Evaluasi Pendidikan Islam

April 1, 2010 nezzasalsabila

EVALUASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN PROBLEMATIKANYA (Studi Kasus di MAN 2 Purwokerto )

I. PENDAHULUAN

Salah satu indicator keberhasilan Pendidikan Agama Islam di Indonesia adalah diakuinya Indonesia sebagai salah satu Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, meskipun Islam baru masuk ke Indonesia pada abad ke-7 dan merupakan sebuah negeri muslim yang unik karena letaknya yang sangat jauh dari pusat lahirnya Islam (Mekkah). Maka sangat tepat sekali apabila peran madrasah sangat berpengaruh di sini khususnya sebagai the central of excellence (meminjam istilah Drs. H. Raharjo, M. Ed).[1]

Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam kini ditempatkan sebagai pendidikan sekolah dalam system pendidikan nasional dan eksistensinya sudah cukup kuat beriringan dengan sekolah umum. Ini ditandai dengan lahirnya SKB tiga mentri (Mentri Agama, Mentri Pendidikan dan Kebudayaan, dan Mentri Dalam Negri). Saya tidak akan berpanjang lebar mengenai histories madarasah, tetapi diharapkan dapat memotivasi kita sebagai orang yang bersentuhan dengan dunia pendidikan untuk lebih sensitive terhadap problema yang ada sebagai upaya inovasi dalam system pendidikan Islam.

Salah satunya adalah mengenai proses evaluasi (penilaian) hasil belajar, khususnya untuk mata pelajaran agama (Qur’an Hadits, Aqidah Akhlaq, Fiqih dan Bahasa Arab) di MAN 2 Purwokerto, yang merupakan salah satu Madrasah Aliah unggulan yang ada di Purwokerto. Terlebih dengan program vocatsional life skill[2] yang dimilikinya. Tentunya ini sangat menarik guna mengetahui optimalisasi evaluasi antara kelas ketrampilan dan kelas non-ketrampilan. Ditambah dengan kebijakan kurikulum berbasis kompetensi yang menempatkan penilaian berbasis kelas sebagai pilihan MAN 2 Purwokerto untuk melakukan evaluasi.

Data yang disusun dalam makalah ini lebih banyak disusun berdasarkan hasil wawancara dengan Waka Kurikulum MAN 2 Purwokerto yaitu bapak Drs. Saefudin dan beberapa guru mata pelajaran agama yang ada di MAN 2 Purwokerto  pada tanggal 5 – 6 April 2008 dan angket yang diisi oleh 49 koresponden.

Diawal makalah ini dijelaskan teori dasar mengenai evaluasi dalam PP No. 19 Tahun 2005 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, pengertian evaluasi, penilaian berbasis kelas PBK, cirri dan criteria PBK, hal yang harus diperhatikan dalam PBK,. Bagian kedua dibahas mengenai implementasi penilaian berbasis kelas di MAN 2 Purwokerto yang mencakup sekilas mengenai MAN 2 Purwokerto, Tujuan dan fungsi penilaian di MAN 2 Purwokerto, Penilaian di kelas ketrampilan dan non ketrampilan, serta di akhiri dengan penyajian problematikan penilaian di MAN 2 Purwokerto beserta solusinya.

II. PEMBAHASAN

  1. Evaluasi dalam Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Pendidikan Nasional

Evaluasi berarti menilai (tetapi dilakukan dengan mengukur terlebih dahulu).[3] Evaluasi lebih dipahami sebagai penilaian karena dalam proses transformasi penilaian dibedakan atas tiga jenis, yakni sebelum, selama dan sesudah terjadi proses dalam kegiatan sekolah. Dalam hal ini para pelaksana pendidikan selalu berorientasi pada tujuan yang akan dicapai dan tinjauannya selalu diarahkan pada siswa secara perseorangan maupun kelompok.

transformasi

-Proses transformasi dalam penilaian-

Penilaian hasil belajar bisa dilakukan oleh pendidik, satuan pendidikan dan pemerintah. Yang dilakukan secara berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil dalam bentuk ulangan harian, tengah semester akhir semester dan kenaian kelas.[4]

Seperti yang telah di paparkan secara gambalang dalam UU No. 19 Tahun 2005 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan menengah terdiri atas penilaian hasil belajar oleh pendidik yang dilakukan secara berkesinambungan untuk memantau proses kemajuan dan perbaikan hasil melalui penilaian berbasis kelas untuk menilai pencapaian kompetensi peserta didik, bahan penyususnan laporan kemajuan hasil belajar dan memperbaiki proses pembelajaran dalam bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester dan ulangan kenaikan kelas. Khususnya untuk mata pelajaran pendidikan agama Islam, penilaian hasil belajar dlilakukan melalui pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan afeksi dan kepribadian peserta didik serta ujian ulangan dan atau penugasan uantuk mengukur aspek kognitif.

Sehingga sangatlah tepat dalam implementasi KTSP ini MAN 2 Purwokerto menerapkan system penilaian berbasis kelas yang bisa menekankan pada aspek afeksi dan kepribadian kepada aspek lain.

  1. Penilaian Berbasis Kelas
  1. Pengertian Penilaian Berbasis Kelas

Penilaian yang digunakan dalam mata pelajaran agama di MAN 2 Purwokerto adalah Penilaian Berbasis Kelas yang merupakan proses pengumpulan dan penggunaan informasi oleh guru untuk pemberian keputusan terhadap hasil belajar siswa berdasarkan tahapan kemajuan belajarnya seingga didapatkan potret atau profil kemampuan siswa yang sesuai dengan kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum.[5]

Penilaian kelas berorientasi pada kompetensi yang ingin dicapai dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Ketercapaain ini bisa mengacu pada patokan tertentu dan atau ketuntasan belajar yang dilakukan melalui berbagai cara, misalnya melalui portofolio, produk, proyek, kinerja tertulis atau penilaian diri.

  1. Ciri dan Kriteria Penilaian Kelas

Ciri penilaian kelas, yaitu:[6]

  1. Merupakan bagian integral sari proses pembelajaran
  2. Menggunakan strategi yang mencerminkan kemampuan anak
  3. Menggunakan acuan patokan atau criteria
  4. Memanfaatkan berbagai jenis informasi, cara alat penilaian serta system pencatatan yang bervariasi.
  5. Tingkat pencapaian hasil belajar diputuskan berdasarkan berbagai informasi
  6. Mempertimbangkan kebutuhan khusus siswa
  7. Bersifat holistis

Selain itu, penilaian kelas juga harus memperhatikan criteria sebagai berikut:[7]

  1. Validitas
  2. Reliabilitas
  3. Fokus Kompetensi
  4. Komprehensif
  5. Obyektif
  6. Mendidik
  1. Yang Harus Diperhatikan dalam melakukan penilaian kelas

Penilaian merupakan suatu proses yang dilakukan melalui perencanaan, pengumpulan informasi, pelaporan dan penggunaan informasi tentag hasil belajar siswa. Karena itu ada banyak hal yang harus diperhatikan, yaitu:

  1. Kompetensi yang ingin dicapai pada kurikulum
  2. Pilih alat penilaian yang sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
  3. Pertimbangkan kondisi anak
  4. Dilakukan secara terpadu dengan KBM
  5. Bisa dalam suasana formal dan informal
  6. Petunjuk pelaksanaan harus jelas dan dipahami siswa
  7. Kriteria penyekoran jelas
  8. Gunakan bentuk dan alat yang beragam
  9. Melalui pemberian tugas, pekerjaan rumah, ulangan, pengamatan, dsb.
  10. Sekilas Mengenai MAN 2 Purwokerto
  1. Implementasi Penilaian Berbasis Kelas di MAN 2 Purwokerto

MAN 2 Purwokerto mula-mula berasal dari PGAN (Pendidikan Guru Agama Negri) Purwokerto, yang didirikan oleh Depag, berdasarkan SK No. 18/A/L9/1975. Setelah adanya keputusan mentri agama dengan SK No. 64 tahun 1990, tepatnya tanggal 25 April 1990, maka secara resmi dinyatakan bahwa seluruth PGAN harus beralih fungsi menjadi Madrasah Aliyah.

Pada awal peralihan ini, MAN sempat mengalami perubahan yang sangat dramatis dalam masalah pendaftaran siswa bau. Karena pendaftar yang tadinya mencapai ribuan orang, tiba-tiba hanya ratusan saja. Hal ini dikarenakan untuk lembaga MAN ini telah ada di tiap-tiap kabupaten, bahkan di Purwokerto sudah ada berdiri MAN Purwokerto 1 dan MAN 2 Purwokerto. Berbeda dengan PGAN yang hanya ada satu di kabupaten Banyumas

Dalam proses penilaiannya, MAN 2 Purwokerto menerapkan system penilaian berbasis kelas, yang dilakukan oleh guru berdasarkan kemampuan dasar yang harus dikuasai peserta didik. Penilaian ini bisa dilakukan dengan berbagai hal, misalkan dengan portofolio, hasil karya, penugasan, kinerja, tes tertulis, dsb.[8]

  1. Tujuan dan Fungsi Penilaian di MAN 2 Purwokerto

Ada beberapa tujuan penilaian di MAN 2 Purwokerto , antara lain untuk mengetahui:[9]

  1. Kadar pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang diterima, melatih dan mengajak siswa untuk mengingat kembali materi yang telah diberikan.
  2. Siapa yang berkemampuan lebih dan yang kurang sehingga bisa diberi perhatian khusus
  3. Kemajuan belajar siswa, baik sebagai individu maupun anggota kelompok atau kelas setelah ia mengikuti proses pembelajaran di dalam maupun di luar kelas.
  4. Tingkat efektivitas dan efisiensi berbagai komponen pembelajaran yang dipergunakan oleh guru yang bersangkutan dalam jangka waktu tertentu.
  5. Tindak lanjut dari kegiatan pembelajara bagi siswa setelah ia mengikuti proses belajar mengajar.

Dari tujuan tersebut, menunjukkan bahwa pada dasarnya tidak hanya penilaian terhadap siswa tetapi juga seluruh komponen proses pembelajaran yang meliputi kinerja guru, metode dan media pembelajaran.

Sedangkan fungsi penilaian di MAN 2 Purwokerto , yaitu:[10]

  1. Untuk membantu siswa agar dapat mengubah atau mengembangkan perilakunya secara sadar serta memberi bantuan padanya cara meraih suatu kepuasan bila berbuat sebagaimana mestinya.
  2. Membantu agar dalam mempertimbangkan baik tidaknya atau sesuai tidaknya metode pengajaran serta membantu dan mempertimbangkan administrasinya.

Penilaian di MAN 2 Purwokerto dilakukan terhadap hasil belajar siswa berupa keompetensi sebagaimana yang tercantum dalam KBM mata pelajaran. Hal ini sesuai dengan PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pada Bab X Bagian Kedua Pasal 64 Ayat 2, bahwa penilaian digunakan untuk: menilai pencapaian kompetensi peserta didik, bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar, dan memperbaiki proses pembelajaran.

  1. Penilaian antara Kelas non-Ketrampilan dengan Kelas Ketrampilan di MAN 2 Purwokerto

Yang menjadi cirri khas MAN 2 Purwokerto adalah adanya kelas ketrampilan yang dilatar belakangi untuk membekali siswa dengan ketrampilan apabila tidak dapat melanjutkan ke perguruan tinggi. Sebagaimana yang disampaikan oleh Prof. Sutrisno bahwa 80% lulusan Madrasah Aliyah tidak dapat melanjutkan ke perguruan tinggi, tapi kebanyakan langsung kerja.[11] Dengan harapkan kelas ketrampilan ini dapat dijadikan salah satu kekuatan pembebas dari kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan ekonomi. Selain itu juga sebagai jawaban bahwa Madrasah Aliyah dapat mengantarkan peserta didik ke dalam dunia globalisasi yang menuntuk skill dalam setiap bidangnya. Sehingga peserta didik tidak lagi kebingungan bila dihadapkan dengan dunia kerja setelah lulus kuliah.

Secara umum proses penilaian di kelas ketrampilan pun baik dan cukup lancer sejajar dengan kelas biasa yang siswa-siswinya tidak mengambil kelas ketrampilan. Proses belajar mengajar yang menempatkan teori 30% dan praktek 70% merupakan wujud dari usaha peningkatan mutu pembelajaran. Ini pun dibuktikan dengan tingkat  kelulusan tahun 2008 ini 98% yang tidak berbeda jauh dengan kelas biasa yang mencapai kelulusan 99%. Hal ini dirasakan wajar karena kelas ketrampilan ditambah dengan praktek-praktek ketrampilan.

Dalam evaluasi pembelajaran di kelas ketrampilan selalu mengacu pada pertimbangan tiga ranah, yaitu afektif, kognitif dan psikomotorik. Kecuali untuk kelas X hanya pada dataran kognitif yang didalamnya sudah terinteraksi aspek yang lain. Adapun aspek kognitif di sini meliputi, hasil ulangan baik harian, mid semester, ulangan umum bersama, atau ujian akhir semester. Adapun aspek afektif meliputi, penilaian sikap peserta didik sewaktu didalam kelas saat proses belajar mengajar berlangsung dan atau ditempat praktek. Sedangkan aspek psikomotorik meliputi keahlian dan ketrampilan di dalam praktek.

  1. Problematika Penilaian di MAN 2 Purwokerto dan Solusinya

Bentuk penilaian erat kaitannya dengan kompetensi dasar, hasil belajar dan indicator hasil belajar yang ingin dicapai. Karena itu perlu dikembangkan bentuk penilaian yang sesuai dan variatif untuk memperoleh hasil yang tepat.

Misalnya dalam mata pelajaran agama ( Qur’an Hadits), untuk mengetahui ranah kognitif dilakukan dengan ulangan tertulis dalam bentuk essay, untuk mengetahui ranah psikomtorik dilakukan dalam bentuk lisan untuk membacakan ayat-ayat al-Qur’an yang telah ditentukan oleh guru. Untuk aspek afektif misalnya apakan siswa setuju atau tidak untuk selalu menghafalkan surat-surat pendek.

Untuk mengukur aspek kognitif peserta didik, sudah sesuai dengan PP No. 19 tahun 2005, bahwa untuk mengukur aspek kognitif peserta didik dilakukan dengan ujian, ulangan dan atau penugasan.[12] Di MAN 2 Purwokerto guru sudah menggunakan berbagai macam bentuk atau jenis penilaian, walaupun belum dioptimalkan.

-Bentuk dan jenis penilaian yang digunakan oleh guru-

Dari data di atas dapat kita lihat bahwa belum semuanya jenis atau bentuk penilaian digunakan oleh guru. Bahkan bisa dilihat pula bahwa bentuk penilaian yang paling sering digunakan guru adalah ulangan harian, padahal masih banyak bentuk penilaian yang bisa digunakan untuk memperoleh hasil evaluasi dengan lebih optimal.

Selain itu, aspek penilaian yang dicakup guru kurang tepat, karena sebagaimana yang tertera dalam PP No. 19 Tahun 2005 bahwa penilaian hasil belajar mata pelajaran agama dilakukan melalui pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan afeksi dan kepribadian peserta didik.[13] Namun pada implementasinya tercakup tiga aspek yaitu kognisi, afeksi dan psikomotorik. Seharusnya cukup dengan menilai aspek afeksi dan kognisi. Missal kepribadian untuk afeksi dan ulangan atau tugas untuk menilai aspek kognisi.

Penilaian afeksi pun belum begitu optimal sebagian besar dikarenakan kurangnya pemahaman guru mengenai penilaian afeksi. Sebagaimana telah penulis sebutkan di atas bahwa sebagian besar guru lebih memahami dan melaksanakan penilaian kognitif. Kebingungan dalam penentuan instrument pun menjangkiti para guru untuk mengevaluasi ranah afeksi siswa. Karena itulah beberapa penjelasan atau bahkan pelatihan bagi guru khususnya untuk memahamkan mereka prosedur peniliaian ranah afeksi sangat penting.

Kurangnya jam pelajaran khususnya untuk mengatasi lemahnya umat Islam ketika mengadakan lembaga pendidikan lebih suka mengikuti yang ada. Khususnya dengan pada pelajaran agama dan life skill bisa diatasi dengan penambahan jam di luar pelajaran regular. Yang bisa disesuaikan dengan waktu yang ada dan mengarahkan kepada pendirian Politeknik D1, D2, atau D3.

Singkatnya, ada beberapa hal yang menjadi problem dalam proses evaluasi di MAN 2 Purwokerto ini, yaitu:[14]

  1. Kurang komitenya guru dengan tugas dan hal yang semestinya harus dipahami dan diselesaikan dengan baik.
  2. Dibutuhkan waktu dan tenaga yang lebih banyak untuk melakukan penilaian proses tapi itu tidak cukup dimiliki oleh guru-gurunya.
  3. Guru masih kesulitan dalam menentukan evaluasi yang tepat bagi mata pelajaran yang diampunya, karena disatu sisi dari macam-macam penilaian guru belum menguasai sepenuhnya.
  4. Guru kesulitan dalam pembuatan report, karena yang mau diambil apakah nilai ulangan umum saja atau penilaian proses. Sebab dalam penilaian uum hanya menekankan pada aspek kognisi saja.
  5. Dengan adanya system penilaian ini, kadangkala guru merasa terbebani, karena menuntut mereka untuk lebih kreatif dan proporsional untuk berproses bersama dengan anak didiknya.
  6. Siswa dikelas terkesan sulit dikendalikan, karena pada system ini lebih banyak menekankan pada keaktifan siswa di kelas.
  7. Sarana dan media pembelajaran yang ada di MAN 2 Purwokerto belum sepenuhnya maksimal.
  8. Ada kesan dari beberapa guru yang mengatakan bahwa penilaian dalam system ini sangat ruwet administrasi.
  9. Kurang optimal dalam melakukan penilaian afeksi karena kurang pahamnya guru dan kebingungan dalam memilih instrument penilaian yang tepat

Dari permasalahan di atas ada beberapa solusi yang bisa dilakukan, antara lain:

  1. Memberi motivasi kepada guru agar lebih komit dengan tugasnya dan tidak merasa terbebani.
  2. Memberikan pelatihan atau penjelasan lebih agar guru paham penilaian berbasis kelas beserta seluruh aspeknya. Bisa berupa pembinaan kompetensi.akademik, maupun personal.
  3. Guru lebih banyak belajar untuk menggali informasi sedalam-dalamnya sehingga dapat lebih optimal dalam mempersiapkan proses penilaian ini.
  4. Re-understanding guru dan seluruh civitas akademika sekolah mengenai undang-undang dan peraturan pemerintah yang berkaitan, sehingga sesuai dengan peraturan yang berlaku.
  5. Guru hendaknya selalu memotivasi siswa dan berusaha membangkitkan prestasi belajar siswa
  6. Mengusahakan terpenuhinya berbagai fasilitas yang menunjang keberhasilan pendidikan khususnya yang berkaitan dengan media pembelajaran dalam rangka penerapan penilaian berbasis kelas.
  7. Kepala Sekolah mengadakan supervise secara teratur dalam rangka meningkatkan profesionalisme guru PAI
  8. Kepala sekolah mengadakan hubungan yang baik dengan seluruh civitas akademika sehingga apa yang direncanakan dan diprogramkan oleh sekolah dapat berjalan dengan baik.
  9. Mengadakan pelatihan untuk memahamkan guru mengenai penilaian afeksi yang bisa dilakukan secara sederhana oleh para guru dengan melakukan belajar bersama, atau yang lainnya.

Kelemahan kita adalah tidak mau membuat inovasi dalam pendidikan tapi lebih suka mengikuti yang sudah ada, tanpa memperhatikan kecocokan dan kebutuhan lembaga tersebut bagi masyarakat kita. Karena itu perlu pula kita mempersiapkan dan membuat lembaga pendidikan yang dibutuhkan oleh masyarakat dan berani menerebos system, sehingga proses evaluasi tidak hanya untuk men-cek hasil pendidikan tapi juga memberikan solusi yang terbaik dengan tidak berkubang pada kekeliruan yang sama menuju peningkatan mutu lembaga-lembaga pendidikan kita (sekolah).

III. KESIMPULAN DAN PENUTUP

  1. Penilaian hasil belajar bisa dilakukan oleh pendidik, satuan pendidikan dan pemerintah. Yang dilakukan secara berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil dalam bentuk ulangan harian, tengah semester akhir semester dan kenaian kelas.
  2. Dalam melaksanakan evaluasi pendidikan hendaknya dilakukan secara sistematis dan terstruktur. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa evaluasi pendidikan secara garis besar melibatkan 3 unsur yaitu input, proses dan out put. Apabila prosesdur yang dilakukan tidak bercermin pada 3 unsur tersebut maka dikhawatirkan hasil yang digambarkan oleh hasil evaluasi tidak mampu menggambarkan gambaran yang sesungguhnya terjadi dalam proses pembelajaran.
  3. Secara umum pelaksanaan proses belajar mengajar di MAN 2 Purwokerto sudah dapat dijalankan dengan baik, meski tidak semua alat dan bentuk penilaian dapat digunakan sepenuhnya oleh guru yang bersangkutan. Ini terjadi karena keterbatasan waktu yang ada, juga karena guru sendiri kadang masih merasa kesulitan untuk menerapkan semua bentuk maupun alat penilaian tersebut dalam proses belajar mengajar.
  4. Yang paling sering digunakan guru dalam penilaian adalah ulangan harian yaitu dengan tes tertulis.
  5. Sesuai dengan PP No. !9 tahun 2005 bahwa penilaian hasil belajar mata pelajaran agama dilakukan melalui dua aspek, yaitu aspek kognisi dengan ujian, ulangan dan atau penugasan dan dengan melakukan pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk mengetahui perkembangan afeksi dan kepribadian peserta didik.

Demikian sedikit pemaparan makalah yang sangat sederhana ini, semoga bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi), Jakarta: Bumi Aksara, 2006.

Junaedi, Mahfud dan Khaeruddin, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Konsep dan Implementasinya di Madrasah, Yogyakarta: Pilar Media, 2007.

Muslich, Masnur, KTSP Dasar Pemahaman dan Pengembangan, Jakarta: Bumi Aksara, 2007.

Redaksi Sinar Grafika, Permendiknas 2006 Tentang SI dan SKL, Jakarta: Sinar Grafika.

Tim Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan, Pengelolaan Pendidikan, Bandung: Universitas Pendidikan Islam

Wawancara dengan Bp. Saefudin (Waka Kurikulum), Bu Yusriah (Guru Qur’an Hadits), Bu Suryati (Guru Aqidah Akhlaq), Bu siti Mas’udah & Bp. Samingan (Guru FIqih) dan BU Nurul & Bp. Juni (Guru Bahasa Arab) MAN 2 Purwokerto pada tanggal 5 – 6 April 2008


[1] Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang.

[2] Program ini mencakup program ketrampilan tata busana, mabelair, perangkat hardware computer, reparasi AC dan kulkas serta alat elektronik rumah tangga. Program ketrampilan ini telah ada di MAN 2 Purwokerto sejak 5 tahun yang lalu dan baru ada  di kabupaten Banyumas bahkan karisidenan Banyumas. Tujuan pengadaan program ini adalah membekali siswa dengan ketrampilan yang sesuai dengan keinginan dan potensi para siswa, sehingga setelah lulus nanti siswa telah memiliki bekal ketrampilan tersebut.

[3] Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan Jakarta: Bumi Aksara, 2006, h. 3

[4] Lihat PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Bab X mengentai Standar Penilaian Pendidikan Bagian Kedua Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik.

[5] Masnur Muslich, KTSP Dasar PemahaMAN dan Pengembangan, Jakarta: Bumi Aksara, 2007, h. 78

[6] Ibid, h. 80

[7] MANsur,…h. 8o

[8] Khaerudin dan Mahfud Junaedi, KTSP Konsep dan Implementasinya di Madrasah, Yogyakarta: PILAR Media, h. 223

[9] Hasil wawancara dengan Bapak Saefudin tanggal 5 April 2008

[10] Ibid.

[11] Kuliah Manajemen Pendidikan Islam dan Problematikanya yang diampu oleh Prof. Dr. Sutrisno, M.Ag, pada tanggal 31 Mei 2008

[12] Lihat Bab X Pasal 64 ayat 3 point (b)

[13] Lihat Bab X Pasal 64 Ayat 3 Point (a)

[14] Hasil Wawancara dengan Bp. Saefudin (Waka Kurikulum), Bu Yusriah (Guru Qur’an Hadits), Bu Suryati (Guru Aqidah Akhlaq), Bu siti Mas’udah & Bp. Samingan (Guru FIqih) dan BU Nurul & Bp. Juni (Guru Bahasa Arab) MAN 2 Purwokerto pada tanggal 6 April 2008

About these ads

Entry Filed under: Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Salsabila

Nez Arsip

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 7 pengikut lainnya.

Nez Facebook

Nez Yahoo

Nez Penanggalan

April 2010
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Klik favorite ^_^

Komentar Terakhir

Umi Arifah Yunianing… on AKTA MENGAJAR YANG DIKEJA…
PEMIKIRAN PENDIDIKAN… on PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM K.H…
auliah siska on Manajemen Sumber Daya Man…
saswan49 on AKTA MENGAJAR YANG DIKEJA…
Nina Marlina on PARFUM DAN PEREMPUAN: Sebuah K…

Tulisan Terakhir

Halaman

Kategori

Arsip

Tulisan Teratas

Blogroll

Meta

Yuk Gabung di twitterku

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: