yaitu: pertama, mengetahui hikmah Allah swt. dalam penetapan hukum bagi setiap umat, sehingga Allah swt. selalu menetapkan hukum yang sesuai bagi setiap umat. Kedua, oleh sebab itu hal ini meyakinkan kita bahwa Islam merupakan syari’at yang paling sempurna, paling lengkap, dan paling baik karena merupakan penutup dan penyempurna dari risalah semua nabi dan rasul.

5. (رَحْمَةٌ لِلْعاَلمَِيْنَ) Menjadi Rahmat bagi Seluruh Alam.[12]

Hal lain yang juga memperkuat kebenaran risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. adalah dampak dari dakwahnya. Dakwahnya yang telah dapat mengubah sebuah peradaban yang terbelakang, buta aksara, dan kejam, menjadi memimpin dan menguasai peradaban dunia serta mengisinya dengan gabungan antara ketinggian ilmu pengetahuan dan akhlak yang belum dapat ditandingi oleh peradaban modern saat ini sekalipun. Di antara hasil karya besar Nabi Muhammad saw. sebagai rahmat bagi alam semesta ini adalah sebagai berikut.

1. Memusnahkan segala jenis syirik, baik yang besar (menyembah berhala, sihir, ramal, dan sebagainya) maupun kecil (sumpah bukan dengan nama Allah, riya’, dan sebagainya); dan menggantinya dengan keimanan yang total kepada Allah swt.

2. Memusnahkan segala adat tradisi jahiliyyah yang menyimpang, seperti membuka aurat, ber-khalwat dengan lawan jenis, campur baur lelaki dan wanita (ikhtilath), dan sebagainya; dan menggantinya dengan akhlak yang mulia dan tuntunan moral yang luhur.

3. Menegakkan sebuah sistem kehidupan yang seluruhnya berdiri di atas tauhid, baik ekonomi, politik, sosial, kemasyarakatan, seni, olahraga, dan lain-lain.

4.. Melakukan sebuah revolusi total terhadap hati sanubari, pemikiran, dan peraturan hidup umat manusia.

5. Mempersatukan semua ras, semua suku, semua golongan manusia di bawah sebuah sistem yang berlandaskan tauhid, berhukumkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dan bertujuankan kebaikan dunia dan akhirat

Ketika kita beriman kepada Nabi Muhammad saw., maka kita akan mengetahui bahwa risalah beliau adalah risalah yang paling lengkap dan paling sempurna yang pernah diturunkan oleh Sang Pencipta kepada hamba-Nya. Akidah semua nabi adalah satu, yakni tauhid, tetapi syariah mereka berbeda-beda. Karena Nabi Muhammad saw. adalah nabi penutup, maka risalahnya adalah risalah yang terakhir dan syariatnya akan berlaku hingga akhir zaman. Tiada agama yang diridhai di sisi Allah swt. kecuali Islam, dan tidak ada nabi yang membawa syariat lain setelah Nabi Muhammad saw.

C. Etika dan Prinsip Manajemen Bisnis Rasulullah

Setelah kita pahami makna peran beliau sebagai nabi akhir zaman dan aktifitas beliau sebagai pengusaha yang sukses, dapat kita temukan etika bisnis yang tercakup didalamnya dasar-dasar etika dan prinsip manajemen bisnis yang digunakan oleh Banginda Rasulullah SAW, diantaranya yaitu:

  1. Jujur dan adil

Sikap inilah yang selalu ditunjukkan oleh nabi sehingga menjadi kunci sukses beliau untuk melakukan perjalanan perdagangan ke Yerussalem, Yaman dan tempat-tempat lain bahkan Nabi mendapat keuntungan di luar dugaan. Termasuk jujur pula kita tidak menipu, menunjukkan kesetiaan da tidak menyembunyikan cacat, amanah. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Majjah dari Ibnu ‘Umar r. a. bahwa “Kelak di hari kiamat, seorang muslim yang berprofesi sebagai pedagang yang terpercaya dan jujur akan dikumpulkan bersama orang-orang yang mati syahid.

  1. Bersikap sopan dan baik hati

Jabir meriwayatkan bahwa Rasulullah berkata. “Rahmat Allah atas orang-orang yang berbaik hati ketika ia menjual dan membeli dan ketika dia membuat keputusan.” (HR. Bukhari).

  1. Menghindari sikap berlebihan seperti banyak bersumpah

Tentang hal ini, nasehat Rasulullah, “Hindarilah banyak bersumpah ketika melakukan transaksi dagang, sebab itu dapat menghasilkan penjualan yang cepat lalu menghapus berkah” .  Nabi juga sangat membenci orang-orang yang dalam dagangnya menggunakan sumpah palsu. Beliau mengatakan bahwa pada hari kiamat nanti,  Allah tidak akan berbicara, melihatpun tidak kepada orang yang semasa hidupnya berdagang dengan menggunakan sumpah palsu.

  1. Menghindari riba

Ibnu Abi Ad-Dunya dan Al-Baihaqi meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah berkhutbah yang isinya menyinggung tentang riba dan akibatnya. Beliau bersabda, “Satu dirham yang diperoleh seseorang melalui riba lebih besar dosanya di sisi Allah daripada tiga puluh enam kali melakukan zina. Dan riba yang paling besar dosanya adalah riba dari harta seorang muslim.[13]

  1. Tidak menyepelekan hutang

Asy-Syafi’, Ahmad, al-Tirmidzi dan Ibnu Majjah meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda, “Nyawa orang beriman terkatung-katung karena utangnya sampai utannya itu dilunasi.

  1. Tidak melakukan wanprestasi kepada krediturnya.

Beliau kerap mengembalikan lebih besar nilainya dari pokok pinjamannya, sebagai penghargaan terhadap kreditur. Suatu saat pernah beliau meminjam sekor unta yang masih muda, kemudian menyuruh Abu Rafi mengembalikannya dengan seekor unta bagus yang umurnya tujuh tahun. Berikan kepadanya unta tersebut, sebab orang yang paling utama adalah orang yang menebus utangnya dengan cara yang paling baik.

  1. Tidak menimbun dan menetapkan tarif tinggi

Banyak hadis yang melarang penimbunan suatu barang. Di antaranya sebagaimana yang dituliskan Ibnu Hajar dalam bukunya al-Ittihaf, ath-Thabrani dan al-Baihaqi meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Sejahat-jahatnya hamba adalah orang suka menimbun. Jika Allah menetapkan bahwa harga turun, maka ia bersedih, dan jika Allah menetapkan naik, ia senang.”

  1. Murah hati dan Toleran[14]

Rasulullah pun bernah bersabda “Semoga Allah merahmati orang yang memberikan kemudahan ketika menjual membeli dan menagih utang. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Jabir r.a.

  1. Senantiasa mengingat Allah

Kesibukan urusan dunia (perniagaan) hendaknya tidak menghalangi kesibukan untuk mengingat akhirat.[15] Sebagaimana hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani bahwa “Orang yang mengingat Allah di tengah orang-orang yang lali bagaikan seorang prajurit di tengah orang-orang yang melarikan diri dari peperangan dan bagaikan orang hidup di tengah orang-orang yang mati.

III. PENUTUP

Demikianlah sekelumit sisi kehidupan Nabi Muhammad SAW dalam dunia bisnis yang mengantarkannya menjadi saudagar yang berlimpah berkah dan keberhasilan dan sarat dengan nilai-nilai kebaikan. Prinsip-prinsip modern, seperti tujuan pelanggan dan kepuasan konsumen, pelayanan yang unggul, kompetensi, efisiensi, transparansi, persaingan yang sehat dan kompetitif semuanya telah menjadi gambaran pribadi dan etika bisnis Nabi Muhammad SAW. Semoga para pebisnis modern, dapat meneladaninya sehingga mereka bisa sukses dengan pancaran akhlak yang terpuji.

Billahi fi sabilil haq fastabiqul khairat.

DAFTAR PUSTAKA

Afzalurrahman, Muhammad: Encyclopedia of Seerah, London: The Muslim Schools Trust, 1982.

Al-Hufy, Ahmad Muhammad, Akhlak Nabi Keluhuran dan Kemuliaannya, Jakarta: Bulan Bintang, 1978.

Al-Ismail, Tahia, Tarikh Muhammad SAW Teladan Pelaku Ummat, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1991.

Haekal, Muhammad Husain, Sejarah Hidup Muhammad, Jakarta: Pustaka Litera Anrat Nusa, 2001

http://www/pesantrenvirtual.com/indek.php?option=com_content&task=view&id=1152&Itemid=d Download pada tanggal  8 Januari 2008

Khan, Abdul Wahid, Rasulullah di Mata Sarjana Barat, Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2002.

Nadwi, Siyid Sulaiman, Muhammad The Ideal Prophet, India: Academy of Islamic Research & Publications, 1977.

Schimmel, Annemarie, Dan Muhammad Adalah Utusan Allah, Bandung: Mizan, 1993.

Syakbi, Mahmud, Kepribadian Rasulullah, Solo: Pustaka Mantik, 1997.

www.pikiran-rakyat.com/cetak/0404/30/renungan _jum’at.htm download pada tanggal 29 Desember 2007

Yasien, Asy-Syaikh Khalil, Muhammad di Mata Cendekiawan Barat, Jakarta: Gema Insani Press, 1989.


[1] Saudagar di sini dimaknai penulis sebagai wirausahawan, bisnismen atau pedagang.

[2] Lihat: http://www/pesantrenvirtual.com/indek.php?option=com_content&task=view&id=1152&Itemid=d Download pada tanggal  8 Januari 2008

[3] Halimah binti Abi-Dhu’ib adalah seorang wanita dari keluarga Sa’d yang menyusui Nabi Muhammad SAW hingga usia dua tahun. Atas kehendak ibunya Aminah Nabi Muhammad SAW tinggap pada keluarga Sa’d di pedalaman Sahara dalam pengasuhan Halimah sampai usia lima tahun. Bagi Halimah keberadaan Nabi Muhammad SAW di lingkungan keluarganya telah memberi berkah pada kehidupannya. Ternak kambingnya gemuk dan susunya pun bertambah. Allah SWT telah memberkahi semua yang ada padanya. Lihat: www.pikiran-rakyat.com/cetak/0404/30/renungan _jum’at.htm download pada tanggal 29 Desember 2007

[4] Khadijah binti Khuwailid adalah seorang wanita pedagang yang kaya dan dihorati, berasal dari keluarga Asad beliau bertambah kaa setelah dua kali beliau menikah dengan keluarga Makhzum, sehingga dia menjadi seorang penduduk Mekah yang terkaya. Lihat: Muhamad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Bogor: Pustaka Litera Antar Nusa, 2001. h. 62

[5] Afzalurrahman, Muhammad: Encyclopedia of Seerah Volume II buku ke tiga, London: The Muslim School Trust, 1982.

[6] Yaitu Shuhuf (lembaran) yang diturunkan kepada Ibrahim a.s. (Lihat QS. Al-A’laa (87): 14-19 dan An-Najm (53): 36-42], Shuhuf yang diturunkan kepada Musa a.s. [lihat QS. Al-A’laa (87): 14-19 dan An-Najm (53): 36-42], Taurat yang diturunkan kepada Musa a.s. (lihat QS. Al-Baqarah (2): 53, Ali Imran (3): 3, Al-Maidah (5): 44, dan Al-An’am (6): 91], Zabur yang diturunkan kepada Daud a.s. [lihat QS. An-Nisa’ (4): 164, Al-Kahfi (18): 55, dan Al-Anbiya’ (21): 105], dan Injil yang diturunkan kepada Isa a.s. [lihat QS. Ali Imran (3): 3 dan Al-Mai’dah (5): 46].

[7] Lihat Qs. Al-Baqarah ayat 101

[8] Lihat Qs. Al-Baqarah ayat 97 dan Al Maidah ayat 48

[9] Lihat Qs. Al Maidah ayat 3

[10] Berbagai penyimpangan itu diantaranya: mengubah arti dari lafazh (kata-kata) yang ada [lihat QS. Ali Imran (3): 75, 181, 182; An-Nisa’ (4): 160-161; Al-Maidah (5): 64], mengubah atau menambah baik kata, kisah, maupun hukum [lihat QS. Al-Baqarah (2): 79, Ali Imran (3): 79-80; Al-Maidah (5): 116-117], menyembunyikan dan menghilangkan berita-berita tentang Nabi Muhammad saw. dan kebenaran lainnya [lihat QS. Al-Baqarah (2): 89-90, 109, 146; Ali Imran (3): 71-72; Ash-Shaff (61): 6].

[11] Lihat Qs. Saba’ ayat 28

[12] Lihat Qs. Al Anbiya’ ayat 107

[13] Lihat pula Qs. Ali Ilmran ayat 130

[14] Lihat Qs. Al-A’raf ayat 56

[15] Lihat, Qs. An-Nuur ayat 37

2 komentar April 1, 2010

PEMERINTAHAN NABI DAN PERUBAHAN SOSIAL


  1. PENDAHULUAN

The ensyslopedia Brittanica says that:

“Muhammad is the most successful of all Prophets and religious personalities”.

The personalty of Mohammad! It is most difficult to gen into the truth of it. Only a glimpse of it I can cath. What a dramatic succession of picturesque scenes. There is Mohammad the Prophet, there is Mohammad the General; Mohammad the King; Mohammad the Warrior; Mohammad the Bussinessman; Mohammad the Preacher; Mohammad the Philosopher; Mohammad the Statesman; Mohammad the Orator; Mohammad the Reformer; Mohammad the Refuge of Orphans; Mohammad the Protetor of Slaves; Mohammad the Emancipator of Woman; Mohammad the Law-Giver; Mohammad the Judge dan Mohammad the Saint.

Itulah sosok Rasulullah yang sangat dihormati dan diagungkan sepanjang masa. Saat umat dalam kegelapan dan kehilangan pegangan hidupnya Nabi Muhammad Saw datang sebagai rahmatan lil’aamin. Nabi Muhammad Saw melahirkan peradaban baru yang demokratis, egaliter dan manusiawi[1]. Perjuangan dan model kepemimpinan Nabi Muhammad Saw yang membela rakyat kecil dan mendahulukan kepentingan public, patut kita aplikaskan.

Kebesaran Nabi Muhammad Saw sebagai seorang tokoh dunia yang berhasil mengubah keadaan masyarakatnya melalui pemerintahan beliau dan perubahan sosial yang dilakukan beliau sudah diakui oleh seluruh dunia dan tertoreh dalam  tulisan pujangga dan filosofis dunia. Seperti Muhammad Iqbal, Thomas carley, Arnold Toynbee, Will Durant da Michael Hart yang menuliskan pujian yang sangat agung. Bahkan M. Hart meletakkan Nabi Muhammad Saw sebagai tokoh nomor satu di antra seratus took yang paling berpengaruh di dunia. Will Durant menganggap Nabi Muhammad Saw sebagai pribadi yang lengdap, karena beliau adalah seorang sosiolog, psikolog, politisi, agamawan juga seorang pemimpin besar. Asghar Ali Enginger juga menegaskan bahwa  sosok pemimpin yang sangat redah hati, tapi berhati luhur dan berotak luar biasa cerdas. Dan meminjam istilah Antonio Gramsci dan Ali Syari’ati beliau adalah sosok intelektual organic dan rausyan fikr yang ideal. Karena dalam perjalanan didupnya, beliau berhasil menyatukan idealisme intelektual dan aktivisme sosial sebagai pemandu perjuangan dan visi gerakan langkahnya dalam menjalani kehidupan ini.

Berangkat dari pemahaman itu saya mengawala  pembahasan saya dari situasi pemerintahan Nabi Muhammad Saw dan situasi masyarakat Arab menjelang lahirnya Islam dengan penekanan khusus pada aspek politik, ekonomi, sosial, agama dan sastra.. Lalu dilanjutkan dengan berbagai peran Nabi Muhammad Saw baik itu sebagai nabi, rasull, pendiri bangsa, pemimpin masyarakat, politik, militer, pendidikan dan sebagai perancang ekonomi. Dan di akhiri dengan sajian kondisi masyarakat dan perubahan sosial yang terjadi. Dengan mengkaji aspek-aspek itu maka akan jelas bahwa Islam lahir dalam suasana politik yang didominasi oleh dua kekuatan raksasa, yaitu Sasania (Persia) di Timur dan Bizantium (Romawi) di Barat[2].

Dan dalam waktu yang relative singkat, Islam berkembang pesat menjadi suatu kekuatan politik yang menentukan perjalanan sejarah. Di sini pun akan disajikan bagaimana peran Islam dalam menanmkan bentuk kepercayaan baru yang melahirkan sisterm sosial dan gaya hidup yang baru.

Semoga tulisan ini membawa manfaat bagi yang menulis dan membacanya sehingga dapat dimanfaatkan sebaik mungkin bagi perkembangan Islamic Education.

  1. PEMBAHASAN
    1. Pemerintaha Pada Masa Nabi Muhammad Saw

Pemerintahan Islam yang dipimpin oleh Nabi Muhammad Saw kekuasaan tertinggi ada pada syari’at Islam sebagaimana yang terkandung dalam Al-Qur’an, berlaku bagi seluruh ummat Islam termasuk Nabi Muhammad Saw sebagai pemimpin. Apabila ada masalah yang tidak ditetapkan dalam Al-Qur’an maka keputusannya berada di tangan Nabi.

Di sini Nabi Muhammad Saw menjabat peran ganda yaitu sebagai Nabi dan sebagai kepala pemerintahan. Walau Nabi Muhammad Saw menjabat otoritas tertinggi, namun beliau sering mengajak musyawarah para sahabat untuk memutuskan masalah-masalah penting.

Kebijakan pertama yang dilakukan Nabi Muhammad Saw di Madinah adalah membangun masjid yang dikenal sebagai Masjid Nabawi, yang menjadi pusat kegiatan pemerintahan Islam. Selain sebagai tempat ibadah, juga berfungsi sebagai kantor pemerintah pusat dan peradilan. Perjanjijan dan jamuan terhadap delegasi asing, penetapan surat perintah kepada para gubernur dan pengumpulan pajak pun diselenggarakan di masjid.

Sebagai hakim, Nabi memeriksa dan memutuskan perkara di masjid. Nabi Muhammad Saw merupakan orang yang pertama kali memperkenalkan kepada masyarakat Arab tentang sisterm pendapatan dan pembelanjaan pemerintahan.

Beliau mendirikan lembaga kekayaan masyarakat di Madinah. Lima sumber utama pendapat Negara Islam yaitu zakat, jizyah[3], kharaj[4], ghanimah[5], dan al-fay[6]. Zakat merupakan kewajiban bagi setiap muslim atas harta kekekayaan yang berupa binatang ternak, hasil pertanian, emas, perak, harta perdagangan dan pendapatan lainnya yang deperoleh seseorang.

Nabi Muhammad Saw juga merupakan pimpinan tertinggi tentara muslim. Beliau turut serta dalam peperangan dan ekspedisi militer. Bahkan memimpin beberapa perang besar seperti perang Badar[7],Uhud, Khandaq[8], Hunayn[9], Tabuk[10] dan dalam penaklukan kota Makkah. Peperangan dan ekspedisi yang lebih kecil diserahkan kepada para komandan yang ditunjuk oleh Nabi.

Nabi Muhammad Saw juga selalu mendorong masyarakat untuk giat belajar. Setelah hijrah ke Madinah, Nabi mengambil prakasa mendirikan lembaga pendidikan. Pasukan Quraisy yang tertawan dalam perang Badar dibebaskan dengan syarat setiap mereka mengajarkan baca tulis kepada sepuluh anak-anak muslim. Sejak saat itu kegiatan belajar baca tulis dan kegiatan pendidikan lainnya berkembang dengan pesat di kalangan masyarakat. Dan ketika Islam telah tersebar ke seluruh penjuru jazirah Arab, Nabi mengatur pengiriman guru-guru untuk ditugaskan mengajarkan al-Qur’an kepada masyarakat suku-suku terpencil.

  1. Peran Nabi Muhammad Saw

Selain sebagai Nabi bagi seluruh umatnya, dalam perkembangan Islam selanjutnya Nabi menduduki peranan yang sangat penting, di antaranya:

  1. Nabi Muhammad Saw Sebagai Nabi Dan Rasul

Sebagai Nabi dan rasul, Nabi Muhammad Saw mendakwahkan agama Islam dengan akhlak yang sesuai dengan Al-Qur’an. Sebagiai da’I beliau menunjukkan sifat-sifat sabar, lemah lembut, toleransi, tega dan istiqomah dalam ajaran yang dibawanya, terutama tentang aspek akidah. Beliau juga melakukan aktifitas dakwah dengan dedikasi yang sangat tinggi.

  1. Nabi Muhammad Saw Sebagai Pendiri Bangsa

Nabi Muhammad Saw tidak sekedar sebagai pembaharu masyarakatnya, tetapi Nabi Muhammad Saw juga berperan sebagai pendiri bangsa yang besar. Nabi berjuang pada tahap awal dengan mendrikan sebuah kebangsaan dengan menyatukan para pemeluknya, lalu beliau merancang sebuah imperium yang dibangun berdasarkan kesepakatan dan kerjasama berbaga kelompok yang terkait. Pada saat awal ini, Nabi Muhammad Saw berhasil mendirikan sebuah Negara Madinah, yang semula hanya terdiri dari suatu kelompok masyarakat yang heterogen satu sama yang lainnya saling bermusuhana. Maka dengan hadirnya Nabi Muhammad Saw masyarakat Madinah menjadi bersatu dalam kesatuan Negara Madinah. Selajutnya Nabi Muhammad Saw memberlakukan beberapa ketentuan hukum untuk semua tanpa pengecualian dalam kedudukan yang sama, tidak mengenal perbedaan kedudukan karena nasab, kelas sosial dan lain sebagainya.

  1. Nabi Muhammad Saw Sebagai Pemimpin Masyarakat

Peran Nabi Muhammad Saw dapat kita lihat juga sebagai pemimpin masyarakat ketika beliau sampai di Madinah, beliau berhasil menghapus permusuhan tradisi di antara suku Aus dan Khazraj yang keduanya digabungkan oleh Nabi Muhammad Saw menjadi golongan anshar. Setelah itu, golongan Anshar ini digabungkan pula dengan orang-orang Quraisy yang dating dari Mekkah dan biasa disebuh golongan Muhajirin. Dengan demikian keberhasilan baginda merupakan tokoh pertama yang menyatukan bahsa arab yang berasal dari keturunan yang berbeda menjadi satu umat yang kuat dan kokoh. Selain itu, sebagai pemimpin, beliau telah menentukan beberapa hal yang menjamin kesejahteraan masyarakatnya. Antara lain: ibadah, munakahat, jenayah, keneggaraan dan sebagainya.

  1. Nabi Muhammad Saw Sebagai Pemimpin Politik

Keunggulan Nabi Muhammad Saw sebagai pemimpin politik dapat kita lihat dari beberapa hal, antaranya:

-          Menyelesaikan Masalah Perpindahan Hajar Al-Aswad Ke Tempat Asal

Nabi Muhammad Saw menunjukkan citra kepemimpinanya ketika berhasil menyelesaikan masalah yang timbul di kalangan pemimpin bani-bani dalam kabilah Quraisy yang merebutkan hak untuk meletakkan hajarul aswad di tempatnya yang asa di penjuru dinding ka’bah. Peristiwa itu terjadi setelah kota Mekkah dilanda banjir dan sebagiian bangunan ka’bah runtuh. Ketika akan meletakkan hajar aswad ketempat semula yaitu di sudut dinding Ka’bah, bani-bani di Mekkah saling memperebutkannya. Karena batu itu dianggap sangat suci dan mulia sehingga hanya tangan yang mulia dari bani atau suku yang mulia saja yang layak meletakkan batu itu ke tempat semula. Akhrnya mereka memililih Nabi Muhammad Saw sebagai hakim untuk meyelesaikan masalah tersebut. Lalu Nabi Muhammad Saw meletakkan batu tersebut di atas sehelai kain. Setelah itu setiap wakil bani memegang bagian ujung kain tersebut dan bersama-sama mengangkatnya. Nabi Muhammad Saw sendiri meletakkan batu tersebut ke tempat asalnya di sudut Ka’bah. Solusi dari Nabi Muhammad Saw menyebabkan seuruh pihak yang terlibat konflik itu merasa puas.

-          Membentuk Piagam Madinah

Pada tahun pertama Hijriah Nabi Muhammad Saw brhasil melahirkan piagam Madinah[11] yang merupakan perlembagaan tertulis yang pertama di dunia. Piagam Madinah ini berhasil mewujudkan sebuah Negara Islam yang pertama di dunia yang terdiri dari banyaknya rakyat dan ragam agama. Sesungguhnya perlembagaan ini lebih bersifat satu alat untuk menyelesaikan masalah masyarakat majemuk yang ingin hidup aman dan damai dalam sebuah Negara yang sama. Dengan kata lain, ini adalah teori dan aplikasi toleransi yang pertama  kali di lahirkan oleh Nabi Muhammad Saw sebagai pioneer sekaligus adanya legitimasi secara tidak langsung dari seluruh masyarakatnya baik yang telah memeluk Islam maupun yang belum.

-          Mengadakan Perjanjian Hudaibiah

Perhanjian Hudaibiah yang diadakan di antara umat Islam Madinah dengan kaum Quraisy Mekah merupakan satu lagi bukti yang menunjukkan bahwa beliau Nabi Muhammad Saw adalah pemimpin yang sangat bijaksana. Tak ada satupun yang menyangkalnya termasuk Sayyidina Umar sendiri bahwa perjanjian Husaibiah yang dianggap kontroversi itu telah memberikan ketegasan pada kaum Quraisy dalam semua bidang. Sebagai buktinya, setelah perjanjian Hudaibiyah, tiga pahlawan unggulan Quraisy yaitu Khalid bin Walid, Amr bin Ash, dan Osman bin Talba memeluk Islam, umat islam bertamba sebanyak lebih dari lima kali lipat dari dua tahun saja. Serta tewasnya Mekkah tanpa pertumpahan darah dua tahun kemudian. Jelaslah sudah bahwa Nabi Muhammad Saw membuktikan kebijaksanaannya dalam dunia percaturuan politik tanah Arab.

-          Mengadakan Hubungan Diplomat

Walaupun Nabi Muhammad Saw buta huruf, namun beliau membuktikan kualitasnya sebagai seorang pemimpin sebuah kerajaan. Beliau mengadakan hubungan diplomatic dan mengirim utusan-utusan ke berbagai daerah di dalam dan di luar Tanah Arab seperti Habsyah, Farsi Byzantine, Ghassan, Hirah, dan lain sebagainya.

  1. Nabi Muhammad Saw Sebagai Pemimpin Militer

Nabi Muhammad Saw meletakkan akidah, syariat dan akhlak yang mulia sebagai asas kepemimpinannya. Beliau dan sahabatnya menetapkan dasar tertentu semasa perang seperti: tidak memerangi orang lemah, orang tua dan anak-anak serta wanita, tidak memusnhkan harta benda. Beliau juga mengaplikasikan sifat amanah dalam melaksanakan perintah Allah dan juga seluruh umat Islam dalam memimpin. Nabi Muhammad Saw bersifat adil terhadap harta rampasan perang, yaitu dengan membaginya secara rata pada tentara yang turut dalam peperangan dan tidak mengejar musuh yag sudah lari dari medan peperangan. Nabi Muhammad Saw adalah panglima tentara dan ahli strategi. Dengan ilmu dan pengalaman yang luas, beliau berhasil membawa kejayaan kepada tentara Islam.

  1. Nabi Muhammad Saw Sebagai Perancang Ekonomi

System ekonomi yang dikembangkan sebelumya adalah system ekonomi kapitasis dan absolutistic yang berpusat pada suku-suku tertentu. Nabi Muhammad Saw datang untuk  memperkenalkan system ekonomi baru yang menggantikan dasar ekonomi zaman Jahiliah. Beliau menggalakkan icon kerja keras dan rajin dalam bidang perniagaan dan pertanian. Nabi Muhammad Saw telah membangun ekonomi umat Islam seperti menebus blik dan mengolah tanah yang tergadai kepada kaum Yahudi.

  1. Kondisi Sosial Masyarakat Dan Perubahan Sosial Yang Terjadi

Periode Madinah adalah pekerjaan besar yang di lakukan oleh Rasulullah Saw berupa pembinaan terhadap masyarakat Islam yang baru terbentuk. Karena masyarakat merupakan wadah dari pengembangan suatu kebudayaan maka diletakkan pula dasar-dasar Islam[12]. Ini merupakan representasi dari sejumlah nilai dan norma yang mengatur manusia dan masyarakat dalam hal yang berkaitan dengan ibadah, sosial, ekonomi dan politik yang bersumber dari al-qur’an dan sunnah.

Ada banyak hal yang dirubah pada masa pemerintahan Nabi Muhammad Saw khususnya dalam era periodisasi Islam, antara lain:

  1. Politik

Seperti yang kita ketahui bahawa Arab pra Islam didominasi oleh dua kerajaan besar yaitu Bizantium dan Persia sehingga secara geografis Mekkah tidak hanya sulit dijangkau tapi juga sikap pemimpinnya yang menjalankan politik non-blok sehingga Negara-negara Asing menaruh hormat terhadap bangsa Arab pada saat itu. Setelah datangnya Islam, kebijakan politik itu pada awanya tetap dipertahankan, namun dengan berkembangnya Islam kebijakan itu mengalami perubahan menjadi sebuah kebijakan yang tidak hanya sekedar memihak salah satu Negara adi kuasa yang ada saat itu, tapi sudah mulai menancapkan pengaruhnya ke dalam daerah-daerah di bawah kekuasaannya[13].

Selain itu, tentang pemilihan pemimpin, bangsa Arab sudah memilliki nilai-nilai demokratis dengan dipraktikannya  musyawarah. Mereka memilih pemimpin yang bijaksana dan adil dan menekanan senioritas serta pengalaan berdasarkan kesepakatan bersama.

Kemudian model kepemimpinan tersebut dilanjutkan dan disempurnakan oleh Islam sebagaimana dapat kita lihat pada model kepemimpinan Nabi Muhammad Saw dan Khilafa Rasyidin. Yaitu model pemilihan yang tidak hanya didominasi oleh salah satu kaum atau suku Arab. Islam mengajarkan bahwa kepemimpinan bisa diperoleh  oleh kaum atau suku manapun asaka ia memenuhi kuaifikasi adil, egalite dan fraternity[14].

Demikian pula dengan ghanimah yang pembagiannya disempurnakan oleh Islam dengan bervisi adil dan pemerataan yaitu nabi, keluarga, memelihara anak yatim da administrasi Negara mendapat seperlima sedangkan sisanya di bagi sesuai dengan kualitas tentara.[15]

  1. Ekonomi

Dua ratus tahun sebelum masa kenabian Nabi Muhammad Saw, Arab sudah mengenal peralatan pertaniah semi modern[16]. Mereka pun mampu membuat bendungan raksasa yang dinamakan al-ma’arib. Mereka menggunakan tiga sistem dalam mengelola pertanian yaitu sewa menyewa, bagi hasil produk, dan sisterm pandego.

Mekkah juga merupakan jalur persilangan ekonomi internasional sehinggga Mekkah memiliki peranan penting dan strategis untuk berpartisipasi dalam dunia perekonomian. Mereka digolongkan menjadi tiga yaitu, kolongmerat yang memiliki modal, pedagang yang mengolah modal dan para perampok dan rakyat biasa yang memberikan jaminan keamanan kepada para khafilah pedagang.[17]

Dapat dipahami bahwa tradisi pertanian dan perdagangan di Arab sebenarnya sudah ada jauh sebelum Islam, namun tidak ada landasan keadilan dan persamaan di dalamnya. Ini bisa kita lihat dietika permodalan dikuasai oleh elite politik penguasa permodalan.

Islam lalu memasukkan nilai-nilai keadilan dan persamaan dalam perekonomian masyarakat Arab. Sehingga tidak ada lagi monopoi perekonomian dan perbudakan serta mengimplementasikan niai keadilan,kejujuran dan kesamaan sehingga tidak ada yang dirugikan.

  1. Sosial

Tidak disesalkan apabila masyarakat arab mempunyai sifat keras dan perilaku yang kasar, karena hal ini dipengarhi oleh factor geografis negaranya yang bertanah tandus, berdebu, berpasir dan berbatu. Dikenalnya masyarakat arab sebagai masyarakat jahiliyyah lebih tepatnya karena mereka memiliki moral yang rendah. Walaupun tidak semuanya, tapi kepala sukulah yang memiliki muru’ah.

Strategi perng mereka terdiri dari lima pasukan inti, yaitu al-Muqaddam (pasukan pembawa bendera), al-Maimanah (sayap kanan),  al-Maisarah (sayap kiri), al-saqaya (pasuka pembawa obat-obatan serta sukarelawan) dan al-Qalb (pasukan inti). Strategi ini diadopsi total oleh Nabi Muhammad Saw dalam melakukan peperangan melawan orang-orang kafir Quraisy[18].

Mereka juga memiliki fanatis terhadap suku yang sangat tinggi sehingga kesenjangan perekonomian pun Nampak sangat mencolok. Selain itu, terdapat pula tradisi penguburan anak perempuan hidup-hidup pada beberapa suku. Juga menganut tradisi perkawinan mut’ah, zawaq, istibda, khadn, mutadamidah, badal, syighar, maq, saby, hamba sahay, antar saudaralelaki dan saudara wanitanya atau ayah dan putrinya, atau suami istri[19].

Kondisi sosial arab tidak semuanya jelek, hanya saja ada beberapa yang perlu diperbaiki khususnya tatanan kehidupan sosialnya.karena itu setelah Islam datang kebiasaan mengubur anak perempuan hidup-hidup, tradisi perkawinan yang sama sekali tidak menghargai perempuan serta perlakuan yang tidak manusiawi terhadap budak-budak, Islam mengarahkan masyarakat arab tentang kemanusiaan dan memberikan world view yang luas tentang keberagamaan, kesamaan dan penghargaan terhadap gender. Konkritnya Islam mengajarkan agar memiliki istri maksimal empat, itupun jika suami bisa berbuat adil. Perlu digaris bawahi bahwa dalam konteks sekarang sangat perlu tafsiran yang baru dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berkembang saat ini.

  1. Sastra

Sastra jahiliyyah adalah cermin langsung bagi seluruh kehidupan bangsa arab pra islam, karena di dalamnya dapat kita lihat kehidupan, alam, budaya dan peradaban yang murni maupun yang telah dipengaruhi oleh bangsa asing.

Namun demikian ada beberapa syair arab yang  sangat imaginer dan simbolis sehingga sulit dicerna oleh kalangan umum. Sastra arab telah melahirkan penyair-penyair yang handal sehingga tidak heran jika umat islam dikenal denagn kemahirannya membuat syair dan puisi yang mengandung unsure spiritual theologs dan humanism yang kental.[20]

  1. Agama

Mesikpun tidak berpengaruh besar, namun yahudi dan nasrani telah berkembang jauh sebelum islam lahir di Mekkah. Melainkan kuatnya paganisme[21] yang bercokol dalan keberagamaan mereka. Ini merupakan pengkomparasian antara vetieisme[22], toteisme[23] dan animisme[24]. Namun adapula yang menganut ajaran hanif dari nabi Ibrahim a.s.

Di sinilah  Islam membawa dan mengarahkan bangsa arab untuk memiliki keimanan yang proporsional kepada Allah SWT. Islam meluruskan keimanan dan aqidah meeka yang tidak bisa disamakan dengan semua jenis makhluk di dunia ini. Di sinlah élan vital islam  memberikan pemahaman tentang tauhid yang tidak hanya sekedar terbatas pada pengesaan Tuhan, tapi juga kemanusiaan yag kemudian diwujudkan dalam bentuk persamaan dan keadilan.

  1. KESIMPULAN

Dari beberapa uraian di atas dapat saya simpulkan bahwa pemerintahan Nabi Muhammad Saw adalah suatu karya cipta pemerintahan yang sempurna melalui usaha yang tidaklah mudah. Dan merupakan reperesentasi dari pemerintahan yang berdaulat.. Modal intelektual kepemimpinan Nabi Muhammad Saw adalah pelajaran bagaimana meneumbuhkan rasa kebersaman dan optimisme dala bingkai ketaatan. Perjalanan kepemimpinan Nabi Muhammad Saw adalah suatu proses kreatif dan berlangsung secara continue, berkembang dan beradaptasi denga kebutuhan. Intelektual capital merupakan konsep yang tidak dapat ditawar lagi dalam membangun sebuah tim menjadi lebih baik. Dengan kalimat lain, intelektual capital ini berfungsi untuk learn how to learn da sebagai uatan utama dalam membangun performance management of war.

Selain itu, sebenarnya bangsa arab memiliki khasanah tersendiri di bidang politik, ekonomi, sosial, sastra dan agama. Lalu proses interaksi yang dilalui islam melahirkan pemeliharaan dan pengembangan beberapa hal seperti system moral, tata pergaulan strategi perang dan hokum keluarga. Islam juga memperbaiki dan menyempurnakan system tersebut dengan kadar dan kodrat manusia. Dan dengan didukung oleh kreatifitas umat islam, al –qur’an dan sunah memberikan perubahan yang nyata tentang pandangan dunia, tujuan hidup, peribadatan dan sebagainya yang mejadikannya sebagai core system dari pemikiran dan peradaban islam.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Sejarah Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997

Aqqod, Abbas Mahmod, Keagungan Muhammah Saw, Solo: pustaka Mantik 1994

Ar-raziq, Ali Abd, Islam Dasar-Dasar Pemerintahan, Yogyakarta: Penerbit Jendela, 2002.

Esposito, John, Dinamika Kebangkitan Islam, Jakarta: Rajawali, 1987.

Karim,Abdul, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: pustaka Book Publisher, 2007

Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam, Yogyakarta: Fakultas Adab, 2002

Nurhakim, Muhammad, , Malang: UMM Press, 2004

Team Penyusun Text Book Sejarah dan Kebudayaan Islam Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI, Sejarah dan Kebudayaan Islam (Ujung Pandang Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama IA IN “Alauddin” Ujung Pandang, 1981/1982

Yatim, Bari,  Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyyah II, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004

Widjan, Aden, dkk,  Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: PSI UII, 2007


[1] Tentunya hal ini seharusnya bisa kita transfer ke Negara kita yang sedang sakit ini

[2] Sebagai catatan bahwa pemikiran Timur (Persia-India) bercorak isoteris sedangkan pemikiran Barat (Bizantium) bercorak eksoteris. Datangnya Islam menyerap dua konsep pemikiran tersebut sehingga pemikiran Islam menjadi berimbang/ummatan washatan. Lihat, M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: pustaka Book Publisher, 2007, h. 38-41.

[3] Jizyah merupakan pajak yang dipungut dari masyarakat non muslim sebagai biaya penggantian atas jaminan keamanan jiwa dan harta benda mereka. Penguasa Islam wajib mengembalikan izyah jika tidak berhasil menjamin dan melindungi jiwa dan harta kekayaan masyarakat non muslim.

[4] Kharaj merupakan pajak atas kepemilikan tanah yang dipungut kepada masyarakat non muslim yang memiliki tanah pertanian.

[5] Ghanimah adalah hasil rampasan perang yang 4/5 dari ghanimah tersebut dibagikan kepada pasukan yang turut berperang dan sisanya yaitu 1/5 didistribusikan untuk keperluan keluarga Nabi, anak-anak yatim, fakir miskin dan untuk kepentingan masyarakat umum.

[6] Al-Fay’ pada umumnya diartikan sebagai tanah-tanah yang berada di wilaya negeri yang ditaklukkan, kemudian menjadi harta milik Negara. Dan pada masa Nabi Muhammad Saw, Negara memiliki tanah-tanah pertaniah yang luas yang hasilnya dimangaatkan untuk kepentingan umum masyarakat.

[7] Perang Badar adalah perang pertama yang sangat menentukan masa depan Negara Islam. Ini merupakan perang antara kaum Muslimin dengan musyrik Quraisy. Pada tanggal 8 Ramadhan tahun ke 2 Hijriah. Nabi bersama 305 orang Muslim bergerak keluar kota membawa perlengkapan yang sedehana. Di daerah badar, kurang lebih 120 km dari Madinah, pasukan nabi bertemu dengan pasukan Quraisy yang berjumlah sekitar 900 samapi 1000 orang, dan nabi sendiri sebagai komandan. Dalam perang ini kaum Muslimin keluar sebagai pemenang. Lihat, Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyyah II, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004, h. 27.

[8] Perang ini disebut juga perang Ahzab karena musuh yang menyerang Madinah terdiri dari berbagai golongan yang bersekutu. Disebut khandaq karena menggunakan parit sebagai benteng pertahanan. Lihat juga dalam Al-Qur’an surat ke 33. dalam perang ini gugur enam orang sahabat Rasulullah dan dari pihak lawan tiga orang. Dari sini rasulullah belajar bahwa taktik bertahan tidak menguntungkan sehingga perang-perang berikutnya Rasulullah menggunakan taktik menyerang ketika musuh sudah jelas siap akan menyerang. Sehingga serangan yang dilakukan tetap dalam rangka pembelaan diri. Lihat, Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam, Yogyakarta: Fakultas Adab, 2002, h. 37.

[9] Perang Hunain merupakan perang umat Islam yang melawan Bani Tsaqif di Taif dan Bani Hawazin di antara Taif dan Makkah yang berkomplot untuk memerangi Islam. Dalam perang ini Nabi mengerahkan kira-kira 12.000 tetara menuju Hunayn untuk menghadapi mereka. Tentara Islam memenangkan pertempurang dalam waktu yang tidak terlalu lama. Lihat, Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyyah II, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004, h. 32

[10] Perang Tabuk merupakan perang terakhir yang diikuti Rauslullah Saw. Perang ini melawan pasukan Heraklius yang mundur melihat banyak pahlawan Islam yag siap berperang melawan nabi. Namun nabi tidak melakukan pengejaran tetapi berkemah di Tabuk. Lihat: Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyyah II, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004, h. 32.

[11] Piagam Madinah menyepakati lima perjanjian, yaitu: tiap kelompok dijamin kebebasannya dalam beragama, tiap kelompk berhak menghukum anggota kelompoknya yang bersalah, tiap kelompok arus saling membantu dalam mempertahankan Madinah, baik yang muslim maupun yang non muslim, penduduk Madinah semuanya sepakat mengangkat Nabi Muhammad Saw sebagai pemimpinnya dan memberi keputusan hokum segala perkara yang dihadapkan kepadanya dan meletakkan landasan berpolitik, ekonomi dan kemasyarakatan bagi negeri Madinah yang baru terbentuk. Lihat, M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: pustaka Book Publisher, 2007, h. 70.

[12] Team Penyusun Text Book Sejarah dan Kebudayaan Islam Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI, Sejarah dan Kebudayaan Islam (Ujung Pandang Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama IAIN “Alauddin” Ujung Pandang, 1981/1982, h. 46. Lihat juga, , Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam, Yogyakarta: Fakultas Adab, 2002, h. 30.

[13] Arab pada saat itu terbagi menjadi tiga daerah, yaitu daerah selatan (Himayar), daerah utaa (Petra, Gazah) dan di tengah (Kindi). Lihat. Aden Widjan, dkk. Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: PSI UII, 2007, h. 7-9.

[14] Lihat, Q. S. 49: 10, 13 dan 49.

[15] Aden Widjan, dkk. Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: PSI UII, 2007, h. 9

[16] M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: pustaka Book Publisher, 2007, h. 54

[17] Aden Widjan, dkk. Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: PSI UII, 2007, h. 10-11

[18] [18] M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: pustaka Book Publisher, 2007, h. 53

[19] Op. Cit, h. 15

[20] Op. Cit, h. 59

[21] Paganisme adalah penyembahan terhadap berhala

[22] Vetieisme adalah kepercayaan yang diwujudkan dalam bentuk penyembahan terhadapa benda sperti batu dan kayu.

[23] Toteisme adalah pengkultusan terhadap hewan atau tumbuh-tumbuhan yang dianggap suci.

[24] Animisme adalah kepercayaan terhadap roh baik dan jahat yang berpengaruh dalam kehidupan manusia.

Add a comment April 1, 2010

PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM K.H. AHMAD DAHLAN

I. PENDAHULUAN What se do in life….enchoes in eternity…Setiap peristiwa di jagad raya ini adalah potongan mozaik. Terserak di sana-sini, tersebar dalam rentang waktu dan ruang-ruang. Namun perlahan-lahan ia akan bersatu membentuk sosok seperti MontaseAnton Gaudi. Kita sebagai generasi pendidik, mozaik-mozaik itu akan membangun siapa diri kita, lalu apa yang akan kita kerjakan dalam dunia kita sebagai bagian dari mozaik dunia pendidikan kita. (Andrea Hirata, Sang Pemimpi) Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan kau hidup dari Muhammadiyah (Buya Ahmad Dahlan) Sampai sekarang permasalahan pendidikan masih sangat hangat dibicarakan oleh para ilmuwan Muslim di seantero dunia (mis. pada konferensi pendidikan)[1] dengan mencoba menginventarisis pendidikan untuk diberikan solusi. Pada masa kolonialisme, pola pendidikan yang dualistis masih terjadi di Indonesia yaitu adanya system pendidikan colonial dan system pendidikan Islam (pesantren). Pendidikan colonial sangat berbeda dengan pendidikan Islam “tradisional”. Perbedaan itu, bukan hanya dari segi metode, tetapi lebih khusus lagi dari segi isi dan tujuan pendidikan. Pada awalnya tempat-tempat pendidikan yang didirikan oleh pemerintahan colonial Belanda khusus bagi anak-anak Belanda dan anak orang asing lainnya atau bagi anak pribumi yang berasal dari tokoh terkemuka seperti orang kraton (priyayi) dan pejabat desa. Lembaga pendidikan yang dikhususkan bagi anak-anak tertentu itu dinamakan Europeesche Lagere School.[2] Namun sejak adanya politik etika colonial Belanda berdiri berbagai macam sekolah, maka mulai dari Inlandsche Lagere School yang disebut sekolah rendah. Hogere Burger School (HBS), Meer Vitgebreit Lagere Onderwijs (MULO) sebagai sekolah menengah pertama. Sampai Algemeene Midle Bare School (AMS) sebagai sekolah lanjutan atas.[3] Sesuai dengan landasan politik yang dijalankan pemerintah Belanda, maka tujuan sekolah-sekolah yang didirikan pemerintah Belanda juga mencerminkan arah politiknya, yakni sekedar untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang agak terdidik.[4] Di sisi lain, pendidikan yang dikelola oleh pemerintah colonial, berorientasikan pada pengetahuan dan ketrampilan duniawi. Corak pendidikan tersebut sesuai dengan strategi politik pemerintah colonial Belanda yang ingin netral terhadap agama.[5] Secara umum, fenomena di atas menunjukkan bahwa keadaan social-ekonomi-kultural dan politik saat itu benar-benar merupakan tantangan bagi sejumlah tokoh pada saat itu yang harus dijawab dengan ide dan tindakan. Selanjutnya setting social di atas menunjukkan fenomena bahwa umat Islam dihadapkan pada maslah dikotomi pendidikan, yaitu pengaruh kebudayaan Barat dan kemunduran intelektural di pihak lain. Sadar akan tantangan yang demikian, di beberapa kawasan Nusantara tampil para tokoh dan pemikir membawa seperngkat pemikir, baik dalam bentuk tulisan maupun melalui karya nyata sebagai jawaban terhadap tantangan yang mereka hadapi. Mereka itulah yang disebut dengan kaum pembaharu yang kehadiran dan kebangkitan mereka bertujuan tidak hanya untuk menentang pengaruh Barat dari segi social dan cultural, tetapi juga untuk menghimbau mereka untuk kembali kepada dasar-dasar pokok Islam melalui jalur pendidikan sebagai central kegiatan politiknya.[6] Di antara tokoh pembaharu, diantaranya muncul  di Kauman Yogyakarta yaitu K. H. Ahmad Dahlan (1868-1923) dengan pemikirannya mengenai pendidikan Islam dan organisasi Muhammadiyahnya yang didirikan pada tahun 1921 M. Untuk itu dalam makalah ini akan dibahas mengenai Biografi K.H. Ahmad Dahlan, Pemikiran beliau mengenai Pendidikan Islam, beliau sebagai pembaharu dan hubungannya dengan Muhammadiyah.

  1. PEMBAHASAN
    1. Riwayat Hidup Singkat Ahmad Dahlan

Seperti yang kita ketahui bahwa penulisan riwayat hidup K.H. Ahmad Dahlan telah banyak dilakukan oleh para sarjana.[7] K.H. Ahmad Dahlan lahir di Kauman Yogyakarta pada tahun 2008 . Nama kecilnya adalah Muhammad Darwisy dan merupakan anak keempat dari K.H. Abu Bakar (seorang ulama dan khatib terkemuka di Mesjid Besar Kesultanan Yogyakarta) dan ibunya merupakan putrid dari H. Ibrahim yang menjabat sebagai penghlu kesultanan juga.[8] Ia merupakan anak keempat dari tujuh ornag bersudara yang keseluruhan saudaranya perempuan kecuali adik bungsunya. Dalam silsilah ia termasuk keturunan yang keduabelas dari maulana malik Ibrahim, seorang wali besar dan seorang yang terkemuka diantara Wali Songo, yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di tanah Jawa. Ia dikenal jujur dan sederhana dan inilah yang membuatnya disukai orang. Untuk mempelajari ilmu-ilmu agama ia berpindah dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Ia mempunya sikap kritis terhadap pola pendidikan tradisional, tetapi tidak punya kekuatan untuk mengubahnya. Dalam keadaan seperti ini Ia beruntung memproleh kesempatan melanjutkan pendidikannya ke Mekah pada tahun 1890.[9] Di sinilah Ia berinteraksi dengan pemikir-pemikir pembaharu dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, al-Afgani, Rasyid RIdha, dan Ibnu Taimiyah. Pemikiran tokoh-tokoh Islam ini mempunya pengaruh yang besar padanya. Jiwa dan pemikirannya penuh disemangati oleh aliran pembaharuan ini sehingga kelak kemudian hari menampilkan corak keagamaan yang sama, yaitu melalui Muhammadiyah, yang bertujuan untuk memperbaharui pemahaman keagamaan (ke-Islaman) di sebagian dunia Islma saat itu yang masih bersifat ortodoks. Melalui kitab-kitab yang dikarang oleh reformer Islam, telah membuka wawasan beliau tentang universalitas Islam. Ide-ide tentang reenterpretasi Islam dengan gagasan kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah mendapat perhatian khususnya saat itu. Ia juga merupakan murid Syaikh Ahmad Khatib (1899-1916), tokoh kelahiran Indonsea yang saat itu menempati posisi tertinggi dalam penguasaannya atas ilmu-ilmu agama di Mekkah.[10] Dalam pendidikan keagamaan formalnya sebagian besar waktu K.H. Ahmad Dahlan tampaknya dihabiskan untuk mempelajari ajaran Islam tradisionalis, karena itu perkenalannya dengan gagasan-gagasan modernisme Islam kemungkinan terjadi lewat bacaan pribadi dan hubungannya dengan kaum moerdenis Muslim lain. Sekembalinya dari Mekkah tahun 1905[11] ia menikah dengan Siti Walidah, anak perempuan seorang hakim di Yogyakarta yang kelak dikena dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Karena gajinya sebagai khatib tidak mencukupi untuk memenuhi keperluannnya sehari-hari, ia berdagang batik. Ini membawanya ke hampir seua daerah di Jawa dan memberinya kesempatan untk menyampaikan gagasan-gagasannya kepada kaum Muslim yang menonjol di daerah masing-masing. Mereka inilah yang belakangan menjadi bagian inti gerakan Muhammadiyah dan pengikutnya yang bersemangat.[12] K.H. Ahmad Dahlan juga bergabung dengan organisasi Jam’iyatul Khair[13], Budi Utomo[14], anggota teras Sarekat Islam. hingga akhirnya di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 lahirlah Muhammadiyah sebagai gerakan umat Islam. dan sejak awal K.H. Ahmad Dahlan menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat social dan bergerak di bidang pendidikan. Gagasan pendirian Muhammadiyah oleh K.H. Ahmad Dahlan  ini juga mendapatkan resistensi, baik dari keluarga maupun dari masyarakat sekitarnya. Berbagai fitnahan, tuduhan dan hasutan datang bertubi-tubi kepadanya. Ia dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Ada yang menuduhnya kiai palsu, karena sudah meniru-niru bangsa Belanda yang Kristen dan macam-macam tuduhan lain. Bahkan ada pula orang yang hendak membunuhnya. Namun rintangan-rintangan tersebut dihadapinya dengan sabar. Keteguhan hatinya untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaharuan Islam di tanah air bisa mengatasi semua rintangan tersebut. Namun, pada saat Muhammadiyah teratur dan kuat, K.H. Ahmad Dahlan berpulang ke rahmatullah pada tanggal 23 Februari 1923 dalam usia 55 tahun. Dan sekarang kita dapat menyaksikan Muhammadiyah menjadi semakin maju dan berkembang di seluruh nusantara dengan berbagai amal usahanya tidak terlepas dari usaha beliau yang sangat luar biasa.

  1. Pemikiran Pendidikan Islam Ahmad Dahlan

Buya merasa tidak puas dengan system dan praktik pendidikan saat itu, dibuktikan dengan pandangannya mengenai tujuan pendidikan adalah untuk menciptakan manusia yang baik budi, luas pandangan, dan bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakat.[15] Karena itu buya merentaskan beberapa pandangannya mengenai pendidikan dalam bentuk pendidikan model Muhammadiyah khususnya, antara lain:

  1. Pendidikan Integralistik

K.H Ahmad Dahlan (1868-1923) adalah tipe man of action sehingga sudah pada tempatnya apabila mewariskan cukup banyak amal usaha bukan tulisan. Oleh sebab itu untuk menelusuri bagaimana orientasi filosofis pendidikan Beliau musti lebih banyak merujuk pada bagaimana beliau membangun sistem pendidikan. Namun naskah pidato terakhir beliau yang berjudul Tali Pengikat Hidup menarik untuk dicermati karena menunjukkan secara eksplisit konsen Beliau terhadap pencerahan akal suci melalui filsafat dan logika. Sedikitnya ada tiga kalimat kunci yang menggambarkan tingginya minat Beliau dalam pencerahan akal, yaitu: (1) pengetahuan tertinggi adalah pengetahuan tentang kesatuan hidup yang dapat dicapai dengan sikap kritis dan terbuka dengan mempergunakan akal sehat dan istiqomah terhadap kebenaran akali dengan di dasari hati yang suci; (2) akal adalah kebutuhan dasar hidup manusia; (3) ilmu mantiq atau logika adalah pendidikan tertinggi bagi akal manusia yang hanya akan dicapai hanya jika manusia menyerah kepada petunjuk Allah swt. Pribadi K.H. Ahmad Dahlan  adalah pencari kebenaran hakiki yang menangkap apa yang tersirat dalam tafsir Al-Manaar sehingga meskipun tidak punya latar belakang pendidikan Barat tapi ia membuka lebar-lebar gerbang rasionalitas melalui ajaran Islam sendiri, menyerukan ijtihad dan menolak taqlid. Dia dapat dikatakan sebagai suatu “model” dari bangkitnya sebuah generasi yang merupakan “titik pusat” dari suatu pergerakan yang bangkit untuk menjawab tantangan-tantangan yang dihadapi golongan Islam yang berupa ketertinggalan dalam sistem pendidikan dan kejumudan paham agama Islam. Berbeda dengan tokoh-tokoh nasional pada zamannya yang lebih menaruh perhatian pada persoalan politik dan ekonomi, K.H. Ahmad Dahlan mengabdikan diri sepenuhnya dalam bidang pendidikan. Titik bidik pada dunia pendidikan pada gilirannya mengantarkannya memasuki jantung persoalan umat yang sebenarnya. Seiring dengan bergulirnya politik etis atau politik asosiasi (sejak tahun 1901), ekspansi sekolah Belanda diproyeksikan sebagai pola baru penjajahan yang dalam jangka panjang diharapkan dapat menggeser lembaga pendidikan Islam semacam pondok pesantren. Pendidikan di Indonesia pada saat itu terpecah menjadi dua: pendidikan sekolah-sekolah Belanda yang sekuler, yang tak mengenal ajaran-ajaran yang berhubungan dengan agama; dan pendidikan di pesantren yang hanya mengajar ajaran-ajaran yang berhubungan dengan agama saja. Dihadapkan pada dualisme sistem (filsafat) pendidikan ini K.H. Ahmad Dahlan  “gelisah”, bekerja keras sekuat tenaga untuk mengintegrasikan, atau paling tidak mendekatkan kedua sistem pendidikan itu. Cita-cita pendidikan yang digagas Beliau adalah lahirnya manusia-manusia baru yang mampu tampil sebagai “ulama-intelek” atau “intelek-ulama”, yaitu seorang muslim yang memiliki keteguhan iman dan ilmu yang luas, kuat jasmani dan rohani. Dalam rangka mengintegrasikan kedua sistem pendidikan tersebut, K.H. Ahmad Dahlan  melakukan dua tindakan sekaligus; memberi pelajaran agama di sekolah-sekolah Belanda yang sekuler, dan mendirikan sekolah-sekolah sendiri di mana agama dan pengetahuan umum bersama-sama diajarkan. Kedua tindakan itu sekarang sudah menjadi fenomena umum; yang pertama sudah diakomodir negara dan yang kedua sudah banyak dilakukan oleh yayasan pendidikan Islam lain. Namun, ide Beliau tentang model pendidikan integralistik yang mampu melahirkan muslim ulama-intelek masih terus dalam proses pencarian. Sistem pendidikan integralistik inilah sebenarnya warisan yang musti kita eksplorasi terus sesuai dengan konteks ruang dan waktu, masalah teknik pendidikan bisa berubah sesau dengan perkembangan ilmu pendidikan atau psikologi perkembangan. Dalam rangka menjamin kelangsungan sekolahan yang ia dirikan maka atas saran murid-muridnya Beliau akhirnya mendirikan persyarikatan Muhammadiyah tahun 1912. Metode pembelajaran yang dikembangkan K.H. Ahmad Dahlan  bercorak kontekstual melalui proses penyadaran. Contoh klasik adalah ketika Beliau menjelaskan surat al-Ma’un kepada santri-santrinya secara berulang-ulang sampai santri itu menyadari bahwa surat itu menganjurkan supaya kita memperhatikan dan menolong fakir-miskin, dan harus mengamalkan isinya. Setelah santri-santri itu mengamalkan perintah itu baru diganti surat berikutnya. Ada semangat yang musti dikembangkan oleh pendidik Muhammadiyah, yaitu bagaimana merumuskan sistem pendidikan ala  al-Ma’un sebagaimana dipraktekan K.H. Ahmad Dahlan . Anehnya, yang diwarisi oleh warga Muhammadiyah adalah teknik pendidikannya, bukan cita-cita pendidikan, sehingga tidak aneh apabila ada yang tidak mau menerima inovasi pendidikan. Inovasi pendidikan dianggap sebagai bid’ah. Sebenarnya, yang harus kita tangkap dari K.H. Ahmad Dahlan  adalah semangat untuk melakukan perombakan atau etos pembaruan, bukan bentuk atau hasil ijtihadnya. Menangkap api tajdid, bukan arangnya. Dalam konteks pencarian pendidikan integralistik yang mampu memproduksi ulama-intelek-profesional, gagasan Abdul Mukti Ali menarik disimak. Menurutnya, sistem pendidikan dan pengajaran agama Islam di Indonesia ini yang paling baik adalah sistem pendidikan yang mengikuti sistem pondok pesantren karena di dalamnya diresapi dengan suasana keagamaan, sedangkan sistem pengajaran mengikuti sistem madrasah/sekolah, jelasnya madrasah/sekolah dalam pondok pesantren adalah bentuk sistem pengajaran dan pendidikan agama Islam yang terbaik.  Dalam semangat yang sama, belakangan ini sekolah-sekolah Islam tengah berpacu menuju peningkatan mutu pendidikan. Salah satu model pendidikan terbaru adalah full day school, sekolah sampai sore hari, tidak terkecuali di lingkungan Muhammadiyah.

  1. Mengadopsi Substansi dan Metodologi Pendidikan Modern Belanda dalam Madrasah-madrasah Pendidikan Agama

Yaitu mengambil beberapa komponen pendidikan yang dipakai oleh lembaga pendidikan Belanda. Dari ide ini, K.H. Ahmad Dahlan dapat menyerap dan kemudian dengan gagasan dan prektek pendidikannya dapat menerapkan metode pendidikan yang dianggap baru saat itu ke dalam sekolah yang didirikannya dan madrasah-madrasah tradisional. Metode yang ditawarkan adalah sintesis antara metode pendidikan modern Barat dengan tradisional. Dari sini tampak bahwa lembaga pendidikan yang didirikan K.H. Ahmad Dahlan berbeda dengan lembaga pendidikan yang dikelola oleh masyarakat pribumi saat ini. Sebagai contoh, K.H. Ahmad Dahlan mula-mula mendirikan SR di Kauman dan daerah lainnya di sekitar Yogyakarta, lalu sekolah menengah yang diberi nama al-Qism al-Arqa yang kelak menjadi bibit madrasah Mu’allimin dan Mu’allimat Muhammadiyah Yogyakarta. Sebagai catatan, tujuan umum lembaga pendidikan di atas baru disadari sesudah 24 tahun Muhammadiyah berdiri, tapi Amir Hamzah menyimpulkan bahwa tujuan umum pendidikan Muhammadiyah menurut K.H. Ahmad Dahlan adalah:[16]

  1. Baik budi, alim dalam agama
  2. Luas pandangan, alim dalam ilmu-ilmu dunia (umum)
  3. Bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakatnya

Mungkin ada benarnya jika dikaitkan dengan latar belakang timbulnya pemikiran pendidikan Islam K.H. Ahmad Dahlan yang antara lain disebabkan oleh rasa tidak puas terhadap system pendidikan yang ada dan hanya mengembangkan salah satu bidang pengetahuan dari kedua pengetahuan yang ingin dirangkul oleh K.H. Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyahnya. Ijtihad pemikiran pendidikan yang dicetuskan K.H. Ahmad Dahlan melalui gagaan dan praktek pendidikan Islamnya merupakan cikal bakal dan dijadkan estafet dalam pembaharuan system pendidikan Muhammadiyah, sebagai contoh “pondok Muhammadiyah”. Ada empat pokok model pembaharuan pendidikan di Pondok Muhammadiyah antara lain:[17]

No. Sistem Pendidikan Lama Pondok Muhammadiyah
1. 2. 3. 4. System belajar mengajar Weton dan Sorogan. Bahan pelajaran semata-mata agama, kitab-kitab karangan ulama pembaharuan tidak dipergunakan. Belum ada RP yang teratur dan integral. Hubungan guru dan murid lebih bersifat otoriter dan kurang demokratis. Sistem klasikal dengan cara-cara Barat. Bahan pelajaran tetap, ditambah ilmu pengetahuan umum. Kitab-kitab agama dipergunakan secara luas, baik klasik maupun kontemporer.[18] Sudah diatur dengan RP. Diusahakan suasana hubungan guru dan murid lebih akrab bebas dan demokratis.

Dalam pendidikan di pondok Muhammadiyah mata pelajaran agama dan alat untuk mempelajari agama sebagai mata pelajaran pokok. Program pendidikan pondok Muhammadiyah berbeda dengan sekolah Muhammadiyah. Pondok Muhammadiyah menekankan hal keagamaan . sementara sekolah kelas I dan II yang dikelola Muhammadiyah, pendidikan agama hanya sebagai mata pelajaran suatu bidang studi yaitu mata pelajaran Agama Islam. mata pelajaran ini disampaikan pada suatu kelas tertentu dnegna waktu yang ditetapkan. Sekolah Muhammadiyah pada awal abad ke-20 sudah menerapkan system ulangan, absensi murid dan kenaikan kelas. Sementara itu, ujian idpakai sebagai pengukur kecakapan murid. Pendidikan Muhammadiyah juga ditunjang dengan beberapa kegiatan di luar jam pelajaran dan guru dihormati secara wajar. K.H. Ahmad Dahlan telah membawa pembaharuan pendidikan waktu itu melalui Muhammadiyah baik dengan memasukkan mata pelajaran agama di sekolah-sekolah umum dan menyerap ilmu-ilmu yang datang dari Barat, serta memasukkan kitab-kitab ulama baru ke dalam kurikulumnya. Semuanya itu mengundang munculnya berbagai kecaman terhadap beliau. Ada yang menuduh sebagai murtad, kreisten, penganut paham mu’tazilah, kharijiah, dsb. Bahkan sampai tahun 1933 disebutkan bahwa sekolah Muhammadiyah sebagai sekolah kebelanda-belandaan atau kebarat-baratan. Namun Muhammadiyah tetap bisa bertahan dan hingga saat ini mewajikan pembelajaran pengetahuan keIslaman yang disebut al-Islam dan keMuhammadiyahan, dengan mengajarkan Islam versi Majlis Tarjih. Muhammadiyah selalu terbuka dan terus berkembang, termasuk dalam hal keputusan Tarjih. Hal ini karena dalam penentuan sebuah keputusan Tarjih diambil dengan cara mencari yang paling kuat dasarnya, bahkan bisa terjadi tidak sejalan dengan praktik yang dilakukan pendirinya, K.H. Ahmad Dahlan.[19]

  1. Memberi Muatan Pengajaran Islam pada Sekolah-sekolah Umum Modern Belanda

Muhammadiyah baru memutuskan meminta kepada pemerintah agar memberi izin bagi orang Islam untuk mengajarkan agama Islam di sekolah-sekolah Goebernemen pada bulan April 1922. sebenarnya sebelum Muhammadiyah didirikan ini sudah diusahakan namun baru mendapat izin saat itu. Hingga akhirnya Muhammadiyah mendirikan sekolah-sekolah swasta yang meniru sekolah Gubernemen dengan pelajaran agama di dalamnya.[20] Tujuan pokok organisasi dan pendirian lembaga pendidikan menjadi orientasi utama K.H. Ahmad Dahlan sehingga berusaha untuk menandingi sekolah pemerintahan Belanda dengan mengikuti contoh misi Kristen dengan menyebarkan fasilitas dan mendesakkan pengalaman iman.[21] Sekolah Dasar Belada dengan al-Qur’an didirikan dari keterkesanannya terhadap kerja para misionaris Kristen dan SD Belanda dengan Alkitabnya.[22] Sekolah Muhammadiyah mempertahankan dimensi Islam yang kuat, tetapi dilakukan dengan cara yang berbeda dengan sekolah-sekolah Islam yang lebih awal dengan gaya pesantrennya yang kental. Dengan contoh metode dan system pendidikan baru yang diberikannya.[23] K.H. Ahmad Dahlan juga ingin memodernisasi sekolah keagamaan tradisional.[24] Untuk meningkatkan kualitas pendidikan Islam, K.H. Ahmad Dahlan mendirikan sekolah Muallimin dan Muallimat, Muballighin dan Muballighat. Dengan demikian diharpakan lahirlah kader-kader Muslim sebagai bagian inti program pembaharuannya yang bisa menjadi ujung tombak gerakan Muhammadiyah dan membantu menyampaikan misi-misi dan melanjutkannya di masa depan. K.H. Ahmad Dahlan juga bekerja keras meningkatkan moral dan posisi kaum perempuan dalam kerangka Islam sebagai instrument yang efektif dan bermanfaat di dalam organisasinya karena perempuan merupakan unsur penting  berkat bantuan istri dan koleganya sehingga terbentuklah Aisyiah . di tempat-tempat tertentu, dibukalah masjid-masjid khusus bagi kaum perempuan, seseuatu yang jarang ditemukan di Negara-negara Islam lain bahkan hingga saat ini. K.H. Ahmad Dahlan juga membentuk gerakan pramuka Muhammadiyah yang diberi nama Hizbul Watan.

  1. Menerapkan Sistem Kooperatif dalam Bidang Pendidikan

Kita dapat melihat adanya kerjasama yang harmonis antara pemerintahan Belanda dengan Muhammadiyah.[25] Keduanya sama-sama memperoleh keuntungan. Pertama, dari sikap non oposisional. Kedua, mendukung program pembaharuan keagamaan  termasuk di dalam bidang pendidikan. Sikapnya yang akomodatif dan kooperatif memberikan ketentuan mutlak untuk bertahan hidup di tengah iklim yang sangat tidak ramah terhadap gerakan nasionalis pribumi dan disaat tidak satupun gerakan yang sebanding dengannya dapat bertahan saat itu. Sehingga K.H. Ahmad Dahlan dapat masuk lebih dalam pada lingkungan pendidikan kaum misionaris yang diciptakan oleh pemerintah Belanda, yang saat itu lebih maju kedepan dari pada sistem penddikan pribumi yang tradisional.[26] Dari uraian tersebut di atas, ada beberapa catatan yang direntaskan oleh buya[27], antara lain:

  1. Membawa pembaruan dalam bentuk kelembagaan pendidikan, yang semula seistem pesantren menjadi system sekolah.
  2. Memasukkan pelajaran umum kepada sekolah-sekolah keagamaan atau madrasah.
  3. Mengadakan perubahan dalam metode pengajaran, dari yang semula menggunakan metode weton dan sorogan menjadi lebih bervariasi.
  4. Mengajarkan sikap hidup terbuka dan toleran dalam pendidikan.
  5. Dengan Muhammadiyahnya buya berhasil mengembangkan lembaga pendidikan yang beragam dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi dan dari yang berbentuk sekolah agama hingga yang berbentuk sekolah umum.
  6. Berhasil memperkenalkan manajemen pendidikan modern ke dalam system pendidikan yang dirancangkannya.
  7. Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah

Muhammadiyah merupakan gerakan umat Islam yang lahir di Yogyakarta 18 Nopember 1912. Yang perkembangannya, terutama sejak paruh kedua tahun 1920-an menunjukkan grafik meningkat. Disaat gerakan umat Islam seangkatannya justru dilanda perpecahan dan perlahan menunjukkan grafik penurunan, yaitu Sarekat Islam (SI). Yang saat itu SI pecah karena infiltrasi komunis, sehingga muncul SI “Merah” yang jadi onderbow PKI (1920). Dengan melihat perkembangan Muhammadiyah ini ada sebagian yang menyebutkan sejarah Indonesia 1925-1945 adalah sejarah Muhammadiyah. Mungkin ini tidak berlebihan. Pernyataan ini menyiratkan betapa besar peranan gerakan Muhammadiyah atau kader-kader Muhammadiyah dalam dinamika sejarah umat dan bangsa ini. Sejarah mencatat, KH Mansur penggerak MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) dan PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat) zaman Jepang adalah pimpinan pusat Muhammadiyah. Ki Bagus Hadikusumo, adalah pimpinan pusat Muhammadiyah yang turut merumuskan Piagam Jakarta dan berperan dalam sidang-sidang persiapan kemerdekaan. Mr.Kasman Singodimejo pun politisi yang berasal dari Muhammadiyah. Bung Karno, Ir.Juanda, Sudirman, dll tokoh bangsa ini tidak sedikit merupakan kader lulusan pendidikan Muhammadiyah. Dalam aspek sosial gerakan Muhammadiyah pun banyak memberikan kontribusi pengembangan umat dan bangsa. Misalnya Muhammadiyah memelopori pendirian Panti Asuhan dan Rumah Sakit. Bahkan Lembaga Haji (Badan Penolong Haji) pun dirintis murid KH Ahmad Dahlan, Haji Sujak yang mengusahakan usaha perkapalan untuk jemaah haji pada tahun 1921. Bidang pendidikan itu lebih jelas lagi. Karena strategi gerakan Muhammadiyah diawali dengan perintisan dan pengembangan kader lewat jalur pendidikan formal dan non formal. Dilihat aspek pengembangan pemikiran keagamaan, Muhammadiyah pun berada di garda depan. Di zaman Belanda Muhammadiyah berhasil upaya de-mistifikasi (penghancuran berpikir mistik) dengan gerakan rasionalisasinya, tetap tetap berpijak pada konsep Al-Qur’an dan As-Sunnah. Muhammadiyah pun mendobrak ketaklidan yang membabi buta, berpikir feodal seperti pengkultusan individu yang bisa mematikan ijtihad dan keterbukaan pikir. Muhammadiyah turut pula mendobrak kefeodalan dengan mengubah kebiasaan kurang baik, dalam proses pembelajaran al-Qur’an. Misalnya turut memelopori usaha penerjemahan Al-Qur’an, yang di zaman Belanda itu diharamkan. Muhammadiyah pun yang memelopori ibadah hari raya di lapangan pada tahun 1930-an, yang menggemparkan. Bahkan Belanda khawatir akan bergeser pada aksi massa. Dengan pola pikir yang rasional tetapi tetap mengedepankan jiwa kemanusiaan (kecerdasan emosional), Muhammadiyah berhasil membawa umat sedikit demi sedikit untuk mempergunakan nalar rasional dengan inspirasi ajaran Qur’an dan Sunah. Dari pola pemikiran rasional tsb gerakan Muhammadiyah telah “membangunkan” kesadaran umat Islam yang sebelumnya lebih terkesan tertinggal dan menjauhi kemajuan modern dalam pengembangan sains dan teknologi. Sehingga perlahan Muhammadiyah bisa membawa umat dan bangsa untuk mensejajarkan umat dan bangsa ini dengan umat dan bangsa lainnya. Bahkan peranan Muhammadiyah sampai kini tetap menjadi harapan umat dan bangsa, selain ormas Islam lainnya seperti NU, Persis, SI dan lain-lain. Terlebih dalam menyikapi isu-isu nasionaol dan internasional selalu tampil di depan sebagai pelopornya. Baik secara kelembagaan ataupun yang diperankan individu kader-kadernya. Pengamat politik asing seperti Samuel P Huntington dalam bukunya Benturan Peradaban menyebutkan Muhammadiyah sebagai “motor kebangkitan Islam” di Indonesia. Analisis Huntington tersebut wajar. Sebab dalam rentang usianya mendekati satu abad, Muhammadiyah telah, sedang dan akan terus mengahasilkan kader-kader intelektual bagi umat dan bangsa. Bahkan perkembangan berikutnya tampak Muhammadiyah sedang melebarkan sayapnya menjadi gerakan internasional dengan sudah membuka cabang-cabangnya di luar negeri. Seperti di Berlin, Cairo, Teheran, Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok, Australia, Amerika dst. Dari latar belakang tersebut di atas, bila meminjam teori Hero (Tokoh) nya Thomas Carlyle bahwa pemimpin besar (The Great Man) sebagai penggerak idea akan terjadi perubahan sejarah. Bahwa idea dapat membangkitkan gerak sejarah suatu bangsa, jika ada penggeraknya yaitu pemimpin besar. Seperti halnya ajaran Islam, tidak akan berkembang tanpa kehadiran dan peranan pemimpin besarnya, nabi Muhammad saw. Dengan memakai pendekatan teori sejarah ini, maka gerakan Muhammadiyah tidak akan berkembang dan berpengaruh besar sampai kini jika tanpa kehadiran ideolog dan penggerak awalnya KH Ahmad Dahlan. Karena itu mencermati dan melakukan studi atas pemikiran KH Ahmad Dahlan menjadi penting dilakukan. Ini akan berguna untuk memahami dinamika perkembangan Muhammadiyah khususnya, dan dinamika umat Islam dan bangsa Indonesia. Muhammadiyah selalu terbuka dan terus berkembang termasuk dalam hal keputusan tarjih.

  1. Ahmad Dahlan sebagai Pembaharu

Ada banyak hal yang menjadikan K.H. Ahmad Dahlan sebagai pembaharu, di antaranya yaitu:

  1. Melakukan purifikasi ajaran Islam dari khurafat tahayul dan bid’ah yang selama ini telah bercampur dalam akidah dan ibadah umat Islam, dan mengajak umat Islam untuk keluar dari jarring pemikiran teradisional melalui reinterpretasi terhadap doktrin Islam dalam rumusan dan penjelasan yang dapat diterima oleh rasio.[28]
  2. Usaha dan jasanya mengubah dan membetulkan arah kiblat yang tidak tepat menurut mestinya. Umumnya masjid-masjid dan langgar-langgar di Yogyakarta menghadap Timur dan orang-orang shalat mengahadap kea rah Barat lurus. Padahall kiblat yang seenarnya menuju Ka’bah dari tanah Jawa haruslah iring kearah Utara + 24 derajat dari sebelah Barat. Berdasarkan ilmu pengetahuan tentang ilmu falak itu, ornag tidak boleh menghadap kiblat menuju Barat lurus, melainkan harus miring ke Utara + 24 derajat. Oleh sebab itu, K.H. Ahmad Dahlan mengubah bangunan pesantrennya sendiri supaya menuju kea rah kiblat yang betul. Perubahan yang diadakan oleh K.H. Ahmad Dahlan itu mendapat tantangan keras dari pembesar-pembesar masjid dan kekuasaan kerajaan
  3. Berdasarkan perhitungan astronominya, K.H. Ahmad Dahlan menyataka bahawa hari raya Idul Fitri yang bersamaan dengan hari ulang tahun Sultan,, harus dirayakan sehari lebih awal dari yang diputuskan para ulama “mapan”. Dan melaksanakan shalat Idul Fitri di lapangan. Sultan menerima pendapat K.H. Ahmad Dahlan namun karena ini pula beliau kehilangan lebih banyak lagi simpati dari kalangan ulama “mapan”.[29]
  4. Mengajarkan dan menyiarkan agama Islam dengan popular, bukan saja di pesantren, melainkan ia pergi ke tempat-tempat lain dan mendatangi berbagai golongan. Bahkan dapat dikatakan bahwa K.H. Ahmad Dahlan adalah bapak Muballig Islam di Jawa Tengah, sebagaimana syekh M. Jamil Jambek sebagai bapak Muballigh di Sumatra Tengah.[30]
  5. Mendirikan perkumpulan Muhammadiyah yang tersebar di seluruh Indonesia sampai sekarang.
  6. Sebuah Refleksi Dan Kritik Realita Sekolah-Sekolah Muhammadiyah Saat Ini

Puluhan truk pasir sejumlah sak semen dan beberapa kaleng cat tidak begitu bermakna apabila hanya di pajang di toko atau disimpan di gudang. Makna itu menjadi bermakna di tangan tukan batu atau arsitek, karena beragam bentuk arsitektur dapat dibangun. Ilustrasi tersebut menjadi bermakna dalam konteks pendidikan. Melimpahnya materi tentang aqidah, akhlaq, A-Qur’an Hadits atau hafalan sekian juz plus materiilmu umum yang menjadi tidak bermakna manakala dijejalkan begitu saja ke peserta didik dalam keadaan saling terpisah dan bersifat parsial. Apabila Muhammadiyah benar-benar mau membangun sekolah atau universitas unggulan maka harus merumuskan landasan filosofis pendidikan yang tepat sehingga dihadapan pendidikan nasional pun posisinya tegas. Jika kita melihat sekolah Muhammadiyah saat ini dari sisi kurikulumnya sama persis dengan sekolah/universitas negeri ditambah materi al-Islam dan ke-Muhammadiyahan. Kalau melihat materi yang begitu banyak, maka penambahan itu malah semakin membebani anak karenanya amat jarang lembaga pendidikan melahirkan bibit-bibit unggul. Karena itu suudah waktunya untuk kembali merumuskan materi yang terintegrasikan dengan materi-materi umum seperti yang dicita-citakan oleh pendidinya buya Ahmad Dahlan serta disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. Buya melihat bahwa mengadopsi system pendidikan model Barat adalah salah satu jalan pintas karena buya melihat bahwa pendidikan merupakan kunci untuk melakukan berbagai perintah agama. Mengingat system pendidikan koloni dianggap yang terbaik maka jalan yang paling mudah adalah dengan mengadopsi sisterm tersebut lalu disempurnakan dengan penambahan mata pelajaran agama. Namun, generasi kita sekarang lebih disibukkan untuk mendirikan lembaga pendidikan hasil ijtihad, bukan menangkap substansinya yaitu bagaimana mengintegrasikan atau mensintesakan ilmu umum dan ilmu agama, karenanya cita-cita buya untuk melahirkan ulama-intelek dan intelek ulama belum terpenuhi. Lain halnya jika kita membaca cerpen dari Navis (2000) yang berjudul “Robohnya Surau Kami”, yang berisi kritikan terhadap kaum agamawan (para penganut agama, terutama Islam) yang terlalu bersemangat untuk meraih surga di akhirat tapi melupakan meraih “surga” di muka bumi ini melalui kerja kemanusiaansampai akhirnya surai itu roboh. Dengan meminjam istilah itu secara konotatif kemungkinan kritik itu diarahkan kepada warga Muhammadiyah yang berlomba-lomba mendirikan sekolahan hanya bermodal ihlas tanpa memperhatikan mutu/kualitas dan standar kelayakan pendidikan sehingga begitu ada arus perubahan satu persatu sekolah Muhammadiyah rontok, kehabisan murid seperti yang terjadi belakangan ini. Sedangkan secara denotative, memang untuk menunjukkan bahwa bangunan gedung-gedung Muhammadiyah rata-rata sudah menua sehingga benar-benar mau roboh. Begitulah realita yang terjadi dan untuk menutup tulisan ini ada baiknya kita membaca kembali apa yang dituliskan Andrea Hirata dalam novel best seller-nya yang sangat menyengat dunia pendidikan kita yang berjudul Laskar Pelangi.. Realita pendidikan Muhammadiyah di pelosok kota Belitung, yang harus berjuang keras melawan ganasnya lingkungan dan kehidupan. Tapi dengan motivasi dan semangat yang tinggi dari diri sendiri, teman serta pengelola pendidikan tersebut, mereka berhasil mengatakan pada dunia “ini lah aku…anak-anak dari pelosok Belitung…”. Guru yang super hebat dengan semua pengorbanannya memperjuangkan eksistensi mereka pada dinas Pendidikan setemat, dan loyalitas mereka untuk menerapkan cita-cita pembaruan buya Ahmad Dahlan dalam sekolah mereka. Harusnya kita malu dengan segala kemewahan fasilitas dan sarana yang kita miliki kalau kita masih keliru memahami maksud dari cita-cita pendidikan buya Dahlan. Sederhananya, tidak banyak cingcong dan kemampuan merealisasikan ide menjadi tindakan nyata, jauh lebih tinggi daripada intelektual muda manapun. Ini barangkali dapat dipertimbangkan sebagai mata pelajaran baru di sekolah-sekolah kita. University of Life adalah ungkapan yang paling pas untuk situasi ini. Sekolah seharusnya tidak lagi mengajarkan hal-hal apa yang harus kita pikirkan,tapi mengajarkan kita cara berfikir. Ada baiknya kita memotivasi diri kita sebagai pondasi awal kita untuk menyajikan dunia pendidikan yang terbaik sesuai dengan cita-cita buya, dengan meresapi apa yang dikatakan Arai kecil: “bahwa orang seperti kita akan mati tanpa mimpi dan semangat, karena itu jangan pernah berhenti bercita-cita, karena pabila itu terjadi maka tragedy terbesar dalam hidup kita akan dimulai. Itulah kiranya yang dingin direalisasikan oleh buya Ahmad Dahlan. III. KESIMPULAN

  1. Gerakan Muhammadiyah dikenal luas sebagai gerakan yang sangat dipengaruhi oleh gagasan modern dan reformis pembaru Mesir Muhammad Aabduh (1849-1905), yaitu dimaksudkan untuk memurnikan Islam di Indonesia dari praktik-praktik khurafat tradisional yang tidak Islami. Dalam rangka memajukan program pembaruannya, Muhammadiyah menyerukan agar kaum Muslim kembali kepada Islam yang murni dan menafsirkan untur-unsur kebudayaan Barat dalam kerangka ajaran Islam.
  2. Dalam rangka mengintegrasikan kedua sistem pendidikan tersebut, K.H. Ahmad Dahlan  melakukan dua tindakan sekaligus; memberi pelajaran agama di sekolah-sekolah Belanda yang sekuler, dan mendirikan sekolah-sekolah sendiri di mana agama dan pengetahuan umum bersama-sama diajarkan. Kedua tindakan itu sekarang sudah menjadi fenomena umum; yang pertama sudah diakomodir negara dan yang kedua sudah banyak dilakukan oleh yayasan pendidikan Islam lain. Namun, ide Beliau tentang model pendidikan integralistik yang mampu melahirkan muslim ulama-intelek masih terus dalam proses pencarian. Sistem pendidikan integralistik inilah sebenarnya warisan yang musti kita eksplorasi terus sesuai dengan konteks ruang dan waktu, masalah teknik pendidikan bisa berubah sesau dengan perkembangan ilmu pendidikan atau psikologi perkembangan.
  3. Setelah melihat sepak terjang K.H. Ahmad Dahlan dalam gagasan dan praktek pendidikan Islam melalui Muhammadiyahnya, kita tahu besar sekali jasa beliau dalam meletakkan pelajaran agama sebagai mata pelajaran di sekolah-sekolah pemerintah sampai saat ini dari pendidikan kanak-kanak sampai perguruan tinggi.
  4. Gagasan K.H. Ahmad Dahlan selanjutnya dijadikan inspirasi bagi penetapan bidang studi umum dan agama Islam yang wajib diberikan di sekolah dasar dan diikuti oleh murid-murid yang beragama Islam.
  5. Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan dalam bidang pendidikan berangkat dari keinginan untuk mewujudkan manusia yang mewakili kepribadian yang integral dan pengetahuan yang seimbang. Sehingga dipandang pentingnya memberikan pengetahuan agama bagi mereka yang berada di sekolha-sekolah umum dan pengetahuan umum bagi mereka yang selama ini belum pernah mendapatkannya.
  6. Tampak jelas dalam kurikulumnya bahwa kurikululum yang ditetapkan DikNas, pendidikan Muhammadiyah juga mengkompromikan pengetahuan agama dan pengetahuan umum. Pada sekolah negeri pelajaran agama merupakan satu bidang studi. Sedang di pendidikan Muhammadiyah dibagi menjadi empat, yaitu akidah, al-Qur’an, tarikh dan akhlaq
  7. K.H. Ahmad Dahlan dapat dikatakan sebagai peletak dasar pemikiran Muhammadiyah yang tidak bersikap apriori terhadap Barat. Ia melihat kemajuan yag dibawa Barat dan ia bekeyakinan bahwa salah satu jalan untuk mengankat umat Islam adalah dengan mendidik mereka dalam lembaga pendidika yang mempunyai system yang tersendiri sebagai hasil pemikirinannya. Lembaga-lembaga pendidikan inilah yang kemudian menjadi sarana pelestarian hasil-hasil keputusan tarjih.

IV. PENUTUP Demikian pemaparan makalah dari saya semoga bermanfaat. Semoga kita dapat melakukan dan memberikan yang terbaik bagi dunia pendidikan kita dengan menghadapi semua kesulitan sebagai bagian dari suatu tatanan pendidikan kita yang sempurna. Billahi fi sabilil haq fastabiqul khairat. DAFTAR PUSTAKA Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007). Abdul Munir Mulkhan, Prof.Dr.SU, Kisah dan Pesan Kiai Ahmad Dahlan (Yogyakarta: Pustaka, 2005) Abuddin Nata, FIlsafat Pendidikan Islam (Edisi Baru) (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005) Ahmad Mansur Suryanegara, Prof.Ph.D, Filsafat Sejarah (Makalah Mata Kuliah), (Jurusan SPI Fak.Adab IAIN SGD, Bandung, 2003) Ali Asyraf, Horison Baru Pendidikan Islam, terjemahan, Sori Siregar (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993). Alfian, Muhammadiyah The Political Behavior of Allah SWT Muslim Modernist Organization Undr Dutch Colonialism (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1085) Alwi Shihab, Membendung Arus Resopn Gerakan Muhammdiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia (Bandung: Mizan, 1998) Amir Hamzah Wirjosukarto, Pembaharuan Pendidikan dan Pengajaran Islam (Jember, Mutiara Offset, 1985) Arbiyah Lubis, Pemikiran Muhammadiyah dan Muhammad Abduh (Jakarta: Bulan Bintang, 1993)Clifford Geertz, The Religion of Java (New York: The free Press of Glencoe, Inc., 1961) Berita Resmi Muhammadiyah (BRM) No.23/April 1995 Delia Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942I (Jakarta: LP3ES, 1995) Disertasi tidak diterbitkan, Ahmad Tafsir, Konsep Pendidikan Formal dalam Muhammadiyah (Jakarta: IAIN Syarif Hidayatullah, 1987) Achmad Jainuri, The Muhammadiyah Movement in Twentieth Century Indonesia Allah SWT social Religius Study (Canada: Tesis Mc. Gill University Montrealm 1992) Dja’far Siddik, Konsep Pendidikan Islam Muhammadiyah Sistematisasi dan Interpretasi Berdasarkan Perspektif Ilmu Pendidikan (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 1997) Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2001) Hamka, Kenang-kenangan Hidup I (Jakarta: Gapura, 1951) http://immgunungjati.wordpress.com/2007/11/13/rekonstruksi-pemikiran-kh-ahmad-dahlan/ Download pada tanggal 9 April 2008-04-18 Karel A. Steenbrink, Pesantren Madrasah Sekolah, (Jakarta: LP3ES, 1994) KRH. Hadjid, Pelajaran K.H. Ahmad Dahlan 7 Falsafah Ajaran dan 17 Kelompok Ayat al-Qur’an (Yogyakarta: LPI PPm, 2005). M. Margono Poesposuwarno, Gerakan Islam Muhammadiyah (Yogyakarta: Persatuan Offet, 1995) M. Yusron Asrofie, K.H. Ahmad Dahlan Pemikiran dan Kepemimpinannya (Yogyakarta: Yogyakarta Offset, 1983) Mark R. Woodward, Islam in Java: Normative Piety and Mysticism in the Sultanate of Yogyakarta (Tucson: The University of Arizona Press, 1989) Muhammad Syamsu As, Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya (Jakarta: Lentera, 1999) MT. Arifin, Muhammadiyah: Potret yan Berubah (Surakarta: Institut Gelanggang Mukti A. Ali, The Muhammadiyah Movement: Allah SWT Bibliographical Introcution”, Tesis Master pada Institute of Islamic Studies (Mc Gill Univercity, Montreal, 1957) Pedoman Guru Muhammadiyah, seri M.P.P. No. % (Jakarta: PP Muhammadiyah Majlis P.P.K, 1997 Pemikiran Filsafat Sosial BUdaya dan Kependidikan, 1990)Profil Anggota Muhammadiyah, LP UMY, Yogyakarta, 2000 Robert van Neil, From Netherlands East Indies to Republic of Indonesia 1900-1945, dalam Harry Aveling (ed), The Development of Indonsesian Society (New York: St. artin Press, 1980) Sri Setyatiningsih dan Sutrisno Katoyo, Sejarah Pendidikan DIY (Yogyakarta: Depdikbud, 1982) Syaifullah, Gerakan Politik Muhammadiyah Dalam Masyumi, (Grafiti Pers, Jakarta, 1997) Solichin Salam, Muhammadijah dan Kebangunan Islam di Indonesia, (NV Mega, Jakarta, 1965) Tim MPK PP Muhammadiyah, Sistem Perkaderan Muhammadiyah (Yogyakarta: MPK PP Muhammadiyah, 2008) Sukrianta & Abdul Munir Mulkhan, Perkembangan Pemikiran Muhammadiyah Dari Masa Ke Masa, Dua Dimensi, Yogyakarta, 1985 Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis (Jakarta: Ciputat Pers, 2002). Suara Muhammadiyah, Edisi Sabtu, 9 Februari 2008 Syamsi Sumardjo, Pengetahuan Muhammadiyah dengan Tokoh-tokohnya dalam Kebangunan Islam (Yogyakarta: P.B. Muhammadyah, 1976) Syed Sajjad dan Syed Ali Ashraf, Crist in Muslim Education (Jeddah: Hodder and Stonghton 1979) Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam, Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2006 Weinata Sairin, Gerakan Pembaharuan Muhammadiyah (Jakarta: Pustaka SInar Harapan, 1995) Winarno SUrakhmad, dkk, Reformasi Pendidikan Muhammadiyah Suatu Keniscayaan (Yogyakarta: Pustaka Suara Muhammadiyah, 2003) Yunus Salam, K.H. Ahmad Dahlan Reformer Islam Indonesia (Jakarta: Djajamurni, 1963). —————–, K.H. Ahmad Dahlan dan Amal Perjuangan (Jakarta: Depot Pengajaran Muhammadiyah, 1968)


[1] Terminology dunia Islam adalah suatu area terbentang antara Maroko sampai ke Indonesia dan Negara-negara yang terletak di sekitar Indonesia seperti Cina, Jepang dan Tibet, di mana Negara-negara tersebut sebagian besar mempunyai aligiensi (kecenderungan terbesar) kultur Budha, Syed Sajjad Husain and Syed Ali Ashraf, Crisis in Muslim Education, (Jeddah: Hodder and Stoghton, 1979), h. 3. Bandingkan dengan Ali Asyraf, Horison Baru Pendidikan Islam, terj. Sori Siregar (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993), p. 105-143. diceritakan bahwa, untuk memecahkan masalah-masalah dan meningkatkan mutu pendidikan, secara resmi telah diadakan kongerensi pendidikan sebanyak empat kali: pertama di Mekkah tahun 1977, kedua di Islamabad (Pakistan) tahun 1980, ketiga di Dhaka (India) tahun 1981 dan keempat di Jakarta tahun 1982. [2] Hamka, Kenang-kenangan Hidup (1) (Jakarta: Gapura, 1979), p. 36-37. selanjutnya Hamka menulis, tentang kesenjangan antar sekolah pada awal abad ke-20 sebagai berikut: Pada waktu itu ada dua macam sekolah, satu namanya Sekolah Gubermen, yang terdiri dari IV kelas, dan yang satu namanya Sekolah Desa yang teridiri dari III kelas. Di antara murid-murid kedua sekolah itu, kerap sekali terjadi perkelahian karena saling membanggakan sekolah masing-masing. Anak Sekolah Desa dipandang rendah, atau merasa dirinya rendah, berhadapan dengan anak Sekolah Gubermen. Untuk anak-anak pegawai bangsa Belanda didirikan Europeesche Lagere School, dengan kekecualian yang amat sangat, artinya yang diterima di situ hanya anak-anak pegawai bangsa Indonesia, misalnya anak Demang dan anak Jaksa. Anak-anak yang bersekolah di sini merasa pula bahwa dirinya adalah tingkat yang di atas sekali, lebih tinggi dari sekolah Gubermen itu dan jauh pula lebih tinggi dari anak Sekolah Desa. [3] Dalam Robert van Niel, The Emergence of the Modern Indonesia Elite, terj. H. Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda (Jakarta: LP3ES, 1985), p. 21. 101. Politik etika bermula dari pidato Ratu Wilhelmina pada tahun 1901 di Staten General, yang menegaskan bahwa Belanda mempunyai “kewajiban moral” terhadap rakyat Indonesia. Isi pidato tersebut antara lain: “Sebagai kekuatan Kristen pribumi di Hinda Belanda berkewajiban untuk mengatur posisi hukum yang lebih baik bagi orang-orang Kristen pribumi di Hindia BElanda, untuk memberikan dukungan lebih kuat terhadap penyebaran Kristen dan memberikan penerangan kepada segenap petugas bahwa Belanda mempunya kewajiban moral yang harus dipenuhi terhadap penduduk wilayah itu”. Adapun pelaksanaan politik tersebut mulai tahun 1907, berakhir tahun 1920. [4] Sri Setyiatiningsih dan Sutrisno Kutoyo, Sejarah Pendidikan Daerah Istimewa Yogyakarta, (Yogyakarta: Depdikbud, 1982), h. 9. [5] Aqib Suminto, Politik Islam, h. 15, 19. UUD Belanda ayat 119 tahun 1855, menyatakan bahwa pemerintah bersikap netral terhadap agama. Pengertian netral dalam hal ini seharusnya tidak memihak dan tidak campur tangan sekali atau bisa juga membantu kesemuanya secara seimbang tanpa mencampurinya. Tetapi, ternyata penryataan netral terhadap agama berbeda antara teori dan praktek. Sampai pada tahun-tahun terakhir berkuasanya, kebijaksanaan pemerintahan Hindia Belanda terhadap agama lebih tepat dikatakan campur tangan daripada netral. Meskipun campur tangan terhadap Islam dan Kristen berbeda dalam jenis kualitas dan kuantitasnya. Dan keinginan untuk tetap menjajah, betapapaun mengakibatkan pemeritah kolonia tidak memapu memperlakukan agama pribadi sama dengan agaman sendiri, juga tidak mampu memperlakukan pribadi yang beragama lain, sama dengan pribumi yag seagama dengan. Senada juga dengan Delia Noer, Gerakan Modern Islam, h. 105. bahwa sikap diskriminatif juga tampak pada perlakuan Belanda terhadap pihak muslim dengan Cina. Pemerintah colonial dirasakan lebih menganakemaskan pihak Cina. Pendirian Hollands Chinese School (HSC) dalam tahun 1099 oleh pemerintah colonial Belanda dianggap oleh banyak orang Indonesia sebagai bukti atas diskrimisasi tersebut. [6] Yunus Salam, K.H. Ahmad Dahlan dan Amal Perjuangannya, (Jakarta: Depot Pengajaran Muhammadiyah 1968), h. 29-30. [7] Lihat: Delia Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942I (Jakarta: LP3ES, 1995). M. Yusron Asrofie, K.H. Ahmad Dahlan Pemikiran dan Kepemimpinannya (Yogyakarta: Yogyakarta Offset, 1983). Yunus Salam, K.H. Ahmad Dahlan Reformer Islam Indonesia (Jakarta: Djajamurni, 1963). Arbiyah Lubis, Pemikiran Muhammadiyah dan Muhammad Abduh (Jakarta: Bulan Bintang, 1993). Weinata Sairin, Gerakan Pembaharuan Muhammadiyah (Jakarta: Pustaka SInar Harapan, 1995). M. Margono Poesposuwarno, Gerakan Islam Muhammadiyah (Yogyakarta: Persatuan Offet, 1995). Alwi Shihab, Membendung Arus Resopn Gerakan Muhammdiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia (Bandung: Mizan, 1998). Alfian, Muhammadiyah The Political Behavior of Allah SWT Muslim Modernist Organization Undr Dutch Colonialism (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1085). Dja’far Siddik, Konsep Pendidikan Islam Muhammadiyah Sistematisasi dan Interpretasi Berdasarkan Perspektif Ilmu Pendidikan (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 1997). Disertasi tidak diterbitkan, Ahmad Tafsir, Konsep Pendidikan Formal dalam Muhammadiyah (Jakarta: IAIN Syarif Hidayatullah, 1987). Achmad Jainuri, The Muhammadiyah Movement in Twentieth Century Indonesia Allah SWT social Religius Study (Canada: Tesis Mc. Gill University Montrealm 1992).   [8] Delia Noer Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, (Jakarta: LP3ES, 1995), h. 48 [9] Musthafa Kamal Pasha, Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam untuk Angkatan Muda (Yogyakarta: Persatuan, 1975), h. 8-9 [10] Ahmad Khatib aslinya adalah orang Bukittinggi, Sumatra Barat, yang pergi ke Mekkah pada 1876 untuk melanjutkan sekolahnya. Dia dikenal sebagai orang yang sangat kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah colonial Belanda dan bersikap tidak bersahabat kepada Hurgronje ketika yang terakhir ini berada di Mekkah. Di antara murind-muridnya adalah ulama terkenal K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri Pesantren Tebuireng dan belakangan pendiri organisasi kaum tradisionalis NU. Lihat: Muhammad Syamsu As, Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya (Jakarta: Lentera, 1999), h. 245 [11] Ada perbedaan pendapat di kalangan para penulis biografi K.H. Ahmad Dahlan mengenai kepergiannya ke Mekkah. Menurut Mukti Ali, K.H. Ahmad Dahlan pertama kali menuanaikan ibadah haji pada 1890 dan menetap di sana selama satu tahun, sedangkan dalam kunjungannya yang kedua ia menetap selama dua tahun. Sumber lain menyebutkan dalam kunjungannya yang kedua ini, ia menetap selama empat tahun. Sedang sumber lain lagi menyebutkan ia menetap selama satu setengah tahun, bersama anaknya Siraj. [12] Syamsi Sumardjo, Pengetahuan Muhammadiyah dengan Tokoh-tokohnya dalam Kebangunan Islam (Yogyakarta: P.B. Muhammadyah, 1976), h. 4. [13] Penggerak kebangkitan Islam di Jawa yang pertama adalah perkumpulan Jam’iat Khair yang berdiri di Jakarta pada tahun 1905. dari perkumpulan inilah bermunculan tokoh-tokoh baru Islam dan mendirikan berbagai perkempulan seperti Muhammadiyah, al-Irsyad, dll. K.H. Ahmad Dahlan adalah salah seorang anggotanya dengan nomor anggota 770. [14] Ketika bergabung, kepedulian utama K.H. Ahmad Dahlan adalah untuk memasukkan dimensi keagamaan ke dalam organisasi yang watak utamanya secular itu. Beliau ingin menyebarkan nilai-nilai keagamaan di kalangan anggota organisasi ini, yang dikenal luas sebagai sangat intelek tetapi komitmennya kepada Islam sangat kurang. Lihat: Deliar Noer, Gerakan Modern Islam, h. 86. pembawaannya yang rasional dan tidak tradisional dalam merumuskan ajaran-ajaran Islam tampaknya menjadi alasan di balik kemampuan mempengaruhinya dan diterima para anggota BU dan beliau tetap merupakan anggota aktif organisasi itu bahkan setelah Muhammadiyah lahir. [15] Amir Hamzah Wirjosukarto, Pembaharuan Pendidikan dan Pengajaran Islam, h.95-96 [16] Lihat, Amir Hamzah Wirjosukarto, Pembaharuan Pendidikan dan Pengajaran Islam (Jember, Mutiara Offset, 1985), h. 92. Lihat juga Pedoman Guru Muhammadiyah, seri M.P.P. No. % (Jakarta: PP Muhammadiyah Majlis P.P.K, 1997), h. 26. Tujuan pendidikan Muhammadiyah secara umum yang lain berbunyi: “Terwujudnya manusia musli yang berakhlak mulia, cakap, percaya pada diri sendiri berguna bagi masyarakat dan negara. Selanjutnya tujuan tersebut disempurnakan lagi, sehingga berbunyi: (i) terwujudnya manusia muslim yang berakhlak mulia cakap, percaya pada diri sendiri dan berguna bagi masyarakat dan negara, beramal menuju terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, (ii) memajukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan ketrampilan untuk pembangunan masyarakat dan Negara RI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Tujuan ini tercantum dalam Kaidah Perguruan Dasar dan Menengah masyarakat pasal 3 Persyarikatan Muhammadiyah Badan Hukum yang menyelenggarakan Sekolah dan Terguruan Tinggi, pasca kepemimpinan K.H. Ahmad Dahlan. [17] Ibid, h. 98-108 [18] Bahan pelajaran tersebut di samping pelajran Qur’an dan hadis adalah kitab-kitab fiqh (mazhab Syafi’i), ilmu tasawuf (al-Ghazali), Ilmu kalam (ulama-ulama Ahl Sunnah) ditambah dengan kitab Risalah al-Tauhid (Muhammad Abduh), kitab Jalalain dan al-Manar. Sedangkan pengetahuan umumnua meliputi: ilmu sejarah, berhitung, menggambar bahasa Melayu, bahasa Belanda dan Inggris. Lihat: Amir Hamzah Wirjosukarto, Pembaharuan Pendidikan, h. 122-123. [19]K.H. Ahmad Dahlan pada masa hidupnya banyak menganut fiqh mahzab Syafi’i, termasuk mengamalkan qunut dalam shalat subuh dan shalat tarawih 23 rakaat. Namun, setelah berdiriya Majelis Tarjih pada masa kepemimpinan Kyai Haji Mas Mansyur, terjadilah revisi –revisi setelah melakukan kajian mendalam, termasuk  keluarnya  Putusan Tarjih yang menuntunkan tidak dipraktikkannya do’a qunut di dalam shalat subuh dan jumlah rakaat shalat tarawih yag sebelas rakat. “ Ini wujud keterbukaan Muhammadiyah yang tidak fanatik”.Karena ini Muhammadiyah bukan Dahlaniyah. Dahulu ketika  Ahmad Dahlan muda  bermukin di Makkah, sempat belajar kepada Syaikh Ahmad Khatib yang saat itu juga  bersama Hasyim Asyari yang kemudian menjadi salah satu pendiri Nadhatul Ulama. Karena Kyai Ahmad Khatib adalah seorang ulama bermahzab Syafii, maka praktik ibadah Kyai Dahlan banyak yang mengikuti fiqh Mahzab Syafii.  Hanya saja, karena Kyai Dahlan mendapat tugas dari Syaikh Ahmad Khatib untuk mempelajari Al Mannar, karya Rasyid Ridha, maka Kyai Dahlan terpengaruh juga dengan pemikiran Rasyid Ridha yang menekankan tidak bermahdzab. “Contohnya, bila ada satu masalah yang kuat dasarnya Mahzab Syafii yang dianut Mahzab Syafii, kalau suatu masalah kuat Mahzab Hanafi, yang dianut Mahzab Hanafi”. Hal inilah yang kemudian dianut Muhammadiyah, termasuk dalam pengambilan Putusan Tarjih. Demikian dikatakan Dr. Yunahar Ilyas ditengah Pengajian Mahasiswa, kamis (7/02/2008) di Kantor PP Muhammadiyah, Jl Cik Di Tiro Yogyakarta. Lihat: Suara Muhammadiyah , Edisi 9 Februari 2008. [20] Karel. K. Steenbrink, Pesantren, Madrasah, Sekolah, h. 54-55 [21] K.H. Ahmad Dahlan sering mengajak murid-muridnya mengunjungi gereja dan sekolah-sekolah misi untuk menunjukkan dedikasi tinggi yang diberikan oleh para misionaris terhadap tugas-tugas baik yang bersifat keagamaan maupun social. Tujuan akhirnya adalah untuk meningkatkan semangat juang para muridnya.  Lihat juga Robert ban Neil, The Emergence of the Modern Indonesian Elite, h. 85. [22] Alfian Muhammadiyah, h. 150. Lihat juga Arifin, Muhammadiyah , h. 64-66 [23] Mengenai Pembaharuan K.H. Ahmad Dahlan di bidang Pendidikan, lihat Mukti Ali, The Muhamadiyah Movement, h. 53 [24] Kata “pesantren” secara harfiah berarti tempat atau sekolah untuk santri. Kata santri pada mulanya berarti para siswa yang belajar di sekolah-sekolah Islam. meskipun demikian, dalam masarakat Jawa, kata ini memperoleh makna yang lebih luas. Kata ini dulu, dan hingga sekarang masih digunakan untuk menunjuk kelompok kaum muslaim ortodoks yang taat menjalankan perintah-perintah agama. Karena itu, pesantren bukanlah sebagaiman ayang digambarkan Geertz sebagai sekolah elompok teligius yang kesalehannya mencerminkan produk sintesis antara Islam dan agama Jawa para-Islam yang jauh dariortodoksi Islam. pada kenyatannya, pesantren dibangun sebagai dan perlahan-lahan berkembang menjadi jantung Islam ortodoks di wilayah pedesaan di seluruh Indonseia, meskipun disebut dengan nama-nama yang berbeda. Pendidikan yang diberikan disekolah-sekolah ini, setidak-tidaknya hingga berdirinya Muhammadiyah , hanya terdiri dari ilmu agama. Pengajaran diberkan dengan cara yang tidak formal, dengan cara para murid duduk mengelilingi guru mereka. Muhammadiyah berdiri untuk memodernisasikan lembaga-lembaga ini, dengan memasukkan pengajaran ilmu-ilmu sekuler da penerapan system pengajaran baru. Bahkan dapat dikatakan, salah satu sumbangan khas Muhammadiyah dalam bidang pendidikana adalah dengan mengadakan pendidikan Islam yang melampaui system pendidikan pesantren yang tradisionalis ini. Lihat, Clifford Geertz, The Religion of Java (New York: The free Press of Glencoe, Inc., 1961), h. 125. Lihat juga Mark R. Woodward, Islam in Java: Normative Piety and Mysticism in the Sultanate of Yogyakarta (Tucson: The University of Arizona Press, 1989), h. 79-80. [25] Setelah dapat dipastikan, bahwa Muhammadiyah bersika kooperatif. Pemerintahan HindiaBelanda memberikan penghargaan atas itu semua, berupa perangko pos yang berlogokan Muhammadiyah dan K.H. Ahmad Dahlan. Ini merupakan salah satu kunci keberhasilan K.H. Ahmad Dahlan dalam merealisasikan program pembaharuan pendidikannya di Indonesia saat itu. [26] Ini menjadi pe-er besar bagi kita bersama untuk menindaklanjuti yang dilakukan K.H. Ahmad Dahlan dengan melakukan studi komparatif antara system pendidikan Kristen dan system pendidikan Islam sehingga diharapkan akan tercipta sebuah paradigma baru bagi dunia pendidikan Islam. [27] Lihat, Abudina Nata, Filsafat Pendidikan Islam, h. 208 [28] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, h. 103-104 [29] A. Mukti Ali, The Muhammadiyah Movement, h. 32. [30] Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, h. 276.

1 komentar April 1, 2010

PEMERINTAHAN NABI DAN PERUBAHAN SOSIAL


  1. PENDAHULUAN

TheEensyslopedia Brittanica says that:

“Muhammad is the most successful of all Prophets and religious personalities”.

The personalty of Mohammad! It is most difficult to gen into the truth of it. Only a glimpse of it I can cath. What a dramatic succession of picturesque scenes. There is Mohammad the Prophet, there is Mohammad the General; Mohammad the King; Mohammad the Warrior; Mohammad the Bussinessman; Mohammad the Preacher; Mohammad the Philosopher; Mohammad the Statesman; Mohammad the Orator; Mohammad the Reformer; Mohammad the Refuge of Orphans; Mohammad the Protetor of Slaves; Mohammad the Emancipator of Woman; Mohammad the Law-Giver; Mohammad the Judge dan Mohammad the Saint.

Itulah sosok Rasulullah yang sangat dihormati dan diagungkan sepanjang masa. Saat umat dalam kegelapan dan kehilangan pegangan hidupnya Nabi Muhammad Saw datang sebagai rahmatan lil’aamin. Nabi Muhammad Saw melahirkan peradaban baru yang demokratis, egaliter dan manusiawi[1]. Perjuangan dan model kepemimpinan Nabi Muhammad Saw yang membela rakyat kecil dan mendahulukan kepentingan public, patut kita aplikaskan.

Kebesaran Nabi Muhammad Saw sebagai seorang tokoh dunia yang berhasil mengubah keadaan masyarakatnya melalui pemerintahan beliau dan perubahan sosial yang dilakukan beliau sudah diakui oleh seluruh dunia dan tertoreh dalam  tulisan pujangga dan filosofis dunia. Seperti Muhammad Iqbal, Thomas carley, Arnold Toynbee, Will Durant dan Michael Hart yang menuliskan pujian yang sangat agung. Bahkan M. Hart meletakkan Nabi Muhammad Saw sebagai tokoh nomor satu di antra seratus tokoh yang paling berpengaruh di dunia. Will Durant menganggap Nabi Muhammad Saw sebagai pribadi yang lengkap, karena beliau adalah seorang sosiolog, psikolog, politisi, agamawan juga seorang pemimpin besar. Asghar Ali Enginger juga menegaskan bahwa  sosok pemimpin yang sangat redah hati, tapi berhati luhur dan berotak luar biasa cerdas. Dan meminjam istilah Antonio Gramsci dan Ali Syari’ati beliau adalah sosok intelektual organic dan rausyan fikr yang ideal. Karena dalam perjalanan hidupnya, beliau berhasil menyatukan idealisme intelektual dan aktivisme sosial sebagai pemandu perjuangan dan visi gerakan langkahnya dalam menjalani kehidupan ini.

Berangkat dari pemahaman itu saya mengawali  pembahasan saya dari situasi pemerintahan Nabi Muhammad Saw dan situasi masyarakat Arab menjelang lahirnya Islam dengan penekanan khusus pada aspek politik, ekonomi, sosial, agama dan sastra.. Lalu dilanjutkan dengan berbagai peran Nabi Muhammad Saw baik itu sebagai nabi, rasul, pendiri bangsa, pemimpin masyarakat, politik, militer, pendidikan dan sebagai perancang ekonomi. Dan di akhiri dengan sajian kondisi masyarakat dan perubahan sosial yang terjadi. Dengan mengkaji aspek-aspek itu maka akan jelas bahwa Islam lahir dalam suasana politik yang didominasi oleh dua kekuatan raksasa, yaitu Sasania (Persia) di Timur dan Bizantium (Romawi) di Barat[2].

Dan dalam waktu yang relative singkat, Islam berkembang pesat menjadi suatu kekuatan politik yang menentukan perjalanan sejarah. Di sini pun akan disajikan bagaimana peran Islam dalam menanmkan bentuk kepercayaan baru yang melahirkan sisterm sosial dan gaya hidup yang baru.

Semoga tulisan ini membawa manfaat bagi yang menulis dan membacanya sehingga dapat dimanfaatkan sebaik mungkin bagi perkembangan Islamic Education.

  1. PEMBAHASAN
    1. Pemerintaha Pada Masa Nabi Muhammad Saw

Pemerintahan Islam yang dipimpin oleh Nabi Muhammad Saw kekuasaan tertinggi ada pada syari’at Islam sebagaimana yang terkandung dalam Al-Qur’an, berlaku bagi seluruh ummat Islam termasuk Nabi Muhammad Saw sebagai pemimpin. Apabila ada masalah yang tidak ditetapkan dalam Al-Qur’an maka keputusannya berada di tangan Nabi.

Di sini Nabi Muhammad Saw menjabat peran ganda yaitu sebagai Nabi dan sebagai kepala pemerintahan. Walau Nabi Muhammad Saw menjabat otoritas tertinggi, namun beliau sering mengajak musyawarah para sahabat untuk memutuskan masalah-masalah penting.

Kebijakan pertama yang dilakukan Nabi Muhammad Saw di Madinah adalah membangun masjid yang dikenal sebagai Masjid Nabawi, yang menjadi pusat kegiatan pemerintahan Islam. Selain sebagai tempat ibadah, juga berfungsi sebagai kantor pemerintah pusat dan peradilan. Perjanjijan dan jamuan terhadap delegasi asing, penetapan surat perintah kepada para gubernur dan pengumpulan pajak pun diselenggarakan di masjid.

Sebagai hakim, Nabi memeriksa dan memutuskan perkara di masjid. Nabi Muhammad Saw merupakan orang yang pertama kali memperkenalkan kepada masyarakat Arab tentang sisterm pendapatan dan pembelanjaan pemerintahan.

Beliau mendirikan lembaga kekayaan masyarakat di Madinah. Lima sumber utama pendapat Negara Islam yaitu zakat, jizyah[3], kharaj[4], ghanimah[5], dan al-fay[6]. Zakat merupakan kewajiban bagi setiap muslim atas harta kekekayaan yang berupa binatang ternak, hasil pertanian, emas, perak, harta perdagangan dan pendapatan lainnya yang diperoleh seseorang.

Nabi Muhammad Saw juga merupakan pimpinan tertinggi tentara muslim. Beliau turut serta dalam peperangan dan ekspedisi militer. Bahkan memimpin beberapa perang besar seperti perang Badar[7],Uhud, Khandaq[8], Hunayn[9], Tabuk[10] dan dalam penaklukan kota Makkah. Peperangan dan ekspedisi yang lebih kecil diserahkan kepada para komandan yang ditunjuk oleh Nabi.

Nabi Muhammad Saw juga selalu mendorong masyarakat untuk giat belajar. Setelah hijrah ke Madinah, Nabi mengambil prakasa mendirikan lembaga pendidikan. Pasukan Quraisy yang tertawan dalam perang Badar dibebaskan dengan syarat setiap mereka mengajarkan baca tulis kepada sepuluh anak-anak muslim. Sejak saat itu kegiatan belajar baca tulis dan kegiatan pendidikan lainnya berkembang dengan pesat di kalangan masyarakat. Dan ketika Islam telah tersebar ke seluruh penjuru jazirah Arab, Nabi mengatur pengiriman guru-guru untuk ditugaskan mengajarkan al-Qur’an kepada masyarakat suku-suku terpencil.

  1. Peran Nabi Muhammad Saw

Selain sebagai Nabi bagi seluruh umatnya, dalam perkembangan Islam selanjutnya Nabi menduduki peranan yang sangat penting, di antaranya:

  1. Nabi Muhammad Saw Sebagai Nabi Dan Rasul

Sebagai Nabi dan rasul, Nabi Muhammad Saw mendakwahkan agama Islam dengan akhlak yang sesuai dengan Al-Qur’an. Sebagiai da’i beliau menunjukkan sifat-sifat sabar, lemah lembut, toleransi, tega dan istiqomah dalam ajaran yang dibawanya, terutama tentang aspek akidah. Beliau juga melakukan aktifitas dakwah dengan dedikasi yang sangat tinggi.

  1. Nabi Muhammad Saw Sebagai Pendiri Bangsa

Nabi Muhammad Saw tidak sekedar sebagai pembaharu masyarakatnya, tetapi Nabi Muhammad Saw juga berperan sebagai pendiri bangsa yang besar. Nabi berjuang pada tahap awal dengan mendrikan sebuah kebangsaan dengan menyatukan para pemeluknya, lalu beliau merancang sebuah imperium yang dibangun berdasarkan kesepakatan dan kerjasama berbagai kelompok yang terkait. Pada saat awal ini, Nabi Muhammad Saw berhasil mendirikan sebuah Negara Madinah, yang semula hanya terdiri dari suatu kelompok masyarakat yang heterogen satu sama yang lainnya saling bermusuhana. Maka dengan hadirnya Nabi Muhammad Saw masyarakat Madinah menjadi bersatu dalam kesatuan Negara Madinah. Selajutnya Nabi Muhammad Saw memberlakukan beberapa ketentuan hukum untuk semua tanpa pengecualian dalam kedudukan yang sama, tidak mengenal perbedaan kedudukan karena nasab, kelas sosial dan lain sebagainya.

  1. Nabi Muhammad Saw Sebagai Pemimpin Masyarakat

Peran Nabi Muhammad Saw dapat kita lihat juga sebagai pemimpin masyarakat ketika beliau sampai di Madinah, beliau berhasil menghapus permusuhan tradisi di antara suku Aus dan Khazraj yang keduanya digabungkan oleh Nabi Muhammad Saw menjadi golongan Anshar. Setelah itu, golongan Anshar ini digabungkan pula dengan orang-orang Quraisy yang datang dari Mekkah dan biasa disebut golongan Muhajirin. Dengan demikian keberhasilan Baginda merupakan tokoh pertama yang menyatukan bangsa Arab yang berasal dari keturunan yang berbeda menjadi satu umat yang kuat dan kokoh. Selain itu, sebagai pemimpin, beliau telah menentukan beberapa hal yang menjamin kesejahteraan masyarakatnya. Antara lain: ibadah, munakahat, jenayah, kenegaraan dan sebagainya.

  1. Nabi Muhammad Saw Sebagai Pemimpin Politik

Keunggulan Nabi Muhammad Saw sebagai pemimpin politik dapat kita lihat dari beberapa hal, antaranya:

-          Menyelesaikan Masalah Perpindahan Hajar Al-Aswad Ke Tempat Asal

Nabi Muhammad Saw menunjukkan citra kepemimpinanya ketika berhasil menyelesaikan masalah yang timbul di kalangan pemimpin bani-bani dalam kabilah Quraisy yang merebutkan hak untuk meletakkan hajarul aswad di tempatnya yang asa di penjuru dinding ka’bah. Peristiwa itu terjadi setelah kota Mekkah dilanda banjir dan sebagiian bangunan ka’bah runtuh. Ketika akan meletakkan hajar aswad ketempat semula yaitu di sudut dinding Ka’bah, bani-bani di Mekkah saling memperebutkannya. Karena batu itu dianggap sangat suci dan mulia sehingga hanya tangan yang mulia dari bani atau suku yang mulia saja yang layak meletakkan batu itu ke tempat semula. Akhrnya mereka memililih Nabi Muhammad Saw sebagai hakim untuk meyelesaikan masalah tersebut. Lalu Nabi Muhammad Saw meletakkan batu tersebut di atas sehelai kain. Setelah itu setiap wakil Bani memegang bagian ujung kain tersebut dan bersama-sama mengangkatnya. Nabi Muhammad Saw sendiri meletakkan batu tersebut ke tempat asalnya di sudut Ka’bah. Solusi dari Nabi Muhammad Saw menyebabkan seuruh pihak yang terlibat konflik itu merasa puas.

-          Membentuk Piagam Madinah

Pada tahun pertama Hijriah Nabi Muhammad Saw brhasil melahirkan piagam Madinah[11] yang merupakan perlembagaan tertulis yang pertama di dunia. Piagam Madinah ini berhasil mewujudkan sebuah Negara Islam yang pertama di dunia yang terdiri dari banyaknya rakyat dan ragam agama. Sesungguhnya perlembagaan ini lebih bersifat satu alat untuk menyelesaikan masalah masyarakat majemuk yang ingin hidup aman dan damai dalam sebuah Negara yang sama. Dengan kata lain, ini adalah teori dan aplikasi toleransi yang pertama  kali di lahirkan oleh Nabi Muhammad Saw sebagai pioneer sekaligus adanya legitimasi secara tidak langsung dari seluruh masyarakatnya baik yang telah memeluk Islam maupun yang belum.

-          Mengadakan Perjanjian Hudaibiah

Perhanjian Hudaibiah yang diadakan di antara umat Islam Madinah dengan kaum Quraisy Mekah merupakan satu lagi bukti yang menunjukkan bahwa beliau Nabi Muhammad Saw adalah pemimpin yang sangat bijaksana. Tak ada satupun yang menyangkalnya termasuk Sayyidina Umar sendiri bahwa perjanjian Husaibiah yang dianggap kontroversi itu telah memberikan ketegasan pada kaum Quraisy dalam semua bidang. Sebagai buktinya, setelah perjanjian Hudaibiyah, tiga pahlawan unggulan Quraisy yaitu Khalid bin Walid, Amr bin Ash, dan Osman bin Talba memeluk Islam, umat Islam bertambah sebanyak lebih dari lima kali lipat dari dua tahun saja. Serta tewasnya Mekkah tanpa pertumpahan darah dua tahun kemudian. Jelaslah sudah bahwa Nabi Muhammad Saw membuktikan kebijaksanaannya dalam dunia percaturuan politik tanah Arab.

-          Mengadakan Hubungan Diplomat

Walaupun Nabi Muhammad Saw buta huruf, namun beliau membuktikan kualitasnya sebagai seorang pemimpin sebuah kerajaan. Beliau mengadakan hubungan diplomatic dan mengirim utusan-utusan ke berbagai daerah di dalam dan di luar Tanah Arab seperti Habsyah, Farsi Byzantine, Ghassan, Hirah, dan lain sebagainya.

  1. Nabi Muhammad Saw Sebagai Pemimpin Militer

Nabi Muhammad Saw meletakkan akidah, syariat dan akhlak yang mulia sebagai asas kepemimpinannya. Beliau dan sahabatnya menetapkan dasar tertentu semasa perang seperti: tidak memerangi orang lemah, orang tua dan anak-anak serta wanita, tidak memusnahkan harta benda. Beliau juga mengaplikasikan sifat amanah dalam melaksanakan perintah Allah dan juga seluruh umat Islam dalam memimpin. Nabi Muhammad Saw bersifat adil terhadap harta rampasan perang, yaitu dengan membaginya secara rata pada tentara yang turut dalam peperangan dan tidak mengejar musuh yag sudah lari dari medan peperangan. Nabi Muhammad Saw adalah panglima tentara dan ahli strategi. Dengan ilmu dan pengalaman yang luas, beliau berhasil membawa kejayaan kepada tentara Islam.

  1. Nabi Muhammad Saw Sebagai Perancang Ekonomi

System ekonomi yang dikembangkan sebelumya adalah system ekonomi kapitasis dan absolutistic yang berpusat pada suku-suku tertentu. Nabi Muhammad Saw datang untuk  memperkenalkan system ekonomi baru yang menggantikan dasar ekonomi zaman Jahiliah. Beliau menggalakkan icon kerja keras dan rajin dalam bidang perniagaan dan pertanian. Nabi Muhammad Saw telah membangun ekonomi umat Islam seperti menebus blik dan mengolah tanah yang tergadai kepada kaum Yahudi.

  1. Kondisi Sosial Masyarakat Dan Perubahan Sosial Yang Terjadi

Periode Madinah adalah pekerjaan besar yang di lakukan oleh Rasulullah Saw berupa pembinaan terhadap masyarakat Islam yang baru terbentuk. Karena masyarakat merupakan wadah dari pengembangan suatu kebudayaan maka diletakkan pula dasar-dasar Islam[12]. Ini merupakan representasi dari sejumlah nilai dan norma yang mengatur manusia dan masyarakat dalam hal yang berkaitan dengan ibadah, sosial, ekonomi dan politik yang bersumber dari al-qur’an dan sunnah.

Ada banyak hal yang dirubah pada masa pemerintahan Nabi Muhammad Saw khususnya dalam era periodisasi Islam, antara lain:

  1. Politik

Seperti yang kita ketahui bahawa Arab pra Islam didominasi oleh dua kerajaan besar yaitu Bizantium dan Persia sehingga secara geografis Mekkah tidak hanya sulit dijangkau tapi juga sikap pemimpinnya yang menjalankan politik non-blok sehingga Negara-negara Asing menaruh hormat terhadap bangsa Arab pada saat itu. Setelah datangnya Islam, kebijakan politik itu pada awanya tetap dipertahankan, namun dengan berkembangnya Islam kebijakan itu mengalami perubahan menjadi sebuah kebijakan yang tidak hanya sekedar memihak salah satu Negara adi kuasa yang ada saat itu, tapi sudah mulai menancapkan pengaruhnya ke dalam daerah-daerah di bawah kekuasaannya[13].

Selain itu, tentang pemilihan pemimpin, bangsa Arab sudah memilliki nilai-nilai demokratis dengan dipraktikannya  musyawarah. Mereka memilih pemimpin yang bijaksana dan adil dan menekanan senioritas serta pengalaan berdasarkan kesepakatan bersama.

Kemudian model kepemimpinan tersebut dilanjutkan dan disempurnakan oleh Islam sebagaimana dapat kita lihat pada model kepemimpinan Nabi Muhammad Saw dan Khilafa Rasyidin. Yaitu model pemilihan yang tidak hanya didominasi oleh salah satu kaum atau suku Arab. Islam mengajarkan bahwa kepemimpinan bisa diperoleh  oleh kaum atau suku manapun asaka ia memenuhi kuaifikasi adil, egalite dan fraternity[14].

Demikian pula dengan ghanimah yang pembagiannya disempurnakan oleh Islam dengan bervisi adil dan pemerataan yaitu nabi, keluarga, memelihara anak yatim da administrasi Negara mendapat seperlima sedangkan sisanya di bagi sesuai dengan kualitas tentara.[15]

  1. Ekonomi

Dua ratus tahun sebelum masa kenabian Nabi Muhammad Saw, Arab sudah mengenal peralatan pertaniah semi modern[16]. Mereka pun mampu membuat bendungan raksasa yang dinamakan al-ma’arib. Mereka menggunakan tiga sistem dalam mengelola pertanian yaitu sewa menyewa, bagi hasil produk, dan sistem pandego.

Mekkah juga merupakan jalur persilangan ekonomi internasional sehinggga Mekkah memiliki peranan penting dan strategis untuk berpartisipasi dalam dunia perekonomian. Mereka digolongkan menjadi tiga yaitu, kolongmerat yang memiliki modal, pedagang yang mengolah modal dan para perampok dan rakyat biasa yang memberikan jaminan keamanan kepada para khafilah pedagang.[17]

Dapat dipahami bahwa tradisi pertanian dan perdagangan di Arab sebenarnya sudah ada jauh sebelum Islam, namun tidak ada landasan keadilan dan persamaan di dalamnya. Ini bisa kita lihat dietika permodalan dikuasai oleh elite politik penguasa permodalan.

Islam lalu memasukkan nilai-nilai keadilan dan persamaan dalam perekonomian masyarakat Arab. Sehingga tidak ada lagi monopoi perekonomian dan perbudakan serta mengimplementasikan niai keadilan,kejujuran dan kesamaan sehingga tidak ada yang dirugikan.

  1. Sosial

Tidak disesalkan apabila masyarakat arab mempunyai sifat keras dan perilaku yang kasar, karena hal ini dipengarhi oleh factor geografis negaranya yang bertanah tandus, berdebu, berpasir dan berbatu. Dikenalnya masyarakat arab sebagai masyarakat jahiliyyah lebih tepatnya karena mereka memiliki moral yang rendah. Walaupun tidak semuanya, tapi kepala sukulah yang memiliki muru’ah.

Strategi perng mereka terdiri dari lima pasukan inti, yaitu al-Muqaddam (pasukan pembawa bendera), al-Maimanah (sayap kanan),  al-Maisarah (sayap kiri), al-saqaya (pasukan pembawa obat-obatan serta sukarelawan) dan al-Qalb (pasukan inti). Strategi ini diadopsi total oleh Nabi Muhammad Saw dalam melakukan peperangan melawan orang-orang kafir Quraisy[18].

Mereka juga memiliki fanatis terhadap suku yang sangat tinggi sehingga kesenjangan perekonomian pun Nampak sangat mencolok. Selain itu, terdapat pula tradisi penguburan anak perempuan hidup-hidup pada beberapa suku. Juga menganut tradisi perkawinan mut’ah, zawaq, istibda, khadn, mutadamidah, badal, syighar, maq, saby, hamba sahaya, antar saudara lelaki dan saudara wanitanya atau ayah dan putrinya, atau suami istri[19].

Kondisi sosial arab tidak semuanya jelek, hanya saja ada beberapa yang perlu diperbaiki khususnya tatanan kehidupan sosialnya.karena itu setelah Islam datang kebiasaan mengubur anak perempuan hidup-hidup, tradisi perkawinan yang sama sekali tidak menghargai perempuan serta perlakuan yang tidak manusiawi terhadap budak-budak, Islam mengarahkan masyarakat arab tentang kemanusiaan dan memberikan world view yang luas tentang keberagamaan, kesamaan dan penghargaan terhadap gender. Konkritnya Islam mengajarkan agar memiliki istri maksimal empat, itupun jika suami bisa berbuat adil. Perlu digaris bawahi bahwa dalam konteks sekarang sangat perlu tafsiran yang baru dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berkembang saat ini.

  1. Sastra

Sastra jahiliyyah adalah cermin langsung bagi seluruh kehidupan bangsa arab pra Islam, karena di dalamnya dapat kita lihat kehidupan, alam, budaya dan peradaban yang murni maupun yang telah dipengaruhi oleh bangsa asing.

Namun demikian ada beberapa syair arab yang  sangat imaginer dan simbolis sehingga sulit dicerna oleh kalangan umum. Sastra Arab telah melahirkan penyair-penyair yang handal sehingga tidak heran jika umat Islam dikenal dengan kemahirannya membuat syair dan puisi yang mengandung unsur spiritual theologs dan humanism yang kental.[20]

  1. Agama

Mesikpun tidak berpengaruh besar, namun Yahudi dan Nasrani telah berkembang jauh sebelum Islam lahir di Mekkah. Melainkan kuatnya paganisme[21] yang bercokol dalan keberagamaan mereka. Ini merupakan pengkomparasian antara vetieisme[22], toteisme[23] dan animisme[24]. Namun adapula yang menganut ajaran hanif dari nabi Ibrahim a.s.

Di sinilah  Islam membawa dan mengarahkan bangsa arab untuk memiliki keimanan yang proporsional kepada Allah SWT. Islam meluruskan keimanan dan aqidah mereka yang tidak bisa disamakan dengan semua jenis makhluk di dunia ini. Di sinlah peran vital Islam  memberikan pemahaman tentang tauhid yang tidak hanya sekedar terbatas pada pengesaan Tuhan, tapi juga kemanusiaan yag kemudian diwujudkan dalam bentuk persamaan dan keadilan.

  1. Bargaining Position Islam Terhadap Peradaban Dunia Pasca Kepemimpinan Nabi Muhammad Saw

Sejarah telah mencatat sekian prestasi gemilang Muhammad. Bangsa Arab yang mula-mula hanya kabilah-kabilah yang saling memerangi satu sama lain, mudah dipecah-belah dan tidak menjadi subjek terhadap antroposentris sejarah bangsa-bangsa besar di Dunia. Walhasil, ajaran-ajaran Islam menjadi titik tolak semangat eksplorasi dan kejayaan bangsa Arab. Sangat bijak kiranya Michael H. Hart memposisikan Nabi Muhammad Saw sebagai tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah. Apakah pengaruh Nabi Muhammad yang paling mendasar terhadap sejarah umat manusia? Seperti halnya agama yang lain, Islam punya pengaruh luar biasa besrnya terhadap para penganutnya. Jika diukur dari jumlah banyaknya pemeluk agama Nasrani dua kali lipat besarnya dari pemeluk agama Islam, dengan sendirinya timbul tanda Tanya apa alas an menempatkan urutan Nabi Muhammad Saw lebih tinggi dari Nabi Isa dalam daftar tokoh yang paling berpengaruh?

Ada dua alasan pokok, menurut Michael H. Hart. Pertama, Nabi Muhammad Saw memainkan peranan jauh lebih pentin dalam pengembangan Islam ketimbang peranan Nabi Isa terhadap agama Nasrani. Biarpun Nabi Isa bertanggung jawab terhadap ajaran-ajaran pokok moral dan etika Kristen. Sebaliknya dengan Nabiyullah Muhammad bukan saja bertanggungjawab terhadap teologi Islam tapi sekaligus juga terhadap pokok-pokok etika dan moralnya. Di samping itu pula dia pencatat Kitab Suci al-Qur’an, kumpulan wahyu kepada Nabi Muhammad Saw yang diyakininya berasal langsung dari Allah. Sebagian terbesar dari wahyu ini disalin dengan penuh kesungguhan hingga kini. Dengan demikian al-Qur’an berkaitan erat dengan pandangan-pandangan Nabi Muhammad serta ajaran-ajarannya karena beliau bersandar pada wahyu Tuhan. Sebaliknya tak ada satupun kumpulan yang begitu terperinci dari ajaran-ajaran Nabi Isa yang masih dapat dijumpai di masa sekarang. Karena al-Qur’an bagi kaum Muslim sedikit banyak sama pentingnya dengan Injil bagi kaum Nasrani, pengaruh Muhammad dengan perantaraan al-Qur’an teramatlah besarnya. Kemungkinan pengaruh Nabi Muhammad dalam Islam lebih besar dari pengaruh Nabi Isa dan St. Paul dalam dunia Kristen digabung jadi satu.

Kedua, berbeda dengan Nabi Isa, Nabi Muhammad bukan semata pemimpin agama tapi juga pemimpin duniawi. Fakta menunjukkan selaku kekuatan pendorong terhadap gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab, pengaruh kepemimpinan politiknya berada dalam posisi terdepan sepanjang waktu. Membentang dari Irak hingga Maroko, terbentang rantai bangsa Arab yang berstu, bukan semata berkat anutan agama Islam tapi juga dari sudut bahasa Arabnya , sejarah dan kebudayaan. Posisi sentral al-Qur’an di kalangan kaum Muslimin dan tertulisnya dalam bahasa Arab, merupakan sebab yang sangat rasional mengapa bahasa Arab tidak terpecah-pecah ke dalam dialek-dialek yang berantakan.

Hingga Nabi kita Muhammad Saw telah wafat, ajaran-ajarannya senantiasa menjiwai dada kaum muslimin. Beliaulah orang pertama dalam sejarah, berkat dorongan kuat kepercayaan kepada keesaan Allah, pasukan Arab yang kecil mampu melakukan serentetan penaklukan yang mencengangkan dalam sejarah manusia.

Perlu dicatat pula bahwwa Islam bukanlah agama haus darah . Hal ini jelas sekali kita ketahui ketika Beliau memberi amnesty kepada kaum kafir Quraisy ketika kembali ke Mekkah. Sebuah penaklukan yang sangat indah dalam sejarah. Tanpa adanya pertumpahan darah, meskipun secara manusiawi balas dendam adalah hal yang sangat mendasar, namun beliau tidak melakukannya. Di era media global dan komunisasi instant saat ini, bermunculan banyak statemen sensasional yang menyudutkan Islam. Islam yang dihadirkan media Barat sebagai teroris, pembunuh berdarah dingin, rasial, dan lainnya. Hal ini sebagai titik distorsi pemahaman Barat tentang Islam. Paradigma Islam yang dideskripsikan Nabi dalam periode penaklukan Mekkah menjadi sanggahan yang sangat kuat untuk itu.

  1. PENUTUP

Seorang penulis biographi Nabi Muhammad yang cukup dikenal, yaitu Muhammad Ahmad Djadil Maula Beik dalam bukunya Muhammad al-Matsalul Kamil mengemukakan tiga macam kerja raksasa yang dibawa Nabi Muhammad Saw yang telah dapat direalisasikan selama masa kerasulannya yang berlangsung selama 23 tahun, yaitu 13 tahun di kota Mekkah dan 10 tahun di kota Madinah. Semoga ini dapat menjadi stimulus bagi kita semua para generasi Muslim muda untuk lebih memajukan dunia ini dengan cinta Islam.

‘Ala kulli hal, makalah ini tidak luput dari kekurangan dan kealpaan. Karena itu kritik dan saran amat penulis harapkan. Semoga setiap amal kebaikan kita diridai Allah Swt. Amin.

  1. KESIMPULAN

Dari beberapa uraian di atas dapat saya simpulkan bahwa pemerintahan Nabi Muhammad Saw adalah suatu karya cipta pemerintahan yang sempurna melalui usaha yang tidaklah mudah. Dan merupakan reperesentasi dari pemerintahan yang berdaulat.. Modal intelektual kepemimpinan Nabi Muhammad Saw adalah pelajaran bagaimana meneumbuhkan rasa kebersaman dan optimisme dala bingkai ketaatan. Perjalanan kepemimpinan Nabi Muhammad Saw adalah suatu proses kreatif dan berlangsung secara continue, berkembang dan beradaptasi denga kebutuhan. Intelektual capital merupakan konsep yang tidak dapat ditawar lagi dalam membangun sebuah tim menjadi lebih baik. Dengan kalimat lain, intelektual capital ini berfungsi untuk learn how to learn da sebagai uatan utama dalam membangun performance management of war.

Selain itu, sebenarnya bangsa arab memiliki khasanah tersendiri di bidang politik, ekonomi, sosial, sastra dan agama. Lalu proses interaksi yang dilalui Islam melahirkan pemeliharaan dan pengembangan beberapa hal seperti system moral, tata pergaulan strategi perang dan hokum keluarga. Islam juga memperbaiki dan menyempurnakan system tersebut dengan kadar dan kodrat manusia. Dan dengan didukung oleh kreatifitas umat Islam, al –qur’an dan sunah memberikan perubahan yang nyata tentang pandangan dunia, tujuan hidup, peribadatan dan sebagainya yang mejadikannya sebagai core system dari pemikiran dan peradaban Islam.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Sejarah Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997

Aqqod, Abbas Mahmod, Keagungan Muhammah Saw, Solo: pustaka Mantik 1994

Ar-raziq, Ali Abd, Islam Dasar-Dasar Pemerintahan, Yogyakarta: Penerbit Jendela, 2002.

Esposito, John, Dinamika Kebangkitan Islam, Jakarta: Rajawali, 1987.

Hart, Michael H., Seratus Tokoh yang paling Berpengaruh dalam Sejarah, Terj. H. Mahbub Djunaidi, Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1982.

Karim,Abdul, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: pustaka Book Publisher, 2007

Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam, Yogyakarta: Fakultas Adab, 2002

Nurhakim, Muhammad, , Malang: UMM Press, 2004

Team Penyusun Text Book Sejarah dan Kebudayaan Islam Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI, Sejarah dan Kebudayaan Islam (Ujung Pandang Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama IA IN “Alauddin” Ujung Pandang, 1981/1982

Yatim, Bari,  Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyyah II, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004

Widjan, Aden, dkk,  Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: PSI UII, 2007


[1] Tentunya hal ini seharusnya bisa kita transfer ke Negara kita yang sedang sakit ini

[2] Sebagai catatan bahwa pemikiran Timur (Persia-India) bercorak isoteris sedangkan pemikiran Barat (Bizantium) bercorak eksoteris. Datangnya Islam menyerap dua konsep pemikiran tersebut sehingga pemikiran Islam menjadi berimbang/ummatan washatan. Lihat, Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, (Yogyakarta: pustaka Book Publisher, 2007), h. 38-41.

[3] Jizyah merupakan pajak yang dipungut dari masyarakat non muslim sebagai biaya penggantian atas jaminan keamanan jiwa dan harta benda mereka. Penguasa Islam wajib mengembalikan jizyah jika tidak berhasil menjamin dan melindungi jiwa dan harta kekayaan masyarakat non muslim.

[4] Kharaj merupakan pajak atas kepemilikan tanah yang dipungut kepada masyarakat non muslim yang memiliki tanah pertanian.

[5] Ghanimah adalah hasil rampasan perang yang 4/5 dari ghanimah tersebut dibagikan kepada pasukan yang turut berperang dan sisanya yaitu 1/5 didistribusikan untuk keperluan keluarga Nabi, anak-anak yatim, fakir miskin dan untuk kepentingan masyarakat umum.

[6] Al-Fay’ pada umumnya diartikan sebagai tanah-tanah yang berada di wilaya negeri yang ditaklukkan, kemudian menjadi harta milik Negara. Dan pada masa Nabi Muhammad Saw, Negara memiliki tanah-tanah pertaniah yang luas yang hasilnya dimanfaatkan untuk kepentingan umum masyarakat.

[7] Perang Badar adalah perang pertama yang sangat menentukan masa depan Negara Islam. Ini merupakan perang antara kaum Muslimin dengan musyrik Quraisy. Pada tanggal 8 Ramadhan tahun ke 2 Hijriah. Nabi bersama 305 orang Muslim bergerak keluar kota membawa perlengkapan yang sedehana. Di daerah badar, kurang lebih 120 km dari Madinah, pasukan nabi bertemu dengan pasukan Quraisy yang berjumlah sekitar 900 samapi 1000 orang, dan nabi sendiri sebagai komandan. Dalam perang ini kaum Muslimin keluar sebagai pemenang. Lihat, Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyyah II, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), h. 27.

[8] Perang ini disebut juga perang Ahzab karena musuh yang menyerang Madinah terdiri dari berbagai golongan yang bersekutu. Disebut khandaq karena menggunakan parit sebagai benteng pertahanan. Lihat juga dalam Al-Qur’an surat ke 33. dalam perang ini gugur enam orang sahabat Rasulullah dan dari pihak lawan tiga orang. Dari sini rasulullah belajar bahwa taktik bertahan tidak menguntungkan sehingga perang-perang berikutnya Rasulullah menggunakan taktik menyerang ketika musuh sudah jelas siap akan menyerang. Sehingga serangan yang dilakukan tetap dalam rangka pembelaan diri. Lihat, Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam, (Yogyakarta: Fakultas Adab, 2002), h. 37.

[9] Perang Hunain merupakan perang umat Islam yang melawan Bani Tsaqif di Taif dan Bani Hawazin di antara Taif dan Makkah yang berkomplot untuk memerangi Islam. Dalam perang ini Nabi mengerahkan kira-kira 12.000 tetara menuju Hunayn untuk menghadapi mereka. Tentara Islam memenangkan pertempurang dalam waktu yang tidak terlalu lama. Lihat, Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyyah II, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), h. 32

[10] Perang Tabuk merupakan perang terakhir yang diikuti Rauslullah Saw. Perang ini melawan pasukan Heraklius yang mundur melihat banyak pahlawan Islam yag siap berperang melawan nabi. Namun nabi tidak melakukan pengejaran tetapi berkemah di Tabuk. Lihat: Badri, Sejarah, h. 32.

[11] Piagam Madinah menyepakati lima perjanjian, yaitu: tiap kelompok dijamin kebebasannya dalam beragama, tiap kelompok berhak menghukum anggota kelompoknya yang bersalah, tiap kelompok arus saling membantu dalam mempertahankan Madinah, baik yang muslim maupun yang non muslim, penduduk Madinah semuanya sepakat mengangkat Nabi Muhammad Saw sebagai pemimpinnya dan memberi keputusan hokum segala perkara yang dihadapkan kepadanya dan meletakkan landasan berpolitik, ekonomi dan kemasyarakatan bagi negeri Madinah yang baru terbentuk. Lihat, Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007), h. 70.

[12] Team Penyusun Text Book Sejarah dan Kebudayaan Islam Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI, Sejarah dan Kebudayaan Islam (Ujung Pandang Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama IAIN “Alauddin” Ujung Pandang, 1981/1982), h. 46. Lihat juga, , Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam, (Yogyakarta: Fakultas Adab, 2002), h. 30.

[13] Arab pada saat itu terbagi menjadi tiga daerah, yaitu daerah selatan (Himayar), daerah utaa (Petra, Gazah) dan di tengah (Kindi). Lihat. Aden Widjan, dkk. Pemikiran dan Peradaban Islam, (Yogyakarta: PSI UII, 2007), h. 7-9.

[14] Lihat, Q. S. 49: 10, 13 dan 49.

[15] Aden, Pemikiran, h. 9

[16] M. Abdul, Sejarah, h. 54

[17] Aden, Pemikiran, h. 10-11

[18]Karim, Sejarah, , h. 53

[19] Aden, Pemikiran,, h. 15

[20] Karim, Sejarah, h. 59

[21] Paganisme adalah penyembahan terhadap berhala

[22] Vetieisme adalah kepercayaan yang diwujudkan dalam bentuk penyembahan terhadapa benda sperti batu dan kayu.

[23] Toteisme adalah pengkultusan terhadap hewan atau tumbuh-tumbuhan yang dianggap suci.

[24] Animisme adalah kepercayaan terhadap roh baik dan jahat yang berpengaruh dalam kehidupan manusia.

Add a comment April 1, 2010

Salsabila

Nez Arsip

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 8 pengikut lainnya.

Nez Facebook

Nez Yahoo

Nez Penanggalan

September 2014
S S R K J S M
« Mei    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Klik favorite ^_^

Komentar Terakhir

Mitsubishi Cakung on PARFUM DAN PEREMPUAN: Sebuah K…
Umi Arifah Yunianing… on AKTA MENGAJAR YANG DIKEJA…
PEMIKIRAN PENDIDIKAN… on PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM K.H…
auliah siska on Manajemen Sumber Daya Man…
saswan49 on AKTA MENGAJAR YANG DIKEJA…

Pos-pos Terakhir

Halaman

Kategori

Arsip

Tulisan Teratas

Blogroll

Meta

Yuk Gabung di twitterku

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.