Posts filed under: ‘Pendekatan dan Pengkajian Islam‘




FRONT PEMBELA ISLAM cs KEKERASAN (Analisis Pendekatan Psikologi Agama Zakiah Daradjat)

I. PENDAHULUAN Di Indonesia, akhir-akhir ini konflik dan aksi-aksi kekerasan atas nama agama semakin marak dimana-mana. Mulai dari kasus Bom Bali, Bom Hotel JW Marriot, Bom Kuningan, penyerbuan Kampus Al-Mubarok, Ahmadiyah di Parung, penutupan Rumah Ibadah Kristiani di Bandung Jawa Barat hingga yang terbaru adalah tragedy kekerasan di Monumen Nasional Jakarta yang mengatas namakan Islam. Fenomena di atas melahirkan wacana agama yang paradoksal bahwa ia tidak hanya bersifat rahmatan lil alamin (rahmat bagi semua) tapi juga bencana, karena melahirkan fenomena-fenomena kekerasan. Meskipun terdapat banyak pernyataan apologetis (pembelaan diri), khususnya dari kalangan agamawan, bahwa agama secara esensial hanya mengajarkan perdamaian dan menentang kekerasan; tetapi manusia saja yang kemudian menyalahgunakan agama untuk kepentingan pribadi/kelompok sehingga menyulut kekerasan, yang jelas fenomena aksi kekerasan atas nama agama secara riil (nyata) terjadi dalam kehidupan kita. Pertanyaan selanjutnya adalah; mengapa manusia melakukan kekerasan kepada sesamanya (dengan) mengatasnamakan agama? Dan bagaimana penjelasan psikologi terhadap fenomena tersebut? Dan bagaimana solusi nya? Tulisan ini, secara umum, memang ditujukkan untuk menjawab pertanyaan krusial tersebut. Dalam tulisan ini, yang akan dibicarakan adalah kekerasan dengan mengatas namakan agama yang dilakukan oleh Front Pembela Islam. Bentuk kekerasan inilah yang kita kenal sebagai kekerasan teologis, yaitu menggunakan dalih dan dalil agama untuk melegitimasi kepada penggunaan kekerasan dalam jihad besar dan perjuangan suci melawan kelompok-kelompok lain. II. PEMBAHASAN A. Biografi Singkat Zakiah Daradjat Zakiah Daradjat adalah sosok ilmuwan perempuan multidimensi. Tidak hanya dikenal sebagai psiklog, tapi juga muballigh dan pendidik sekaligus. Beliau membuka praktek psikolog di kediamannya denga selalu mengaikan nilai-nilai agama disetiap terapinya. Dan sebagai pendidik beliau tidak sebatas mengajar, tapi juga pernah menduduki jabatan penting dalam pendidikan Islam. Di lingkungan Depag menduduki jabatan Direktur Pembinaan Perguruan Agama Islam Depag. Pernah juga menjabat sebagai Direktur Pembinaan Perguruan Tinggi Agama. Beliau dilahirkan di ranah Minang, tepatnya di Kampung Kotamerapak, Kecamatan Ampek Angkek, Bukittinggi, pada 6 November 1929. Tahun 1951 Zakiah masuk Fakultas Tarbiyah Perguuran Tinggi Agama Islam NEgeri (PTAIN) yang kini menjadi UIN Sunan Kalijaga. Tahun 1956 melanjutkan program S2 dan S3 di Fakultas Pendidikan Universitas Ein Shams, Kairo. Akhirnya pada tahun 1964 dengan disertasi tentang perawatan jiwa anak, Zakiah berhasil meraih gelar Doktor dalam bidang psikologi dengan spesialisasi kesehatan mental dari Universitas yang sama. B. Pendekatatan Psikologi Agama Zakiah Daradjat Zakiah Daradjat merupakan sosok perempuan Muslimah Indonesia dengan menjalankan aktivitas di sector public dengan biasa-biasa saja tanpa meledak-ledak. Padahal dipandang dari sudut zamannya, prestasi Zakiah sebagai perempuan sebenarnya luar biasa. Beliau adalah prototype perempuan yang lebih mengedepankan pentingnya kerja dan beraktivitas daripada berteriak memperjuangkan persamaan hak tanpa melakukan aktivitas public yang berarti. Kaitannya dengan pdikolog-religi, beliau ingin mengintegrasikan pendekatan agama dengan ilmu pengetahuan modern. Dengan merujuk kepada berbagai literatur, baik berasal dari Barat maupun Islam, ditemukan suatu sintesa baru: agama memiliki peran yang sangat mendasar dalam memahami esensi kejiwaan manusia. Karena itu agama dijadikan pijakan psikologi. Ilmu pengetahuan itu adalah untuk mencari kebenaran berdasarkan pengalaman empiris. Sedangkan agama dating dengan kebenaran itu sendiri. Namun tujuannya sama yaitu menciptakan kedamaian hidup dan tatanan social yang beradab. Beliau berusaha meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku atau ekanisme yang bekerja dala diri seseorang. Menurutya, cara berfikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku tidak bisa dipisahkan dari keyakinan agama. Sebab keyakinan itu masuk dalam konstruksi kepribadian manusia. Beliau juga melihat do’a sebagai terapi mental yang menurutnya sangat berperan bagi ketentraman batin. Dengan berdo’a kita memupuk rasa optimis bahkan bermanfaat bagi pembinaan dan pemanfaatan semangat hidup, mampu menyembuhkan stress dan gangguan jiwa. Dengan kata lain, do’a memiliki fungsi kuratif, preventif dan konstruktif bagi kesehatan mental. Zakiah melakukan pendekatan pada praktik-praktik konsultasi dan konselingnya dengan menggunakan pendekatan ilmiah dan agama dalam memaknai konsep kesehatan jiwa. C. Mendekati Catatan Kekerasan FPI dengan Psikololgi Islam 1. FPI cs Kekerasan Aksi sepihak yang diwarnai kekerasan di jalanan adalah ciri Front Pembela Islam. Penyerbuan di Monas beberapa waktu yang lalu bukanlah yang pertama. Selama beberapa tahun terakhir, organisasi massa ini berkali-kali bertindak anarkis. Pada 2003, Ketua FPI Rizieq Shihab diadili. Sang Habib ditangkap dengan tuduhan mengganggu ketertiban umum. Pengadilan kala itu menjatuhkan vonis tujuh bulan penjara. Keputusan yang disambut amarah pengikut FPI. Hanya berselang beberapa bulan kemudian, FPI kembali turun ke jalan. Kali ini sasarannya adalah sebuah tempat hiburan di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Ribuan anggota FPI menyerbu dan merusak. Kaca dipecahkan, pintu dibobol, isi kafe dihancurkan. Polisi tak berbuat apa-apa. Tahun 2006, giliran majalah Playboy. Kantor majalah ini diserang ribuan aktivis FPI. Kaca-kaca dipecahkan dan majalah dibakar. Kala itu, para penjual majalah dan koran juga menjadi sasaran sweeping para aktivis organisasi bernapaskan Islam itu. Setelah melalui peristiwa demi peristiwa, maka terjadilah insiden MONAS yang sampai sekarang mengundang perhatian dari semua pihak. Sampai-sampai warga dunia memberikan stempel suka kekerasan pada Indonesia. Disana ada isu sentral Ahmadiyah, serta terjadi benturan antara AKKBB versus FPI bersama KLI. Sebuah perdebatan lama yang seharusnya tidak perlu masuk dalam wilayah benturan fisik. Namun, karena potensinya begitu kuat, maka sekali lagi hal ini tidak terelakkan dan sangat mungkin untuk terjadi lagi di masa mendatang. FPI dan KLI merupakan cabang dari pemahaman Islam konservatif yang mengutamakan perjuangan Islam dalam melawan maksiat dan tekanan dunia Barat (ideologi liberal atau neo-liberal). Pada titik yang lebih ekstrim ada MMI (Majelis Mujahidin Indonesia) serta pada titik yang paling ekstrim ada Salafy Jihad. 2. Mendekati dengan Pendekatan Psikologi Agama dan Solusi Pemecahannya Sekarang kita masuk dalam wilayah psikologi untuk melihat keadaan potensi konflik tersebut. Kita bisa melihatnya sebagai suatu potensi untuk menciptakan ketegangan publik baik dari tingkat konflik terbuka (fisik-anarkisme-chaos)maupun dari keadaan saling curiga (pemeliharaan konflik berkesinambungan). Bisa juga melihat bahaya perpecahan bangsa yang disebabkan oleh jauhnya titik temu dari sudut pandang liberalisme agama dan konservatifisme agama. Sehingga perlu diupayakan pendekatan-pendekatan pemahaman demi keutuhan bangsa Indonesia. Bila kita membaca secara seksama kondisi psikologis massa pada keadaan demonstrasi, maka ada suatu tahapan-tahapan pematangan situasi menuju keadaan panik yang mendorong meledaknya anarkisme. Kasus Insiden Monas apakah peristiwa itu natural sebagai dampak psikologis dari suatu keadaan yang tidak terelakkan, ataukah ada suatu perencanaan matang yang telah disusun proses pentahapannya? Akar konflik yang kuat dalam sudut pandang ekstrim masing-masing pihak merupakan suatu keadaan konstan apabila tidak disentuh. Mengapa saya katakan konstan, hal ini terbukti dari perjalanan ajaran Mirza Ghulam Ahmad (Ahmadiyah) yang telah lama di Indonesia. Sedangkan naik-turunnya konflik mengenai ajaran Mirza tersebut merupakan pertarungan lama yang kebetulan sekarang menjadi case study ditengah-tengah pertarungan ideologi Islam liberal dengan Islam konservatif. Sekitar 75 tahun Jemaah pengikut Mirza telah ada di Indonesia, tentu saja kekuatannya cukup lumayan dalam mempertahankan dan menyebarluaskan organisasinya. Dalam wilayah ideologi liberal yang semakin kuat di Indonesia, Ahmadiyah bagaikan menemukan ruang interaksi yang lebih bebas. Pada titik ekstrim kelompok liberal memaknai ajaran Islam sebagai sebuah domain individualistik yang harus dijamin keterbebasan dalam penafsirannya. Sementara itu, pemurnian ajaran Islam dalam berbagai varian dan model penafsiran juga bergerak kuat di Indonesia. Khususnya dari kelompok Salafiyah dan Wahabiyah yang menolak setiap penyimpangan ajaran dari Al Quran dan Hadits Shahih. Pada titik ekstrim, liberalisme dilihat sebagai merupakan suatu pemurtadan dari ketaatan pada ajaran Islam yang murni dan utuh. Kekerasan bisa dikatakan sebagai jejaring antara aktor dan struktur seperti dikemukakan Jeniffer Turpin & Lester R. Kurtz (1997). Asumsi dari kelompok ini menyatakan bahwa ialah konflik bersifat endemik bagi kehidupan masyarakat (konflik sebagai sesuatu yang ditentukan), ada sejumlah alat alternatif untuk menyatakan/menyampaikan konflik sosial, untuk menyampaikan masalah kekerasan dengan efektif diperlukan perubahan dalam organisasi sosial dan individu, masalah kekerasan merupakan salah satu masalah pokok dari kehidupan modern, terdapat hubungan kekerasan level mikro-makro dan antara aktor-struktur (pemecahan masalah kekerasan struktural mengharuskan kita berkecimpung dalam kekerasan aktor, demikian sebaliknya), dan akhirnya spesialisasi akademik justru mengaburkan masalah karena hal ini mengabaikan pendekatan yang holistik termasuk di dalamnya dimensi ruang dan waktu. Karena itu ada beberapa hal yang bisa dilakukan sebagai langkah awal untuk mengatasi hal tersebut, Pertama, dapat dimulai dengan jalan menanyakan: dalam kondisi psikologis yang bagaimana para aktor agama ini melakukan kekerasan? Jawaban ini diperlukan karena sebagaimana penjelasan tentang kekerasan naluriah (instingtif) yang berasal dari dalam diri manusia, akar internal itu juga bisa menjadi sumber kekerasan. Kedua, yang juga harus dicari jawabannya adalah pertanyaan tentang hal-hal diluar naluri (insting) manusia yang bisa memberikan stimulus (rangsangan) terhadap manusia untuk melakukan tindakan kekerasan. Dalam studinya baru-baru ini, Scott Assembly menyatakan bahwa menurutnya kekerasan (dalam beragama khususnya) terjadi ketika para pemimpin ekstremis suatu agama tertentu, (dalam reaksi mereka terhadap apa yang mereka pandang sebagai ketidaksesuaian atau ketidakadilan dalam sebuah lingkungan struktural suatu masyarakat), telahberhasil memanfaatkan argumen-argumen keagamaan (atau etnis-keagamaan) untuk enyuruh orang lain (umatnya) melakukan tindakan kekerasan. Jadi stimulus pertama datang dari faktor pemimpin agama yang dalam kontek masyarakat beragama yang bersifat hirarkhis sangat memegang kendali masyarakatnya. Dari kedua hal di atas, pencarian jawaban atas pertanyaan mengenai solusi tindakan kekerasan akan membawa kita, pertama-tama pada penelitian tentang sumber konflik yang bersifat naluriah (instingtif), yang merupakan implementasi dari kondisi psikologis manusia. Ekspersi internal manusia seperti ini harus ditinjau secara teliti, dilihat kasus demi kasus, dan dalam konteks yang luas. Hal ini diperlukan, karena kondisi kejiwaan (psikologis) manusia berbeda-beda dan selalu berubah. Pengenalan terhadap karakter psikologis serta konteks dari keberbedaan dan perubahan psikologis manusia yang mengarah pada tindak kekerasan akan membantu kita mencari solusi praksis penyelesaian kekerasan ini , terutama yang sumbernya dari alasan psikologis manusia yang bersifat naluriah (instingtif). Selanjutnya, yang menyangkut stimulus (rangsangan) dari luar diri manusia bermanfaat dalam rangka menciptakan strategi untuk menentang dan mengatasi segala bentuk ketidakadilan, kemiskinan, kebodohan dan sebagainya, dalam suatu lingkungan struktural suatu masyarakat, baik dalam konteks local, domestik (nasional) maupun global (internasional). Dalam hal ini negara dan perangkat birokrasinya, dan organisasi-organisasi politik internasional, berkewajiban untuk menciptakan keseimbangan hidup diantara warga negaranya dan meminimalisir potensi ketidakadilan, mengentaskan kemiskinan dan kebodohan, serta menyelesaikan problem kemsayarakatan lainnya. Dengan campur tangan negara dan organisasi politik internasional, penyelesaian problem kekerasan diharapkan bisa menyentuh akar-akar permasalahannya. Upaya stimulatif ini tentu juga harus dibarengi dengan kesediaan kalangan agamawan untuk mengajak umat beragama kepada militansi anti-kekerasan (non-violence militancy). Campur tangan kalangan agamawan akan menjadikan upaya penyelesaian problem kekerasan menjangkau publik umat beragama secara luas. Sementara itu kalangan intelektual diharapkan berkontribusi, terutama pada pencarian alternatif solusi-solusi problem kehidupan manusia dengan basik keilmuan masing-masing. Campur tangan mereka diperlukan agar upaya penyelesaikan problem kekerasan teologis akan bersifat menyeluruh, menjangkau segala bidang kehidupan. Relasi agama yang tidak hanya dengan perdamaian, tetapi juga kekerasan sangatlah sulit untuk kita tolak manakala kita menyaksikan bahwa agama seringkali digunakan sebagai landasan ideologis dan pembenaran simbolis bagi tindak kekerasan yang dilakukan sebagian umat beragama. Namun kita pun harus mengerti, bahwa dalam kasus kekerasan yang dilakukan oleh lakon-lakon beragam khususnya yang dilakukan oleh FPI ini, menimbulkan banyak pengaruh terhadap pelakunya sendiri yang dipengaruhi oleh suasana batin yang merasa tidak puas dengan kebijakan pemerintah yang hanya mengeluarkan SKB tiga mentri untuk masalah yang menurut mereka sudah sangat mencoreng akidah. SKB dianggap tidak cukup. Merasa dilecehkan hal yang menurut mereka sangat mendasar. Tapi mereka sepertinya tidak peduli atau memang tidak mau peduli bahwa tindakan mereka bertentangan dengan ajaran Islam yang merupakan agama rahmatan lil ‘alamin. Bahkan menciptakan pencitraan negative pada mereka sendiri bahkan mengenarisasi ke Islamnya. Mereka merusak hubungan baik mereka dengan sesama Muslim dan lebih mengandalkan emosi dan kemarahan mereka. Hal ini pun sangat mempengaruhi korban dari kekerasan yang mereka lakukan. Mental mereka menjadi rapuh, rasa tenang berangsur hilang bahkan untuk mengerjakan ibadah yang sifatnya pribadipun mereka harus was-was karena dikecam rasa takut diserang dan lain sebagainya. Efek yang lebih besar lagi adalah rusaknya hubungan yang harmonis antara sesame Muslim sendiri. Mungkin ini bisa kita mengerti setelah kita tahu bahwa FPI adalah salah satu cabang dari pemahaman Islam konservatif, namun tidak berarti kekerasan yang mereka lakukan bisa dibenarkan. Seperti yang biasa dilakukan Zakiah Daradjat dalam mengobati orang, mendengarkan pun bisa menjadi obat yang mujarab, ketika pintu diskusi kita buka lebar-lebar tanpa mengedepankan ego menganggap dirinya yang paling benar, sehingga tidak berpengaruh negative pada kejiwaan keberagaam seseorang. Lebih menenangkan diri masing-masing dengan lebih memperluas pemahaman tentang toleransi keberagamaan. Ada beberapa hal dari sudut pandang psikologi Islam yang diharapkan bisa memberikan solusi yang solutif terhadap permasalahan kekerasan ini, yaitu tidak membiarkan kecurigaan dan emosi mendominasi pikiran kita, belajar untuk memelihara konflik agar tidak berkelanjutan, bersama-sama mencari titik temu permasalahan, melakukan pendekatan pemahaman yang baik, dan mengurangi sudut pandang ekstrim terhadap masing-masing pihak. Tentunya ini harus dilakukan bersama-sama dengan tidak mengandalkan ego yang tinggi sehingga merasa benar sendiri dan mengabaikan aspek kepentingan bersama dalam menciptakan keharmonisan suatu hubungan keberagamaan. Kekerasan yang mereka lakukan menunjukkan adanya keharusan untuk ditanggulangi secepatnya. Baik oleh individu yang bersangkutan maupun orang lain sebagai penonton. Tidak dengan semakin mencari perbedaan tetapi mencari persamaan. Tidak dengan menonjolkan perbedaan dan dipermasalahkan. Perbaikan pemahaman dan aplikasi syari’at pun perlu diperbaiki lagi sehingga tidak terbatas pada tekstual tetapi lebih kontekstual. Tidak terbatas pada permasalahan teologi tapi juga social. Pemerintahpun harus mampu menciptakan kestabilan dan meminimalisir konflik pada masyarakatnya dengan membuat kebijakan yang tepat. Pabila hal ini dipahami dengan baik, maka tidak ada lagi kekerasan yang terjadi di Monas tempo hari. Kita belajar lagi untuk tidak mejadikan agama sebagai landasan ideologis dan pembenaran simbolis bagi tindak kekerasan yang dilakukan sebagian umat beragama sehingga kita bisa kembali menjalani kehidupa yang tentram dan damai antar umat beragama dan menunjukkan pada dunia bahwa Islam itu adalah agama damai yang penuh rahmat bagi seluruh manusia dan alam semesta. III. PENUTUPAN Demikian makalah yang sangat sederhana ini penulis sampaikan, semoga bermanfaat. DAFTAR PUSTAKA Dadang Hawari, Aagama, Psikiartri dan Kesehatan Jiwa, dalam Perkembangan Psikologi Agama dan Pendidikan Islam, Jakarta: Logos, 1999. Lihat Kumpulan tulisan yang diterbitkan atas kerjasama penelitian IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, PsikologiAgama dan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Logos, 1999,h. 3-9 Scott Applebly, 2000, The Ambivalence of The Sacred: Religion, Violence and Reconciliation, Lanham, Maryland: Rowman and Littlefield Publishers Inc, hal. 282 http://www.liputan6siang.com download pada tanggal 5 Mei 2008

Add a comment April 15, 2010

ISLAM

ISLAM 1. Pengertian Agama Islam Islam dapat diartikan dari dua segi, yaitu dari segi bahasa maupun dari segi istilah. Dari segi bahasa, Agama berasal dari bahasa Sanskrit (Usman, 2000:11), Ada satu pendapat mengatakan bahwa Agama berasal dari asal-kata: A= tidak, dan Gam= pergi. Jadi tidak pergi, tetap ditempat,diwarisi secara turun-temurun. Kemudian Islam dari segi bahasa (Nata, 1998: 61) berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata salima yang berarti selamat, sentosa, dan damai. Dari kata salima selanjutnya diubah menjadi bentuk aslama yang berarti berserah diri masuk dalam kedamaian, memelihara diri dalam keadaan selamat sentosa, dan berareti pula menyerahkan diri, tunduk patuh, dan taat. Kata aslama itulah yang mengandung arti segala arti yang terkandung dalam arti pokoknya. Sehingga orang yang berserah diri, patuh, dan taat disebut sebagai orang muslim. Menurut Ummu Yasmin (2005: 91), kata Islam sebagai ad diin (QS. 3:19,85) berarti tunduk, wahyu ilahi, agama Nabi dan Rasul, hukum-hukum Allah, jalan yang lurus, dan keselamatan dunia akhirat. Adapun pengertian agama Islam menurut istilah (Nata, 1998: 63) yaitu sebagai berikut: a) Menurut Harun Nasution, Islam adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia melalui Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul. b) Menurut Maulana Muhammad Ali, Islam adalah agama perdamaian, dan dua ajaran pokoknya, yaitu keesaan Allah dan kesatuan atau persaudaraan ummat manusia menjadi bukti nyata, bahwa ajaran Islam selaras benar dengan namanya. Islam bukan saja dikatakan sebagai agama seluruh Nabi Allah, sebagaimana tersebut pada beberapa ayat kitab suci al-Qur’an, melainkan pula pada segala sesuatu yang secara tak sadar tunduk sepenuhnya kepada undang-undang Allah, yang kita saksikan pada alam semesta. c) Menurut Abuddin Nata, Islam adalah agama yang berasal pada wahyu yang datang dari Allah SWT, bukan berasal dari manusia, dan bukan pula berasal dari Nabi Muhammad SAW. Posisi Nabi dalam agama Islam diakui sebagai sosok yang ditugasi oleh Allah SWT untuk menyebarkan ajaran Islam tersebut. kepada umat menusia. Dalam proses penyebaran agama Islam Nabi terlibat dalam memberi keterangan, penjelasan, uraian, dan contoh prakteknya. Akan tetapi keterlibatan ini tidak boleh melebihi batas-batas ketentuan Allah SWT. Senada dengan hal tersebut, secara istilah agama Islam (Usman:2001: 12) berarti penyerahan atau penundukkan diri secara total setiap makhluk kepada Allah SWT . Jadi, agama Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin yang diajarkan oleh Rasulullah SAW berdasarkan perintah Allah SWT, yang mengikat seluruh umatnya untuk menyerahkan diri, menaati perintah dan menjauhi segala larangan-Nya, agar dapat meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. 2. Sumber Ajaran Islam Di kalangan ulama terdapat kesepakatan bahwa sumber ajaran Islam yang utama adalah al-Qur,an dan al-Sunnah (Nata, 1998:66). Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut: a) Al-Qur’an Al-Qur’an sebagai sumber utama hukum Islam tidak berisi peraturan (corpus of legislation) yang terinci. Namun demikian ada beberapa larangan yang sedemikian gamblang, yang tidak memerlukan penafsiran lagi. Secara umum al-Qur’an meletakkan batas-batas bagi hokum Islam, yang di dalam batas-batas tersebut ummat manusia dapat menunaikan perbuatannya (Al-Buraery, 1986: 65). Menurut Muhammad Al-Buraery (1986: 66), ada empat sifat al-Qur’an yaitu: (1) diturunkan pada Nabi Muhammad SAW dalam bagian demi bagian (tidak sekaligus), untuk menuntun dan mengatur sebagaimana diperlukan oleh masyarakat muslim; (2) di dalamnya hanya terkandung prinsip-prinsip umum daripada rincian khusus; (3) ayat-ayat tentang hukum jumlahnya sangat terbatas, yaitu sekitar 200 dari 6000-an ayat yang ada; (4) fungsinya yang utama adalah sebagai kitab tentang iman dan penuntun akhlak. Isi al-Qur’an tidak pernah berubah sejak diturunkan pada Muhammad SAW sampai kini, dan sampai saat ini bahkan sampai akhir zaman. Inilah sumber acuan dasar Islam. Tanpa mempelajari al-Qur’an, orang tidak akan memahami Islam itu secara baik. Semua orang Islam diwajibkan mempelajari al-Qur’an ini, karena inilah firman Allah SWT yang otentik, tidak pernah dipalsukan dan akan tetap terjaga orisinalitasnya (Amsyari, 1994: 64). Membaca al-Qur’an merupakan amal yang bernialai ibadah. Setelah membaca, sebagai umat Islam berkewajiban untuk mempelajari makna yang terkandung dalam al-Qur’an yang kemudian dimanifestasikan dalam bentuk perbuatan dalam kehidupan sehari-hari. b) Al-Sunnah Selain al-Qur’an, agar umat Islam dapat memahami ajaran Islam dengan baik dan benar, maka digenakanlah sumber Islam kedua yakni sunnah atau hadits. Sebagai sumber agama Islam yang kedua, dalam penggunaan hadits ada beberapa ketentuan yang harus dipenuhi. Penggunaan hadits dibatasi pada beberapa ketentuan (Amsyari,1994: 64) yaitu sebagai berikut: 1) Hadits itu harus bernilai terpercaya yang memang datang dari Nabi pada masa beliau hidup (bukan hadits yang dipalsukan oleh orang); 2) Substansi hadits itu tidak bertentangan dengan substansi al-Qur’an; 3) Materi hadits boleh saja tidak tertera dalam al-Qur’an namun bersifat penjabaran dari perintah al-Qur’an yang bernilai aqidah, ritual, dan akhlak; 4) Materi hadits boleh saja tidak tertera dalam al-Qur’an dan tidak menyangkut masalah aqidah, ritual, dan akhlak, namun masih dianggap relevan dengan kebutuhan hidup pada masa kini. Apabila umat Islam mampu menggunakan sumber-sumber ajaran Islam dengan baik dan benar, maka ia akan dapat melakukan aktivitas kehidupannya sehari-hari dengan benar pula, sehingga terciptalah kehidupan yang dinamis, harmonis, dan seimbang dalam memenuhi kewajiban hidup di dunia dan akhirat. 3. Hakikat Agama Islam Setiap muslim pernah mengucapkan ke-Islamannya dengan lisan, meyakini dalam hati dan mengamalkannya dalam perbuatan yang termanifestasi dalam perilaku menyerahkan diri kepada allah SWT dan menerima segala ketentuan-ketentuan-Nya. Untuk itu, sikap pasrah kepada Allah juga merupakan hakikat dari pengertian Islam. Selanjutnya Ash Shiddieqy (1998: 19) mengatakan bahwa: Menurut Ibnu Taimiyah, Islam ialah ad diin yang maknanya tunduk dan merendahkan diri kepada Allah. Oleh sebab itu, Islam berarti pula “menyerahkan diri kepada Allah, tidak memperserikatkan-Nya dengan sesuatu apa pun”. Orang yang memperserikatkan-Nya dalam menyembah-Nyatidaklah termasuk orang Islam. Agama Islam pada hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang tidak hanya mengandung satu segi saja, akan tetapi mencakup berbagai macam segi kehidupan manusia, baik kehidupan manusia di dunia maupun kehidupan manusia di akhirat nanti. Salah satu esensi dari makna Islam ialah perdamaian, sehingga umat Islam (muslim) adalah umat yang memelihara perdamaian, dapat menjalin hubungan baik dengan sang Khalik dan memelihara hubungan baik dengan sesama manusia serta lingkungan sekitar. 4. Peran atau Fungsi Agama Islam Lahirnya agama Islam dengan semangat dan manifestasinya merupakan suatu masa baru dalam sejarah agama yang memberikan sebuah cahaya kehidupan, mendobrak peradaban jahiliyah, dan memberi arah baru bagi dunia. Agama Islam yang telah ditegakkan dengan kokoh oleh Nabi Muhammad beserta para sahabatnya, merupakan penyelamat umat manusia dari kemungkaran Sehingga dapat menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya, baik kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, maupun kehidupan masyarakat yang diridhai Allah SWT. Peran atau fungsi agama Islam antara lain sebagai berikut: a) Peran Agama Islam dalam Kehidupan Pribadi Sebagai pribadi, seorang manusia harus memiliki: (1). Keimanan; (2). Motif semangat hidup; (3). Aktivitas ritual; dan (4). aktivitas menjalani pemenuhan kebutuhan hidup (Amsyari, 1994: 77). Dalam hal ini, agama Islam sebagai ajaran yang sempurna berperan mengajarkan dan menuntun umat Islam dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan pribadi tersebut sehingga terhindar dari perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT. b) Peran Agama Islam dalam Kehidupan Keluarga Sebagaimana dalam QS. Ar Ruum ayat 21 bahwa manusia diciptakan berpasang-pasang. Dan pernikahan dalam ajaran Islam itu dianggap sebagi sesuatu yang sakral dan juga dianjurkan kepada umatnya. Karena dengan adanya pernikahan yang sah (sesuai dengan ajaran Islam) maka akan dapat menciptakan hubungan keluarga yang harmonis atau terciptanya keluarga yang sakinah, mawadah, warrahmah. Ini menunjukkan bahwa Islam menuntun umatnya dalam hal berkeluarga. Selain hal tersebut, agama Islam juga berperan dalam mengatur sendi-sendi kehidupan keluarga yang lain. Antara lain hak suami, hak istri, hak anak, dan hukum waris yang diatur sedemikian rupa agar dapat tercipta kehidupan yang haemonis, serasi, dan seimbang. c) Peran Agama Islam dalam Kehidupan Masyarakat Manusia terdiri dari tubuh dan jiwa meliputi hati, akal budi, perasaan, dan badan jasmani. Semua itu tidak mungkin dapat mencapai kebahagiaan yang berkeseimbangan jika semua potensi itu tidak berkembang sewajarnya dan memperoleh pemeliharaan yang rapi (Al-Nadwi, 1988: 170). Manusia, selain sebagai makhluk jasmani juga sebagai makhluk social. Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki kebutuhan untuk mengadakan relasi dan interaksi dengan manusia lainnya. Relasi atau interaksi antara sesama manusia tidak akan dapat berjalan dengan lancar tanpa adanya tata aturan yang mengatur dan mengikat. Dalam hal ini Islam sebagai agama yang sempurna menaruh perhatian besar dalam hal pergaulan sesama manusia. agama Islam berperan mengatur semua sendi kehidupan bermasyarakat, dari hal yang bersifat sederhana, seperti etika bertamu, sampai urusan yang bersifat kompleks, seperti hukuman qishas bagi orang yang menghilangkan nyawa orang lain dengan tujuan dapat memelihara jiwa manusia, serta masih banyak contoh-contoh lain yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa Islam sangat berperan dalam mengatur kehidupan bermasyarakat, agar umat Islam dapat melakukan kehidupan dalam masyarakat yang diridhai Allah SWT. 5. Langkah-langkah Untuk Meningkatkan Peran Agama Islam Langkah-langkah yang perlu dilaksanakan agar agama dapat berperan secara terus-menerus dalam memberi inspirasi dan mengarahkan kehidupan manusia dan perubahan masyarakat (Suprayogo, 2006: 22) ialah: a) Para penganut agama termasuk para pemukanya perlu terus berusaha menguinternalisasikan nilai-nilai agama dalam rangkapembentukan kepribadiannya, sehingga agama menjadi fungsional dalam kehidupan pemeluknya dan tidak ada kesenjangan antara ketaatan beragama dengan kepribadian serta komitmennya untuk perbaikan hidup sesamanya. b) Para penganut agama terutama pemukanya perlu mempunyai keberanian untuk mencoba menangkap jiwa ajaran agamanya untuk berbagai keadaan. Apabila hal ini tidak dilakukan maka akan terkesan bahwa ajaran agama tertinggal oleh perkembangan zaman. Agama hanya membicarakan masa silam. c) Para penganut agama dan pemuka agama perlu menyadari bahwa meskipun ada pendapat yang mengatakan bahwa abad ke-21 akan ditandai dengan diperlukannya kembali agama, tetapi agama yang dimaksud di situ bukanlah dalam bentuk yang menekankan perlembagaan dan ritual saja seperti yang ada sekarang, melainkan lebih merupakan nilai-nilai yang sifatnya trans-denominasional. Umat Islam menjalani hidup berdasarkan pada pendidikan moral dan pendidikan mental, sebagaimana pendidikan yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW, sehingga memiliki pribadi yang zuhud, wara’, menjaga harga diri, terpercaya, mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri, dan merasa takut kepada Allah (Al-Nadwi, 1988: 169).

Add a comment April 15, 2010

CLIFFORD GEERTZ, “DARI SUDUT PANDANGNYA TERHADAP ANTROPOLOGI ALAMIAH”

Clifford Geertz menyajikan suatu pemikiran yang berangkat dari pemahaman antropologi yang alami terhadap unsure lokalitas dalam memahami suatu kebudayaan. Salah satunya berupa mitos yang merupakan salah satu item dari kebudayaan local. Seperti yang terdapat dalam The Double Helix-nya James Watson bahwa mitos, akulturasi, symbol memiliki keterkaitan dengan kebudayaan local. Di sini saya menemukan ada satu perubahan yang diinginkan oleh Geertz bahwa kebudayaan  itu bisa diakulturasi menjadi sesuatu yang eksotis, penuh dengan kebijaksanaan, kesabaran dan sebagainya melalui semacam proses perubahan bernama biofisika. Yaitu adanya percampuran materi yang ada di alam dengan alam itu sendiri. Sebagai contoh adanya sinkritisme dalam kebudayaan Jawa, yaitu perpaduan antara Islam, Hindu-Budha,

Terdapat pemahaman yang inklusif sehingga unsure-unsur budaya tidak dipahami secara sacral, sehingga manusia dapat berfikir dan merasakan proses yang terjadi di alam ini adalah sesuatu yang natural, sehingga ada keterbukaan. Geertz menjadikan unsure rasionalitas yang terkait dengan akal sebagai standar untuk melihat sesuatu, sehingga Geertz mampu menyajikan pemikiran yang penuh dengan kontroversi walaupun tidak sedikit pula yang pro dengannya. Sebagai contoh adanya penggolongan social budaya berdasarkan aliran ideology masyarakat Jawa menjadi abangan, santri dan priyayi. Selanjutnya unsure itu didukung oleh moralitas yang terkait dengan etika. Sehingga Gerertz benar-benar mengembalikan fungsi unsur lokalitasnya.

Geertz memperlakukan perbedaan yang muncul dalam masyarakat dengan mencari titik temunya. Salah satunya dengan adanya semacam adaptasi dan interaksi antara manusia dengan budaya dan alam lebih dari sekedar partisipatoris. Sehingga ada keterlibatan langsung manusia didalamnya untuk mengetahui secara langsung, obyektif dan tanpa tendensi. Sebagai contoh adanya pengagungan salah satu symbol dalam mitos, seperti kuburan seperti yang dinyatakan oleh Malinowski. Selain itu adanya perlawanan antara dalam-luar, orang pertama-orang ketiga, pendekatan-objectivist, kognitif-etik dan lainnya. Untuk mengatasinya Geertz menggunakan pendapat Heinz Kohut yaitu Psychoanalyst untuk mendapatkan titik temu yang tidak berdasarkan asumtif saja tapi dengan terlibat langsung dengan akulturasi budaya itu. Selanjutnya disajikan oleh Geertz beberapa pemaknaan lebih berupa pengalamannya untuk memahami sesuatu baik dengan experience-near maupun experience-distant yang melahirkan pengalaman kebudayaan bahkan agama berangkat dari pemahaman orang itu (informan) terhadap agamanya.

Geertz menceritakan ulang bagaimana pengalamannya ketika secara intensif mengkaji Jawa, Bali dan Moroccan dengan memberikan subyektif meaningnya sehingga Geertz dapat menganalisis format simbolis, kata-kata (mantra), imagine, perilaku (ritual) dan lainnya. Geertz menemukan bahwa di Jawa, Bali dan Moroccan  gagasan mengenai selfhood jelas berbeda tidak hanya dari kita sendiri tetapi juga tidak kurang dramatis dan instruktif dari satu ke yang lainnya. Contohnya ketika seorang laki-laki muda yang di tinggal mati istrinya, menyambut semua orang yang datang untuk melayat dengan senyum dan meminta maaf atas nama istrinya. Ini mengenai kejujuran yang hakiki tentang dalamnya perasaan dan pentingnya moral tentang ketulusan personil. Dapat saya pahami bahwa konsep rasional, moral, etik dan transenden sangat berkaitan erat.

Pokok kajiannya meliputi agama Jawa, politik aliran mengenai konsep trikhotominya (abangan, santri, priyayi), watak perkotaan di Jawa sebagai hollow town dan bukannya solid town, pengelompokan politik tanpa basis kelas, perbandingan Islam Indonesia dan Islam Maroko (antara the scope of religion dan the force of religion) mempunyai sifat yang agresif dan penuh gairah. Perbedaan manifestasi agama itu menunjukkan betapa realitas agama sangat dipengaruhi oleh lingkungan budaya. Perbandingan antara etos dan praktik perdagangan di Jawa dan di Bali (antara individualisme pasar dan rasionalitas ekonomi tanpa kemampuan oerganisasi ekonomi di satu pihak, berhadapan dengan kemampuan organisasi ekonomi tanpa individualisme pasar dan tanpa rasionalitas ekonomi di pihak lain), politik klasik di Bali yang dirumuskan sebagai theater state, apa yang ditinggalkan oleh Hinduisme dalam praktik keagamaan di Jawa dan Bali, serta praktik pertanian Jawa yang semenjak tanam paksa tidak berhasil mengalami evolusi menjadi pertanian kapitalis, tetapi mengalami evolusi yang menjadikan pertanian hanya sebagai tempat penampungan penduduk yang terus bertambah banyak dan karena itu tidak memungkinkan investasi baru.

Geertz menemukan dua satuan yang kontras pada dasar yang religius di Jawa antara outside-inside dan refined-vulgar yang dalam bahasa sufi menunjuk pada satu sisi untuk menyampaikan kepada dunia tentang pengalaman observasi manusia pada manusia yang lain tentang behavior. Di Bali terdapat birth-order marker yang berisi sesuatu yang dibatasi dan berbeda menurut system secara internal yang sangat kompleks. Hal ini melalui format simbolis obserrable. Dan di Maroko adanya suatu format ganjil, format linguistic yang disebut dalam bahasa Arab sebagai nisba yang mengacu pada suatu analisi kombinasi, proses gramatikal dan semantic yang terkandung dalam mentrasformasikan suatu kata benda kepada apa yang kita sebut suatu adjective relative. Sebagai contoh jabatan, sekte religius, dan lainnya.

Yap, Geertz adalah sosok yang luar biasa yang dapat melakukan modifikasi konseptual,. Ia menemukan hubungan antara system symbol, system nilai dan system evaluasi. Ia dapat menyatukan konsepsi kaum kognitifisme yang beranggapan bahwa kebudayaan adalah system kognitif, system makna dan system budaya, maka agar tindakan bisa dipahami oleh orang lain, maka harus ada suatu konsep lain yang menghubungkan antara system makna dan system nilai, yaitu system symbol. System makna dan system nilai tentu saja tidak bisa dipahami oleh orang lain, karena sangat individual. Untuk itu maka harus ada sebuah system yang dapat mengkomunikasikan hubungan keduanya, yaitu system symbol. Melalui system itulah system makna dan system kognitif yang tersembunyi dapat dikomunikasikan dan kemudian dipahami oleh orang lain.[1] Saya melihat minat kajian Geertz sangat variatif. Ia mengkaji sejarah social melalui kajiannya tentang perubahan social di dua kota di Indonesia, tidak hanya mengkaji persoalan agama dan masyarakat dalam perspektif sosiologis atau antropologis. Ia juga mengkaji masalah ekonomi sehingga lahirlah teori involusi.

Di akhir tulisannya, Geertz menegaskan bahwa untuk membongkar  pengertian diri orang Jawa, Bali, Moroccan, seseorang harus bergerak dengan rincian eksotis yang membuat etnografi terbaik. Sekarang trayektori dikenal sebagai lingkaran hermeneutic. Singkatnya, tanggungjawab dari subjektivitas orang untuk orientasi lebih dari sekedar rasa simpati dan penghapusan ego.

CATATAN:

  1. Ignaz Kleden, Dari Etnografi ke Etnografi tentang Etnografi: Antropologi Clifford Geertz dalam Tiga Tahap” dalam Clifford Geertz, After the Fact. (Yogyakarta: LKiS, 1998), ix-xxi

[1] Lihat Ignaz Kleden, Dari Etnografi ke Etnografi tentang Etnografi: Antropologi Clifford Geertz dalam Tiga Tahap” dalam Clifford Geertz, After the Fact. (Yogyakarta: LKiS, 1998), ix-xxi

Add a comment April 1, 2010

NAFKAH DAN KEPEMIMPINAN MENURUT ISLAM DALAM KELUARGA (Analisis Pendekatan Aminah Wadud Muhsin)

I. PENDAHULUAN Berbicara mengenai keluarga dan perkawinan, maka di dalamnya ditemukan beberapa unsur penting, seperti keadilan, kewajiban dan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Hal ini sejalan dengan tiga prinsip yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw, sebagaimana yang diungkapkan oleh Thoha Husein, dalam bukunya yang terkenal, al-Fitnah al-Kubra, yaitu keadilan, persamaan dan musyawarah. Ini membuktikan bahwa dalam ajaran Islam sangat menjunjung tingi nilai-nilai keadilan dan persamaan antara hak dan kewajiban dalam rangka menegakkan hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan perkawinan. Pembicaraan tentang hubungan perempuan dan laki-laki seolah-olah tidak memiliki ujung pangkal, karena semakin hari semakin menarik untuk diperbincangkan dan terkadang memicu kesenjangan ideology social yang dilabeli dengan istilah Kesenjangan gender. Dewasa ini juga terjadi peneguhan pemahaman yang tidak pada tempatnya ditengah-tengah masyarakat Dimana sifat yang dikonstruksi secara social dan cultural sehingga dianggap sebagai kodrat wanita, misalnya mengasuh dan mendidik anak-anak, membuat rumah menjadi nyaman dan tenang, merawat dan membersihkan kenyamanan rumah tangga juga sering dianggap kodrat wanita. Padahal dalam tatanan realitasnya peranan perempuan menduduki peran gender dalam mendidik anak-anak hingga mengelola kenyamanan rumah tangga adalah konstruksi social dalam suatu lapisan masyarakat tertentu. Karena itu, bisa jadi hal tersebut dilakukan oleh laki-laki karena bisa dipertukarkan dan tidak bersifat baku. Sementara yang sering disebut-sebut sebagai kodrat wanita seperti mendidik anak hingga mengelola kenyamana rumah tangga sesungguhnya adalah kesenjangan gender itu sendiri. Untuk dapat memposisikan kembali berbagai pemahaman yang keliru seputar hubungan laki-laki dan perempuan dalam Islam maka harus dikritisi lebih jauh dengan mengedepankan pemikiran yang mendalam tentang re-interpretasi al-Qur’an dan Sunnah yang berkaitan langsung dengan hal tersebut. Aminah Wadud Muhsin adalah tokoh yang memiliki pikiran yang berbeda kaitannya dengan hubungan laki-laki dan perempuan dalam kehidupan perkawinan. Dengan basic pendidikan yang tinggi, dia menjadi pakar dalam kajian Islamic studies. Karena itulah dengan menggunakan pendekatan yang beliau gunakan, dasar-dasar argument yang beliau pakai, serta hal-hal lain yang beliau pergunakan penulis ingin mengkaji lebih dalam mengenai nafkah keluarga dan kepemimpinan, yang dewasa ini tidak sedikit dipegang oleh kaum wanita. II. PEMBAHASAN A. Biografi Singkat Aminah Wadud Muhsin Beliau adalah salah satu dari feminis muslimah terkemuka yang kehadirannya menambah aktifis feminis muslim. Beliau membangun suatu paradigma baru tentang kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan berdasarkan perspektif al-Qur’an dan Sunnah. Bukunya Qur’an and Women merupakan bukti bagaimana kepeduliaannya melihat ketidakadilan yang dialami kaum wanita dalam sector kehidupan (domestic dan public) yang memicu semangatnya untuk menggali secara seksama dan rekonstruktif terhadap paradigma kesetaraan laiki-laki dan perempuan. Beliau lahir tahun 1952 M dan merupakan keturunan Afro-Amerika. Pendidikan dasar hingga perguruan tingginya ditempuh di Malaysia, dengan meraih gelar Sarjananya dari Universitas Antar Bangsa dan gelar Masternya dari Machigan University (1988-1989). Jenjang doctoral berhasil diraih dari Harvard University USA (1991-1993). Saat ini beliau menjadi salah seorang professor di Departemen Filsafat dan Studi Agama di Universitas Common Wealth di Virginia USA. Kehidupannya banyak didominasi oleh riset dan kegiatan-kegiatan di almamaternya. Sebagai theology, yurist dan aktifis sosok beliau dikenal baik di tingkat nasional maupun internasional terlebih dengan kehadiran bukunya Qur’an and Women sehingga beliau kerap melakukan kunjungan akademis maupun keagamaan. Meskipun beliau hidup dalam lingkungan berperadaban maju, beliau tergerak untuk menengok kembali pada khazanah dan bibliografi klasik maupun modern guna membangun sebuah paradigma baru tentang relasi gender, yaitu hubungan tanpa stereotype yang diatributkan pada sosok perempuan. Seperti yang beliau katakan bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan tidaklah terstruktur sebagaimana yang dibuat oleh nenek moyang (dikonsturk secara sosil dan cultural). Selain terlibat dalam riset ilmiah, beliau juga terlibat aktif dalam LSM yang secara intensif peduli pada advokasi bagi pembelaan hak-hak perempuan diantaranya SIS (Sister in Islam) yang berkonsentrasi pada gagasan kesetaraan dan pembebasan perempuan Islam di era modern. Visinya adalah menjadikan al-Qur’an sebagai primary source dalam menyelamatkan perempuan dari konservatisme Islam. Sekembalinya ke Amerika, beliau menjadi Guru Besar di Departemen Filsafat dan Studi Islam di Common Wealth University Virginia Amerika, dan menjadi dosen di Divitiny School Harvard University. Di sini beliau tergabung dalam komunitas yang sering disebut Moslem Wake Up (MWU) yang berjuang keras untuk meneguhkan integritas kaum muda progresif ditengah tuduhan kepada mereka sebagai kelompok radikalis. Bulan Maret 2005 beliau bersama komunitas ini menyelenggarakan jamaah shalat Jum’at yang mana beliau bertindak sebagai khatib sekaligus imamnya. Ini adalah kejadian yang sangat menghebohkan dan menarik perhatian dunia. Di antara alasan beliau adalah sebuah hadits Sunan Ibnu Daud ketika Nabi Muhammad Saw menyuruh Umi Waroqoh salah satu pengumpul al-Qur’an untuk mengimai orang-orang termasuk didalamnya laki-laki di lingkungannya. Dan masih banyak lagi agenda Aminah Wadud yang membuktikan bahwa kepeduliannya terhadap persoalan perempuan yang mengalami penindasan dan marginalisasi dari kerasnya hegemoni laki-laki sangat tinggi yang merupakan wujud tanggung jawab sebagai salah satu feminis muslimah yang tidak mau tinggal diam melihat kaumnya terus menerus mengalami penindasan dari budaya patriarkhi yang banyak dimotori oleh kaum laki-laki. B. Pendekatan dan metode yang digunakannya Beliau menggunakan pendekatan metode penafsiran untuk mendapatkan pemahaman mengenai al-Qur’an dalam mengatasai problematika dalam Islam yang pernah digunakan oleh Fazlur Rahman, yaitu metode dari rangkaian pemikiran neo-modernismenya yang terkenal dengan teori double movement (gerak ganda interpretasi). Fazlur Rahman berpendapat bahwa ayat-ayat al-Qur’an yang diturunkan dalam waktu tertentu dalam keadaan umum dan khusus yang menyertainya menggunakan ungkapan yang relative mengenai situasi yang bersangkutan. Oleh karena itu pesan al-Qur’an tidak bisa dibatasi oleh situasi histories pada saat diwahyukan saja. Seorang sahabat yang membaca al-Qur’an harus memahami implikasi dari pada pernyataan-pernyataan al-Qur’an pada waktu diwahyukan untuk menentukan makna utama yang dikandungnya. Di sisi lain umat Islam selanjutnya yang dihadapkan pada situasi dan kondisi yang berbeda dengan masa Rasulullah harus tetap membuat aplikasi praktis dari pernyataan-pernyataan al-Qur’an yang tetap mempertimbangkan makna utama yang dikandungnya. Untuk itu Aminah Wadud menggunakan metode hermeneutic yaitu sebuah bentuk metode penafsiran kitab suci yang dalam menyimpulkan makna dari suatu teks menggunakan tiga aspek, yaitu: 1. Konteks saat nash itu ditulis yaitu dimana al-Qur’an itu diwahyukan. 2. Komposisi nash dari segi gramatikanya bagaimana nas menyatakan apa yang dinyatakan. 3. Nas secara keseluruhan atau pandangan dunianya. Semua yang terkait dianalis dengan metode tradisional yang disebut dengan Tafsir a-Qur’an bi al-Qur’an (tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an). Dengan metode ini beliau berharap dapat menemekan interpretasi al-Qur’an yang mempunyai makna dan kandungan yang selaras dengan konteks kehidupan di dunia modern. Ia juga ingin agar makna utama yang menjadi dasar dari al-Qur’an dapat dipahami sehingga ayat-ayat al-Qur’an selalu tidak dapat dibatasi atau direduksi oleh situasi histories pada saat diwahyukan saja. Dengan argument ini beliau yakin bahwa dalam usaha memelihara relevansinya dengan kehidupan manusia al-Qur’an harus terus menerus ditafsirkan ulang. C. Nafkah dan kepemimpinan dalam keluarga berdasarkan pendekatan Aminah Wadud 1. Nafkah dalam keluarga Dalam menyoroti berbagai aspek yang dianggap penting terkait dengan nafkah keluarga oleh Aminah Wadud, terlebih dahulu kita lihat landasan pemikirannya bahwa al-Qur’an sebagai landasan utama dalam hukum Islam sejatinya memperlakukan perempuan sebagai individu sama dengan laki-laki. Satu-satunya yang menjadi pembeda adalah level ketaqwaannya yang tidak ditentukan oleh jenis kelamin. Hanya saja banyaknya problematika seputar perempuan di dunia ini ditinjai dari perspektif al-Qur’an berhubungan dengan pemahaman yang berkembang di masyarakat. Segala perilaku di dunia ini dibentuk dari sudut pandang hidup manusia demikian pula sebaliknya. Pada hakikatnya memang masyarakat muslim belum mampu mencapai gagasan ideal yang terkandung dalam al-Qur’an. Begitu ayat-ayat al-Qur’an dijadikan sebagai tumpuan di dalam pendapat tentang pelaksanaan ketentuan-ketentuan al-Qur’an di dunia ini, maka kontroversi tetap terjadi. Berbagai gagasan popular atau dominan di masyarakat mengenai status perempuan tidak memiliki pijakan yang ideal dalam al-Qur’an. Maka jalan keluar dari masalah ini adalah jangan terlalu banyak bergaul dengan analisis logika ayat-ayat, tetapi harus diterapkan analisis baru dalam konteks di mana masyarakat muslim melangsungkan kehidupannya. Dengan kata lain kita harus tetap melakukan interpretasi terhadap al-Qur’an sehingga tetap sesuai dengan dinamika kehidupan masyarakat yang sedang berkembang. Inilah yang dituangkan oleh Amniah Wadud dalam setiap pemikirannya. Nafkah yang pada pokoknya adalah pengeluaran yang biasanya dipergunakan oleh seseorang untuk sesuatu yang baik dan dibelanjakan untuk orang yang sudah menjadi tanggung jawabnya. Para ulama sepakat bahwa nafkah minimal yang harus dikeluarkan harus memenuhi kebutuhan berupa makanan, pakaian serta tempat tinggal. Terkait dengan fenomena social yang selalu mengalami perubahan khususnya dalam konteks sekarang, banyak perempuan yang terlibat dalam dunia kerja dalam sector kehidupan. Beliau mencotohkan kehidupan perempuan Amerika pasca perbudakan , bahwa perempuan kulit hitam justru lebih banyak yang terlibat dunia ketimbang pria kulit hitam. Bahkan wanitanya menjadi penyokong tunggal dalam keluarga ini. Padahal sejatinya ini merupakan beban tambahan bagi pundak perempuan, karena disisi lain perempuan masih harus mengerjakan tugas-tugas khususnya yang tidak bisa dikerjakan oleh laki-laki yaitu mengandung, melahirkan dan mengasuh anak. Namun yang terjadi meskipun perempuan menjadi objek beban ganda, kerapkali perlakuan kekerasan masih dialami dari suami-suami mereka. Hal ini sering terjadi karena dominasi laki-laki dalam kehidupan rumah tangga yang masih dibiarkan oleh struktur social, juga karena pola pembagian pekerjaan antara laki-laki dan perempuan. Padahal apabila mengacu pada al-Qur’an sebagai sumber utama hukum Islam ,ternyata memberikan kesempatan dan penghargaan yang sama kepada keduanya. Bisa kita lihat pada ayat al-Qur’an surat An-Nisa (4) ayat 32 yang artinya: “Bagi laki-laki ada bagian yang mereka usahakan dan dari wanita pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan”. Dengan demikian Aminah Wadud menginginkan untuk konteks sekarang sesuai dengan konteks perubahan social, sudah tidak pada tempatnya apabila kewajiban mencari nafkah diberlakukan secara kaku, tetapi harus diterapkan dengan system kerjasama yang fleksibel. Sebab kalau tidak bisa menyebabkan istri ketergantungan kepada suaminya. Bahkan bahaya bisa timbul apabila dipaksakan seperti ini, misalnya istri yang kebetulan memiliki suami penyandang cacat yang terhalangi mencari nafkah, maka istrilah yang harus tampil menggantikan suami bahkan urusan kepemimpinan keluargapun harus diambil alih oleh istrinya daripada keluarga bisa berantakan karena kondisi suami yang tidak memungkinkan. Dari pemaparan di atas, tercermin apa yang diinginkan oleh Aminah Wadud adalah terbukanya kesempatan yang sama antara laki-laki dan perempuan (istri dan suami)seperti dalam urusan maintenance di mana perempuan bisa membuktikan dirinya mampu berpartisipasi dalam pertumbuhan dan produktifitas sebuah keluarga. Aminah Wadud pun menuntut bahwa kaum pria pun harus bisa atau mampu ikut serta dalam memelihara, mengasuh serta merawat rumah tangga. Hal ini penting sekali artinya lebih-lebih ketika kondisi istri tidak bisa melakukan pekerjaan rumah tangga seperti biasanya, karena sakit misalnya. Sehingga diharapkan keduanya bisa menjadi pasangan yang serba bisa serta saling mengisi antara keduanya. Sehingga manfaatnya pun dapat dirasakan oleh keduanya, bagi anak-anak dan juga bagi masyarakat luas. Pembahasan tentang nafkah menurut pendekatan yang digunakan oleh Aminah Wadud ini, penulis akhiri dengan firman Allah yang dijadikan landasan pemikiran Aminah Wadud untuk mengatakan bahwa pada prinsipnya bahwa laki-laki dan perempuan itu setara dalam persoalan keluarga termasuk di dalamnya nafkah keluarga. Firman Allah yang melandasi pemikiran Aminah Wadud adalah dalam Qur’an surat An-Nisa (4) ayat 1 yang artinya: “Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya dan daripada keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak dan bertaqwalah pada Allah dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan peliharalah hubungan silaturrahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” Dari pemikiran Aminah Wadud di atas dapat disimpulkan bahwa memang pada dasarnya secara teologis, laki-laki (suami) itu diberi tanggung jawab utama dalam hal mencari nafkah bagi keluarganya, sebagaiman perempuan (istri) dibebani tanggung jawab terutama dalam hal reproduksi atau regenerasi. Seandainya perempuan masih dibebani dengan tanggung jawaab nafkah akan membahayakan tuntutan penting tanggung jawab yang hanya ia yang dapat memenuhinya. Idealnya menurut beliau, segala sesuatu yang dibutuhkan oleh perempuan (istri) untuk dapat melangsungkan kewajiban utamanya seharusnya disediakan oleh laki-laki (suami) berupa perlindungan fisik dan dukungan dari segi kebutuhan mainteannce. Adapun dalam situasi dan kondisi tertentu kadangkala juga harus memaksa istri harus ambil bagian dalam urusan mencari nafkah seperti misalnya suaminya yang lagi sakit. Inilah maksud ungkapan Aminah Wadud yang mengatakan bahwa sebuah keluarga pada hakekatnya merupakan arena awal untuk mengembangkan model kerjasama (partner) minimal antara suami dan istri, yaitu kerjasama yang menguntungkan kedua belah pihak. Pemikiran beliau mengenai kewajiban nafkah keluarga ini sealur dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Marhumah terhadap hadits-hadits Nabi Muhammad Saw yang mewajibkan nafkah atas suami. Marhumah berkesimpulan pada dasarnya suami berkewajiban atas nafkah, namun kewajiban ini menjadi relative jika keadaan berkata lain dan otomatis kewajiban itu menjadi tidak dapat dipaksakan. Dengan demikian adanya kerjasama yang fleksibel antara laki-laki dan perempuan (suami-istri) dalam kehidupan berkeluarga, maka diharapkan persoalan seputar nafkah ini seperti seringnya nafkah dijadikan tameng kekerasan terhadap istri ditambah lagi dengan konteks kehidupan sekarang yang masih terkungkung oleh krisis ekonomi ditambah naiknya harga BBM dan banyaknya pekerja yang di PHK dapat mengganggu keharmonisan keluarga, maka disinilah arti pentingnya kerjasama antar suami dan istri. Nafkah memang pada dasarnya merupakan tanggung jawab dan tugas utama suami namun, jika keadaan berkata lain, tentu kewajiban tersebut tidak dapat dipaksakan dengan sendirinya. Jadi bagi Aminah Wadud, nafkah itu bersifat kontekstual dan bukan tekstual. 2. Kepemimpinan dalam keluarga Mengenai kepemimpinan dalam keluarga, Aminah Wadud terlebih dahulu berbicara tentang kelebihan yang terdapat dalam al-Qur’an surat An-Nisa ayat 34. kalimat faddala merupakan ujian bagi seseorang yang dianugrahi Allah dengan faddala (kelebihan) itu. Tetapi faddala itu tidak bisa diperoleh dengan melakukan amal shaleh tertentu, tetapi hanya dapat diperoleh dari Allah untuk siapapun dan kapanpun kepada yang dikehendaki-Nya. Aminah mengatakan qiwamah hanya berkaitan dengan urusan anggota keluarga karena ayat-ayat berikutnya menyinggung masalah perkawinan dan penggunaan istilah tersebut untuk konteks suami istri. Karena itu qiwamah cenderung digunakan dalam hubungan suami istri untuk kebaikan kolektif antara keduanya sebagai bagian dari masyarakat secara keseluruhan. Aminah Wadud menjelaskan bahwa ayat ini secara klasik kerapkali sipandang sebagai salah satunya ayat yang paling penting yang berkaitan dengan hubungan laki-laki dan perempuan. Laki-laki merupakan qawwamun ‘ala wanita-wanita. Beliau membahas ayat tersebut dengan menekankan pada dua hal pokok yang menjadi kelebihan laki-laki sehingga diberi kedudukan oleh Allah sebagi pemimpin bagi perempuan, yaitu kelebihan yang seperti apa diberikan kepada laki-laki dan apakah yang telah mereka belanjakan dari harta benda yang mereka miliki (untuk mendukung perempuan), yaitu norma social-ekonomi dan idealnya. Beliau menyoroti kata bi dalam ayat tersebut, yang menurutnya karakteristik sebelum kata bi ditentukan atas dasar apa yang datang sesudahnya. Maka laki-laki (suami) akan dikatakan sebagai pemimpin atas perempuan apabila memenuhi dua syarat, yaitu preference yang mereka miliki dan maintenance yang mereka berikan kepada istri-istri mereka. Dan apabila kedua syarat tersebut tidak dapat dipenuhi maka perannya sebagai pemimpin perempuan tidak layak mereka emban. Hal yang begitu menarik dari pernyataan beliau adalah jika yang dimaksudkan dengan faddila (kelebihan) itu adalah kelebihan materi, maka hanya terdapat satu ayat saja yang menentukan bahwa bagian seorang laki-laki dua kali lipat dari bagian seorang perempuan. Dengan demikian QS. An-Nisa ayat 11 mendukung ayat 34 yang berbicara tentang kepemimpinan karena syarat lain dari kepemimpinan adalah adanya kemampuan dalam hal memberi nafkah. Sehingga terdapat unsur timbal balik antara kelebihan dan tanggung jawab. Dengan kata lain adanya kewajiban atau tanggung jawab dalam memberi nafkah dan kepemimpinan tersebut merupakan konsekuensi terhadap penerimaan harta waris yang banyaknya dua kali lipat dari perempuan. Menurut Aminah Wadud, kelebihan (faddala) yang dimaksudkan dalam QS.4:34 tidak bisa tidak bersyarat karena memang disitu tidak disebutkan bahwa laki-laki dilebihkan atas perempuan secara keseluruhan. Tidaklah semua laki-laki itu unggul dari perempuan dalam segala hal. Jadi, sebagian laki-laki memilih kelebihan atas perempuan dalam hal-hal tertentu demikian pula sebaliknya, perempuan juga bisa saja mengungguli laki-laki dalam hal-hal tertentu. Jika kelebihan dalam QS. 4: 34 bersifat material, maka hakekat dari kelebihan tersebut telah disebutkan pula pada QS. 4: 11, dan itu tidak bersifat absolute. Bahkan jika dimaknai lebih dari sekedar material pun tidak bersifat absolute. Bagaimanapun isu yang terdapat dalam QS. 4: 34 tidak dapat dilihat secara dangkal. Karena ayat tersebut memberikan suatu tanggung jawab yang ideal bagi laki-laki atau perempuan untuk membentuk suatu kehidupan yang seimbang. Tanggung jawab tersebut tidak berbentuk biologis atau inheren tetapi tanggung jawab yang valueable, yang tidak terbatas pada masalah material tapi hendaknya mencakup dimensi religius, moral, intelektual dan kejiwaan. Perspektif itulah yang dapat menghantarkan manusia dapat bersungguh-sungguh menjadi khalifah fil ardh. Juga dapat menghilangkan cara pandang kompetitif dan hierarkis strukturalis dalam suatu komunitas masyarakat. Sehingga diharapkan terciptanya hubungan suami-istri yang tidak tertutup dan tidka menciptakan ketergantungan para istri-istri terhadap suami-suami mereka. Aminah mencatat kenapa perempuan mendapat perlindungan dan dukungan materi (nafkah) dari laki-laki? Aminah menjawab bahwa perempuan berfungsi melahirkan keturunan yang membutuhkan tanggung jawab dan kekuatan jiwa yang serius dari perempuan dan sekaligus menonaktifkannya dari aktifitas luar. Al-Qur’an menegaskan kewajiban laki-laki sebagai qiwwamah tujuannya adalah untuk menjaga perempuan agar tidak dibebani kewajiban tambahan yang dapat membahayakan kewajiban utamanya yang berat yang hanya dapat dilakukan oleh perempuan. Di sini pengertian qiwwamah lebih berarti pelindung dan penegak terhadap urusan-urusan perempuan. Untuk lebih memperkuat argumentasi ini, Aminah Wadud pernah mempraktekan sebagai khatib dan imam dalam shalat Jum’at. Di antara alasannya adalah sebuah hadis Sunan Ibnu Daud ketika Nabi memerintahkan Umi Warakah sebagai salah satu pengumpul al-Qur’an untuk mengimami shalat dimana didalamnya terdapat laki-laki dan perempuan di lingkungannya. Alas an berikutnya adalah terkait dengan kepemimpinan Ratu Balqis yang disebutkan oleh al-Qur’an, merupakan indikasi adanya hak bagi perempuan dalam berbagai bidang untuk menjadi imam termasuk di dalamnya adalah ritual ibadah. Ini juga dapat dijadikan dasar argumentasi Aminah Wadud bahwa tidak semua kelebihan berpihak pada laki-laki tapi terdapat pula perempuan yang bisa mengungguli laki-laki. Berdasarkan alasan yang dikemukakan di atas terlebih pada alasan yang kedua, Aminah Wadud mengambil sejarah Ratu Balqis yang menjadi pemimpin kerajaan sebagai landasan pemikiran juga ikut mempengaruhi pemikiran Aminah Wadud sendiri mengenai posisi kepemimpinan laki-laki atas perempuan yang telah diuraikan di atas. III. KESIMPULAN 1. Beliau adalah salah satu dari feminis muslimah terkemuka yang kehadirannya menambah aktifis feminis muslim. Beliau membangun suatu paradigma baru tentang kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan berdasarkan perspektif al-Qur’an dan Sunnah. Bukunya Qur’an and Women merupakan bukti bagaimana kepeduliaannya melihat ketidakadilan yang dialami kaum wanita dalam sector kehidupan (domestic dan public) yang memicu semangatnya untuk menggali secara seksama dan rekonstruktif terhadap paradigma kesetaraan laiki-laki dan perempuan. 2. Meskipun beliau hidup dalam lingkungan berperadaban maju, beliau tergerak untuk menengok kembali pada khazanah dan bibliografi klasik maupun modern guna membangun sebuah paradigma baru tentang relasi gender, yaitu hubungan tanpa stereotype yang diatributkan pada sosok perempuan. Seperti yang beliau katakan bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan tidaklah terstruktur sebagaimana yang dibuat oleh nenek moyang (dikonsturk secara sosil dan cultural). 3. Beliau menggunakan pendekatan metode penafsiran untuk mendapatkan pemahaman mengenai al-Qur’an dalam mengatasai problematika dalam Islam yang pernah digunakan oleh Fazlur Rahman, yaitu metode dari rangkaian pemikiran neo-modernismenya yang terkenal dengan teori double movement (gerak ganda interpretasi). 4. Aminah Wadud menggunakan metode hermeneutic yaitu sebuah bentuk metode penafsiran kitab suci yang dalam menyimpulkan makna dari suatu teks menggunakan tiga aspek, yaitu: a. Konteks saat nash itu ditulis yaitu dimana al-Qur’an itu diwahyukan. b. Komposisi nash dari segi gramatikanya bagaimana nas menyatakan apa yang dinyatakan. c. Nas secara keseluruhan atau pandangan dunianya 5. Bagi Aminah Wadud, nafkah bersifat kontekstual dan bukan tekstual. Dengan adanya kerjasama yang fleksibel antara laki-laki dan perempuan (suami-istri) dalam kehidupan berkeluarga, maka diharapkan persoalan seputar nafkah ini seperti seringnya nafkah dijadikan tameng kekerasan terhadap istri ditambah lagi dengan konteks kehidupan sekarang yang masih terkungkung oleh krisis ekonomi ditambah naiknya harga BBM dan banyaknya pekerja yang di PHK dapat mengganggu keharmonisan keluarga, maka disinilah arti pentingnya kerjasama antar suami dan istri. Nafkah memang pada dasarnya merupakan tanggung jawab dan tugas utama suami namun, jika keadaan berkata lain, tentu kewajiban tersebut tidak dapat dipaksakan dengan sendirinya 6. Pada dasarnya Aminah Wadud menerima kepemimpinan laki-laki atas perempuan dengan dua syarat, yaitu Pertama, laki-laki harus dapat menunjukkan kelebihan yang mereka miliki, sementara kelebihan yang jelas dimiliki adalah dalam hal pembagian waris (2:1) dan inipun sangat terkait dengan keadaan harta yang akan diwariskan. Kedua, mendukung perempuan dengan harta benda yang mereka miliki. Maka dengan begitu Aminah Wadud berpendapat bahwa kepemimpinan itu bukanlah sesuatu yang bersifat normative tapi bersifat kontekstual. IV. PENUTUP Demikianlah sedikit pemaparan yang sangat sederhana mengenai nafkah dan kepemimpinan dalam Islam dengan menggunakan analais salah satu tokoh feminis musliah dunia, Aminah Wadud Muhsin. Semoga bermanfaat, dan tulisan ini penulis tutup dengan sedikit goresan kata yang diharapkan dapat memacu semangat kita untuk lebih semangat memperdalam kajian intelektual keberagamaan kita khususnya dengan pendekatan yang tepat. Agama Bukanlah singgasana yang membuatmu duduk lebih tinggi dari yang lain Bukan baju kebesaran yang membuatmu lebih agung dari yang lain Bukan tirai yang dapat menutupi borokmu dari yang lain Bukan pula ruang yang membuatmu terpisah dari orang lain Apalagi aksesoris yang membuatmu lebih meriah dari yang lain Tapi agama, Adalah cara kita meng-ada dalam penyatuan yang hakiki Sebagai pribadi, sebagai bagian dari masyarakat dan alam, Dan sebagai hamba ciptaan-Nya (Kota Pelajar, 2008) Bilahi fi sabilil haq fastabiqul khairat DAFTAR PUSTAKA Aminah Wadud Muhsin, Qur’an and Women, New York: Oxford UniversityPress, 1998 Fazlur Rahaman, Interpreting the al-Qur’an, Inquiry: 1986. ——————-, Islam and Modernity: Transformation of IntelectualTradition, Chicago: The Univercity of Chicago Press, 1982. Khoiruddin Nasution dalam Fazlur Rahman, Tentang Wanita, Cet. I Yogyakarta: Tazzafah+Akademis, 2002. Marhuman, Konsep Nafkah dalam Hadits, dalam Hamin Ilyas, dkk, Perempuan Tertindas, Kajian Hadits-Hadits Misoginis, Yogyakarta: PSW IAIN Sunan Kalijaga dan Ford Fondation , 2003. Masdar F. Mas’udi, Reinterpretasi Ajaran Islam Tentang Perempuan, dalam Lily Zakiyah Munir (ed), Memposisikan Kodrat: Perempuan dan Perubahan dalam Perspektif Islam, Bandung: Miza, 1999. Navin Reza Muslim Issues What Whould the ProphetDo? The Islamic Basis for Femail-Law Prayer, dalam http://www.muslimwakepu.com download pada tanggal 5 Mei 2008 Nik Nor’aini Nik Badlishah, Islamic Law and Justice For Muslim Women, Malaysia: Sister In Islam, 2003. sisterislam@pd.jaringan.my download pada tanggal 5 Mei 2008. Sayyid Qutb, Fi Dzila al-Qur’an,Kairo: Dar ar-Syuruq, 1980. Syekh Taqqiyudin Ahmad bin Abdul Halim, Muqaddimah fi al-Ushulil Tafsir, Beirut: Dar Ibn Hizam, 1997. http://www.iin.edu.my/islac-php download pada tanggal 5 Mei 2008.

Add a comment April 1, 2010

In Commemoration of Louis Massignon: Catholic Scholar, Islamicist dan Mistyc (Mengenang Louis Massignon: Sarjana Katolik, Pakar Islam dan Mistis)

In Commemoration of Louis Massignon: Catholic Scholar, Islamicist dan Mistyc (Mengenang Louis Massignon: Sarjana Katolik, Pakar Islam dan Mistis)
Membaca judul tersebut, penulis heran dan merasakan kenyataan yang ironis, kenapa orang-orang non Islam bahkan para orientalis yang justru semangat mengkaji dan memahami ajaran-ajaran Islam, sehingga pemahaman mereka kadang melebihi pemahaman orang Islam sendiri. Salah satu bukti Louis Massignon (untuk selanjutnya kita sebut Louis) tokoh sentral dalam artikel ini, berdasarkan judul artikel di samping disebut sebagai sarjana katolik (Catholic Scholar) dia juga disebut sebagai pakar Islam (Islamicits) dan mistis (Mistyc).
Sebelum masuk pada inti pembahasan, penulis mencoba untuk mengenalkan terlebih dahulu siapa sebenarnya Louis tersebut. Dia adalah salah satu tokoh orientalis terkemuka berasal dari Perancis. Louis banyak belajar dari tokoh-tokoh orientalis Perancis terkenal seperti Goldziher, Hurgronje dan Le Chatell. Ia pernah mengunjungi dunia Islam selama tiga tahun sampai 1954. Di Baghdad, ia mengadakan misi penelitian dan penggalian arkeologis dan berhubungan baik dengan tokoh Iraq Al-Alusi. Pada tahun 1906-1909 ia pergi ke Mesir dan belajar di Universitas Al-Azhar. Pada tahun 1912 ia mengajar filsafat disitu dan diantara pengagumnya adalah Dr. Thaha Husein. Pada waktu berada di Timur Tengah, ia juga menjadi perwira militer pada kantor Gubernur Jenderal Perancis di Suria dan Palestina. Pengalamannya di dunia Islam itu menjadikannya orientalis yang sangat memahami politik di dunia Islam.
Karena konsentrasi dia pada dunia katolik atau kristen di Perancis, maka dia menikmati pengembaraan intelektual ke dunia Islam, baik negara Arab dan non Arab. Di Iran dia sangat akrab dengan beberapa tokoh semisal Muhammad Ali Foroughi, Badi al-Zaman Forounzafar, kemudian juga Jalaluddin Rumi dan lain sebagainya. Dia juga mempunyai beberapa murid yang di kemudian hari menjadi sarjana terkenal.
Louis selain mengkaji Islamologi, ia juga pernah menjadi pembimbing rohani pada perkumpulan missionarisme Perancis di Mesir. Bahkan ia tidak hanya dikenal sebagai sarjana katolik, akan tetapi juga pemimpin intelektual katolik (leading catholic intellectual) Ia berusaha keras memasukkan misi Kristen pada program-program pemerintah Perancis di tanah jajahannya di Timur Tengah. Bahkan ia berusaha sebagaimana Goldziher memasukkan unsur-unsur Katolik dalam Islam. Dimana ia menyamakan penghormatan kaum Muslim kepada Fatimah sebagaimana pemujaan Katolik ke “Bunda Maria”. Ia menulis sejumlah karya, di antaranya Yesus dalam Injil menurut Al-Ghazali (1932), Al-Mutanabbi dan Masa Dinasti Ismailiyah dalam Islam (1935), Sejarah Ilmu Pengetahuan di Kalangan Bangsa Arab (1957) dan lain-lain.
Selanjutnya berdasar data sejarah, pada abad ke 9 Masehi, berkembang kehidupan kerohanian Islam dengan jalan melakukan Zuhud (mengabaikan dunia) untuk mencapai kesempurnaan makrifat dan tauhid kepada Allah. Gagasan-gagasan para ahli sufi dan syiah pada abad tersebut telah ditemukan, baik yang berupa syair ataupun pemikiran yang menunjukkan keanekaragaman kemungkinan dalam kehidupan mistik, seperti halnya Al-Ghazali, Dzun Nun (859 M), Bayezid Bustami (874 M), Al Harith al Muhasibi (857 M) dan Husein Ibn Mansur Al hallaj (858 M)
Pemikiran dan peranan para tokoh inilah yang perlu kita ketahui sebagai wacana keilmuan dan sejarah, sekaligus menganalisa konflik pemikiran yang tidak pernah habis dibahas, karena pihak-pihak yang berbeda pendapat tidak pernah saling bertemu untuk memberikan klarifikasi dalam satu majelis, kecuali hanya saling mengecam dan mengkafirkan dengan musabab bibit konflik politik kekuasaan yang serakah dan licik sejak lama.
Banyak kisah keshalehan serta kata-kata bijak penuh hikmah yang mengisi setiap referensi kitab-kitab keislaman di Timur maupun di Barat yang berasal dari para tokoh Sufi ini, baik yang bisa difahami oleh kaum awam sampai pernyataannya yang banyak mengundang perdebatan yang tidak henti-hentinya sampai sekarang.
Menarik untuk dikaji kembali penyataan yang populer yang di lontarkan oleh Husein Ibnu Al-Hallaj “Akulah kebenaran Yang Tertinggi”. Peristiwa ini merubah pandangan masyarakat umum terhadap kaum Sufi atau para Zahid yang menjalankan olah kerohaniannya dengan melakukan dzikir secara rutin, shalat malam dan menjauhkan diri dari perbuatan maksiat. Sehingga pada ujungnya berpengaruh terhadap perkembangan ilmu tafsir yang menjadi mandek.
Terlihat para mufassirin agak ragu-ragu menafsirkan kata-kata hiperbolis kedalam pengertian proporsi yang sebenarnya, dan sampai kini orang menjadi merasa takut apabila membicarakan mengenai ilmu hakikat dan makrifat. Mereka mengira ilmu tasawuf adalah ajaran sesat dan membahayakan. Saya menganggap pandangan mereka terlalu gegabah dan tidak bijaksana. Pandangan yang mengakibatkan ajaran Islam menjadi amat dangkal, karena nilai spiritual yang seharusnya diajarkan telah hilang, yaitu nilai psikologi keihsanan kepada Allah dalam setiap peribadatan, yang mestinya paling dianggap menentukan dalam kaitan diterima atau ditolaknya perilaku keagamaan seseorang.
Sebagai tokoh yang tiada hentinya dibicarakan di dunia mistik Islam maupun dikalangan yang memusuhinya, Al Husain ibnu Mansur Al Hallaj pada tahun 922 M dijatuhi hukuman mati oleh para wakil kaum ahli hukum karena ajaran yang disebarkannya, yang dianggap telah keluar dari aqidah Islam yang terutama berasal dari ucapannya yang terkenal, Ana ‘l Haqq (Akulah Kebenaran Tertinggi). Pro dan kontra dari jatuhnya hukuman tersebut sampai sekarang masih juga terjadi
Ada banyak pendapat umum yang mengatakan Al-Hallaj mati karena ajaran mistiknya yang terkenal Ana’l Haqq (Akulah Kebenaran Tertinggi). Tidak banyak kaum muslimin yang mengetahui dengan persis apakah sebenarnya yang terjadi terhadap kasus yang didakwakan kepadanya. Benarkah Al-Hallaj penganut paham ittihad (pantheisme) yang banyak dipengaruhi ajaran Hindu dan mistik katholik, atau ajaran Zanadika, tentang cinta kasih manusia terhadap Allah sebagai suatu daya tarik material antara sumber cahaya dan percikan-percikan yang mengalir dari sumber itu (emanasi).
Di kalangan kaum mistis sendiri banyak yang berpendapat, bahwa kesalahan Al-Hallaj ialah menyiarkan dimuka umum kebenaran-kebenaran esoteris (merenggut selubung rahasia). Konon kabarnya As-Sibli mengatakan kepada seorang utusan menjelang eksekusinya, pergilah mencari Al-Hallaj dan katakan kepadanya, “Allah telah memberikan kepadamu jalan untuk mengetahui salah satu rahasia-Nya , tetapi karena engkau menyiarkan kepada umum, maka kau harus merasakan pedang”.
Ada juga yang berpendapat, bahwa ajarannya mengenai manunggalnya Allah dan manusia tidak dibenarkan, namun dapat dimaafkan sebagai suatu ketidaktelitian hiperbolis, akibat kekuatan ekstasis. Sementara para sufi moderat tidak memberikan komentar terlalu banyak atas kejadian ini. Mereka hanya berpendapat bahwa Al-Hallaj hanyalah menghayati firman Allah dalam surat Thaha: 14, innani Ana Allah laailaha illah Ana fa’budni …yang artinya “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah Shalat untuk mengingat Aku”.
Terlepas dari hal tersebut, Louis yang merupakan salah satu orientalis memberikan perhatian khusus kepada ajaran sufi Al-Hallaj. Terbukti pada tahun 1922, pada saat ia kembali ke Paris untuk menyelesaikan program doktornya di Universitas Sorbonne. Ia menulis disertasi mengenai tasawuf Islam dengan judul “La Passion d’ al-Hallaj, Martyr Mystique de l’Islam” (Derita Al- Hallaj, Sang Sufi yang Syahid dalam Islam). Dan bisa kita ambilkan beberapa karya lain yang memberi perhatian khusus pada studi Al-Hallaj dan dunia sufi, misalnya: The Sufi Path of Love karya William Chittick, World of Ecstasy is Sufism karya Carl Ernst, What is Sufism karya Martin Lings, The Death of Al-Hallaj karya H. Mason dan lain sebagainya.
Bila para ulama Islam mengkafirkan Al-Hallaj, maka tidak demikian dengan Louis, dia justru memujinya bahkan mengatakan bahwa Al-Hallaj adalah seorang saleh yang syahid. Bahkan dalam kata pengantar bukunya The Passion of Al-Hallaj, louis menyatakan bahwa Al-Hallaj adalah sosok historis, benar-benar hidup dalam sejarah yang dihukum mati pada tahun 922 M. Dia dikenal dan dikenang sebagai pahlawan legenda. Sekarang ini di beberapa negara Islam orang mengingat dan memunculkan sosok Al-Hallaj sebagai orang yang mabuk cinta kepada Tuhan, dan kadang-kadang pula seorang dukun gadungan. Di Iran, Turki dan Pakistan banyak tersebar karya-karya satra besar Persia, terdapat sebuah gaya dalam puisi yang dinisbatkan kepada orang suci ini, yaitu ektase ilahiyah, yang mereka sebut dengan “Mansur Hallaj”. Memang dialah yang dari atas tiang gantungan mengucapkan teriakan apokaliptik tentang Pengadilan di Hari Pembalasan: Ana’l Haqq (Akulah Sang Kebenaran). Di samping itu menurut Louis Al-Hallaj adalah sosok yang telah menemukan panggilan hidupnya sebagai “Pilar Mistik” atau “Martir Spiritual” Islam. Hal tersebut diperkuat ketika Al-Hallaj hendak pergi menunuaikan ibadah haji, dia berharap menjadikannya sebagai ganti untuk qurban-qurban yang disembelih di padang Arafah dalam rangka acara tahunan yang memohon ampun bagi ummat, dan setelah itu dia menyatakan di depan publik di Baghdad janjinya untuk mencari kematian dalam perang suci mencari cinta ilahi. Cerita Al-Hallaj versi Louis inilah yang kemudian banyak diambil oleh para aktivis Islam Liberal di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Selain desertasinya tentang Al-Hallaj.
Melalui studi tentang Al-Hallaj inilah, ia mencoba untuk mendemonstransikan bahwa ajaran sufi mempunyai akar dan dasar dalam Al-Qur’an serta jauh dari unsur bid’ah. Ia menyadari bahwa meditasi yang terdapat di kitab suci Al-Qur’an, ajaran para Nabi, beserta wahyu itu semua merupakan substansi sufi yang asli (the origin and substance of sufisme). Karena pada saat itu para orentalis menganggap bahwa ajaran sufi adalah jenis pohon asing yang ditanam di dunia Islam dan tidak berdasar.
Louis adalah salah satu pioner yang membuat kajian atau studi Islam lebih serius yang tidak hanya dari sisi filologi dan sejarah, akan tetapi juga keberagamaan dan spiritual. Sehingga ialah yang kemudian dikenal dengan tokoh yang mengkombinasikan studi islam antara agama dan spiritual (religious and spiritual).
Konon katanya Louis terkenal sebagai seorang tokoh yang sangat pemalu, sehingga sangat sulit untuk mendapatkan fotonya. Ada pengalaman menarik dari penulis artikel ini, di saat ia pergi ke Maroko untuk mengikuti seminarnya Louis, ia telah melakukan beberapa agar ia bisa mengambil foto louis, tetapi ia tidak mengijinkannya. Sehingga ia mencuri kesempatan bersembunyi di balik tembok, akan tetapi ia selalu kehilangan kesempatan. Inilah barangkali salah satu bentuk dari konsentrasi dan ketajaman spiritual. Louis memang tidak ingin mengekspos dirinya terlalu berlebihan.
Ia berusaha untuk menjadikan cinta sebagai dasar setiap melakukan sesuatu. Ada sebuah cerita, ketika dia memberikan kuliah di Universita Harvard, ada salah satu mahasiswanya yang bertanya: “Berapa jumlah sufi yang ada di dunia Islam” (How many Sufis are there in the Islamic world). Louis menanggapinya dengan senyum dan balik bertanya: ”Berapa jumlah pencinta yang ada di Cambridge” (How many lovers are there in Cambridge). Ajaran sufi adalah persoalan cinta (Sufism is matter of love). Louis melanjutkan, “Jika kamu mampu menjelaskan berapa jumlah pecinta yang ada di Cambridge, maka aku akan menjelaskan berapa jumlah sufi yang ada di dunia Islam”. Sungguh ini adalah jawaban yang luar biasa, jawaban yang hanya muncul dari sarjana yang luar biasa.
Demikianlah tulisan yang dapat kami presentasikan, tentunya masih banyak kekurangan, oleh karenanya penulis mengharap masukan dan kritikan dari segenap pembaca. Dan di akhir tulisan ini penutip ingin mengutip sebuah ungkapan sebagaimana yang tertulis dalam artikel ini:
He whose heart is brought to life through love never dies
Our perpetuity is recorded in the pages of the cosmic book
(Siapa yang hatinya dihidupkan dengan cinta maka dia tidak akan mati)
(Keabadian kita direkam di halaman buku alam semesta)

Add a comment Maret 31, 2010

MENDEKATI ISLAM DARI SEGI AGAMA

Saya menemukan adanya perbedaan peran kitab suci melalui pendekatan agama secara histories. Dari satu tradisi keagamaan dengan tradisi keagamaan yang lain. Dalam salah satu karya terkenal Sacred Book of the East, yang diedit oleh Maz Muller pada akhir abad ke 19, ditemukan sebuah kasus dimana terdapat seratus lusin kitab suci yang kurang lebih sesuai dengan mayoritas para pemeluk keyakinan. Atau dalam agama Budha di mana seseorang dapat menemukan adanya overlapping dengan skriptur yang lainnya dalam bahasa yang berbeda. Ini menunjukkan permasalahan yang ditampilkan adalah sebagian besar tradisi agama lain tidak memiliki satupun kecocokan skriptur yang sama dengan bible.
Akan tetapi focusnya telah mengarah pada ekspektasi bahwa seseorang akan dapat memahami tentang segala hal penting dari agama lain bila seseorang tersebut mengetahui apa yang dikatakan dalam skriptur mereka. Konsep ini menarik , yang mengasumsikan bahwa semua ayat skriptur sama-sama berbobot tidak diperdebatkan lagi makna-makna dan tidak pernah ada perubahan selama berabad-abad dalam pemahaman ayat-ayat khusus. Ini berarti setiap kelompok agama sama-sama mengikuti anjuran yang termaktub dalam kitab suci.
Selain itu, kesulitan dalam melakukan evaluasi ketaatan agama tertentu perlu diperhatkan. Bagaimana defininisinya pun perlu diperhatikan. Karena hasilnya akan berbeda-beda secara dramatic sesuai dengan ukuran yang digunakan seseorang. Namun, kesulitan dalam kategorisasi dan pemaknaan agama menjadi tampak sulit untuk dihindari. Khususnya mengenai Islam meskipun ada upaya dari para sarjana, tingkat pengetahuan tentang Islam masih cukup rendah secara umum. Hal ini terjadi karena studi Islam masih mengabadikan tradisi studi akademik khusus mengenai peradaban masa lampau. Dalam studi Timur Tengah yang leibh modern yang didanai oleh pemerintahan Federal sebagai bantuan pemegang kebijakan, memiliki kecenderungan untuk memfokuskan isu politik kontemporer dalam pembiayaan tema mengenai subjek budaya dan humanistic. Di Amerika Utara, pertumbuhan studi agama bersamaan dengan ekspansi pada tahun 1960, studi Islam telah tertinggal jauh dibelakang yang lain. Terdapat 200 sarjana yang menyebut diri mereka secara spesialis dalam Islamic Studies. Meskipun terdapat sedikit lebih banyak jumlah spesialis dalam sejarah Timur Tengah dan politik namun kontribusi yang signifikan dan wawasan yang luas mengenai masyarakat muslim dan kebudayaan melalui publikasi mereka. Sayangnya, banyak informasi yang tidak dapat diakses untuk kalangan umum, karena pada jurnal-jurnal akademik yang sulit ditemukan atau terbatas pada publikasi universitas (kalangan sendirai).
Di sinilah tugas dari masyarakat kontemporer untuk menawarkan mengenai agama tanpa terpaku pada klaim-klaim otoritatif dengan mengeluarkan kelompok tertentu dari pembicaraan. Studi akademis agama menawarkan pisau analisa yang dapat membantu meciptakan diskursi civil mengenai Islam.
Dalam pembahasan selanjutnya saya mencermati adana diskoneksi yang mungkin muncul antara keyakinan agama dan identitas agama yang diilustrasikan secara baik oleh sebuah kisah mengenai seorang murid yang mengisi belangki registrasi dari universitas Amerika sementara di adalah seorang atheis. Di sini, statistic dan sensus figure agama harus dilihat secara ketat. Seluruh kategori adalah subjek untuk diperdebatkan dan kualifikasi untuk keanggotaan sangat bervariasi. Beberapa langkah untuk mengkondisikan sensus agama adalah diberlakukannya oleh pemerintah Kolonial Inggris di India pada tahun 1881. Adiministrator Inggris mengasumsikan bahwa dalam partai politik kemungkinan saja seseorang meyakini agama pada suatu waktu saja, akan tetapi di India sudah menjadi hal yang biasa. Selama berabad-abad seseorang menganut multi agama.
Ini bisa kita bandingkan dengan adanya konsiderasi diversity diantara penduduk muslim Eropa secara baik, hasil ini bukan hanya berasal dari beragam spectrum yang meliputi konservatif tradisional fundamentasi bahkan sekuratisme kiri. Perlu dikaji ulang pula adanya literature yang bersifat tidak orisinil yang masih banyak digunakan.

Add a comment Maret 31, 2010

Salsabila

Nez Arsip

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 8 pengikut lainnya.

Nez Facebook

Nez Yahoo

Nez Penanggalan

Agustus 2014
S S R K J S M
« Mei    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Klik favorite ^_^

Komentar Terakhir

Mitsubishi Cakung on PARFUM DAN PEREMPUAN: Sebuah K…
Umi Arifah Yunianing… on AKTA MENGAJAR YANG DIKEJA…
PEMIKIRAN PENDIDIKAN… on PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM K.H…
auliah siska on Manajemen Sumber Daya Man…
saswan49 on AKTA MENGAJAR YANG DIKEJA…

Pos-pos Terakhir

Halaman

Kategori

Arsip

Tulisan Teratas

Blogroll

Meta

Yuk Gabung di twitterku

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.