Hidup, Cita, Cinta, Syukur dan Sabar

April 12, 2010 nezzasalsabila

Aku adalah burung merak yang angkuh mengibaskan ekornya menantang semua yang memangdang. Aku diri angkuh dalam kesepian dalam ketidak bermaknaan hidup.

Aku adalah burung camar yang terbang di atas lautan luas, menukik tajam menyesap air laut berikut ikan-ikannya yang menyenangkan.

Ku biarkan air laut menyesak tubuhku dan aku terbang kembali tanpa basah.

Aku mencari sesuatu yang sampai saat ini tak segera ku temui, yang ketemui hari ini adalah ‘. . . . . . ‘

Hidup bagi ku adalah untaian mutiara. Segenap lelakon muncul dalam pementasan taman budaya mayaada, maka pada saat mutiara terjelma. Dan barang siapa mampu menjemputnya, maka diri telah menyinari jiwa dengan cahaya hingga kian beninglah ia.

Sungguh, betapa indahnya bumi ini jika setiap manusia berhati kaca. Yang sadar bahwa setiap kisah hanyalah pengabdian semata. Sabar dan syukur adalah tahta yang meninggikan derajatnya menembus batas-batas langit. Mulia di hadapan-Nya.

Mereka bertanya kepadaku

“Apakah itu ilmu,

apakah rahasianya,

apakah mutiara termahal dalam lautan.

tolong katakan pada kami”.

Ku jawab..

“Ini tempat-tempat terbitnya cahaya kami

ia terbenam dalam diri kami

ia pun terbit dari dalam diri kami

kami biarkan lautan di belakang kami

dan

darimanakah manusa tahu arah tujuan kami”.

(Ibrahim Ad-Dasuki)

Ingin ku nikmati desau angin yang menabuh pucuk-pucuk pinus. Ingin ku nikmati gemericik sungai, harumnya rerumputan, kicau burung-burung. Ah…semuanya, semua yang serba indah di alam ini. Yang diciptakan untukku, untuk kamu, untuk semuanya. Dengan begitu aku benar-benar bisa full tafakur alam.

Hidup di jaman segala macam serba materi seperti sekarang ini harus diiringi dan diimbangi dengan ketinggian ruhiyah. Maka jangan benar-benar melakukan olah jiwa, melakkan perjalanan ruhani. Lakukan dari yang paling mudah dan sederhana, keudian istiqomahlah. Jika itu mampu lakukanlah tambalah lagi dengan amalan lain. Begitu seterusnya. Nikmat…jika akhirnya kita mampu menjadi hamba Allah yang qonaah dalam urusan dunia dan berlomba-lomba dalam urusan akhirat. Dunia hanyalah sampingan sedang akhirat adalah tujuan. Dan betapa kenikmatan itu akan berlipat-lipat jika kita mampu sampai pada maqom orang-orang yang sabar dan bersyukur.

Ya Rabb ku . . . begitu lamban jalanku meninggalkan neraka-Mu dan begitu lambanjalanku menuju surga yang Engkau janjikan itu.

Ya Allah, jadikanlah dunia dalam genggam tanganku jangan Engkau jadikan dalam genggaman hatiku.

Ada sesuatu menyusup kalbuku. Ku biarkan bulir-bulir bening jatuh memecah rasa sesak yang menghimpit. DUh..malunya aku. Kenapa mesti menyesali pertemuan yang cuma sekejap. Kalau hidupmu juga sekejap. Harusnya aku bersyukur. Harusnya aku bahagia. Bukankah ini wujud pengabulan do’a?!

“Ya Allah, lindungilah hamba, jauhkanlah hamba dari kemaksiatan. Bukankah itu yang senantiasa ku lantunkan sebagai ungkapan khouf yang ada di dadad? Duh…malunya aku, yang masih punya 99,99..% ketertarikan rasa, ternyata!!!

Ku biarkan tangisku kian membuncah menikmati rasa syukur atas berkelebatnya sosok yang membuat gudah. Ya…syukur hanya berkelebat.

Geletar rinduku sirna seketika. Ku biarkan 99,99…% ketertarikanku. Namun tak ku biarkan terseret dan mengubahnya menjadi senandung-senandung cinta yang mengacak-acak dawai hati.

Ya…menjadi lebih baik adalah fakta. Hadir simpati wajar belaka. Menyuburkan cinta…itu petaka!!! Alhamdulillah dengan memuji keagungan-Mu ku basuh rinduku.

“Bersihkan hati Nis, istighfar sebanyak-banyaknya sebagai penghapus noda. “Laa ilaaha illallah” sebagai peneguh jiwa dan teruskan dzikirmu sesuai dengan petunjuk-Nya. Kalau memangjalan yang kau tempuh itu benar, tentu kau akan mendapatkan ketenangan. Berdo’alah selalu dalam kelurusan niatmu. “Rabbi adkhilni mudkhola shidqin”. Ya Allah masukkanlah aku dengan cara yang baik dan keluarkanlah aku dengan cara yang baik. Yakinlah, kalau jalan itu benar, Allah akan meneguhkanmu, jika jalan itu salah, Allah akan mengeluarkan mu”.

“Jangan lupa, bertanyalah pula pada orang-orang yang faqih. Jalan kebenaran tak akan bertentangan tak akan bertentangan dengan ilmu. Dahulukan ilmu sebelum kau beramal.”

“Hapus air matamu saudaraku, kebenaran kadang memang berliku”.

Jadilah enkau emas murni , bukan sepuhan. Yang tetap emas meski dibakar beribu kali.

Entry Filed under: Cathar,Tentang Hidupku, Cinta dan Luka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Salsabila

Nez Arsip

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 8 pengikut lainnya.

Nez Facebook

Nez Yahoo

Nez Penanggalan

April 2010
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Klik favorite ^_^

Komentar Terakhir

printer parts on Manajemen Sumber Daya Man…
Mitsubishi Cakung on PARFUM DAN PEREMPUAN: Sebuah K…
Umi Arifah Yunianing… on AKTA MENGAJAR YANG DIKEJA…
PEMIKIRAN PENDIDIKAN… on PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM K.H…
auliah siska on Manajemen Sumber Daya Man…

Pos-pos Terakhir

Halaman

Kategori

Arsip

Tulisan Teratas

Blogroll

Meta

Yuk Gabung di twitterku

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: