Arsip untuk April 1st, 2010




PERJALANAN HIDUP NABI MUHAMMAD SAW SEBAGAI SAUDAGAR DAN NABI AKHIR ZAMAN


I. PENDAHULUAN

Sebagai nabi akhir zaman, peran  Nabi Muhammad SAW sangatlah sempurna, tidak hanya sebagai negarawan, tetapi peranannya sebagai pemimpin umat dan penyebar agama. Tak habis untuk digali dan didiskusikan oleh seluruh umat manusia karena pribadi beliau yang lengkap, sehingga hampir seluruh dimensi kehidupannya telah dikupas dan dikaji. Ini bisa kita lihat betapa banyaknya literature yang akan kita temukan seputar kehidupan beliau sejak kanak-kanak hingga dewasa. Bisa dibilang tidak ada catatan  histories yang begitu lengkap tentang seorang nabi, kecuali biography Nabi Muhammad SAW. Karena detail dan lengkapnya itulah maka berbagai penafsiran baik yang pro maupun kontra lalu muncul.

Namun, sisi lain yang kurang mendapat sorotan adalah karir beliau sebagai saudagar[1]. Di dalam literature dan cerita di sekitar masa muda beliau banyak selukiskan sebagai al-Amin, As-Shiddique, dan pernah mengikuti pamannya berdagang ke Syam dan Siria. Uraian mendalam tentang kehidupan dan ketrampilan sebagai saudagar kurang memperoleh pengamatan untuk diteladani. Padahal sebelum diangkat menjadi Nabi, beliau telah meletakkan dasar-dasar etika, moral dan etos kerja yang mendahului zamannya. Dasar-dasar etika bisnis yang mendapat legitimasi keagamaan setelah beliau diangkat menjadi Nabi dan mendapat pembenaran akademis di awal abad 21. Prinsip bisnis modern seperti Customer Oriented, Strife for Excellent, kompetensi, efisiensi, trnasparansi, persaingan yang sehat, kompetitif, semuanya telah menjadi gambara pribadi Nabi Muhammad SAW ketika muda. Hingga begitu lekat diingatan penulis, bahwa Nabi Muhammad SAW memberikan mahar kepada Khadijah 40 ekor unta[2] yang setara dengan kurang lebih 300 juta rupiah mata uang kita sekarang, suatu hal besar dan keberanian yang hanya bisa dilakukan oleh orang terpandang. Dan itu dilakukan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW.

Banyaknya kecurangan yang dilakukan oleh produsen atau pedagang yang akhirnya merugikan konsumen dan masyarakat tentunya sangat menggugah hati. Bukankah Rasulullah telah memberikan tauladan yang jelas bagi kita semua dalam hal berbisnis, namun mengapa kecurangan itu masih saja terjadi. Kemungkinan besar hal itu karena kurang pahamnya pengusaha-pengusaha kita akan etika berbisnis Rasulullah. Karena itu berangkat dari title Nabi Muhammad SAW sebagai nabi akhir zaman, saya akan mengupas secara sederhana mengenai kesuksesan beliau sebagai saudagar yang nantinya akan melahirkan etika bisnis dalam Islam yang dicontohkan oleh beliau.

II. PEMBAHASAN

  1. Menelusuri Jejak Nabi Muhammad SAW: Sebagai Peletak Dasar Etika Bisnis dalam Islam

Kelahiran Nabi Muhammad merupakan peristiwa yang tiada bandingnya ‎dalam sejarah umat manusia, karena kehadirannya telah membuka zaman baru dalam ‎pembangunan peradaban dunia bahkan alam semesta (rahmatul-lil’alamin 21:107) ‎Beliau menjadi adalah utusan Allah SWT yang terakhir sebagai pembawa kebaikan dan ‎kemaslahatan  bagi seluruh umat manusia. Michael Hart dalam bukunya, ‎The 100 a Ranking of the Most Influential Person in History yang diterjemahkan oleh H. Mahbub Djunaidi menempatkan beliau sebagai orang nomor satu dalam daftar seratus orang yang ‎memiliki pengaruh yang sangat besar dalam sejarah. Kata Hart, “Muhammad Saw ‎terpilih untuk menempati posisi pertama dalam urutan seratus tokoh dunia yang paling ‎berpengaruh, karena beliau merupakan satu-satunya manusia yang memiliki ‎kesuksesan yang paling hebat di dalam kedua bidang-bidang sekaligus : agama dan ‎bidang duniawi”.

Nabi Muhammad SAW memiliki kebebasan dan memupuk kepercayaan diri melalui pengalaman yang menyenangkan ketika hidup dalam asuhan Halimah[3] ataupun masa pahit ketika ia lahir sebagai anak yatim, kemudian pada usia enam tahun dalam perjalanan menengok keluarga dan makam ayahnya di Madinah ibunya meninggal dunia. Setelah itu Baginda Nabi dibesarkan oleh kakeknya Abdul Muthalib dan Abu Thalib. Semuanya itu dijalani oleh Muhammad muda yang menguatkan psikologis beliau menjadi sosok yang kuat, dan paling kokoh sehingga suatu hari kelak menjadi landasan sikap yang menjadikan beliau sebagai saudagar yang ternama dan teladan.

Ketika usianya 12 tahun, beliau pergi ke Syiria untuk berdagang bersama pamannya sehingga beliau tumbuh sebagai wirausahawan yang mandiri. Ini ditunjukkan ketika pamannya bangkrut menjelang usia Nabi Muhammad SAW dewasa, beliau sudah mampu berdiri sendiri dengan melakukan perdagangan di kota Makkah. Kecerdasan, kejujuran dan kesetiaan Nabi Muhammad SAW adalah etika dasar bisnis yang sangat modern. Dan sifat inilah yang membuka peluang kemitraan antara Muhammad dengan para pemilik modal.

Salah satunya adalah Khadijah[4] yang menawarkan kerja sama dengan system bagi hasil. Kecakapan beliau mendatangkan keuntunan di semua bisnis yang ditangani beliau. Hingga nama beliau begitu dikenal di Yaman, Syiria, Busra, Iraq, Yordania dan kota-kota perdagangan di jazirah Arab setelah 20 tahun bergelut didalamnya.

Begitulah sosok Nabi Muhammad SAW dari muda hingga beliau berhasil menjadi saudagar yang berhasil dan dikagumi oleh semua orang dengan bekal kejujuran dan idealisme untuk bekerja keras dan adil pada para pelanggannya. Tentunya ini harus dicontoh oleh generasi saat ini khususnya para pengusaha yang ingin berhasil dalam menghadapi tantangan global sekarang ini dan pastinya diberkahi oleh Allah SWT.

B. Makna Nabi Muhammad SAW Sebagai Penutup Para Nabi

Jauh sebelum Frederick W. Taylor (1856-1915) dan Henry Fayol mengangkat prinsip manajemen sebagai suatu disiplin ilmu, Nabi Muhammad SAW sudah mengimplementasikannya dalam kehidupan dan praktek bisnisnya sehingga mengantarkan beliau menjadi saudagar yang sukses. Beliau dengan sangat baik mengelola proses, transaksi, dan hubungan bisnis dengan seluruh elemen bisnis serta pihak yang terlihat di dalamnya. Sebagaimana digambarkan oleh Prof. Afzalul Rahman[5] bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang pedagang yang jujur dan adil dalam membuat perjanjian bisnis. Beliau tidak pernah membuat pelanggannya komplen. Beliau selalu menjaga janjinya dan menyerahkan barang-barang yang dipesan dengan tepat waktu. Beliau senantiasa menunjukkan rasa tanggung jawab yang besar dan integritas yang tinggi dengan siapapun. Reputasi beliau sebagai seorang pedagang yang jujur dan benar-benar telah dikenal luas sejak beliau berusia muda.

Hal ini tentunya tidak luput dengan tugas beliau sebagai penutup para Nabi yang akhirnya diberi legitimasi keagamaan untuk dasar dan etika bisnis beliau setelah beliau diangkat menjadi Nabi. Ada beberapa unsure yang harus kita imani dalam makna Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi, yaitu:

1. (ناَسِخُ الرِّسَالَةِ) Menghapus Risalah sebelumnya

Risalah sebelumnya adalah semua kitab dan hukum yang pernah diturunkan oleh Allah swt. kepada para nabi dan dikabarkan oleh Allah swt. di dalam Al-Qur’an maupun di dalam As-Sunnah yang shahih.[6]

Semua kitab-kitab tersebut hukumnya telah di-nasakh (dihapuskan) oleh Al-Qur’an, kecuali beberapa hukum dan kisah. Dan semua yang belum di-nasakh tersebut disebutkan secara jelas dalam Al-Qur’an ataupun Al-Hadits

2. (مُصَدِّقُ اْلأَنْبِيَاءِ) Membenarkan Para Nabi Sebelumnya[7]

Membenarkan para nabi sebelumnya, maksudnya bahwa Islam melalui kitabnya, yaitu Al-Qur’an, membenarkan keberadaan para nabi yang ada sebelum Nabi Muhammad saw. dan meyakini bahwa Allah swt. menurunkan kitab-kitab kepada para nabi tersebut. Kita pun membenarkan seluruh berita yang ada dalam semua Kitab-kitab tersebut adalah dari Allah swt., selain yang telah diselewengkan dan diubah oleh para ahli kitab; serta mengerjakan semua hukumnya kalau ada yang belum di-nasakh (dihapuskan) oleh Al-Qur’an.[8]

3. (مُكَمِّلُ الرِّسَالَةِ) Penyempurna Risalah Sebelumnya.[9]

Bahwa Islam adalah agama terakhir, maka nabinya pun adalah nabi penutup, sehingga kitabnya, yaitu Al-Qur’an ini, diturunkan oleh Allah swt. untuk menyempurnakan semua risalah sebelumnya. Oleh karena semua risalah sebelum Nabi Muhammad saw. tersebut telah mengalami perubahan dan penyimpangan dari masa ke masa yang dilakukan oleh generasi setelahnya.[10]

4. (كاَفَّةٌ لِلنَّاسِ) Berlaku untuk Semua Manusia.[11]

Perbedaan syariat Nabi Muhammad saw. dibandingkan para nabi sebelumnya adalah bahwa syariat beliau berlaku untuk seluruh ummat manusia sampai akhir zaman. Hal ini berbeda dengan syariat para nabi yang lainnya yang hanya terbatas untuk umatnya saja.

Hal ini mengandung dua pelajaran bagi kita, yaitu: pertama, mengetahui hikmah Allah swt. dalam penetapan hukum bagi setiap umat, sehingga Allah swt. selalu menetapkan hukum yang sesuai bagi setiap umat. Kedua, oleh sebab itu hal ini meyakinkan kita bahwa Islam merupakan syari’at yang paling sempurna, paling lengkap, dan paling baik karena merupakan penutup dan penyempurna dari risalah semua nabi dan rasul.

5. (رَحْمَةٌ لِلْعاَلمَِيْنَ) Menjadi Rahmat bagi Seluruh Alam.[12]

Hal lain yang juga memperkuat kebenaran risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. adalah dampak dari dakwahnya. Dakwahnya yang telah dapat mengubah sebuah peradaban yang terbelakang, buta aksara, dan kejam, menjadi memimpin dan menguasai peradaban dunia serta mengisinya dengan gabungan antara ketinggian ilmu pengetahuan dan akhlak yang belum dapat ditandingi oleh peradaban modern saat ini sekalipun. Di antara hasil karya besar Nabi Muhammad saw. sebagai rahmat bagi alam semesta ini adalah sebagai berikut.

1. Memusnahkan segala jenis syirik, baik yang besar (menyembah berhala, sihir, ramal, dan sebagainya) maupun kecil (sumpah bukan dengan nama Allah, riya’, dan sebagainya); dan menggantinya dengan keimanan yang total kepada Allah swt.

2. Memusnahkan segala adat tradisi jahiliyyah yang menyimpang, seperti membuka aurat, ber-khalwat dengan lawan jenis, campur baur lelaki dan wanita (ikhtilath), dan sebagainya; dan menggantinya dengan akhlak yang mulia dan tuntunan moral yang luhur.

3. Menegakkan sebuah sistem kehidupan yang seluruhnya berdiri di atas tauhid, baik ekonomi, politik, sosial, kemasyarakatan, seni, olahraga, dan lain-lain.

4.. Melakukan sebuah revolusi total terhadap hati sanubari, pemikiran, dan peraturan hidup umat manusia.

5. Mempersatukan semua ras, semua suku, semua golongan manusia di bawah sebuah sistem yang berlandaskan tauhid, berhukumkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dan bertujuankan kebaikan dunia dan akhirat

Ketika kita beriman kepada Nabi Muhammad saw., maka kita akan mengetahui bahwa risalah beliau adalah risalah yang paling lengkap dan paling sempurna yang pernah diturunkan oleh Sang Pencipta kepada hamba-Nya. Akidah semua nabi adalah satu, yakni tauhid, tetapi syariah mereka berbeda-beda. Karena Nabi Muhammad saw. adalah nabi penutup, maka risalahnya adalah risalah yang terakhir dan syariatnya akan berlaku hingga akhir zaman. Tiada agama yang diridhai di sisi Allah swt. kecuali Islam, dan tidak ada nabi yang membawa syariat lain setelah Nabi Muhammad saw.

C. Etika dan Prinsip Manajemen Bisnis Rasulullah

Setelah kita pahami makna peran beliau sebagai nabi akhir zaman dan aktifitas beliau sebagai pengusaha yang sukses, dapat kita temukan etika bisnis yang tercakup didalamnya dasar-dasar etika dan prinsip manajemen bisnis yang digunakan oleh Banginda Rasulullah SAW, diantaranya yaitu:

  1. Jujur dan adil

Sikap inilah yang selalu ditunjukkan oleh nabi sehingga menjadi kunci sukses beliau untuk melakukan perjalanan perdagangan ke Yerussalem, Yaman dan tempat-tempat lain bahkan Nabi mendapat keuntungan di luar dugaan. Termasuk jujur pula kita tidak menipu, menunjukkan kesetiaan da tidak menyembunyikan cacat, amanah. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Majjah dari Ibnu ‘Umar r. a. bahwa “Kelak di hari kiamat, seorang muslim yang berprofesi sebagai pedagang yang terpercaya dan jujur akan dikumpulkan bersama orang-orang yang mati syahid.

  1. Bersikap sopan dan baik hati

Jabir meriwayatkan bahwa Rasulullah berkata. “Rahmat Allah atas orang-orang yang berbaik hati ketika ia menjual dan membeli dan ketika dia membuat keputusan.” (HR. Bukhari).

  1. Menghindari sikap berlebihan seperti banyak bersumpah

Tentang hal ini, nasehat Rasulullah, “Hindarilah banyak bersumpah ketika melakukan transaksi dagang, sebab itu dapat menghasilkan penjualan yang cepat lalu menghapus berkah” .  Nabi juga sangat membenci orang-orang yang dalam dagangnya menggunakan sumpah palsu. Beliau mengatakan bahwa pada hari kiamat nanti,  Allah tidak akan berbicara, melihatpun tidak kepada orang yang semasa hidupnya berdagang dengan menggunakan sumpah palsu.

  1. Menghindari riba

Ibnu Abi Ad-Dunya dan Al-Baihaqi meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah berkhutbah yang isinya menyinggung tentang riba dan akibatnya. Beliau bersabda, “Satu dirham yang diperoleh seseorang melalui riba lebih besar dosanya di sisi Allah daripada tiga puluh enam kali melakukan zina. Dan riba yang paling besar dosanya adalah riba dari harta seorang muslim.[13]

  1. Tidak menyepelekan hutang

Asy-Syafi’, Ahmad, al-Tirmidzi dan Ibnu Majjah meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda, “Nyawa orang beriman terkatung-katung karena utangnya sampai utannya itu dilunasi.

  1. Tidak melakukan wanprestasi kepada krediturnya.

Beliau kerap mengembalikan lebih besar nilainya dari pokok pinjamannya, sebagai penghargaan terhadap kreditur. Suatu saat pernah beliau meminjam sekor unta yang masih muda, kemudian menyuruh Abu Rafi mengembalikannya dengan seekor unta bagus yang umurnya tujuh tahun. Berikan kepadanya unta tersebut, sebab orang yang paling utama adalah orang yang menebus utangnya dengan cara yang paling baik.

  1. Tidak menimbun dan menetapkan tarif tinggi

Banyak hadis yang melarang penimbunan suatu barang. Di antaranya sebagaimana yang dituliskan Ibnu Hajar dalam bukunya al-Ittihaf, ath-Thabrani dan al-Baihaqi meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Sejahat-jahatnya hamba adalah orang suka menimbun. Jika Allah menetapkan bahwa harga turun, maka ia bersedih, dan jika Allah menetapkan naik, ia senang.”

  1. Murah hati dan Toleran[14]

Rasulullah pun bernah bersabda “Semoga Allah merahmati orang yang memberikan kemudahan ketika menjual membeli dan menagih utang. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Jabir r.a.

  1. Senantiasa mengingat Allah

Kesibukan urusan dunia (perniagaan) hendaknya tidak menghalangi kesibukan untuk mengingat akhirat.[15] Sebagaimana hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani bahwa “Orang yang mengingat Allah di tengah orang-orang yang lali bagaikan seorang prajurit di tengah orang-orang yang melarikan diri dari peperangan dan bagaikan orang hidup di tengah orang-orang yang mati.

III. PENUTUP

Demikianlah sekelumit sisi kehidupan Nabi Muhammad SAW dalam dunia bisnis yang mengantarkannya menjadi saudagar yang berlimpah berkah dan keberhasilan dan sarat dengan nilai-nilai kebaikan. Prinsip-prinsip modern, seperti tujuan pelanggan dan kepuasan konsumen, pelayanan yang unggul, kompetensi, efisiensi, transparansi, persaingan yang sehat dan kompetitif semuanya telah menjadi gambaran pribadi dan etika bisnis Nabi Muhammad SAW. Semoga para pebisnis modern, dapat meneladaninya sehingga mereka bisa sukses dengan pancaran akhlak yang terpuji.

Billahi fi sabilil haq fastabiqul khairat.

DAFTAR PUSTAKA

Afzalurrahman, Muhammad: Encyclopedia of Seerah, London: The Muslim Schools Trust, 1982.

Al-Hufy, Ahmad Muhammad, Akhlak Nabi Keluhuran dan Kemuliaannya, Jakarta: Bulan Bintang, 1978.

Al-Ismail, Tahia, Tarikh Muhammad SAW Teladan Pelaku Ummat, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1991.

Haekal, Muhammad Husain, Sejarah Hidup Muhammad, Jakarta: Pustaka Litera Anrat Nusa, 2001

http://www/pesantrenvirtual.com/indek.php?option=com_content&task=view&id=1152&Itemid=d Download pada tanggal  8 Januari 2008

Khan, Abdul Wahid, Rasulullah di Mata Sarjana Barat, Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2002.

Nadwi, Siyid Sulaiman, Muhammad The Ideal Prophet, India: Academy of Islamic Research & Publications, 1977.

Schimmel, Annemarie, Dan Muhammad Adalah Utusan Allah, Bandung: Mizan, 1993.

Syakbi, Mahmud, Kepribadian Rasulullah, Solo: Pustaka Mantik, 1997.

www.pikiran-rakyat.com/cetak/0404/30/renungan _jum’at.htm download pada tanggal 29 Desember 2007

Yasien, Asy-Syaikh Khalil, Muhammad di Mata Cendekiawan Barat, Jakarta: Gema Insani Press, 1989.


[1] Saudagar di sini dimaknai penulis sebagai wirausahawan, bisnismen atau pedagang.

[2] Lihat: http://www/pesantrenvirtual.com/indek.php?option=com_content&task=view&id=1152&Itemid=d Download pada tanggal  8 Januari 2008

[3] Halimah binti Abi-Dhu’ib adalah seorang wanita dari keluarga Sa’d yang menyusui Nabi Muhammad SAW hingga usia dua tahun. Atas kehendak ibunya Aminah Nabi Muhammad SAW tinggap pada keluarga Sa’d di pedalaman Sahara dalam pengasuhan Halimah sampai usia lima tahun. Bagi Halimah keberadaan Nabi Muhammad SAW di lingkungan keluarganya telah memberi berkah pada kehidupannya. Ternak kambingnya gemuk dan susunya pun bertambah. Allah SWT telah memberkahi semua yang ada padanya. Lihat: www.pikiran-rakyat.com/cetak/0404/30/renungan _jum’at.htm download pada tanggal 29 Desember 2007

[4] Khadijah binti Khuwailid adalah seorang wanita pedagang yang kaya dan dihorati, berasal dari keluarga Asad beliau bertambah kaa setelah dua kali beliau menikah dengan keluarga Makhzum, sehingga dia menjadi seorang penduduk Mekah yang terkaya. Lihat: Muhamad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Bogor: Pustaka Litera Antar Nusa, 2001. h. 62

[5] Afzalurrahman, Muhammad: Encyclopedia of Seerah Volume II buku ke tiga, London: The Muslim School Trust, 1982.

[6] Yaitu Shuhuf (lembaran) yang diturunkan kepada Ibrahim a.s. (Lihat QS. Al-A’laa (87): 14-19 dan An-Najm (53): 36-42], Shuhuf yang diturunkan kepada Musa a.s. [lihat QS. Al-A’laa (87): 14-19 dan An-Najm (53): 36-42], Taurat yang diturunkan kepada Musa a.s. (lihat QS. Al-Baqarah (2): 53, Ali Imran (3): 3, Al-Maidah (5): 44, dan Al-An’am (6): 91], Zabur yang diturunkan kepada Daud a.s. [lihat QS. An-Nisa’ (4): 164, Al-Kahfi (18): 55, dan Al-Anbiya’ (21): 105], dan Injil yang diturunkan kepada Isa a.s. [lihat QS. Ali Imran (3): 3 dan Al-Mai’dah (5): 46].

[7] Lihat Qs. Al-Baqarah ayat 101

[8] Lihat Qs. Al-Baqarah ayat 97 dan Al Maidah ayat 48

[9] Lihat Qs. Al Maidah ayat 3

[10] Berbagai penyimpangan itu diantaranya: mengubah arti dari lafazh (kata-kata) yang ada [lihat QS. Ali Imran (3): 75, 181, 182; An-Nisa’ (4): 160-161; Al-Maidah (5): 64], mengubah atau menambah baik kata, kisah, maupun hukum [lihat QS. Al-Baqarah (2): 79, Ali Imran (3): 79-80; Al-Maidah (5): 116-117], menyembunyikan dan menghilangkan berita-berita tentang Nabi Muhammad saw. dan kebenaran lainnya [lihat QS. Al-Baqarah (2): 89-90, 109, 146; Ali Imran (3): 71-72; Ash-Shaff (61): 6].

[11] Lihat Qs. Saba’ ayat 28

[12] Lihat Qs. Al Anbiya’ ayat 107

[13] Lihat pula Qs. Ali Ilmran ayat 130

[14] Lihat Qs. Al-A’raf ayat 56

[15] Lihat, Qs. An-Nuur ayat 37

2 komentar April 1, 2010

The School of Rock _Budaya Pop

The School of Rock (sekuel film komedi musical)

Dewey Finn (Jeff Black), yang bercita-cita menjadi bintang rock, dipecat dari bandnya. Akibatnya, ia harus menghadapi setumpuk utang dan depresi. Ia kemudian mengambil pekerjaan sebagai guru pengganti pada sebuah sekolah swasta. Ternyata, kehadirannya membawa pengaruh besar bagi perilaku murid-murid di sana.

Seperti dikutip Showbizspy, Selasa (15/7/2008), dalam School Of Rock 2: America Rocks, ceritanya akan tetap berfokus pada Finn yang kali ini mengajak murid-murid sekolah musim panasnya melakukan perjalanan lintas Amerika untuk menemukan sejarah rock, rap, blues, dan country.

Tak hanya Black saja, sutradara Richard Linklater dan produser Scott Rudin juga kembali turut serta dalam proyek tersebut.

Film School Of Rock pertama yang dirilis 2003 lalu itu berhasil masuk box office dengan meraih keuntungan USD30 Juta atau setara dengan 15 Juta poundsterling dan meraih USD131 Juta atau sebanding dengan 65,5 Juta poundsterling di seluruh dunia.

Budaya Pop (al-tsaqofah al-sya’biyyah: budaya kerakyatan)

Popular itu sesuatu yang berkaitan dengan orang kebanyakan atau manusia pada umumnya (common people).

Culture atau budaya merupakan produk pemikiran dan pemahaman manusia yang kemudian menjadi ways of life yang bergulir dari generasi ke generasi selanjutnya. Produk pemikiran ini kemudian diterjemahkan dalam bentuk simbol-simbol dan kode (tanda), misalnya saja, kode berprilaku, berpakaian, berbahasa, beragama dan ritual-ritual (upacara) lainnya.

Karena culture ini merupakan produk pemikiran panjang manusia, maka disana ada banyak culture, karena sejatinya pikiran manusia dengan kondisi dan lingkngan tertentu akan berbeda dengan pikiran manusia lainnya dengan kondisi dan lingkungan yang juga punya ciri khas tersendiri juga.

Ada keterkaitan erat antara popular culture dengan commercial culture (budaya komersil). Sesuatu sengaja diproduksi untuk konsumsi yang sifatnya massal (common people). Bisa dikatakan bahwa sesuatu itu diproduksi hanya berlandaskan keinginan pasar saja. Dengan demikian, hipotesa saya bahwa budaya pop hanya akan terjadi manakala keinginan pasar menjadi perhatian sentral. Singkatnya, ada selera mainstream di tengah-tengah masyarakat.

Secara sederhana, budaya populer-lebih sering disebut dengan budaya pop- adalah apapun yang terjadi di sekeliling kita setiap harinya. Apakah itu pakaian, film, musik, makanan, semuanya termasuk dalam bagian dari kebudayaan populer. Baik, sebelum kita lanjut lebih jauh, mari kita bahas definisinya satu persatu. Definisi dari popular/populer adalah diterima oleh banyak orang, disukai atau disetujui oleh masyarakat banyak. Sedangkan definisi budaya adalah satu pola yang merupakan kesatuan dari pengetahuan, kepercayaan serta kebiasaan yang tergantung kepada kemampuan manusia untuk belajar dan menyebarkannya ke generasi selanjutnya. Selain itu, budaya juga dapat diartikan sebagai kebiasaan dari kepercayaan, tatanan sosial dan kebiasaan dari kelompok ras, kepercayaan atau kelompok sosial.

Jadi, dapat didefiniskan kebudayaan pop adalah satu kebiasaan yang diterima oleh kelompok-kelompok sosial yang terus berganti/berkembang di setiap generasi

Popular culture itu sangat erat kaitannya dengan institusi bernama media, yakni media massa (mass media). Jika berfikir media, saya langsung punya persepsi kuat bahwa media itu tak bisa hidup tanpa iklan. Jika media melemparkan pesan ketengah-tengah masyarakat (audience) melalui televisi misalnya dan kemudian masyarakat luas menyukainya, maka pesan itupun akan diperbanyak produksinya. Makin tinggi pesan itu disukai khalayak audience, makin besar pula keinginan pengiklan untuk memasang iklan pada pesan tersebut, dan itu artinya makin besar pula suntikan nyawa buat media itu sendiri.

Jika pesan yang kemudian disukai khalayak ramai itu adalah berupa entertaintment, gossip, kisah hidup selebritis, bahkan film-film yang beraroma kekerasan, supersiti, dan agresi, maka itulah gambaran atau cermin budaya yang ada ditengah-tengah masyarakat.

Anak kecil yang sering menonton film yang berbau “kekerasan” maka ia akan terpola untuk menyelesaikan masalah dengan cara kekerasan pula, karena aroma kekerasan dalam film yang dia tonton akan menjadi sumber inspirasi buat dirinya. Bukan tidak mungkin, kekerasan ini akan menjadi bagian dari karakter dirinya. Bahaya juga kan !!!

Sesungguhnya pembahasan tentang budaya pop ini bisa merembet pula pada budaya konsumerisme, budaya dimana keseriuasan makin deficit, budaya dimana aspek hiburan menjadi kiblat dan bahkan agama baru, dan itu terjadi di zaman yang dijuluki modern ini.

Di samping produk-produk budaya pop sudah menggejala di bumi nuasantara ini, ternyata ramadhan pun saat ini sudah menjadi bagian dari budaya pop. Tidak hanya orang Islam aja yang memanfaatkannya, tapi non muslim juga. “Yang jualan kolak gak hanya orang Islam, tapi non-muslim juga. Inilah budaya pop,” papar penulis yang memiliki nama asli Ridho Al-Hamdi.

Tetapi yang jelas, budaya pop akan terus berkembang atau berganti dari setiap generasi. Kita bisa lihat perkembangannya, mari kita ambil Indonesia sebagai contohnya. Dari masa ’70-an hingga saat ini, budaya pop terus berganti seiring dengan perubahan generasi.

Bagaimana budaya pop bisa berkembang?Banyak hal yang bisa mempengaruhi perkembangan budaya pop di tengah masyarakat. Dari penelitian yang dilakukan oleh salah satu sekolah di Kanada, terdapat beberapa hal yang dapat mempengaruhi, antara lain: (1) Hiburan: nonton tv, bioskop, makan (2) Fashion: HP, anting, tattoo, motor, mobil, (3) Musik (4) Tempat nongkrong: mall, café (5) Olahraga: Baseball, bawling.

Remaja dan Budaya Pop

REMAJA adalah kelompok yang berjuang untuk menentukan identitas diri mereka yang

bersifat unik dalam hubungan antara dirinya dengan keluarga, komunitas kelompok sebaya, dan kelompok-kelompok lainnya yang lebih luas.

Periode perkembangan remaja sebagai periode yang bersifat tradisional, yaitu transisi antara masa anak dan masa dewasa, biasanya memiliki suatu budaya sebaya yang khas remaja.

Kehidupan sosial remaja berkembang lebih luas ke arah independensi dari pengaruh orangtua. Remaja sangat rentan atau mudah terpengaruh oleh tekanan social untuk berperilaku sama dengan teman-temannya.

Fenomena kebudayaan pop masuk tahun 70-an. Tandanya, industrialisasi barang-barang budaya seperti makanan, pakaian dan kesenian. Kebudayaan yang bercirikan global ini membawa paradigma konsumerisme.

Peranan media komunikasi sangat besar. Media sangat efektif sebagai pembentuk semangat konsumerisme masyarakat sekaligus alat dari produsen untuk memanipulasi kesadaran konsumen.

Mereka yang lahir tahun 80-an dan 90-an, saat ini telah menjadi remaja, pemuda, siswa sekolah menengah dan mahasiswa, hidup dalam hujan deras kebudayaan pop, terutama yang hidup di kota-kota besar.

Generasi itu hidup dalam multikulturalisme dan pluralisme nilai. Gaya hidup mereka adalah gaya hidup global, sehingga kerap sekali kehilangan identitas ketika harus merumuskan keindonesiaan.

Budaya pop adalah budaya yang ringan, menyenangkan, trendi dan cepat berganti. Kita bisa lihat bagaimana teman-teman remaja kita saat gandrung dengan tren yang muncul saat ini. Cepat sekali nyambungnya. Sudah tidak lagi berpikir tentang untung-rugi.

Ketika beberapa tahun lalu di AS sedang heboh Harry Potter, maka di sini juga wajib ikutan heboh. Begitu pula sekarang yang lagi ngetren Twillight, kurang seru kalau cuma diam saja. Semua serentak membahas tentang cerita vampir yang sedang jatuh cinta ini.

Memang tidak semua globalisasi itu buruk. Ada pula yang baik, namun mengapa yang buruk dan jelek cepat sekali menularnya. Budaya pop kerap dipopulerkan oleh selebriti lewat musik, film, iklan dan sinetron.

Kita sekarang butuh penguatan pondasi nilai suatu masyarakat kebudayaan pada remaja diperlukan. Ini diperlukan supaya para remaja tidak secara mentah terjebak ke dalam nilai-nilai budaya populer yang didominasi oleh budaya Barat.

Dalam upaya remaja mencapai kedewasaan diperlukan keseimbangan integratif antara nilai-nilai yang diwariskan oleh generasi sebelumnya dan perubahan kreatif yang dibutuhkan agar mereka dapat terus hidup dalam konteks tuntutan di zaman mereka.

Pop culture alias budaya populer memang selalu menarik untuk dikaji. Bagaimana tidak, jika ditelaah dengan pengamatan yang mendalam, keberadaan budaya populer bisa jadi merupakan refleksi dari keberadaan peradaban manusia itu sendiri, pada waktu itu. Dalam artian, jika ingin melihat fenomena yang sedang terjadi cukup amati melalui budaya yang tengah berkembang.

Namun di lain pihak, keberadaan budaya populer sering dianggap sebagai sebuah kewajaran. Maksudnya, apapun fenomena yang tengah berlaku dalam masyarakat cenderung dianggap hanya sebagai dampak dari perkembangan masa. Maka dari itu, nilai lebih dari sebuah budaya populer sering terabaikan.

Jika diamati lebih dalam, segala bentuk perkembangan dapat saja dikategorikan sebagai budaya populer. Perkembangan musik, misalnya, merupakan salah satu contoh yang paling dekat. Yang menarik dari kasus ini adalah bahwa ternyata musik dinilai sebagai hal yang dianggap dekat dengan remaja, dan disisi lain, remaja merupakan suatu bahasan yang selalu mengundang ransangan untuk selalu ditelaah.

(Perkembangan music): terutama pada lirik akhir-akhir ini, jika diamati lebih detil, memberikan satu benang merah yang bisa dicatat dan dianalisa. Pada lirik lagu saat ini ditemukan sebuah kelugasan. Semua hal yang ingin disampaikan lagu tersebut dirancang sedemikian rupa agar mudah di pahami hanya dengan sekali dengar. Dan fenomenanya, justru pada saat ini, lagu dengan lirik terbuka seperti itulah yang diterima oleh kalangan remaja.

Temanya pun tak terlalu jauh dari lagu-lagu lainnya yaitu cinta. Namun cinta yang diangkat dalam lirik lagu remaja saat ini adalah cinta yang dikhianati atau merupakan wujud dari cinta segitiga. Sebut saja ketahuan, Lelaki Cadangan, Dirimu Dirinya, Lelaki Buaya Darat dan lagu lain dengan tema yang sejenis. Semua makna yang ingin disampaikan diatur selugas mungkin.

Jika dilogikakan, tak ada yang salah dengan lagu dan lirik-lirik tersebut. Hanya saja seharusnya fenomena tersebut dapat ditanggapi sebagai refleksi dan dijadikan sebagai sarana acuan untuk menilai masyarakat terutama remaja.

Lirik yang lugas dan digemari remaja bisa jadi merupakan refleksi dari remaja itu sendiri. Maksudnya, lirik yang lugas merupakan perlambang dari sesuatu yang instan, tak perlu cernaan dan dapat di “makan” semaunya. Fenomena ini tampaknya memperjelas kecenderungan remaja saat ini yang lebih memilih gaya hidup konsumtif. Remaja tanpa berpikir panjang akan berlaku sekehendaknya sehingga jika dibawakan ke ekonomi mereka adalah makanan empuk para produsen.

Tak hanya mengacu dari lirik, kehidupan konsumtif remaja dengan sangat jelas dapat dilihat dalam kehidupan nyata. Mereka cenderung mengkonsumsi sesuatu yang bersifat instan. Jangankan untuk membelanjakan sesuatu, bahkan untuk mendapatkan sesuatu dari -sebut saja- orang tua, mereka lebih memilih instan. Ini harus ada, itu harus punya, bagaimanpun caranya. Makanya tidak salah, jika para pembuat lagu membaca fenomena ini dan menyajikannya dalam bentuk lirik yang juga instan, mudah dicerna, mudah diterima dan, yang penting, sangat me-remaja.

Di sisi lain, lirik instan dan remaja bisa juga dilihat dari perspektif lain. Lirik yang berkembang saat ini (yang bertemakan cinta segitiga, selingkuh dan semacamnya) jika benar merupakan refleksi remaja, maka akan menimbulkan pertanyaan besar jika dikaitkan dengan budaya yang selama ini dianut: budaya Minangkabau, misalnya.

Dalam budaya Minang ditemukan bahwa, secara tidak langsung, dianggap hubungan yang terjadi antara dua anak manusia yang berlainan jenis kelamin merupakan suatu hal yang dianggap kurang enak dipandang mata, bahkan bisa jadi dianggap tabu. Jika terdapat hubungan seperti di atas, maka pastilah mereka yang menjalaninya akan sembunyi-sembunyi, jangan sampai ketahuan oleh orang banyak apalagi oleh mamak. Layaknya seperti itu.

Namun jika ditilik dari lirik lagu yang sedang berkembang, maka rasa malu untuk berhubungan dengan lawan jenis sudah pudar. Jangankan untuk menjalani hubungan biasa, bahkan untuk berselingkuh pun diekspos dengan semaunya. Dan anehnya, lirik seperti itulah yang tengah laku di pasaran.

Pertanyaan yang muncul adalah, jika benar budaya populer merupakan refleksi dari kehidupan nyata yang sedang berlangsung, apakah ini merupakan gambaran dari kemerosotan remaja? Apakah fenomena ini menyimbolkan dekadensi moral?

(Film): Bagi remaja, tampil gaul dan ngetren adalah fardhu. Nah, budaya pop yang lagi ngetren saat ini adalah tentang pergaulan, cinta, dan fenomena bintang idola. Maka nggak heran dong kalo film-film dan nyanyian bertema pergaulan remaja laris manis diserbu penggemarnya.

Sobat muda muslim, terus terang aja kita prihatin dengan fenomena ini. Kita, remaja muslim, yang seharusnya mewarnai kehidupan ini dengan Islam, ternyata banyak di antara kita yang justru mewarnai kehidupannya dengan gaya hidup di luar Islam. Pacaran, seks bebas, juga narkoba. Menyakitkan sekali. Sebab, kita nyaris sudah tak punya lagi harga diri dan citra diri sebagai remaja muslim. Apa sekarang harga diri dan citra diri islami bukan lagi kebanggaan setiap remaja muslim? Rasanya nyesek banget kalo jawabannya “iya”. Itu artinya kita udah kalah perang. Meski masih hidup, tapi seperti kata Bung Ebiet G. Ade, kita itu seperti mati dalam hidup. Kebayang nggak sih, walah?

Iya dong. Sebab, udah nggak punya lagi identitas diri yang bisa dijadiin sebagai ukuran keberadaan dan kebanggaan seorang muslim. Celaka banget kan? Itu dia, yang bikin kita-kita ketar-ketir nyaksiin tingkah sebagai besar teman-teman remaja muslim. Kalo dibiarkan, bisa tambah ruwet sayang. Suer, apa nggak ada teladan Islam yang bisa dijadikan contoh?

Padahal, kita adalah umat yang mulia. Bahkan Allah telah meridhoi Islam sebagai agama kita. Nggak layak dong kalo berbuat seperti mereka-mereka yang telah dihinakan oleh Allah Swt. Firman Allah Swt.:

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (TQS al-Midah [5]: 3)

Jangan latah!

Derasnya arus informasi yang datang silih berganti bagai gelombang ini, bukan tak mungkin bakal menghadirkan petaka. Akibat yang sudah jelas kentara adalah sebagian dari kita hanyut terbawa budaya yang mendominasi kehidupan kita. Seluruh aktivitas yang kita lakukan, adalah wujud dari perilaku pembawa budaya tersebut. Raga boleh berbeda, tapi pikiran bisa sama dengan pikiran para pengusung budaya pop Barat. Nama bisa islami, tapi sayang jiwanya udah sesuai dengan gaya hidup yang dijajakan Barat. Jangan sampe deh. Naudzu billahi min dzalik!

Bener sobat, meski dalam contoh kasus adalah film Korea, India, CIna, Amerika pun sinetron lokal, tapi nggak ada bedanya dengan film-film buatan Hollywood. Yakni menjajakan gaya hidup sekularisme, khas ideologi kapitalisme. Bertentangan dengan Islam? Jelas dong.

Budaya yang dibangun dari sebuah kerusakan, maka hasilnya juga nggak jauh-jauh amat dari kerusakan. Budaya percintaan dan pergaulan bebas remaja yang ditampilkan dalam Meteor Garden dan juga termasuk dalam Siapa Takut Jatuh Cinta adalah jiplakan asli dari gaya hidup Amrik. Bener lho. Dan yang menggandrunginya saat ini adalah remaja Islam. Menyedihkan banget, sobat.

Sobat muda muslim, agak aneh memang. Kita ini suka latah ikut-ikutan dengan gaya yang lagi tren. Celakanya, adakalanya nggak ngerti dengan apa yang sedang dilakoninya. Wah, itu sih kayak kerbau dicocok hidungnya dong? Bener. Sebagian teman remaja ada juga yang tampil bak idola mereka (baca: njiplak abis).

Sebagai sebuah hiburan, film emang punya pesona. Tapi hati-hati sobat, sebab tidak semua yang indah dan gemerlap itu menghadirkan kebaikan. Bukan tak mungkin justru malah menghadirkan bencana. Emang sih, nggak langsung terasa akibatnya. Tapi kan, lambat laun, kamu pun akan bersikap seperti tokoh idola kamu dalam film tersebut. Sebab, kalo pemahaman udah nyetel dalam diri kamu, maka tingkah lakumu pun akan match banget dengan pemahaman kamu tentang sesuatu. Bahaya kan?

Inilah yang kita khawatirkan. Memang, itu hanyalah tontonan, tapi bukan berarti boleh ditelan mentah-mentah setiap gaya hidup yang ditampilkan di sana. Tepatnya, kita kudu punya filter (cieee…). Iya, jadi kita bisa memilih dan memilah. Mana yang baik, dan mana yang buruk. Yang baik kita ambil, yang buruknya kita tendang jauh-jauh. Gampang kan?

Jadi mulai sekarang bentengi diri kamu dengan ajaran Islam. Kalo belum? Mari kita benahi bersama. Nggak ada alasan untuk malas mengkaji Islam. So, semarakkan masjid-masjid dan sekolah dengan kajian Islam. Masuk akal kan? Mari berjuang sobat! Tinggalkan maksiat!

Remaja Islam, Remaja Dakwah

Dakwah? Hmm.. kok kayaknya berat banget kedengarannya ya? Lho, emangnya kenapa? Sebagian teman remaja biasanya denger atau ngucapin kata dakwah terasa sangat berat. Telinga pekak en lidah kelu dan yang terbayang di benaknya pasti urusannya dengan jenggot, kopiah, baju koko, sarung, dan jilbab. Well. Nggak salah-salah amat sih. Cuma nggak lengkap penilaiannya.

Lagian juga terkesan adanya pemisahan antara dakwah dan kehidupan umum, gitu lho. Kesannya kalo dakwah adalah bagiannya mereka yang ada di kalangan pesantren atau anak-anak ngaji aja. Anak-anak nongkrong sih nggak tepat kalo berurusan dengan dakwah. Dakwah kesannya jadi tugas mereka yang hobinya dengerin lagu-lagu nasyid macam Demi Masa-nya Raihan. Bukan tugas anak-anak yang hobinya dengerin lagu-lagu pop macam Terima Kasih Cinta-nya Afgan. Halah, itu salah banget, Bro. Nggak gitu deh seharusnya. Sumpah.

Gini nih, sebenarnya urusan dakwah atau tugas dakwah jadi tanggung jawab bersama seluruh kaum muslimin. Cuma, karena tugas dakwah ini cukup berat dan nggak semua orang bisa tahan menunaikannya, jadinya dakwah secara tidak langsung diserahkan kepada mereka yang ngerti aja. Anggapan seperti ini insya Allah nggak salah. Cuma, kalo dengan alasan seperti ini lalu kaum muslimin yang belum ngerti atau masih awam tentang Islam jadi bebas untuk nggak berdakwah, atau nggak mau terjun dalam dakwah, itu tentu salah, Bro. Why? Karena tetap aja punya kewajiban untuk belajar. Tetap punya kewajiban mencari ilmu. Jadi, nggak bisa bebas juga kan? Malah kalo nekat nggak mau belajar dan nggak mencari ilmu, hal itu dinilai berdosa, man! Bener.

Baginda kita, Rasulullah Muhammad saw. bahkan menyatakan bahwa aktivitas belajar dan mencari ilmu adalah kewajiban bagi seluruh kaum muslimin dari buaian ibu hingga ke liang lahat. Kalo mencari ilmu itu adalah wajib, berarti bagi yang nggak mencari ilmu selama hidupnya, jelas berdosa dong. Allah Swt. bahkan menjamin orang-orang yang beriman dan berilmu akan diberikan derajat lebih tinggi dibanding orang yang nggak berilmu (apalagi nggak beriman). Firman Allah Swt.:

“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Mujâdalah [58]: 11)

Bro, emang bener banget. Urusan dakwah ini sangat erat hubungannya dengan tingkat keilmuan. Dakwah itu jelas membutuhkan ilmu. Jadi, betul kalo dikatakan bahwa tugas berdakwah hanya diberikan kepada mereka yang udah menguasai ilmu agama. Tapi, buat kita yang belum menguasai ilmu agama secara mantap bukan berarti nggak ada kewajiban dakwah. Sebab, rasa-rasanya untuk ukuran sekarang nih, nggak mungkin banget ada kaum muslimin yang nggak ngerti sama sekali tentang Islam. Pasti deh, satu keterangan atau dua keterangan dalam ajaran agama Islam sudah pernah didengarnya dan menjadi pengetahuannya. So, sebenarnya tetap punya kewajiban nyampein dakwah meskipun cuma sedikit yang diketahui. Kalo pengen lebih banyak tahu tentang Islam, ya tentu saja kudu belajar lagi dan mencari ilmu lagi. Sederhana banget kan solusinya? Insya Allah kamu pasti bisa ngejalaninya, asal kamu mau. Yakin deh.

Mengapa dakwah itu wajib?

Jawabnya gini, sebab Islam adalah agama dakwah. Salah satu inti dari ajaran Islam memang perintah kepada umatnya untuk berdakwah, yakni mengajak manusia kepada jalan Allah (tauhid) dengan hikmah (hujjah atau argumen). Kepedulian terhadap dakwah jugalah yang menjadi trademark seorang mukmin. Artinya, orang mukmin yang cuek-bebek sama dakwah berarti bukan mukmin sejati. Bener, lho. Apa iya kamu tega kalo ada teman kamu yang berbuat maksiat kamu diemin aja? Nggak mungkin banget kan kalo ada temen yang sedang berada di bibir jurang dan hampir jatuh, nggak kamu tolongin. Iya nggak sih?

Boys and gals, bahkan Allah memuji aktivitas dakwah ini sebagai aktivitas yang mulia, lho. FirmanNya:

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim” (QS Fushshilat [41]: 33)

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS an-Nahl [16]: 125)

Menyeru kepada yang ma’ruf (kebaikan) dan mencegah dari perbuatan munkar merupakan identitas seorang muslim. Itu sebabnya, Islam begitu dinamis. Buktinya, mampu mencapai hingga sepertiga dunia. Itu artinya, hampir seluruh penghuni daratan di dunia ini pernah hidup bersama Islam. Kamu tahu, ketika kita belajar ilmu bumi, disebutkan bahwa dunia ini terdiri dari sepertiga daratan dan dua pertiga lautan. Wah, hebat juga ya para pendahulu kita? Betul, sebab mereka memiliki semangat yang tinggi untuk menegakkan kalimat “tauhid” di bumi ini. Sesuai dengan seruan Allah (yang artinya): “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah.” (QS al-Baqarah [2]: 193)

Kini, di jaman yang udah jauh berubah ketimbang di “jaman onta”, arus informasi makin sulit dikontrol. Internet misalnya, telah mampu memberikan nuansa budaya baru. Kecepatan informasi yang disampaikannya ibarat pisau bermata dua. Bisa menguntungkan sekaligus merugikan. Celakanya, ternyata kita kudu ngurut dada lama-lama, bahwa kenyataan yang harus kita hadapi dan rasakan adalah lunturnya nilai-nilai ajaran Islam di kalangan kaum muslimin. Tentu ini akibat informasi rusak yang telah meracuni pikiran dan perasaan kita. Utamanya remaja muslim. Kita bisa saksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa banyak teman remaja yang tergoda dengan beragam rayuan maut peradaban Barat seperti seks bebas, narkoba, dan beragam kriminalitas. Walhasil, amburadul deh!

Itu sebabnya, sekarang pun dakwah menjadi sarana sekaligus senjata untuk membendung arus budaya rusak yang akan menggerus kepribadian Islam kita. Kita lawan propaganda mereka dengan proganda kembali. Perang pemikiran dan perang kebudayaan ini hanya bisa dilawan dengan pemikiran dan budaya Islam. Yup, kita memang selalu “ditakdirkan” untuk melawan kebatilan dan kejahatan.

Sobat muda muslim, Islam membutuhkan tenaga, harta, dan bahkan nyawa kita untuk menegakkan agama Allah ini. Dengan aktivitas dakwah yang kita lakukan, maka kerusakan yang tengah berlangsung ini masih mungkin untuk dihentikan, bahkan kita mampu untuk membangun kembali kemuliaan ajaran Islam dan mengokohkannya. Tentu, semua ini bergantung kepada partisipasi kita dalam dakwah ini.

Coba, apa kamu nggak risih dengan maraknya pergaulan bebas di kalangan remaja? Apa kamu nggak merasa was-was dengan tingkat kriminalitas pelajar yang makin tinggi? Apa kamu nggak kesel ngeliat tingkah remaja yang hidupnya nggak dilandasi dengan ajaran Islam? Seharusnya masalah-masalah model beginilah yang menjadi perhatian kita siang dan malam. Beban yang seharusnya bisa mengambil jatah porsi makan kita, beban yang seharusnya menggerogoti waktu istirahat kita, dan beban yang senantiasa membuat pikiran dan perasaan kita nggak tenang kalo belum berbuat untuk menyadarkan kaum muslimin yang lalai.

Sesungguhnya pembahasan tentang budaya pop ini bisa merembet pula pada budaya konsumerisme, budaya dimana keseriuasan makin deficit, budaya dimana aspek hiburan menjadi kiblat dan bahkan agama baru, dan itu terjadi di zaman yang dijuluki modern ini.

Saya pikir itu saja, untuk pembahasan kali ini tentang budaya pop. Paling tidak pembahasan super simple ini bisa menjadi start untuk membuka jendela dunia secara lebih lebar dan lebih leluasa dalam melihat dunia. Masukan konstruktive dari teman-teman akan saya apresiasi sekali dan akan menjadi second opinion yang harus saya pelajari dan sesuatu yang sangat saya perhitungkan. Salam pergerakan baut semuanya dari suara sepoi-sepoi di padang pasir.

_dari berbagai sumber_

Nezza_salsabila

2010

2 komentar April 1, 2010

PEMERINTAHAN NABI DAN PERUBAHAN SOSIAL


  1. PENDAHULUAN

The ensyslopedia Brittanica says that:

“Muhammad is the most successful of all Prophets and religious personalities”.

The personalty of Mohammad! It is most difficult to gen into the truth of it. Only a glimpse of it I can cath. What a dramatic succession of picturesque scenes. There is Mohammad the Prophet, there is Mohammad the General; Mohammad the King; Mohammad the Warrior; Mohammad the Bussinessman; Mohammad the Preacher; Mohammad the Philosopher; Mohammad the Statesman; Mohammad the Orator; Mohammad the Reformer; Mohammad the Refuge of Orphans; Mohammad the Protetor of Slaves; Mohammad the Emancipator of Woman; Mohammad the Law-Giver; Mohammad the Judge dan Mohammad the Saint.

Itulah sosok Rasulullah yang sangat dihormati dan diagungkan sepanjang masa. Saat umat dalam kegelapan dan kehilangan pegangan hidupnya Nabi Muhammad Saw datang sebagai rahmatan lil’aamin. Nabi Muhammad Saw melahirkan peradaban baru yang demokratis, egaliter dan manusiawi[1]. Perjuangan dan model kepemimpinan Nabi Muhammad Saw yang membela rakyat kecil dan mendahulukan kepentingan public, patut kita aplikaskan.

Kebesaran Nabi Muhammad Saw sebagai seorang tokoh dunia yang berhasil mengubah keadaan masyarakatnya melalui pemerintahan beliau dan perubahan sosial yang dilakukan beliau sudah diakui oleh seluruh dunia dan tertoreh dalam  tulisan pujangga dan filosofis dunia. Seperti Muhammad Iqbal, Thomas carley, Arnold Toynbee, Will Durant da Michael Hart yang menuliskan pujian yang sangat agung. Bahkan M. Hart meletakkan Nabi Muhammad Saw sebagai tokoh nomor satu di antra seratus took yang paling berpengaruh di dunia. Will Durant menganggap Nabi Muhammad Saw sebagai pribadi yang lengdap, karena beliau adalah seorang sosiolog, psikolog, politisi, agamawan juga seorang pemimpin besar. Asghar Ali Enginger juga menegaskan bahwa  sosok pemimpin yang sangat redah hati, tapi berhati luhur dan berotak luar biasa cerdas. Dan meminjam istilah Antonio Gramsci dan Ali Syari’ati beliau adalah sosok intelektual organic dan rausyan fikr yang ideal. Karena dalam perjalanan didupnya, beliau berhasil menyatukan idealisme intelektual dan aktivisme sosial sebagai pemandu perjuangan dan visi gerakan langkahnya dalam menjalani kehidupan ini.

Berangkat dari pemahaman itu saya mengawala  pembahasan saya dari situasi pemerintahan Nabi Muhammad Saw dan situasi masyarakat Arab menjelang lahirnya Islam dengan penekanan khusus pada aspek politik, ekonomi, sosial, agama dan sastra.. Lalu dilanjutkan dengan berbagai peran Nabi Muhammad Saw baik itu sebagai nabi, rasull, pendiri bangsa, pemimpin masyarakat, politik, militer, pendidikan dan sebagai perancang ekonomi. Dan di akhiri dengan sajian kondisi masyarakat dan perubahan sosial yang terjadi. Dengan mengkaji aspek-aspek itu maka akan jelas bahwa Islam lahir dalam suasana politik yang didominasi oleh dua kekuatan raksasa, yaitu Sasania (Persia) di Timur dan Bizantium (Romawi) di Barat[2].

Dan dalam waktu yang relative singkat, Islam berkembang pesat menjadi suatu kekuatan politik yang menentukan perjalanan sejarah. Di sini pun akan disajikan bagaimana peran Islam dalam menanmkan bentuk kepercayaan baru yang melahirkan sisterm sosial dan gaya hidup yang baru.

Semoga tulisan ini membawa manfaat bagi yang menulis dan membacanya sehingga dapat dimanfaatkan sebaik mungkin bagi perkembangan Islamic Education.

  1. PEMBAHASAN
    1. Pemerintaha Pada Masa Nabi Muhammad Saw

Pemerintahan Islam yang dipimpin oleh Nabi Muhammad Saw kekuasaan tertinggi ada pada syari’at Islam sebagaimana yang terkandung dalam Al-Qur’an, berlaku bagi seluruh ummat Islam termasuk Nabi Muhammad Saw sebagai pemimpin. Apabila ada masalah yang tidak ditetapkan dalam Al-Qur’an maka keputusannya berada di tangan Nabi.

Di sini Nabi Muhammad Saw menjabat peran ganda yaitu sebagai Nabi dan sebagai kepala pemerintahan. Walau Nabi Muhammad Saw menjabat otoritas tertinggi, namun beliau sering mengajak musyawarah para sahabat untuk memutuskan masalah-masalah penting.

Kebijakan pertama yang dilakukan Nabi Muhammad Saw di Madinah adalah membangun masjid yang dikenal sebagai Masjid Nabawi, yang menjadi pusat kegiatan pemerintahan Islam. Selain sebagai tempat ibadah, juga berfungsi sebagai kantor pemerintah pusat dan peradilan. Perjanjijan dan jamuan terhadap delegasi asing, penetapan surat perintah kepada para gubernur dan pengumpulan pajak pun diselenggarakan di masjid.

Sebagai hakim, Nabi memeriksa dan memutuskan perkara di masjid. Nabi Muhammad Saw merupakan orang yang pertama kali memperkenalkan kepada masyarakat Arab tentang sisterm pendapatan dan pembelanjaan pemerintahan.

Beliau mendirikan lembaga kekayaan masyarakat di Madinah. Lima sumber utama pendapat Negara Islam yaitu zakat, jizyah[3], kharaj[4], ghanimah[5], dan al-fay[6]. Zakat merupakan kewajiban bagi setiap muslim atas harta kekekayaan yang berupa binatang ternak, hasil pertanian, emas, perak, harta perdagangan dan pendapatan lainnya yang deperoleh seseorang.

Nabi Muhammad Saw juga merupakan pimpinan tertinggi tentara muslim. Beliau turut serta dalam peperangan dan ekspedisi militer. Bahkan memimpin beberapa perang besar seperti perang Badar[7],Uhud, Khandaq[8], Hunayn[9], Tabuk[10] dan dalam penaklukan kota Makkah. Peperangan dan ekspedisi yang lebih kecil diserahkan kepada para komandan yang ditunjuk oleh Nabi.

Nabi Muhammad Saw juga selalu mendorong masyarakat untuk giat belajar. Setelah hijrah ke Madinah, Nabi mengambil prakasa mendirikan lembaga pendidikan. Pasukan Quraisy yang tertawan dalam perang Badar dibebaskan dengan syarat setiap mereka mengajarkan baca tulis kepada sepuluh anak-anak muslim. Sejak saat itu kegiatan belajar baca tulis dan kegiatan pendidikan lainnya berkembang dengan pesat di kalangan masyarakat. Dan ketika Islam telah tersebar ke seluruh penjuru jazirah Arab, Nabi mengatur pengiriman guru-guru untuk ditugaskan mengajarkan al-Qur’an kepada masyarakat suku-suku terpencil.

  1. Peran Nabi Muhammad Saw

Selain sebagai Nabi bagi seluruh umatnya, dalam perkembangan Islam selanjutnya Nabi menduduki peranan yang sangat penting, di antaranya:

  1. Nabi Muhammad Saw Sebagai Nabi Dan Rasul

Sebagai Nabi dan rasul, Nabi Muhammad Saw mendakwahkan agama Islam dengan akhlak yang sesuai dengan Al-Qur’an. Sebagiai da’I beliau menunjukkan sifat-sifat sabar, lemah lembut, toleransi, tega dan istiqomah dalam ajaran yang dibawanya, terutama tentang aspek akidah. Beliau juga melakukan aktifitas dakwah dengan dedikasi yang sangat tinggi.

  1. Nabi Muhammad Saw Sebagai Pendiri Bangsa

Nabi Muhammad Saw tidak sekedar sebagai pembaharu masyarakatnya, tetapi Nabi Muhammad Saw juga berperan sebagai pendiri bangsa yang besar. Nabi berjuang pada tahap awal dengan mendrikan sebuah kebangsaan dengan menyatukan para pemeluknya, lalu beliau merancang sebuah imperium yang dibangun berdasarkan kesepakatan dan kerjasama berbaga kelompok yang terkait. Pada saat awal ini, Nabi Muhammad Saw berhasil mendirikan sebuah Negara Madinah, yang semula hanya terdiri dari suatu kelompok masyarakat yang heterogen satu sama yang lainnya saling bermusuhana. Maka dengan hadirnya Nabi Muhammad Saw masyarakat Madinah menjadi bersatu dalam kesatuan Negara Madinah. Selajutnya Nabi Muhammad Saw memberlakukan beberapa ketentuan hukum untuk semua tanpa pengecualian dalam kedudukan yang sama, tidak mengenal perbedaan kedudukan karena nasab, kelas sosial dan lain sebagainya.

  1. Nabi Muhammad Saw Sebagai Pemimpin Masyarakat

Peran Nabi Muhammad Saw dapat kita lihat juga sebagai pemimpin masyarakat ketika beliau sampai di Madinah, beliau berhasil menghapus permusuhan tradisi di antara suku Aus dan Khazraj yang keduanya digabungkan oleh Nabi Muhammad Saw menjadi golongan anshar. Setelah itu, golongan Anshar ini digabungkan pula dengan orang-orang Quraisy yang dating dari Mekkah dan biasa disebuh golongan Muhajirin. Dengan demikian keberhasilan baginda merupakan tokoh pertama yang menyatukan bahsa arab yang berasal dari keturunan yang berbeda menjadi satu umat yang kuat dan kokoh. Selain itu, sebagai pemimpin, beliau telah menentukan beberapa hal yang menjamin kesejahteraan masyarakatnya. Antara lain: ibadah, munakahat, jenayah, keneggaraan dan sebagainya.

  1. Nabi Muhammad Saw Sebagai Pemimpin Politik

Keunggulan Nabi Muhammad Saw sebagai pemimpin politik dapat kita lihat dari beberapa hal, antaranya:

-          Menyelesaikan Masalah Perpindahan Hajar Al-Aswad Ke Tempat Asal

Nabi Muhammad Saw menunjukkan citra kepemimpinanya ketika berhasil menyelesaikan masalah yang timbul di kalangan pemimpin bani-bani dalam kabilah Quraisy yang merebutkan hak untuk meletakkan hajarul aswad di tempatnya yang asa di penjuru dinding ka’bah. Peristiwa itu terjadi setelah kota Mekkah dilanda banjir dan sebagiian bangunan ka’bah runtuh. Ketika akan meletakkan hajar aswad ketempat semula yaitu di sudut dinding Ka’bah, bani-bani di Mekkah saling memperebutkannya. Karena batu itu dianggap sangat suci dan mulia sehingga hanya tangan yang mulia dari bani atau suku yang mulia saja yang layak meletakkan batu itu ke tempat semula. Akhrnya mereka memililih Nabi Muhammad Saw sebagai hakim untuk meyelesaikan masalah tersebut. Lalu Nabi Muhammad Saw meletakkan batu tersebut di atas sehelai kain. Setelah itu setiap wakil bani memegang bagian ujung kain tersebut dan bersama-sama mengangkatnya. Nabi Muhammad Saw sendiri meletakkan batu tersebut ke tempat asalnya di sudut Ka’bah. Solusi dari Nabi Muhammad Saw menyebabkan seuruh pihak yang terlibat konflik itu merasa puas.

-          Membentuk Piagam Madinah

Pada tahun pertama Hijriah Nabi Muhammad Saw brhasil melahirkan piagam Madinah[11] yang merupakan perlembagaan tertulis yang pertama di dunia. Piagam Madinah ini berhasil mewujudkan sebuah Negara Islam yang pertama di dunia yang terdiri dari banyaknya rakyat dan ragam agama. Sesungguhnya perlembagaan ini lebih bersifat satu alat untuk menyelesaikan masalah masyarakat majemuk yang ingin hidup aman dan damai dalam sebuah Negara yang sama. Dengan kata lain, ini adalah teori dan aplikasi toleransi yang pertama  kali di lahirkan oleh Nabi Muhammad Saw sebagai pioneer sekaligus adanya legitimasi secara tidak langsung dari seluruh masyarakatnya baik yang telah memeluk Islam maupun yang belum.

-          Mengadakan Perjanjian Hudaibiah

Perhanjian Hudaibiah yang diadakan di antara umat Islam Madinah dengan kaum Quraisy Mekah merupakan satu lagi bukti yang menunjukkan bahwa beliau Nabi Muhammad Saw adalah pemimpin yang sangat bijaksana. Tak ada satupun yang menyangkalnya termasuk Sayyidina Umar sendiri bahwa perjanjian Husaibiah yang dianggap kontroversi itu telah memberikan ketegasan pada kaum Quraisy dalam semua bidang. Sebagai buktinya, setelah perjanjian Hudaibiyah, tiga pahlawan unggulan Quraisy yaitu Khalid bin Walid, Amr bin Ash, dan Osman bin Talba memeluk Islam, umat islam bertamba sebanyak lebih dari lima kali lipat dari dua tahun saja. Serta tewasnya Mekkah tanpa pertumpahan darah dua tahun kemudian. Jelaslah sudah bahwa Nabi Muhammad Saw membuktikan kebijaksanaannya dalam dunia percaturuan politik tanah Arab.

-          Mengadakan Hubungan Diplomat

Walaupun Nabi Muhammad Saw buta huruf, namun beliau membuktikan kualitasnya sebagai seorang pemimpin sebuah kerajaan. Beliau mengadakan hubungan diplomatic dan mengirim utusan-utusan ke berbagai daerah di dalam dan di luar Tanah Arab seperti Habsyah, Farsi Byzantine, Ghassan, Hirah, dan lain sebagainya.

  1. Nabi Muhammad Saw Sebagai Pemimpin Militer

Nabi Muhammad Saw meletakkan akidah, syariat dan akhlak yang mulia sebagai asas kepemimpinannya. Beliau dan sahabatnya menetapkan dasar tertentu semasa perang seperti: tidak memerangi orang lemah, orang tua dan anak-anak serta wanita, tidak memusnhkan harta benda. Beliau juga mengaplikasikan sifat amanah dalam melaksanakan perintah Allah dan juga seluruh umat Islam dalam memimpin. Nabi Muhammad Saw bersifat adil terhadap harta rampasan perang, yaitu dengan membaginya secara rata pada tentara yang turut dalam peperangan dan tidak mengejar musuh yag sudah lari dari medan peperangan. Nabi Muhammad Saw adalah panglima tentara dan ahli strategi. Dengan ilmu dan pengalaman yang luas, beliau berhasil membawa kejayaan kepada tentara Islam.

  1. Nabi Muhammad Saw Sebagai Perancang Ekonomi

System ekonomi yang dikembangkan sebelumya adalah system ekonomi kapitasis dan absolutistic yang berpusat pada suku-suku tertentu. Nabi Muhammad Saw datang untuk  memperkenalkan system ekonomi baru yang menggantikan dasar ekonomi zaman Jahiliah. Beliau menggalakkan icon kerja keras dan rajin dalam bidang perniagaan dan pertanian. Nabi Muhammad Saw telah membangun ekonomi umat Islam seperti menebus blik dan mengolah tanah yang tergadai kepada kaum Yahudi.

  1. Kondisi Sosial Masyarakat Dan Perubahan Sosial Yang Terjadi

Periode Madinah adalah pekerjaan besar yang di lakukan oleh Rasulullah Saw berupa pembinaan terhadap masyarakat Islam yang baru terbentuk. Karena masyarakat merupakan wadah dari pengembangan suatu kebudayaan maka diletakkan pula dasar-dasar Islam[12]. Ini merupakan representasi dari sejumlah nilai dan norma yang mengatur manusia dan masyarakat dalam hal yang berkaitan dengan ibadah, sosial, ekonomi dan politik yang bersumber dari al-qur’an dan sunnah.

Ada banyak hal yang dirubah pada masa pemerintahan Nabi Muhammad Saw khususnya dalam era periodisasi Islam, antara lain:

  1. Politik

Seperti yang kita ketahui bahawa Arab pra Islam didominasi oleh dua kerajaan besar yaitu Bizantium dan Persia sehingga secara geografis Mekkah tidak hanya sulit dijangkau tapi juga sikap pemimpinnya yang menjalankan politik non-blok sehingga Negara-negara Asing menaruh hormat terhadap bangsa Arab pada saat itu. Setelah datangnya Islam, kebijakan politik itu pada awanya tetap dipertahankan, namun dengan berkembangnya Islam kebijakan itu mengalami perubahan menjadi sebuah kebijakan yang tidak hanya sekedar memihak salah satu Negara adi kuasa yang ada saat itu, tapi sudah mulai menancapkan pengaruhnya ke dalam daerah-daerah di bawah kekuasaannya[13].

Selain itu, tentang pemilihan pemimpin, bangsa Arab sudah memilliki nilai-nilai demokratis dengan dipraktikannya  musyawarah. Mereka memilih pemimpin yang bijaksana dan adil dan menekanan senioritas serta pengalaan berdasarkan kesepakatan bersama.

Kemudian model kepemimpinan tersebut dilanjutkan dan disempurnakan oleh Islam sebagaimana dapat kita lihat pada model kepemimpinan Nabi Muhammad Saw dan Khilafa Rasyidin. Yaitu model pemilihan yang tidak hanya didominasi oleh salah satu kaum atau suku Arab. Islam mengajarkan bahwa kepemimpinan bisa diperoleh  oleh kaum atau suku manapun asaka ia memenuhi kuaifikasi adil, egalite dan fraternity[14].

Demikian pula dengan ghanimah yang pembagiannya disempurnakan oleh Islam dengan bervisi adil dan pemerataan yaitu nabi, keluarga, memelihara anak yatim da administrasi Negara mendapat seperlima sedangkan sisanya di bagi sesuai dengan kualitas tentara.[15]

  1. Ekonomi

Dua ratus tahun sebelum masa kenabian Nabi Muhammad Saw, Arab sudah mengenal peralatan pertaniah semi modern[16]. Mereka pun mampu membuat bendungan raksasa yang dinamakan al-ma’arib. Mereka menggunakan tiga sistem dalam mengelola pertanian yaitu sewa menyewa, bagi hasil produk, dan sisterm pandego.

Mekkah juga merupakan jalur persilangan ekonomi internasional sehinggga Mekkah memiliki peranan penting dan strategis untuk berpartisipasi dalam dunia perekonomian. Mereka digolongkan menjadi tiga yaitu, kolongmerat yang memiliki modal, pedagang yang mengolah modal dan para perampok dan rakyat biasa yang memberikan jaminan keamanan kepada para khafilah pedagang.[17]

Dapat dipahami bahwa tradisi pertanian dan perdagangan di Arab sebenarnya sudah ada jauh sebelum Islam, namun tidak ada landasan keadilan dan persamaan di dalamnya. Ini bisa kita lihat dietika permodalan dikuasai oleh elite politik penguasa permodalan.

Islam lalu memasukkan nilai-nilai keadilan dan persamaan dalam perekonomian masyarakat Arab. Sehingga tidak ada lagi monopoi perekonomian dan perbudakan serta mengimplementasikan niai keadilan,kejujuran dan kesamaan sehingga tidak ada yang dirugikan.

  1. Sosial

Tidak disesalkan apabila masyarakat arab mempunyai sifat keras dan perilaku yang kasar, karena hal ini dipengarhi oleh factor geografis negaranya yang bertanah tandus, berdebu, berpasir dan berbatu. Dikenalnya masyarakat arab sebagai masyarakat jahiliyyah lebih tepatnya karena mereka memiliki moral yang rendah. Walaupun tidak semuanya, tapi kepala sukulah yang memiliki muru’ah.

Strategi perng mereka terdiri dari lima pasukan inti, yaitu al-Muqaddam (pasukan pembawa bendera), al-Maimanah (sayap kanan),  al-Maisarah (sayap kiri), al-saqaya (pasuka pembawa obat-obatan serta sukarelawan) dan al-Qalb (pasukan inti). Strategi ini diadopsi total oleh Nabi Muhammad Saw dalam melakukan peperangan melawan orang-orang kafir Quraisy[18].

Mereka juga memiliki fanatis terhadap suku yang sangat tinggi sehingga kesenjangan perekonomian pun Nampak sangat mencolok. Selain itu, terdapat pula tradisi penguburan anak perempuan hidup-hidup pada beberapa suku. Juga menganut tradisi perkawinan mut’ah, zawaq, istibda, khadn, mutadamidah, badal, syighar, maq, saby, hamba sahay, antar saudaralelaki dan saudara wanitanya atau ayah dan putrinya, atau suami istri[19].

Kondisi sosial arab tidak semuanya jelek, hanya saja ada beberapa yang perlu diperbaiki khususnya tatanan kehidupan sosialnya.karena itu setelah Islam datang kebiasaan mengubur anak perempuan hidup-hidup, tradisi perkawinan yang sama sekali tidak menghargai perempuan serta perlakuan yang tidak manusiawi terhadap budak-budak, Islam mengarahkan masyarakat arab tentang kemanusiaan dan memberikan world view yang luas tentang keberagamaan, kesamaan dan penghargaan terhadap gender. Konkritnya Islam mengajarkan agar memiliki istri maksimal empat, itupun jika suami bisa berbuat adil. Perlu digaris bawahi bahwa dalam konteks sekarang sangat perlu tafsiran yang baru dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berkembang saat ini.

  1. Sastra

Sastra jahiliyyah adalah cermin langsung bagi seluruh kehidupan bangsa arab pra islam, karena di dalamnya dapat kita lihat kehidupan, alam, budaya dan peradaban yang murni maupun yang telah dipengaruhi oleh bangsa asing.

Namun demikian ada beberapa syair arab yang  sangat imaginer dan simbolis sehingga sulit dicerna oleh kalangan umum. Sastra arab telah melahirkan penyair-penyair yang handal sehingga tidak heran jika umat islam dikenal denagn kemahirannya membuat syair dan puisi yang mengandung unsure spiritual theologs dan humanism yang kental.[20]

  1. Agama

Mesikpun tidak berpengaruh besar, namun yahudi dan nasrani telah berkembang jauh sebelum islam lahir di Mekkah. Melainkan kuatnya paganisme[21] yang bercokol dalan keberagamaan mereka. Ini merupakan pengkomparasian antara vetieisme[22], toteisme[23] dan animisme[24]. Namun adapula yang menganut ajaran hanif dari nabi Ibrahim a.s.

Di sinilah  Islam membawa dan mengarahkan bangsa arab untuk memiliki keimanan yang proporsional kepada Allah SWT. Islam meluruskan keimanan dan aqidah meeka yang tidak bisa disamakan dengan semua jenis makhluk di dunia ini. Di sinlah élan vital islam  memberikan pemahaman tentang tauhid yang tidak hanya sekedar terbatas pada pengesaan Tuhan, tapi juga kemanusiaan yag kemudian diwujudkan dalam bentuk persamaan dan keadilan.

  1. KESIMPULAN

Dari beberapa uraian di atas dapat saya simpulkan bahwa pemerintahan Nabi Muhammad Saw adalah suatu karya cipta pemerintahan yang sempurna melalui usaha yang tidaklah mudah. Dan merupakan reperesentasi dari pemerintahan yang berdaulat.. Modal intelektual kepemimpinan Nabi Muhammad Saw adalah pelajaran bagaimana meneumbuhkan rasa kebersaman dan optimisme dala bingkai ketaatan. Perjalanan kepemimpinan Nabi Muhammad Saw adalah suatu proses kreatif dan berlangsung secara continue, berkembang dan beradaptasi denga kebutuhan. Intelektual capital merupakan konsep yang tidak dapat ditawar lagi dalam membangun sebuah tim menjadi lebih baik. Dengan kalimat lain, intelektual capital ini berfungsi untuk learn how to learn da sebagai uatan utama dalam membangun performance management of war.

Selain itu, sebenarnya bangsa arab memiliki khasanah tersendiri di bidang politik, ekonomi, sosial, sastra dan agama. Lalu proses interaksi yang dilalui islam melahirkan pemeliharaan dan pengembangan beberapa hal seperti system moral, tata pergaulan strategi perang dan hokum keluarga. Islam juga memperbaiki dan menyempurnakan system tersebut dengan kadar dan kodrat manusia. Dan dengan didukung oleh kreatifitas umat islam, al –qur’an dan sunah memberikan perubahan yang nyata tentang pandangan dunia, tujuan hidup, peribadatan dan sebagainya yang mejadikannya sebagai core system dari pemikiran dan peradaban islam.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Sejarah Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997

Aqqod, Abbas Mahmod, Keagungan Muhammah Saw, Solo: pustaka Mantik 1994

Ar-raziq, Ali Abd, Islam Dasar-Dasar Pemerintahan, Yogyakarta: Penerbit Jendela, 2002.

Esposito, John, Dinamika Kebangkitan Islam, Jakarta: Rajawali, 1987.

Karim,Abdul, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: pustaka Book Publisher, 2007

Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam, Yogyakarta: Fakultas Adab, 2002

Nurhakim, Muhammad, , Malang: UMM Press, 2004

Team Penyusun Text Book Sejarah dan Kebudayaan Islam Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI, Sejarah dan Kebudayaan Islam (Ujung Pandang Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama IA IN “Alauddin” Ujung Pandang, 1981/1982

Yatim, Bari,  Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyyah II, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004

Widjan, Aden, dkk,  Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: PSI UII, 2007


[1] Tentunya hal ini seharusnya bisa kita transfer ke Negara kita yang sedang sakit ini

[2] Sebagai catatan bahwa pemikiran Timur (Persia-India) bercorak isoteris sedangkan pemikiran Barat (Bizantium) bercorak eksoteris. Datangnya Islam menyerap dua konsep pemikiran tersebut sehingga pemikiran Islam menjadi berimbang/ummatan washatan. Lihat, M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: pustaka Book Publisher, 2007, h. 38-41.

[3] Jizyah merupakan pajak yang dipungut dari masyarakat non muslim sebagai biaya penggantian atas jaminan keamanan jiwa dan harta benda mereka. Penguasa Islam wajib mengembalikan izyah jika tidak berhasil menjamin dan melindungi jiwa dan harta kekayaan masyarakat non muslim.

[4] Kharaj merupakan pajak atas kepemilikan tanah yang dipungut kepada masyarakat non muslim yang memiliki tanah pertanian.

[5] Ghanimah adalah hasil rampasan perang yang 4/5 dari ghanimah tersebut dibagikan kepada pasukan yang turut berperang dan sisanya yaitu 1/5 didistribusikan untuk keperluan keluarga Nabi, anak-anak yatim, fakir miskin dan untuk kepentingan masyarakat umum.

[6] Al-Fay’ pada umumnya diartikan sebagai tanah-tanah yang berada di wilaya negeri yang ditaklukkan, kemudian menjadi harta milik Negara. Dan pada masa Nabi Muhammad Saw, Negara memiliki tanah-tanah pertaniah yang luas yang hasilnya dimangaatkan untuk kepentingan umum masyarakat.

[7] Perang Badar adalah perang pertama yang sangat menentukan masa depan Negara Islam. Ini merupakan perang antara kaum Muslimin dengan musyrik Quraisy. Pada tanggal 8 Ramadhan tahun ke 2 Hijriah. Nabi bersama 305 orang Muslim bergerak keluar kota membawa perlengkapan yang sedehana. Di daerah badar, kurang lebih 120 km dari Madinah, pasukan nabi bertemu dengan pasukan Quraisy yang berjumlah sekitar 900 samapi 1000 orang, dan nabi sendiri sebagai komandan. Dalam perang ini kaum Muslimin keluar sebagai pemenang. Lihat, Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyyah II, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004, h. 27.

[8] Perang ini disebut juga perang Ahzab karena musuh yang menyerang Madinah terdiri dari berbagai golongan yang bersekutu. Disebut khandaq karena menggunakan parit sebagai benteng pertahanan. Lihat juga dalam Al-Qur’an surat ke 33. dalam perang ini gugur enam orang sahabat Rasulullah dan dari pihak lawan tiga orang. Dari sini rasulullah belajar bahwa taktik bertahan tidak menguntungkan sehingga perang-perang berikutnya Rasulullah menggunakan taktik menyerang ketika musuh sudah jelas siap akan menyerang. Sehingga serangan yang dilakukan tetap dalam rangka pembelaan diri. Lihat, Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam, Yogyakarta: Fakultas Adab, 2002, h. 37.

[9] Perang Hunain merupakan perang umat Islam yang melawan Bani Tsaqif di Taif dan Bani Hawazin di antara Taif dan Makkah yang berkomplot untuk memerangi Islam. Dalam perang ini Nabi mengerahkan kira-kira 12.000 tetara menuju Hunayn untuk menghadapi mereka. Tentara Islam memenangkan pertempurang dalam waktu yang tidak terlalu lama. Lihat, Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyyah II, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004, h. 32

[10] Perang Tabuk merupakan perang terakhir yang diikuti Rauslullah Saw. Perang ini melawan pasukan Heraklius yang mundur melihat banyak pahlawan Islam yag siap berperang melawan nabi. Namun nabi tidak melakukan pengejaran tetapi berkemah di Tabuk. Lihat: Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyyah II, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004, h. 32.

[11] Piagam Madinah menyepakati lima perjanjian, yaitu: tiap kelompok dijamin kebebasannya dalam beragama, tiap kelompk berhak menghukum anggota kelompoknya yang bersalah, tiap kelompok arus saling membantu dalam mempertahankan Madinah, baik yang muslim maupun yang non muslim, penduduk Madinah semuanya sepakat mengangkat Nabi Muhammad Saw sebagai pemimpinnya dan memberi keputusan hokum segala perkara yang dihadapkan kepadanya dan meletakkan landasan berpolitik, ekonomi dan kemasyarakatan bagi negeri Madinah yang baru terbentuk. Lihat, M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: pustaka Book Publisher, 2007, h. 70.

[12] Team Penyusun Text Book Sejarah dan Kebudayaan Islam Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI, Sejarah dan Kebudayaan Islam (Ujung Pandang Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama IAIN “Alauddin” Ujung Pandang, 1981/1982, h. 46. Lihat juga, , Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam, Yogyakarta: Fakultas Adab, 2002, h. 30.

[13] Arab pada saat itu terbagi menjadi tiga daerah, yaitu daerah selatan (Himayar), daerah utaa (Petra, Gazah) dan di tengah (Kindi). Lihat. Aden Widjan, dkk. Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: PSI UII, 2007, h. 7-9.

[14] Lihat, Q. S. 49: 10, 13 dan 49.

[15] Aden Widjan, dkk. Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: PSI UII, 2007, h. 9

[16] M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: pustaka Book Publisher, 2007, h. 54

[17] Aden Widjan, dkk. Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: PSI UII, 2007, h. 10-11

[18] [18] M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: pustaka Book Publisher, 2007, h. 53

[19] Op. Cit, h. 15

[20] Op. Cit, h. 59

[21] Paganisme adalah penyembahan terhadap berhala

[22] Vetieisme adalah kepercayaan yang diwujudkan dalam bentuk penyembahan terhadapa benda sperti batu dan kayu.

[23] Toteisme adalah pengkultusan terhadap hewan atau tumbuh-tumbuhan yang dianggap suci.

[24] Animisme adalah kepercayaan terhadap roh baik dan jahat yang berpengaruh dalam kehidupan manusia.

Add a comment April 1, 2010

CLIFFORD GEERTZ, “DARI SUDUT PANDANGNYA TERHADAP ANTROPOLOGI ALAMIAH”

Clifford Geertz menyajikan suatu pemikiran yang berangkat dari pemahaman antropologi yang alami terhadap unsure lokalitas dalam memahami suatu kebudayaan. Salah satunya berupa mitos yang merupakan salah satu item dari kebudayaan local. Seperti yang terdapat dalam The Double Helix-nya James Watson bahwa mitos, akulturasi, symbol memiliki keterkaitan dengan kebudayaan local. Di sini saya menemukan ada satu perubahan yang diinginkan oleh Geertz bahwa kebudayaan  itu bisa diakulturasi menjadi sesuatu yang eksotis, penuh dengan kebijaksanaan, kesabaran dan sebagainya melalui semacam proses perubahan bernama biofisika. Yaitu adanya percampuran materi yang ada di alam dengan alam itu sendiri. Sebagai contoh adanya sinkritisme dalam kebudayaan Jawa, yaitu perpaduan antara Islam, Hindu-Budha,

Terdapat pemahaman yang inklusif sehingga unsure-unsur budaya tidak dipahami secara sacral, sehingga manusia dapat berfikir dan merasakan proses yang terjadi di alam ini adalah sesuatu yang natural, sehingga ada keterbukaan. Geertz menjadikan unsure rasionalitas yang terkait dengan akal sebagai standar untuk melihat sesuatu, sehingga Geertz mampu menyajikan pemikiran yang penuh dengan kontroversi walaupun tidak sedikit pula yang pro dengannya. Sebagai contoh adanya penggolongan social budaya berdasarkan aliran ideology masyarakat Jawa menjadi abangan, santri dan priyayi. Selanjutnya unsure itu didukung oleh moralitas yang terkait dengan etika. Sehingga Gerertz benar-benar mengembalikan fungsi unsur lokalitasnya.

Geertz memperlakukan perbedaan yang muncul dalam masyarakat dengan mencari titik temunya. Salah satunya dengan adanya semacam adaptasi dan interaksi antara manusia dengan budaya dan alam lebih dari sekedar partisipatoris. Sehingga ada keterlibatan langsung manusia didalamnya untuk mengetahui secara langsung, obyektif dan tanpa tendensi. Sebagai contoh adanya pengagungan salah satu symbol dalam mitos, seperti kuburan seperti yang dinyatakan oleh Malinowski. Selain itu adanya perlawanan antara dalam-luar, orang pertama-orang ketiga, pendekatan-objectivist, kognitif-etik dan lainnya. Untuk mengatasinya Geertz menggunakan pendapat Heinz Kohut yaitu Psychoanalyst untuk mendapatkan titik temu yang tidak berdasarkan asumtif saja tapi dengan terlibat langsung dengan akulturasi budaya itu. Selanjutnya disajikan oleh Geertz beberapa pemaknaan lebih berupa pengalamannya untuk memahami sesuatu baik dengan experience-near maupun experience-distant yang melahirkan pengalaman kebudayaan bahkan agama berangkat dari pemahaman orang itu (informan) terhadap agamanya.

Geertz menceritakan ulang bagaimana pengalamannya ketika secara intensif mengkaji Jawa, Bali dan Moroccan dengan memberikan subyektif meaningnya sehingga Geertz dapat menganalisis format simbolis, kata-kata (mantra), imagine, perilaku (ritual) dan lainnya. Geertz menemukan bahwa di Jawa, Bali dan Moroccan  gagasan mengenai selfhood jelas berbeda tidak hanya dari kita sendiri tetapi juga tidak kurang dramatis dan instruktif dari satu ke yang lainnya. Contohnya ketika seorang laki-laki muda yang di tinggal mati istrinya, menyambut semua orang yang datang untuk melayat dengan senyum dan meminta maaf atas nama istrinya. Ini mengenai kejujuran yang hakiki tentang dalamnya perasaan dan pentingnya moral tentang ketulusan personil. Dapat saya pahami bahwa konsep rasional, moral, etik dan transenden sangat berkaitan erat.

Pokok kajiannya meliputi agama Jawa, politik aliran mengenai konsep trikhotominya (abangan, santri, priyayi), watak perkotaan di Jawa sebagai hollow town dan bukannya solid town, pengelompokan politik tanpa basis kelas, perbandingan Islam Indonesia dan Islam Maroko (antara the scope of religion dan the force of religion) mempunyai sifat yang agresif dan penuh gairah. Perbedaan manifestasi agama itu menunjukkan betapa realitas agama sangat dipengaruhi oleh lingkungan budaya. Perbandingan antara etos dan praktik perdagangan di Jawa dan di Bali (antara individualisme pasar dan rasionalitas ekonomi tanpa kemampuan oerganisasi ekonomi di satu pihak, berhadapan dengan kemampuan organisasi ekonomi tanpa individualisme pasar dan tanpa rasionalitas ekonomi di pihak lain), politik klasik di Bali yang dirumuskan sebagai theater state, apa yang ditinggalkan oleh Hinduisme dalam praktik keagamaan di Jawa dan Bali, serta praktik pertanian Jawa yang semenjak tanam paksa tidak berhasil mengalami evolusi menjadi pertanian kapitalis, tetapi mengalami evolusi yang menjadikan pertanian hanya sebagai tempat penampungan penduduk yang terus bertambah banyak dan karena itu tidak memungkinkan investasi baru.

Geertz menemukan dua satuan yang kontras pada dasar yang religius di Jawa antara outside-inside dan refined-vulgar yang dalam bahasa sufi menunjuk pada satu sisi untuk menyampaikan kepada dunia tentang pengalaman observasi manusia pada manusia yang lain tentang behavior. Di Bali terdapat birth-order marker yang berisi sesuatu yang dibatasi dan berbeda menurut system secara internal yang sangat kompleks. Hal ini melalui format simbolis obserrable. Dan di Maroko adanya suatu format ganjil, format linguistic yang disebut dalam bahasa Arab sebagai nisba yang mengacu pada suatu analisi kombinasi, proses gramatikal dan semantic yang terkandung dalam mentrasformasikan suatu kata benda kepada apa yang kita sebut suatu adjective relative. Sebagai contoh jabatan, sekte religius, dan lainnya.

Yap, Geertz adalah sosok yang luar biasa yang dapat melakukan modifikasi konseptual,. Ia menemukan hubungan antara system symbol, system nilai dan system evaluasi. Ia dapat menyatukan konsepsi kaum kognitifisme yang beranggapan bahwa kebudayaan adalah system kognitif, system makna dan system budaya, maka agar tindakan bisa dipahami oleh orang lain, maka harus ada suatu konsep lain yang menghubungkan antara system makna dan system nilai, yaitu system symbol. System makna dan system nilai tentu saja tidak bisa dipahami oleh orang lain, karena sangat individual. Untuk itu maka harus ada sebuah system yang dapat mengkomunikasikan hubungan keduanya, yaitu system symbol. Melalui system itulah system makna dan system kognitif yang tersembunyi dapat dikomunikasikan dan kemudian dipahami oleh orang lain.[1] Saya melihat minat kajian Geertz sangat variatif. Ia mengkaji sejarah social melalui kajiannya tentang perubahan social di dua kota di Indonesia, tidak hanya mengkaji persoalan agama dan masyarakat dalam perspektif sosiologis atau antropologis. Ia juga mengkaji masalah ekonomi sehingga lahirlah teori involusi.

Di akhir tulisannya, Geertz menegaskan bahwa untuk membongkar  pengertian diri orang Jawa, Bali, Moroccan, seseorang harus bergerak dengan rincian eksotis yang membuat etnografi terbaik. Sekarang trayektori dikenal sebagai lingkaran hermeneutic. Singkatnya, tanggungjawab dari subjektivitas orang untuk orientasi lebih dari sekedar rasa simpati dan penghapusan ego.

CATATAN:

  1. Ignaz Kleden, Dari Etnografi ke Etnografi tentang Etnografi: Antropologi Clifford Geertz dalam Tiga Tahap” dalam Clifford Geertz, After the Fact. (Yogyakarta: LKiS, 1998), ix-xxi

[1] Lihat Ignaz Kleden, Dari Etnografi ke Etnografi tentang Etnografi: Antropologi Clifford Geertz dalam Tiga Tahap” dalam Clifford Geertz, After the Fact. (Yogyakarta: LKiS, 1998), ix-xxi

Add a comment April 1, 2010

SINOPSIS PEMIKIRAN PEMBARU K.H.AHMAD DAHLAN

K.H. Ahmad Dahlan adalah salah satu pembaharu pemikiraan pendidikan Islam yang mampu menangkap pesan Al-Qur’an dan mengkontekstualisasikannya dengan perkembangan zaman sebagaimana yang dikatakan oleh Nurcholis Madjid, bahwa buya melakukan pembaharuan yang bersifat break throught, bahwa pembaharuannya tidak mengalami prakondisi sebelumnya dan bersifat lompatan. Orientasinya pada amal dan pembaharuannya yang bersifat alamiah inilah yang menempatkan Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang beredar bukan hanya di Indonesia tapi juga di dunia Islam. Mesikipun secara tipikal tertentu sering dikaitkan dengan pembaharu Islam sebelumnya sebagaimana yang dipelopori oleh Ibn Taimiyah, Jamaluddin Al-Afgani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dll, namun gerakan amal usahanya yang bercorak transformasional menjadi khas pembaharuan buya.
Bila dilihat secara komparatif, epistimologi beliau terbangun dari dua aksioma, yaitu aksioma dasar dan aksioma operasional. Aksioma dasar yang dijadikan acuan dalam melakukan domestifikasi Islam dalam ranah empiric adalah Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Dengan nalar logis, kritis dan berdimensi praksis menjadi pilar utama sebagai operasionalisasi aksioma dasar tersebut. Struktur epistemology ini menyiratkan bahwa qath’iyah menjadi dasar utama epistemology sebagaimana yang ditekankan Asy-Syatibi.
Dalam falsafat ajarannya, buya hanya menyebutkan akal suci sebagai metode dalam melaksanakan ajaran agama. Sumber komplemanter untuk memahami agama terdiri dari hadits, ijma dan qiyas. Serta inovasi untuk memasukkan ilmu-ilmu fisosofis rasional, baik yang bersifat social-humaniora science maupun natural sciences, sehingga dalam kurikulum pendidikan Muhammadiyah telah mengecualikannya dari tesis generalisasi Arkoun (1994) serta analisis Amin Abdullah (1996) yang mensinyalir telah hilangnya tradisi filosofis rasionalistik dalam tradisi dunia Muslim pasca masa kodifikasi.
Fakta otentik yang monumental mewarnai pemikiran buya seperti kepiawaian buya dalam ilmu falaq dengan memakai pendekata hisab, kisah surat al-Ma’un serta pendirian berbagai institusi social berupa rumah sakit, ‘aisyiah, sekolah-sekolah, dsb. Semua ini semakin mengukuhkan sosok beliau sebagai man of action.
Dalam dunia pendidikan Islam, buya memberikan kontribusi yang tidak sedikit, di antaranya pengadopsian substansi dan metodologi pendidikan modern Belanda dalam madrasah-madrasah pendidikan agama, memberikan muatan pengajaran Islam pada sekolah-sekolah umum modern Belanda,menerapkan system kooperatif, dst. Kesemuanya tercangkup dalam usaha beliau sebagai perentas pendidikan integralistik yang merupakan system pendidikan yang melatih perasaan murid-murid dengan cara sebegitu rupa sehingga dalam sikap hidup, tindakan, keputusan dan pendekatan mereka terhadap segala jenis pengetahuan, mereka dipengaruhi sekali oleh nilai spiritual dan sangat sadar akan nilai etis Islam. Ini ide klasik namun tetap menarik perhatian karena merealisasikan ke tataran praksis selalu tidak mudah.
Setelah pembaharuan pendidikan berlangsung hampir satu abad dualitas pendidikan Islam masih tampak menonjol. Dalam dunia Muslim duallitas budaya muncul karena adanya system pendidikan ganda; system pendidikan Islam tradisional dan system pendidikan sekuler modern yang melahirkan tokoh-tokoh sekuler. Sehingga proses pencarian system pendidikan integralistik harus terus menerus dilakukan bersamaan dengan akselerasi perubahan social dan temuna-temuan inovatif pendidikan. Muhammadiyyah yang dilahirkan dari pemikiran buya Dahlan pun masih terus melangkah ke arah itu dengan membangun sekolah-sekolah alternative yang kemudian dikenal dengan sekolah unggulan.
Dapat penulis simpulkan bahwa pemikiran buya berangkat dari pengkajian Al-Qur’an, musyawarah dan amal. Sehingga dapat dikembangkan menjadi enam hal usaha pembaharuan buya, yaitu Pertama, menekankan perlunya penyatuan dimensii ajaran kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan dimensi ijtihad dan tajdid social keagamaan. Kedua, menempuh system gerakan persyarikatan dalam mengaktualisasikan cita-cita pembaharuannya. Ketiga, adanya corak antikemapanan terhadap kelembagaan agama yang terlalu kaku. Keempat, bersikap responsive dan adaptif dalammenghadapi perkembangan zaman. Kelima, dengan Muhammadiyahnya buya berhasil mengembangkan lembaga pendidikan yang beragam, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, dan dari yang berbentuk sekolah agama hingga yang berbentuk sekolah umum. Keenam, memperkenalkan manajemen pendidikan modern de dalam system pendidikan yang dirancangnya.
Karena itulah usaha yang dijalankan oleh buya bukanlah diartikan organisasi, tapi sebagai gerakanan bernama persyarikatan Muhammadiyah yang mendukung ide dan pemikiran beliau. Khususnya dalam dunia pendidikan buya berkeinginan mewujudkan maNusia yang mewakili kepribadian integral dan pengetahuan yang seimbang yang tidak hanya menekankan salah satu aspek kehidupan. Buya memandang pentingnya memberikan pengetahuan agama bagi mereka yang berada di sekolah-sekolah umum, dan pengetahuan bagi mereka yang selama ini belum pernah mendapatkannya dengan mendidik mereka di dalam lembaga pendidikan yang mementingkan kedua ilmu tersebut.
Semoga tulisan ini menstimulus pembaca untuk bersama-sama merealisasikan cita-cita pendidikan buya Ahmad Dahlan untuk mencapai tujuan pendidikan Islam yang mencerdaskan dan melahirkan siswa-siswi yang berakhlakul karimah.

Add a comment April 1, 2010

PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM K.H. AHMAD DAHLAN

I. PENDAHULUAN What se do in life….enchoes in eternity…Setiap peristiwa di jagad raya ini adalah potongan mozaik. Terserak di sana-sini, tersebar dalam rentang waktu dan ruang-ruang. Namun perlahan-lahan ia akan bersatu membentuk sosok seperti MontaseAnton Gaudi. Kita sebagai generasi pendidik, mozaik-mozaik itu akan membangun siapa diri kita, lalu apa yang akan kita kerjakan dalam dunia kita sebagai bagian dari mozaik dunia pendidikan kita. (Andrea Hirata, Sang Pemimpi) Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan kau hidup dari Muhammadiyah (Buya Ahmad Dahlan) Sampai sekarang permasalahan pendidikan masih sangat hangat dibicarakan oleh para ilmuwan Muslim di seantero dunia (mis. pada konferensi pendidikan)[1] dengan mencoba menginventarisis pendidikan untuk diberikan solusi. Pada masa kolonialisme, pola pendidikan yang dualistis masih terjadi di Indonesia yaitu adanya system pendidikan colonial dan system pendidikan Islam (pesantren). Pendidikan colonial sangat berbeda dengan pendidikan Islam “tradisional”. Perbedaan itu, bukan hanya dari segi metode, tetapi lebih khusus lagi dari segi isi dan tujuan pendidikan. Pada awalnya tempat-tempat pendidikan yang didirikan oleh pemerintahan colonial Belanda khusus bagi anak-anak Belanda dan anak orang asing lainnya atau bagi anak pribumi yang berasal dari tokoh terkemuka seperti orang kraton (priyayi) dan pejabat desa. Lembaga pendidikan yang dikhususkan bagi anak-anak tertentu itu dinamakan Europeesche Lagere School.[2] Namun sejak adanya politik etika colonial Belanda berdiri berbagai macam sekolah, maka mulai dari Inlandsche Lagere School yang disebut sekolah rendah. Hogere Burger School (HBS), Meer Vitgebreit Lagere Onderwijs (MULO) sebagai sekolah menengah pertama. Sampai Algemeene Midle Bare School (AMS) sebagai sekolah lanjutan atas.[3] Sesuai dengan landasan politik yang dijalankan pemerintah Belanda, maka tujuan sekolah-sekolah yang didirikan pemerintah Belanda juga mencerminkan arah politiknya, yakni sekedar untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang agak terdidik.[4] Di sisi lain, pendidikan yang dikelola oleh pemerintah colonial, berorientasikan pada pengetahuan dan ketrampilan duniawi. Corak pendidikan tersebut sesuai dengan strategi politik pemerintah colonial Belanda yang ingin netral terhadap agama.[5] Secara umum, fenomena di atas menunjukkan bahwa keadaan social-ekonomi-kultural dan politik saat itu benar-benar merupakan tantangan bagi sejumlah tokoh pada saat itu yang harus dijawab dengan ide dan tindakan. Selanjutnya setting social di atas menunjukkan fenomena bahwa umat Islam dihadapkan pada maslah dikotomi pendidikan, yaitu pengaruh kebudayaan Barat dan kemunduran intelektural di pihak lain. Sadar akan tantangan yang demikian, di beberapa kawasan Nusantara tampil para tokoh dan pemikir membawa seperngkat pemikir, baik dalam bentuk tulisan maupun melalui karya nyata sebagai jawaban terhadap tantangan yang mereka hadapi. Mereka itulah yang disebut dengan kaum pembaharu yang kehadiran dan kebangkitan mereka bertujuan tidak hanya untuk menentang pengaruh Barat dari segi social dan cultural, tetapi juga untuk menghimbau mereka untuk kembali kepada dasar-dasar pokok Islam melalui jalur pendidikan sebagai central kegiatan politiknya.[6] Di antara tokoh pembaharu, diantaranya muncul  di Kauman Yogyakarta yaitu K. H. Ahmad Dahlan (1868-1923) dengan pemikirannya mengenai pendidikan Islam dan organisasi Muhammadiyahnya yang didirikan pada tahun 1921 M. Untuk itu dalam makalah ini akan dibahas mengenai Biografi K.H. Ahmad Dahlan, Pemikiran beliau mengenai Pendidikan Islam, beliau sebagai pembaharu dan hubungannya dengan Muhammadiyah.

  1. PEMBAHASAN
    1. Riwayat Hidup Singkat Ahmad Dahlan

Seperti yang kita ketahui bahwa penulisan riwayat hidup K.H. Ahmad Dahlan telah banyak dilakukan oleh para sarjana.[7] K.H. Ahmad Dahlan lahir di Kauman Yogyakarta pada tahun 2008 . Nama kecilnya adalah Muhammad Darwisy dan merupakan anak keempat dari K.H. Abu Bakar (seorang ulama dan khatib terkemuka di Mesjid Besar Kesultanan Yogyakarta) dan ibunya merupakan putrid dari H. Ibrahim yang menjabat sebagai penghlu kesultanan juga.[8] Ia merupakan anak keempat dari tujuh ornag bersudara yang keseluruhan saudaranya perempuan kecuali adik bungsunya. Dalam silsilah ia termasuk keturunan yang keduabelas dari maulana malik Ibrahim, seorang wali besar dan seorang yang terkemuka diantara Wali Songo, yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di tanah Jawa. Ia dikenal jujur dan sederhana dan inilah yang membuatnya disukai orang. Untuk mempelajari ilmu-ilmu agama ia berpindah dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Ia mempunya sikap kritis terhadap pola pendidikan tradisional, tetapi tidak punya kekuatan untuk mengubahnya. Dalam keadaan seperti ini Ia beruntung memproleh kesempatan melanjutkan pendidikannya ke Mekah pada tahun 1890.[9] Di sinilah Ia berinteraksi dengan pemikir-pemikir pembaharu dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, al-Afgani, Rasyid RIdha, dan Ibnu Taimiyah. Pemikiran tokoh-tokoh Islam ini mempunya pengaruh yang besar padanya. Jiwa dan pemikirannya penuh disemangati oleh aliran pembaharuan ini sehingga kelak kemudian hari menampilkan corak keagamaan yang sama, yaitu melalui Muhammadiyah, yang bertujuan untuk memperbaharui pemahaman keagamaan (ke-Islaman) di sebagian dunia Islma saat itu yang masih bersifat ortodoks. Melalui kitab-kitab yang dikarang oleh reformer Islam, telah membuka wawasan beliau tentang universalitas Islam. Ide-ide tentang reenterpretasi Islam dengan gagasan kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah mendapat perhatian khususnya saat itu. Ia juga merupakan murid Syaikh Ahmad Khatib (1899-1916), tokoh kelahiran Indonsea yang saat itu menempati posisi tertinggi dalam penguasaannya atas ilmu-ilmu agama di Mekkah.[10] Dalam pendidikan keagamaan formalnya sebagian besar waktu K.H. Ahmad Dahlan tampaknya dihabiskan untuk mempelajari ajaran Islam tradisionalis, karena itu perkenalannya dengan gagasan-gagasan modernisme Islam kemungkinan terjadi lewat bacaan pribadi dan hubungannya dengan kaum moerdenis Muslim lain. Sekembalinya dari Mekkah tahun 1905[11] ia menikah dengan Siti Walidah, anak perempuan seorang hakim di Yogyakarta yang kelak dikena dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Karena gajinya sebagai khatib tidak mencukupi untuk memenuhi keperluannnya sehari-hari, ia berdagang batik. Ini membawanya ke hampir seua daerah di Jawa dan memberinya kesempatan untk menyampaikan gagasan-gagasannya kepada kaum Muslim yang menonjol di daerah masing-masing. Mereka inilah yang belakangan menjadi bagian inti gerakan Muhammadiyah dan pengikutnya yang bersemangat.[12] K.H. Ahmad Dahlan juga bergabung dengan organisasi Jam’iyatul Khair[13], Budi Utomo[14], anggota teras Sarekat Islam. hingga akhirnya di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 lahirlah Muhammadiyah sebagai gerakan umat Islam. dan sejak awal K.H. Ahmad Dahlan menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat social dan bergerak di bidang pendidikan. Gagasan pendirian Muhammadiyah oleh K.H. Ahmad Dahlan  ini juga mendapatkan resistensi, baik dari keluarga maupun dari masyarakat sekitarnya. Berbagai fitnahan, tuduhan dan hasutan datang bertubi-tubi kepadanya. Ia dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Ada yang menuduhnya kiai palsu, karena sudah meniru-niru bangsa Belanda yang Kristen dan macam-macam tuduhan lain. Bahkan ada pula orang yang hendak membunuhnya. Namun rintangan-rintangan tersebut dihadapinya dengan sabar. Keteguhan hatinya untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaharuan Islam di tanah air bisa mengatasi semua rintangan tersebut. Namun, pada saat Muhammadiyah teratur dan kuat, K.H. Ahmad Dahlan berpulang ke rahmatullah pada tanggal 23 Februari 1923 dalam usia 55 tahun. Dan sekarang kita dapat menyaksikan Muhammadiyah menjadi semakin maju dan berkembang di seluruh nusantara dengan berbagai amal usahanya tidak terlepas dari usaha beliau yang sangat luar biasa.

  1. Pemikiran Pendidikan Islam Ahmad Dahlan

Buya merasa tidak puas dengan system dan praktik pendidikan saat itu, dibuktikan dengan pandangannya mengenai tujuan pendidikan adalah untuk menciptakan manusia yang baik budi, luas pandangan, dan bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakat.[15] Karena itu buya merentaskan beberapa pandangannya mengenai pendidikan dalam bentuk pendidikan model Muhammadiyah khususnya, antara lain:

  1. Pendidikan Integralistik

K.H Ahmad Dahlan (1868-1923) adalah tipe man of action sehingga sudah pada tempatnya apabila mewariskan cukup banyak amal usaha bukan tulisan. Oleh sebab itu untuk menelusuri bagaimana orientasi filosofis pendidikan Beliau musti lebih banyak merujuk pada bagaimana beliau membangun sistem pendidikan. Namun naskah pidato terakhir beliau yang berjudul Tali Pengikat Hidup menarik untuk dicermati karena menunjukkan secara eksplisit konsen Beliau terhadap pencerahan akal suci melalui filsafat dan logika. Sedikitnya ada tiga kalimat kunci yang menggambarkan tingginya minat Beliau dalam pencerahan akal, yaitu: (1) pengetahuan tertinggi adalah pengetahuan tentang kesatuan hidup yang dapat dicapai dengan sikap kritis dan terbuka dengan mempergunakan akal sehat dan istiqomah terhadap kebenaran akali dengan di dasari hati yang suci; (2) akal adalah kebutuhan dasar hidup manusia; (3) ilmu mantiq atau logika adalah pendidikan tertinggi bagi akal manusia yang hanya akan dicapai hanya jika manusia menyerah kepada petunjuk Allah swt. Pribadi K.H. Ahmad Dahlan  adalah pencari kebenaran hakiki yang menangkap apa yang tersirat dalam tafsir Al-Manaar sehingga meskipun tidak punya latar belakang pendidikan Barat tapi ia membuka lebar-lebar gerbang rasionalitas melalui ajaran Islam sendiri, menyerukan ijtihad dan menolak taqlid. Dia dapat dikatakan sebagai suatu “model” dari bangkitnya sebuah generasi yang merupakan “titik pusat” dari suatu pergerakan yang bangkit untuk menjawab tantangan-tantangan yang dihadapi golongan Islam yang berupa ketertinggalan dalam sistem pendidikan dan kejumudan paham agama Islam. Berbeda dengan tokoh-tokoh nasional pada zamannya yang lebih menaruh perhatian pada persoalan politik dan ekonomi, K.H. Ahmad Dahlan mengabdikan diri sepenuhnya dalam bidang pendidikan. Titik bidik pada dunia pendidikan pada gilirannya mengantarkannya memasuki jantung persoalan umat yang sebenarnya. Seiring dengan bergulirnya politik etis atau politik asosiasi (sejak tahun 1901), ekspansi sekolah Belanda diproyeksikan sebagai pola baru penjajahan yang dalam jangka panjang diharapkan dapat menggeser lembaga pendidikan Islam semacam pondok pesantren. Pendidikan di Indonesia pada saat itu terpecah menjadi dua: pendidikan sekolah-sekolah Belanda yang sekuler, yang tak mengenal ajaran-ajaran yang berhubungan dengan agama; dan pendidikan di pesantren yang hanya mengajar ajaran-ajaran yang berhubungan dengan agama saja. Dihadapkan pada dualisme sistem (filsafat) pendidikan ini K.H. Ahmad Dahlan  “gelisah”, bekerja keras sekuat tenaga untuk mengintegrasikan, atau paling tidak mendekatkan kedua sistem pendidikan itu. Cita-cita pendidikan yang digagas Beliau adalah lahirnya manusia-manusia baru yang mampu tampil sebagai “ulama-intelek” atau “intelek-ulama”, yaitu seorang muslim yang memiliki keteguhan iman dan ilmu yang luas, kuat jasmani dan rohani. Dalam rangka mengintegrasikan kedua sistem pendidikan tersebut, K.H. Ahmad Dahlan  melakukan dua tindakan sekaligus; memberi pelajaran agama di sekolah-sekolah Belanda yang sekuler, dan mendirikan sekolah-sekolah sendiri di mana agama dan pengetahuan umum bersama-sama diajarkan. Kedua tindakan itu sekarang sudah menjadi fenomena umum; yang pertama sudah diakomodir negara dan yang kedua sudah banyak dilakukan oleh yayasan pendidikan Islam lain. Namun, ide Beliau tentang model pendidikan integralistik yang mampu melahirkan muslim ulama-intelek masih terus dalam proses pencarian. Sistem pendidikan integralistik inilah sebenarnya warisan yang musti kita eksplorasi terus sesuai dengan konteks ruang dan waktu, masalah teknik pendidikan bisa berubah sesau dengan perkembangan ilmu pendidikan atau psikologi perkembangan. Dalam rangka menjamin kelangsungan sekolahan yang ia dirikan maka atas saran murid-muridnya Beliau akhirnya mendirikan persyarikatan Muhammadiyah tahun 1912. Metode pembelajaran yang dikembangkan K.H. Ahmad Dahlan  bercorak kontekstual melalui proses penyadaran. Contoh klasik adalah ketika Beliau menjelaskan surat al-Ma’un kepada santri-santrinya secara berulang-ulang sampai santri itu menyadari bahwa surat itu menganjurkan supaya kita memperhatikan dan menolong fakir-miskin, dan harus mengamalkan isinya. Setelah santri-santri itu mengamalkan perintah itu baru diganti surat berikutnya. Ada semangat yang musti dikembangkan oleh pendidik Muhammadiyah, yaitu bagaimana merumuskan sistem pendidikan ala  al-Ma’un sebagaimana dipraktekan K.H. Ahmad Dahlan . Anehnya, yang diwarisi oleh warga Muhammadiyah adalah teknik pendidikannya, bukan cita-cita pendidikan, sehingga tidak aneh apabila ada yang tidak mau menerima inovasi pendidikan. Inovasi pendidikan dianggap sebagai bid’ah. Sebenarnya, yang harus kita tangkap dari K.H. Ahmad Dahlan  adalah semangat untuk melakukan perombakan atau etos pembaruan, bukan bentuk atau hasil ijtihadnya. Menangkap api tajdid, bukan arangnya. Dalam konteks pencarian pendidikan integralistik yang mampu memproduksi ulama-intelek-profesional, gagasan Abdul Mukti Ali menarik disimak. Menurutnya, sistem pendidikan dan pengajaran agama Islam di Indonesia ini yang paling baik adalah sistem pendidikan yang mengikuti sistem pondok pesantren karena di dalamnya diresapi dengan suasana keagamaan, sedangkan sistem pengajaran mengikuti sistem madrasah/sekolah, jelasnya madrasah/sekolah dalam pondok pesantren adalah bentuk sistem pengajaran dan pendidikan agama Islam yang terbaik.  Dalam semangat yang sama, belakangan ini sekolah-sekolah Islam tengah berpacu menuju peningkatan mutu pendidikan. Salah satu model pendidikan terbaru adalah full day school, sekolah sampai sore hari, tidak terkecuali di lingkungan Muhammadiyah.

  1. Mengadopsi Substansi dan Metodologi Pendidikan Modern Belanda dalam Madrasah-madrasah Pendidikan Agama

Yaitu mengambil beberapa komponen pendidikan yang dipakai oleh lembaga pendidikan Belanda. Dari ide ini, K.H. Ahmad Dahlan dapat menyerap dan kemudian dengan gagasan dan prektek pendidikannya dapat menerapkan metode pendidikan yang dianggap baru saat itu ke dalam sekolah yang didirikannya dan madrasah-madrasah tradisional. Metode yang ditawarkan adalah sintesis antara metode pendidikan modern Barat dengan tradisional. Dari sini tampak bahwa lembaga pendidikan yang didirikan K.H. Ahmad Dahlan berbeda dengan lembaga pendidikan yang dikelola oleh masyarakat pribumi saat ini. Sebagai contoh, K.H. Ahmad Dahlan mula-mula mendirikan SR di Kauman dan daerah lainnya di sekitar Yogyakarta, lalu sekolah menengah yang diberi nama al-Qism al-Arqa yang kelak menjadi bibit madrasah Mu’allimin dan Mu’allimat Muhammadiyah Yogyakarta. Sebagai catatan, tujuan umum lembaga pendidikan di atas baru disadari sesudah 24 tahun Muhammadiyah berdiri, tapi Amir Hamzah menyimpulkan bahwa tujuan umum pendidikan Muhammadiyah menurut K.H. Ahmad Dahlan adalah:[16]

  1. Baik budi, alim dalam agama
  2. Luas pandangan, alim dalam ilmu-ilmu dunia (umum)
  3. Bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakatnya

Mungkin ada benarnya jika dikaitkan dengan latar belakang timbulnya pemikiran pendidikan Islam K.H. Ahmad Dahlan yang antara lain disebabkan oleh rasa tidak puas terhadap system pendidikan yang ada dan hanya mengembangkan salah satu bidang pengetahuan dari kedua pengetahuan yang ingin dirangkul oleh K.H. Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyahnya. Ijtihad pemikiran pendidikan yang dicetuskan K.H. Ahmad Dahlan melalui gagaan dan praktek pendidikan Islamnya merupakan cikal bakal dan dijadkan estafet dalam pembaharuan system pendidikan Muhammadiyah, sebagai contoh “pondok Muhammadiyah”. Ada empat pokok model pembaharuan pendidikan di Pondok Muhammadiyah antara lain:[17]

No. Sistem Pendidikan Lama Pondok Muhammadiyah
1. 2. 3. 4. System belajar mengajar Weton dan Sorogan. Bahan pelajaran semata-mata agama, kitab-kitab karangan ulama pembaharuan tidak dipergunakan. Belum ada RP yang teratur dan integral. Hubungan guru dan murid lebih bersifat otoriter dan kurang demokratis. Sistem klasikal dengan cara-cara Barat. Bahan pelajaran tetap, ditambah ilmu pengetahuan umum. Kitab-kitab agama dipergunakan secara luas, baik klasik maupun kontemporer.[18] Sudah diatur dengan RP. Diusahakan suasana hubungan guru dan murid lebih akrab bebas dan demokratis.

Dalam pendidikan di pondok Muhammadiyah mata pelajaran agama dan alat untuk mempelajari agama sebagai mata pelajaran pokok. Program pendidikan pondok Muhammadiyah berbeda dengan sekolah Muhammadiyah. Pondok Muhammadiyah menekankan hal keagamaan . sementara sekolah kelas I dan II yang dikelola Muhammadiyah, pendidikan agama hanya sebagai mata pelajaran suatu bidang studi yaitu mata pelajaran Agama Islam. mata pelajaran ini disampaikan pada suatu kelas tertentu dnegna waktu yang ditetapkan. Sekolah Muhammadiyah pada awal abad ke-20 sudah menerapkan system ulangan, absensi murid dan kenaikan kelas. Sementara itu, ujian idpakai sebagai pengukur kecakapan murid. Pendidikan Muhammadiyah juga ditunjang dengan beberapa kegiatan di luar jam pelajaran dan guru dihormati secara wajar. K.H. Ahmad Dahlan telah membawa pembaharuan pendidikan waktu itu melalui Muhammadiyah baik dengan memasukkan mata pelajaran agama di sekolah-sekolah umum dan menyerap ilmu-ilmu yang datang dari Barat, serta memasukkan kitab-kitab ulama baru ke dalam kurikulumnya. Semuanya itu mengundang munculnya berbagai kecaman terhadap beliau. Ada yang menuduh sebagai murtad, kreisten, penganut paham mu’tazilah, kharijiah, dsb. Bahkan sampai tahun 1933 disebutkan bahwa sekolah Muhammadiyah sebagai sekolah kebelanda-belandaan atau kebarat-baratan. Namun Muhammadiyah tetap bisa bertahan dan hingga saat ini mewajikan pembelajaran pengetahuan keIslaman yang disebut al-Islam dan keMuhammadiyahan, dengan mengajarkan Islam versi Majlis Tarjih. Muhammadiyah selalu terbuka dan terus berkembang, termasuk dalam hal keputusan Tarjih. Hal ini karena dalam penentuan sebuah keputusan Tarjih diambil dengan cara mencari yang paling kuat dasarnya, bahkan bisa terjadi tidak sejalan dengan praktik yang dilakukan pendirinya, K.H. Ahmad Dahlan.[19]

  1. Memberi Muatan Pengajaran Islam pada Sekolah-sekolah Umum Modern Belanda

Muhammadiyah baru memutuskan meminta kepada pemerintah agar memberi izin bagi orang Islam untuk mengajarkan agama Islam di sekolah-sekolah Goebernemen pada bulan April 1922. sebenarnya sebelum Muhammadiyah didirikan ini sudah diusahakan namun baru mendapat izin saat itu. Hingga akhirnya Muhammadiyah mendirikan sekolah-sekolah swasta yang meniru sekolah Gubernemen dengan pelajaran agama di dalamnya.[20] Tujuan pokok organisasi dan pendirian lembaga pendidikan menjadi orientasi utama K.H. Ahmad Dahlan sehingga berusaha untuk menandingi sekolah pemerintahan Belanda dengan mengikuti contoh misi Kristen dengan menyebarkan fasilitas dan mendesakkan pengalaman iman.[21] Sekolah Dasar Belada dengan al-Qur’an didirikan dari keterkesanannya terhadap kerja para misionaris Kristen dan SD Belanda dengan Alkitabnya.[22] Sekolah Muhammadiyah mempertahankan dimensi Islam yang kuat, tetapi dilakukan dengan cara yang berbeda dengan sekolah-sekolah Islam yang lebih awal dengan gaya pesantrennya yang kental. Dengan contoh metode dan system pendidikan baru yang diberikannya.[23] K.H. Ahmad Dahlan juga ingin memodernisasi sekolah keagamaan tradisional.[24] Untuk meningkatkan kualitas pendidikan Islam, K.H. Ahmad Dahlan mendirikan sekolah Muallimin dan Muallimat, Muballighin dan Muballighat. Dengan demikian diharpakan lahirlah kader-kader Muslim sebagai bagian inti program pembaharuannya yang bisa menjadi ujung tombak gerakan Muhammadiyah dan membantu menyampaikan misi-misi dan melanjutkannya di masa depan. K.H. Ahmad Dahlan juga bekerja keras meningkatkan moral dan posisi kaum perempuan dalam kerangka Islam sebagai instrument yang efektif dan bermanfaat di dalam organisasinya karena perempuan merupakan unsur penting  berkat bantuan istri dan koleganya sehingga terbentuklah Aisyiah . di tempat-tempat tertentu, dibukalah masjid-masjid khusus bagi kaum perempuan, seseuatu yang jarang ditemukan di Negara-negara Islam lain bahkan hingga saat ini. K.H. Ahmad Dahlan juga membentuk gerakan pramuka Muhammadiyah yang diberi nama Hizbul Watan.

  1. Menerapkan Sistem Kooperatif dalam Bidang Pendidikan

Kita dapat melihat adanya kerjasama yang harmonis antara pemerintahan Belanda dengan Muhammadiyah.[25] Keduanya sama-sama memperoleh keuntungan. Pertama, dari sikap non oposisional. Kedua, mendukung program pembaharuan keagamaan  termasuk di dalam bidang pendidikan. Sikapnya yang akomodatif dan kooperatif memberikan ketentuan mutlak untuk bertahan hidup di tengah iklim yang sangat tidak ramah terhadap gerakan nasionalis pribumi dan disaat tidak satupun gerakan yang sebanding dengannya dapat bertahan saat itu. Sehingga K.H. Ahmad Dahlan dapat masuk lebih dalam pada lingkungan pendidikan kaum misionaris yang diciptakan oleh pemerintah Belanda, yang saat itu lebih maju kedepan dari pada sistem penddikan pribumi yang tradisional.[26] Dari uraian tersebut di atas, ada beberapa catatan yang direntaskan oleh buya[27], antara lain:

  1. Membawa pembaruan dalam bentuk kelembagaan pendidikan, yang semula seistem pesantren menjadi system sekolah.
  2. Memasukkan pelajaran umum kepada sekolah-sekolah keagamaan atau madrasah.
  3. Mengadakan perubahan dalam metode pengajaran, dari yang semula menggunakan metode weton dan sorogan menjadi lebih bervariasi.
  4. Mengajarkan sikap hidup terbuka dan toleran dalam pendidikan.
  5. Dengan Muhammadiyahnya buya berhasil mengembangkan lembaga pendidikan yang beragam dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi dan dari yang berbentuk sekolah agama hingga yang berbentuk sekolah umum.
  6. Berhasil memperkenalkan manajemen pendidikan modern ke dalam system pendidikan yang dirancangkannya.
  7. Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah

Muhammadiyah merupakan gerakan umat Islam yang lahir di Yogyakarta 18 Nopember 1912. Yang perkembangannya, terutama sejak paruh kedua tahun 1920-an menunjukkan grafik meningkat. Disaat gerakan umat Islam seangkatannya justru dilanda perpecahan dan perlahan menunjukkan grafik penurunan, yaitu Sarekat Islam (SI). Yang saat itu SI pecah karena infiltrasi komunis, sehingga muncul SI “Merah” yang jadi onderbow PKI (1920). Dengan melihat perkembangan Muhammadiyah ini ada sebagian yang menyebutkan sejarah Indonesia 1925-1945 adalah sejarah Muhammadiyah. Mungkin ini tidak berlebihan. Pernyataan ini menyiratkan betapa besar peranan gerakan Muhammadiyah atau kader-kader Muhammadiyah dalam dinamika sejarah umat dan bangsa ini. Sejarah mencatat, KH Mansur penggerak MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) dan PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat) zaman Jepang adalah pimpinan pusat Muhammadiyah. Ki Bagus Hadikusumo, adalah pimpinan pusat Muhammadiyah yang turut merumuskan Piagam Jakarta dan berperan dalam sidang-sidang persiapan kemerdekaan. Mr.Kasman Singodimejo pun politisi yang berasal dari Muhammadiyah. Bung Karno, Ir.Juanda, Sudirman, dll tokoh bangsa ini tidak sedikit merupakan kader lulusan pendidikan Muhammadiyah. Dalam aspek sosial gerakan Muhammadiyah pun banyak memberikan kontribusi pengembangan umat dan bangsa. Misalnya Muhammadiyah memelopori pendirian Panti Asuhan dan Rumah Sakit. Bahkan Lembaga Haji (Badan Penolong Haji) pun dirintis murid KH Ahmad Dahlan, Haji Sujak yang mengusahakan usaha perkapalan untuk jemaah haji pada tahun 1921. Bidang pendidikan itu lebih jelas lagi. Karena strategi gerakan Muhammadiyah diawali dengan perintisan dan pengembangan kader lewat jalur pendidikan formal dan non formal. Dilihat aspek pengembangan pemikiran keagamaan, Muhammadiyah pun berada di garda depan. Di zaman Belanda Muhammadiyah berhasil upaya de-mistifikasi (penghancuran berpikir mistik) dengan gerakan rasionalisasinya, tetap tetap berpijak pada konsep Al-Qur’an dan As-Sunnah. Muhammadiyah pun mendobrak ketaklidan yang membabi buta, berpikir feodal seperti pengkultusan individu yang bisa mematikan ijtihad dan keterbukaan pikir. Muhammadiyah turut pula mendobrak kefeodalan dengan mengubah kebiasaan kurang baik, dalam proses pembelajaran al-Qur’an. Misalnya turut memelopori usaha penerjemahan Al-Qur’an, yang di zaman Belanda itu diharamkan. Muhammadiyah pun yang memelopori ibadah hari raya di lapangan pada tahun 1930-an, yang menggemparkan. Bahkan Belanda khawatir akan bergeser pada aksi massa. Dengan pola pikir yang rasional tetapi tetap mengedepankan jiwa kemanusiaan (kecerdasan emosional), Muhammadiyah berhasil membawa umat sedikit demi sedikit untuk mempergunakan nalar rasional dengan inspirasi ajaran Qur’an dan Sunah. Dari pola pemikiran rasional tsb gerakan Muhammadiyah telah “membangunkan” kesadaran umat Islam yang sebelumnya lebih terkesan tertinggal dan menjauhi kemajuan modern dalam pengembangan sains dan teknologi. Sehingga perlahan Muhammadiyah bisa membawa umat dan bangsa untuk mensejajarkan umat dan bangsa ini dengan umat dan bangsa lainnya. Bahkan peranan Muhammadiyah sampai kini tetap menjadi harapan umat dan bangsa, selain ormas Islam lainnya seperti NU, Persis, SI dan lain-lain. Terlebih dalam menyikapi isu-isu nasionaol dan internasional selalu tampil di depan sebagai pelopornya. Baik secara kelembagaan ataupun yang diperankan individu kader-kadernya. Pengamat politik asing seperti Samuel P Huntington dalam bukunya Benturan Peradaban menyebutkan Muhammadiyah sebagai “motor kebangkitan Islam” di Indonesia. Analisis Huntington tersebut wajar. Sebab dalam rentang usianya mendekati satu abad, Muhammadiyah telah, sedang dan akan terus mengahasilkan kader-kader intelektual bagi umat dan bangsa. Bahkan perkembangan berikutnya tampak Muhammadiyah sedang melebarkan sayapnya menjadi gerakan internasional dengan sudah membuka cabang-cabangnya di luar negeri. Seperti di Berlin, Cairo, Teheran, Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok, Australia, Amerika dst. Dari latar belakang tersebut di atas, bila meminjam teori Hero (Tokoh) nya Thomas Carlyle bahwa pemimpin besar (The Great Man) sebagai penggerak idea akan terjadi perubahan sejarah. Bahwa idea dapat membangkitkan gerak sejarah suatu bangsa, jika ada penggeraknya yaitu pemimpin besar. Seperti halnya ajaran Islam, tidak akan berkembang tanpa kehadiran dan peranan pemimpin besarnya, nabi Muhammad saw. Dengan memakai pendekatan teori sejarah ini, maka gerakan Muhammadiyah tidak akan berkembang dan berpengaruh besar sampai kini jika tanpa kehadiran ideolog dan penggerak awalnya KH Ahmad Dahlan. Karena itu mencermati dan melakukan studi atas pemikiran KH Ahmad Dahlan menjadi penting dilakukan. Ini akan berguna untuk memahami dinamika perkembangan Muhammadiyah khususnya, dan dinamika umat Islam dan bangsa Indonesia. Muhammadiyah selalu terbuka dan terus berkembang termasuk dalam hal keputusan tarjih.

  1. Ahmad Dahlan sebagai Pembaharu

Ada banyak hal yang menjadikan K.H. Ahmad Dahlan sebagai pembaharu, di antaranya yaitu:

  1. Melakukan purifikasi ajaran Islam dari khurafat tahayul dan bid’ah yang selama ini telah bercampur dalam akidah dan ibadah umat Islam, dan mengajak umat Islam untuk keluar dari jarring pemikiran teradisional melalui reinterpretasi terhadap doktrin Islam dalam rumusan dan penjelasan yang dapat diterima oleh rasio.[28]
  2. Usaha dan jasanya mengubah dan membetulkan arah kiblat yang tidak tepat menurut mestinya. Umumnya masjid-masjid dan langgar-langgar di Yogyakarta menghadap Timur dan orang-orang shalat mengahadap kea rah Barat lurus. Padahall kiblat yang seenarnya menuju Ka’bah dari tanah Jawa haruslah iring kearah Utara + 24 derajat dari sebelah Barat. Berdasarkan ilmu pengetahuan tentang ilmu falak itu, ornag tidak boleh menghadap kiblat menuju Barat lurus, melainkan harus miring ke Utara + 24 derajat. Oleh sebab itu, K.H. Ahmad Dahlan mengubah bangunan pesantrennya sendiri supaya menuju kea rah kiblat yang betul. Perubahan yang diadakan oleh K.H. Ahmad Dahlan itu mendapat tantangan keras dari pembesar-pembesar masjid dan kekuasaan kerajaan
  3. Berdasarkan perhitungan astronominya, K.H. Ahmad Dahlan menyataka bahawa hari raya Idul Fitri yang bersamaan dengan hari ulang tahun Sultan,, harus dirayakan sehari lebih awal dari yang diputuskan para ulama “mapan”. Dan melaksanakan shalat Idul Fitri di lapangan. Sultan menerima pendapat K.H. Ahmad Dahlan namun karena ini pula beliau kehilangan lebih banyak lagi simpati dari kalangan ulama “mapan”.[29]
  4. Mengajarkan dan menyiarkan agama Islam dengan popular, bukan saja di pesantren, melainkan ia pergi ke tempat-tempat lain dan mendatangi berbagai golongan. Bahkan dapat dikatakan bahwa K.H. Ahmad Dahlan adalah bapak Muballig Islam di Jawa Tengah, sebagaimana syekh M. Jamil Jambek sebagai bapak Muballigh di Sumatra Tengah.[30]
  5. Mendirikan perkumpulan Muhammadiyah yang tersebar di seluruh Indonesia sampai sekarang.
  6. Sebuah Refleksi Dan Kritik Realita Sekolah-Sekolah Muhammadiyah Saat Ini

Puluhan truk pasir sejumlah sak semen dan beberapa kaleng cat tidak begitu bermakna apabila hanya di pajang di toko atau disimpan di gudang. Makna itu menjadi bermakna di tangan tukan batu atau arsitek, karena beragam bentuk arsitektur dapat dibangun. Ilustrasi tersebut menjadi bermakna dalam konteks pendidikan. Melimpahnya materi tentang aqidah, akhlaq, A-Qur’an Hadits atau hafalan sekian juz plus materiilmu umum yang menjadi tidak bermakna manakala dijejalkan begitu saja ke peserta didik dalam keadaan saling terpisah dan bersifat parsial. Apabila Muhammadiyah benar-benar mau membangun sekolah atau universitas unggulan maka harus merumuskan landasan filosofis pendidikan yang tepat sehingga dihadapan pendidikan nasional pun posisinya tegas. Jika kita melihat sekolah Muhammadiyah saat ini dari sisi kurikulumnya sama persis dengan sekolah/universitas negeri ditambah materi al-Islam dan ke-Muhammadiyahan. Kalau melihat materi yang begitu banyak, maka penambahan itu malah semakin membebani anak karenanya amat jarang lembaga pendidikan melahirkan bibit-bibit unggul. Karena itu suudah waktunya untuk kembali merumuskan materi yang terintegrasikan dengan materi-materi umum seperti yang dicita-citakan oleh pendidinya buya Ahmad Dahlan serta disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. Buya melihat bahwa mengadopsi system pendidikan model Barat adalah salah satu jalan pintas karena buya melihat bahwa pendidikan merupakan kunci untuk melakukan berbagai perintah agama. Mengingat system pendidikan koloni dianggap yang terbaik maka jalan yang paling mudah adalah dengan mengadopsi sisterm tersebut lalu disempurnakan dengan penambahan mata pelajaran agama. Namun, generasi kita sekarang lebih disibukkan untuk mendirikan lembaga pendidikan hasil ijtihad, bukan menangkap substansinya yaitu bagaimana mengintegrasikan atau mensintesakan ilmu umum dan ilmu agama, karenanya cita-cita buya untuk melahirkan ulama-intelek dan intelek ulama belum terpenuhi. Lain halnya jika kita membaca cerpen dari Navis (2000) yang berjudul “Robohnya Surau Kami”, yang berisi kritikan terhadap kaum agamawan (para penganut agama, terutama Islam) yang terlalu bersemangat untuk meraih surga di akhirat tapi melupakan meraih “surga” di muka bumi ini melalui kerja kemanusiaansampai akhirnya surai itu roboh. Dengan meminjam istilah itu secara konotatif kemungkinan kritik itu diarahkan kepada warga Muhammadiyah yang berlomba-lomba mendirikan sekolahan hanya bermodal ihlas tanpa memperhatikan mutu/kualitas dan standar kelayakan pendidikan sehingga begitu ada arus perubahan satu persatu sekolah Muhammadiyah rontok, kehabisan murid seperti yang terjadi belakangan ini. Sedangkan secara denotative, memang untuk menunjukkan bahwa bangunan gedung-gedung Muhammadiyah rata-rata sudah menua sehingga benar-benar mau roboh. Begitulah realita yang terjadi dan untuk menutup tulisan ini ada baiknya kita membaca kembali apa yang dituliskan Andrea Hirata dalam novel best seller-nya yang sangat menyengat dunia pendidikan kita yang berjudul Laskar Pelangi.. Realita pendidikan Muhammadiyah di pelosok kota Belitung, yang harus berjuang keras melawan ganasnya lingkungan dan kehidupan. Tapi dengan motivasi dan semangat yang tinggi dari diri sendiri, teman serta pengelola pendidikan tersebut, mereka berhasil mengatakan pada dunia “ini lah aku…anak-anak dari pelosok Belitung…”. Guru yang super hebat dengan semua pengorbanannya memperjuangkan eksistensi mereka pada dinas Pendidikan setemat, dan loyalitas mereka untuk menerapkan cita-cita pembaruan buya Ahmad Dahlan dalam sekolah mereka. Harusnya kita malu dengan segala kemewahan fasilitas dan sarana yang kita miliki kalau kita masih keliru memahami maksud dari cita-cita pendidikan buya Dahlan. Sederhananya, tidak banyak cingcong dan kemampuan merealisasikan ide menjadi tindakan nyata, jauh lebih tinggi daripada intelektual muda manapun. Ini barangkali dapat dipertimbangkan sebagai mata pelajaran baru di sekolah-sekolah kita. University of Life adalah ungkapan yang paling pas untuk situasi ini. Sekolah seharusnya tidak lagi mengajarkan hal-hal apa yang harus kita pikirkan,tapi mengajarkan kita cara berfikir. Ada baiknya kita memotivasi diri kita sebagai pondasi awal kita untuk menyajikan dunia pendidikan yang terbaik sesuai dengan cita-cita buya, dengan meresapi apa yang dikatakan Arai kecil: “bahwa orang seperti kita akan mati tanpa mimpi dan semangat, karena itu jangan pernah berhenti bercita-cita, karena pabila itu terjadi maka tragedy terbesar dalam hidup kita akan dimulai. Itulah kiranya yang dingin direalisasikan oleh buya Ahmad Dahlan. III. KESIMPULAN

  1. Gerakan Muhammadiyah dikenal luas sebagai gerakan yang sangat dipengaruhi oleh gagasan modern dan reformis pembaru Mesir Muhammad Aabduh (1849-1905), yaitu dimaksudkan untuk memurnikan Islam di Indonesia dari praktik-praktik khurafat tradisional yang tidak Islami. Dalam rangka memajukan program pembaruannya, Muhammadiyah menyerukan agar kaum Muslim kembali kepada Islam yang murni dan menafsirkan untur-unsur kebudayaan Barat dalam kerangka ajaran Islam.
  2. Dalam rangka mengintegrasikan kedua sistem pendidikan tersebut, K.H. Ahmad Dahlan  melakukan dua tindakan sekaligus; memberi pelajaran agama di sekolah-sekolah Belanda yang sekuler, dan mendirikan sekolah-sekolah sendiri di mana agama dan pengetahuan umum bersama-sama diajarkan. Kedua tindakan itu sekarang sudah menjadi fenomena umum; yang pertama sudah diakomodir negara dan yang kedua sudah banyak dilakukan oleh yayasan pendidikan Islam lain. Namun, ide Beliau tentang model pendidikan integralistik yang mampu melahirkan muslim ulama-intelek masih terus dalam proses pencarian. Sistem pendidikan integralistik inilah sebenarnya warisan yang musti kita eksplorasi terus sesuai dengan konteks ruang dan waktu, masalah teknik pendidikan bisa berubah sesau dengan perkembangan ilmu pendidikan atau psikologi perkembangan.
  3. Setelah melihat sepak terjang K.H. Ahmad Dahlan dalam gagasan dan praktek pendidikan Islam melalui Muhammadiyahnya, kita tahu besar sekali jasa beliau dalam meletakkan pelajaran agama sebagai mata pelajaran di sekolah-sekolah pemerintah sampai saat ini dari pendidikan kanak-kanak sampai perguruan tinggi.
  4. Gagasan K.H. Ahmad Dahlan selanjutnya dijadikan inspirasi bagi penetapan bidang studi umum dan agama Islam yang wajib diberikan di sekolah dasar dan diikuti oleh murid-murid yang beragama Islam.
  5. Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan dalam bidang pendidikan berangkat dari keinginan untuk mewujudkan manusia yang mewakili kepribadian yang integral dan pengetahuan yang seimbang. Sehingga dipandang pentingnya memberikan pengetahuan agama bagi mereka yang berada di sekolha-sekolah umum dan pengetahuan umum bagi mereka yang selama ini belum pernah mendapatkannya.
  6. Tampak jelas dalam kurikulumnya bahwa kurikululum yang ditetapkan DikNas, pendidikan Muhammadiyah juga mengkompromikan pengetahuan agama dan pengetahuan umum. Pada sekolah negeri pelajaran agama merupakan satu bidang studi. Sedang di pendidikan Muhammadiyah dibagi menjadi empat, yaitu akidah, al-Qur’an, tarikh dan akhlaq
  7. K.H. Ahmad Dahlan dapat dikatakan sebagai peletak dasar pemikiran Muhammadiyah yang tidak bersikap apriori terhadap Barat. Ia melihat kemajuan yag dibawa Barat dan ia bekeyakinan bahwa salah satu jalan untuk mengankat umat Islam adalah dengan mendidik mereka dalam lembaga pendidika yang mempunyai system yang tersendiri sebagai hasil pemikirinannya. Lembaga-lembaga pendidikan inilah yang kemudian menjadi sarana pelestarian hasil-hasil keputusan tarjih.

IV. PENUTUP Demikian pemaparan makalah dari saya semoga bermanfaat. Semoga kita dapat melakukan dan memberikan yang terbaik bagi dunia pendidikan kita dengan menghadapi semua kesulitan sebagai bagian dari suatu tatanan pendidikan kita yang sempurna. Billahi fi sabilil haq fastabiqul khairat. DAFTAR PUSTAKA Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007). Abdul Munir Mulkhan, Prof.Dr.SU, Kisah dan Pesan Kiai Ahmad Dahlan (Yogyakarta: Pustaka, 2005) Abuddin Nata, FIlsafat Pendidikan Islam (Edisi Baru) (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005) Ahmad Mansur Suryanegara, Prof.Ph.D, Filsafat Sejarah (Makalah Mata Kuliah), (Jurusan SPI Fak.Adab IAIN SGD, Bandung, 2003) Ali Asyraf, Horison Baru Pendidikan Islam, terjemahan, Sori Siregar (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993). Alfian, Muhammadiyah The Political Behavior of Allah SWT Muslim Modernist Organization Undr Dutch Colonialism (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1085) Alwi Shihab, Membendung Arus Resopn Gerakan Muhammdiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia (Bandung: Mizan, 1998) Amir Hamzah Wirjosukarto, Pembaharuan Pendidikan dan Pengajaran Islam (Jember, Mutiara Offset, 1985) Arbiyah Lubis, Pemikiran Muhammadiyah dan Muhammad Abduh (Jakarta: Bulan Bintang, 1993)Clifford Geertz, The Religion of Java (New York: The free Press of Glencoe, Inc., 1961) Berita Resmi Muhammadiyah (BRM) No.23/April 1995 Delia Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942I (Jakarta: LP3ES, 1995) Disertasi tidak diterbitkan, Ahmad Tafsir, Konsep Pendidikan Formal dalam Muhammadiyah (Jakarta: IAIN Syarif Hidayatullah, 1987) Achmad Jainuri, The Muhammadiyah Movement in Twentieth Century Indonesia Allah SWT social Religius Study (Canada: Tesis Mc. Gill University Montrealm 1992) Dja’far Siddik, Konsep Pendidikan Islam Muhammadiyah Sistematisasi dan Interpretasi Berdasarkan Perspektif Ilmu Pendidikan (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 1997) Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2001) Hamka, Kenang-kenangan Hidup I (Jakarta: Gapura, 1951) http://immgunungjati.wordpress.com/2007/11/13/rekonstruksi-pemikiran-kh-ahmad-dahlan/ Download pada tanggal 9 April 2008-04-18 Karel A. Steenbrink, Pesantren Madrasah Sekolah, (Jakarta: LP3ES, 1994) KRH. Hadjid, Pelajaran K.H. Ahmad Dahlan 7 Falsafah Ajaran dan 17 Kelompok Ayat al-Qur’an (Yogyakarta: LPI PPm, 2005). M. Margono Poesposuwarno, Gerakan Islam Muhammadiyah (Yogyakarta: Persatuan Offet, 1995) M. Yusron Asrofie, K.H. Ahmad Dahlan Pemikiran dan Kepemimpinannya (Yogyakarta: Yogyakarta Offset, 1983) Mark R. Woodward, Islam in Java: Normative Piety and Mysticism in the Sultanate of Yogyakarta (Tucson: The University of Arizona Press, 1989) Muhammad Syamsu As, Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya (Jakarta: Lentera, 1999) MT. Arifin, Muhammadiyah: Potret yan Berubah (Surakarta: Institut Gelanggang Mukti A. Ali, The Muhammadiyah Movement: Allah SWT Bibliographical Introcution”, Tesis Master pada Institute of Islamic Studies (Mc Gill Univercity, Montreal, 1957) Pedoman Guru Muhammadiyah, seri M.P.P. No. % (Jakarta: PP Muhammadiyah Majlis P.P.K, 1997 Pemikiran Filsafat Sosial BUdaya dan Kependidikan, 1990)Profil Anggota Muhammadiyah, LP UMY, Yogyakarta, 2000 Robert van Neil, From Netherlands East Indies to Republic of Indonesia 1900-1945, dalam Harry Aveling (ed), The Development of Indonsesian Society (New York: St. artin Press, 1980) Sri Setyatiningsih dan Sutrisno Katoyo, Sejarah Pendidikan DIY (Yogyakarta: Depdikbud, 1982) Syaifullah, Gerakan Politik Muhammadiyah Dalam Masyumi, (Grafiti Pers, Jakarta, 1997) Solichin Salam, Muhammadijah dan Kebangunan Islam di Indonesia, (NV Mega, Jakarta, 1965) Tim MPK PP Muhammadiyah, Sistem Perkaderan Muhammadiyah (Yogyakarta: MPK PP Muhammadiyah, 2008) Sukrianta & Abdul Munir Mulkhan, Perkembangan Pemikiran Muhammadiyah Dari Masa Ke Masa, Dua Dimensi, Yogyakarta, 1985 Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis (Jakarta: Ciputat Pers, 2002). Suara Muhammadiyah, Edisi Sabtu, 9 Februari 2008 Syamsi Sumardjo, Pengetahuan Muhammadiyah dengan Tokoh-tokohnya dalam Kebangunan Islam (Yogyakarta: P.B. Muhammadyah, 1976) Syed Sajjad dan Syed Ali Ashraf, Crist in Muslim Education (Jeddah: Hodder and Stonghton 1979) Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam, Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2006 Weinata Sairin, Gerakan Pembaharuan Muhammadiyah (Jakarta: Pustaka SInar Harapan, 1995) Winarno SUrakhmad, dkk, Reformasi Pendidikan Muhammadiyah Suatu Keniscayaan (Yogyakarta: Pustaka Suara Muhammadiyah, 2003) Yunus Salam, K.H. Ahmad Dahlan Reformer Islam Indonesia (Jakarta: Djajamurni, 1963). —————–, K.H. Ahmad Dahlan dan Amal Perjuangan (Jakarta: Depot Pengajaran Muhammadiyah, 1968)


[1] Terminology dunia Islam adalah suatu area terbentang antara Maroko sampai ke Indonesia dan Negara-negara yang terletak di sekitar Indonesia seperti Cina, Jepang dan Tibet, di mana Negara-negara tersebut sebagian besar mempunyai aligiensi (kecenderungan terbesar) kultur Budha, Syed Sajjad Husain and Syed Ali Ashraf, Crisis in Muslim Education, (Jeddah: Hodder and Stoghton, 1979), h. 3. Bandingkan dengan Ali Asyraf, Horison Baru Pendidikan Islam, terj. Sori Siregar (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993), p. 105-143. diceritakan bahwa, untuk memecahkan masalah-masalah dan meningkatkan mutu pendidikan, secara resmi telah diadakan kongerensi pendidikan sebanyak empat kali: pertama di Mekkah tahun 1977, kedua di Islamabad (Pakistan) tahun 1980, ketiga di Dhaka (India) tahun 1981 dan keempat di Jakarta tahun 1982. [2] Hamka, Kenang-kenangan Hidup (1) (Jakarta: Gapura, 1979), p. 36-37. selanjutnya Hamka menulis, tentang kesenjangan antar sekolah pada awal abad ke-20 sebagai berikut: Pada waktu itu ada dua macam sekolah, satu namanya Sekolah Gubermen, yang terdiri dari IV kelas, dan yang satu namanya Sekolah Desa yang teridiri dari III kelas. Di antara murid-murid kedua sekolah itu, kerap sekali terjadi perkelahian karena saling membanggakan sekolah masing-masing. Anak Sekolah Desa dipandang rendah, atau merasa dirinya rendah, berhadapan dengan anak Sekolah Gubermen. Untuk anak-anak pegawai bangsa Belanda didirikan Europeesche Lagere School, dengan kekecualian yang amat sangat, artinya yang diterima di situ hanya anak-anak pegawai bangsa Indonesia, misalnya anak Demang dan anak Jaksa. Anak-anak yang bersekolah di sini merasa pula bahwa dirinya adalah tingkat yang di atas sekali, lebih tinggi dari sekolah Gubermen itu dan jauh pula lebih tinggi dari anak Sekolah Desa. [3] Dalam Robert van Niel, The Emergence of the Modern Indonesia Elite, terj. H. Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda (Jakarta: LP3ES, 1985), p. 21. 101. Politik etika bermula dari pidato Ratu Wilhelmina pada tahun 1901 di Staten General, yang menegaskan bahwa Belanda mempunyai “kewajiban moral” terhadap rakyat Indonesia. Isi pidato tersebut antara lain: “Sebagai kekuatan Kristen pribumi di Hinda Belanda berkewajiban untuk mengatur posisi hukum yang lebih baik bagi orang-orang Kristen pribumi di Hindia BElanda, untuk memberikan dukungan lebih kuat terhadap penyebaran Kristen dan memberikan penerangan kepada segenap petugas bahwa Belanda mempunya kewajiban moral yang harus dipenuhi terhadap penduduk wilayah itu”. Adapun pelaksanaan politik tersebut mulai tahun 1907, berakhir tahun 1920. [4] Sri Setyiatiningsih dan Sutrisno Kutoyo, Sejarah Pendidikan Daerah Istimewa Yogyakarta, (Yogyakarta: Depdikbud, 1982), h. 9. [5] Aqib Suminto, Politik Islam, h. 15, 19. UUD Belanda ayat 119 tahun 1855, menyatakan bahwa pemerintah bersikap netral terhadap agama. Pengertian netral dalam hal ini seharusnya tidak memihak dan tidak campur tangan sekali atau bisa juga membantu kesemuanya secara seimbang tanpa mencampurinya. Tetapi, ternyata penryataan netral terhadap agama berbeda antara teori dan praktek. Sampai pada tahun-tahun terakhir berkuasanya, kebijaksanaan pemerintahan Hindia Belanda terhadap agama lebih tepat dikatakan campur tangan daripada netral. Meskipun campur tangan terhadap Islam dan Kristen berbeda dalam jenis kualitas dan kuantitasnya. Dan keinginan untuk tetap menjajah, betapapaun mengakibatkan pemeritah kolonia tidak memapu memperlakukan agama pribadi sama dengan agaman sendiri, juga tidak mampu memperlakukan pribadi yang beragama lain, sama dengan pribumi yag seagama dengan. Senada juga dengan Delia Noer, Gerakan Modern Islam, h. 105. bahwa sikap diskriminatif juga tampak pada perlakuan Belanda terhadap pihak muslim dengan Cina. Pemerintah colonial dirasakan lebih menganakemaskan pihak Cina. Pendirian Hollands Chinese School (HSC) dalam tahun 1099 oleh pemerintah colonial Belanda dianggap oleh banyak orang Indonesia sebagai bukti atas diskrimisasi tersebut. [6] Yunus Salam, K.H. Ahmad Dahlan dan Amal Perjuangannya, (Jakarta: Depot Pengajaran Muhammadiyah 1968), h. 29-30. [7] Lihat: Delia Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942I (Jakarta: LP3ES, 1995). M. Yusron Asrofie, K.H. Ahmad Dahlan Pemikiran dan Kepemimpinannya (Yogyakarta: Yogyakarta Offset, 1983). Yunus Salam, K.H. Ahmad Dahlan Reformer Islam Indonesia (Jakarta: Djajamurni, 1963). Arbiyah Lubis, Pemikiran Muhammadiyah dan Muhammad Abduh (Jakarta: Bulan Bintang, 1993). Weinata Sairin, Gerakan Pembaharuan Muhammadiyah (Jakarta: Pustaka SInar Harapan, 1995). M. Margono Poesposuwarno, Gerakan Islam Muhammadiyah (Yogyakarta: Persatuan Offet, 1995). Alwi Shihab, Membendung Arus Resopn Gerakan Muhammdiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia (Bandung: Mizan, 1998). Alfian, Muhammadiyah The Political Behavior of Allah SWT Muslim Modernist Organization Undr Dutch Colonialism (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1085). Dja’far Siddik, Konsep Pendidikan Islam Muhammadiyah Sistematisasi dan Interpretasi Berdasarkan Perspektif Ilmu Pendidikan (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 1997). Disertasi tidak diterbitkan, Ahmad Tafsir, Konsep Pendidikan Formal dalam Muhammadiyah (Jakarta: IAIN Syarif Hidayatullah, 1987). Achmad Jainuri, The Muhammadiyah Movement in Twentieth Century Indonesia Allah SWT social Religius Study (Canada: Tesis Mc. Gill University Montrealm 1992).   [8] Delia Noer Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, (Jakarta: LP3ES, 1995), h. 48 [9] Musthafa Kamal Pasha, Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam untuk Angkatan Muda (Yogyakarta: Persatuan, 1975), h. 8-9 [10] Ahmad Khatib aslinya adalah orang Bukittinggi, Sumatra Barat, yang pergi ke Mekkah pada 1876 untuk melanjutkan sekolahnya. Dia dikenal sebagai orang yang sangat kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah colonial Belanda dan bersikap tidak bersahabat kepada Hurgronje ketika yang terakhir ini berada di Mekkah. Di antara murind-muridnya adalah ulama terkenal K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri Pesantren Tebuireng dan belakangan pendiri organisasi kaum tradisionalis NU. Lihat: Muhammad Syamsu As, Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya (Jakarta: Lentera, 1999), h. 245 [11] Ada perbedaan pendapat di kalangan para penulis biografi K.H. Ahmad Dahlan mengenai kepergiannya ke Mekkah. Menurut Mukti Ali, K.H. Ahmad Dahlan pertama kali menuanaikan ibadah haji pada 1890 dan menetap di sana selama satu tahun, sedangkan dalam kunjungannya yang kedua ia menetap selama dua tahun. Sumber lain menyebutkan dalam kunjungannya yang kedua ini, ia menetap selama empat tahun. Sedang sumber lain lagi menyebutkan ia menetap selama satu setengah tahun, bersama anaknya Siraj. [12] Syamsi Sumardjo, Pengetahuan Muhammadiyah dengan Tokoh-tokohnya dalam Kebangunan Islam (Yogyakarta: P.B. Muhammadyah, 1976), h. 4. [13] Penggerak kebangkitan Islam di Jawa yang pertama adalah perkumpulan Jam’iat Khair yang berdiri di Jakarta pada tahun 1905. dari perkumpulan inilah bermunculan tokoh-tokoh baru Islam dan mendirikan berbagai perkempulan seperti Muhammadiyah, al-Irsyad, dll. K.H. Ahmad Dahlan adalah salah seorang anggotanya dengan nomor anggota 770. [14] Ketika bergabung, kepedulian utama K.H. Ahmad Dahlan adalah untuk memasukkan dimensi keagamaan ke dalam organisasi yang watak utamanya secular itu. Beliau ingin menyebarkan nilai-nilai keagamaan di kalangan anggota organisasi ini, yang dikenal luas sebagai sangat intelek tetapi komitmennya kepada Islam sangat kurang. Lihat: Deliar Noer, Gerakan Modern Islam, h. 86. pembawaannya yang rasional dan tidak tradisional dalam merumuskan ajaran-ajaran Islam tampaknya menjadi alasan di balik kemampuan mempengaruhinya dan diterima para anggota BU dan beliau tetap merupakan anggota aktif organisasi itu bahkan setelah Muhammadiyah lahir. [15] Amir Hamzah Wirjosukarto, Pembaharuan Pendidikan dan Pengajaran Islam, h.95-96 [16] Lihat, Amir Hamzah Wirjosukarto, Pembaharuan Pendidikan dan Pengajaran Islam (Jember, Mutiara Offset, 1985), h. 92. Lihat juga Pedoman Guru Muhammadiyah, seri M.P.P. No. % (Jakarta: PP Muhammadiyah Majlis P.P.K, 1997), h. 26. Tujuan pendidikan Muhammadiyah secara umum yang lain berbunyi: “Terwujudnya manusia musli yang berakhlak mulia, cakap, percaya pada diri sendiri berguna bagi masyarakat dan negara. Selanjutnya tujuan tersebut disempurnakan lagi, sehingga berbunyi: (i) terwujudnya manusia muslim yang berakhlak mulia cakap, percaya pada diri sendiri dan berguna bagi masyarakat dan negara, beramal menuju terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, (ii) memajukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan ketrampilan untuk pembangunan masyarakat dan Negara RI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Tujuan ini tercantum dalam Kaidah Perguruan Dasar dan Menengah masyarakat pasal 3 Persyarikatan Muhammadiyah Badan Hukum yang menyelenggarakan Sekolah dan Terguruan Tinggi, pasca kepemimpinan K.H. Ahmad Dahlan. [17] Ibid, h. 98-108 [18] Bahan pelajaran tersebut di samping pelajran Qur’an dan hadis adalah kitab-kitab fiqh (mazhab Syafi’i), ilmu tasawuf (al-Ghazali), Ilmu kalam (ulama-ulama Ahl Sunnah) ditambah dengan kitab Risalah al-Tauhid (Muhammad Abduh), kitab Jalalain dan al-Manar. Sedangkan pengetahuan umumnua meliputi: ilmu sejarah, berhitung, menggambar bahasa Melayu, bahasa Belanda dan Inggris. Lihat: Amir Hamzah Wirjosukarto, Pembaharuan Pendidikan, h. 122-123. [19]K.H. Ahmad Dahlan pada masa hidupnya banyak menganut fiqh mahzab Syafi’i, termasuk mengamalkan qunut dalam shalat subuh dan shalat tarawih 23 rakaat. Namun, setelah berdiriya Majelis Tarjih pada masa kepemimpinan Kyai Haji Mas Mansyur, terjadilah revisi –revisi setelah melakukan kajian mendalam, termasuk  keluarnya  Putusan Tarjih yang menuntunkan tidak dipraktikkannya do’a qunut di dalam shalat subuh dan jumlah rakaat shalat tarawih yag sebelas rakat. “ Ini wujud keterbukaan Muhammadiyah yang tidak fanatik”.Karena ini Muhammadiyah bukan Dahlaniyah. Dahulu ketika  Ahmad Dahlan muda  bermukin di Makkah, sempat belajar kepada Syaikh Ahmad Khatib yang saat itu juga  bersama Hasyim Asyari yang kemudian menjadi salah satu pendiri Nadhatul Ulama. Karena Kyai Ahmad Khatib adalah seorang ulama bermahzab Syafii, maka praktik ibadah Kyai Dahlan banyak yang mengikuti fiqh Mahzab Syafii.  Hanya saja, karena Kyai Dahlan mendapat tugas dari Syaikh Ahmad Khatib untuk mempelajari Al Mannar, karya Rasyid Ridha, maka Kyai Dahlan terpengaruh juga dengan pemikiran Rasyid Ridha yang menekankan tidak bermahdzab. “Contohnya, bila ada satu masalah yang kuat dasarnya Mahzab Syafii yang dianut Mahzab Syafii, kalau suatu masalah kuat Mahzab Hanafi, yang dianut Mahzab Hanafi”. Hal inilah yang kemudian dianut Muhammadiyah, termasuk dalam pengambilan Putusan Tarjih. Demikian dikatakan Dr. Yunahar Ilyas ditengah Pengajian Mahasiswa, kamis (7/02/2008) di Kantor PP Muhammadiyah, Jl Cik Di Tiro Yogyakarta. Lihat: Suara Muhammadiyah , Edisi 9 Februari 2008. [20] Karel. K. Steenbrink, Pesantren, Madrasah, Sekolah, h. 54-55 [21] K.H. Ahmad Dahlan sering mengajak murid-muridnya mengunjungi gereja dan sekolah-sekolah misi untuk menunjukkan dedikasi tinggi yang diberikan oleh para misionaris terhadap tugas-tugas baik yang bersifat keagamaan maupun social. Tujuan akhirnya adalah untuk meningkatkan semangat juang para muridnya.  Lihat juga Robert ban Neil, The Emergence of the Modern Indonesian Elite, h. 85. [22] Alfian Muhammadiyah, h. 150. Lihat juga Arifin, Muhammadiyah , h. 64-66 [23] Mengenai Pembaharuan K.H. Ahmad Dahlan di bidang Pendidikan, lihat Mukti Ali, The Muhamadiyah Movement, h. 53 [24] Kata “pesantren” secara harfiah berarti tempat atau sekolah untuk santri. Kata santri pada mulanya berarti para siswa yang belajar di sekolah-sekolah Islam. meskipun demikian, dalam masarakat Jawa, kata ini memperoleh makna yang lebih luas. Kata ini dulu, dan hingga sekarang masih digunakan untuk menunjuk kelompok kaum muslaim ortodoks yang taat menjalankan perintah-perintah agama. Karena itu, pesantren bukanlah sebagaiman ayang digambarkan Geertz sebagai sekolah elompok teligius yang kesalehannya mencerminkan produk sintesis antara Islam dan agama Jawa para-Islam yang jauh dariortodoksi Islam. pada kenyatannya, pesantren dibangun sebagai dan perlahan-lahan berkembang menjadi jantung Islam ortodoks di wilayah pedesaan di seluruh Indonseia, meskipun disebut dengan nama-nama yang berbeda. Pendidikan yang diberikan disekolah-sekolah ini, setidak-tidaknya hingga berdirinya Muhammadiyah , hanya terdiri dari ilmu agama. Pengajaran diberkan dengan cara yang tidak formal, dengan cara para murid duduk mengelilingi guru mereka. Muhammadiyah berdiri untuk memodernisasikan lembaga-lembaga ini, dengan memasukkan pengajaran ilmu-ilmu sekuler da penerapan system pengajaran baru. Bahkan dapat dikatakan, salah satu sumbangan khas Muhammadiyah dalam bidang pendidikana adalah dengan mengadakan pendidikan Islam yang melampaui system pendidikan pesantren yang tradisionalis ini. Lihat, Clifford Geertz, The Religion of Java (New York: The free Press of Glencoe, Inc., 1961), h. 125. Lihat juga Mark R. Woodward, Islam in Java: Normative Piety and Mysticism in the Sultanate of Yogyakarta (Tucson: The University of Arizona Press, 1989), h. 79-80. [25] Setelah dapat dipastikan, bahwa Muhammadiyah bersika kooperatif. Pemerintahan HindiaBelanda memberikan penghargaan atas itu semua, berupa perangko pos yang berlogokan Muhammadiyah dan K.H. Ahmad Dahlan. Ini merupakan salah satu kunci keberhasilan K.H. Ahmad Dahlan dalam merealisasikan program pembaharuan pendidikannya di Indonesia saat itu. [26] Ini menjadi pe-er besar bagi kita bersama untuk menindaklanjuti yang dilakukan K.H. Ahmad Dahlan dengan melakukan studi komparatif antara system pendidikan Kristen dan system pendidikan Islam sehingga diharapkan akan tercipta sebuah paradigma baru bagi dunia pendidikan Islam. [27] Lihat, Abudina Nata, Filsafat Pendidikan Islam, h. 208 [28] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, h. 103-104 [29] A. Mukti Ali, The Muhammadiyah Movement, h. 32. [30] Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, h. 276.

1 komentar April 1, 2010

NAFKAH DAN KEPEMIMPINAN MENURUT ISLAM DALAM KELUARGA (Analisis Pendekatan Aminah Wadud Muhsin)

I. PENDAHULUAN Berbicara mengenai keluarga dan perkawinan, maka di dalamnya ditemukan beberapa unsur penting, seperti keadilan, kewajiban dan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Hal ini sejalan dengan tiga prinsip yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw, sebagaimana yang diungkapkan oleh Thoha Husein, dalam bukunya yang terkenal, al-Fitnah al-Kubra, yaitu keadilan, persamaan dan musyawarah. Ini membuktikan bahwa dalam ajaran Islam sangat menjunjung tingi nilai-nilai keadilan dan persamaan antara hak dan kewajiban dalam rangka menegakkan hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan perkawinan. Pembicaraan tentang hubungan perempuan dan laki-laki seolah-olah tidak memiliki ujung pangkal, karena semakin hari semakin menarik untuk diperbincangkan dan terkadang memicu kesenjangan ideology social yang dilabeli dengan istilah Kesenjangan gender. Dewasa ini juga terjadi peneguhan pemahaman yang tidak pada tempatnya ditengah-tengah masyarakat Dimana sifat yang dikonstruksi secara social dan cultural sehingga dianggap sebagai kodrat wanita, misalnya mengasuh dan mendidik anak-anak, membuat rumah menjadi nyaman dan tenang, merawat dan membersihkan kenyamanan rumah tangga juga sering dianggap kodrat wanita. Padahal dalam tatanan realitasnya peranan perempuan menduduki peran gender dalam mendidik anak-anak hingga mengelola kenyamanan rumah tangga adalah konstruksi social dalam suatu lapisan masyarakat tertentu. Karena itu, bisa jadi hal tersebut dilakukan oleh laki-laki karena bisa dipertukarkan dan tidak bersifat baku. Sementara yang sering disebut-sebut sebagai kodrat wanita seperti mendidik anak hingga mengelola kenyamana rumah tangga sesungguhnya adalah kesenjangan gender itu sendiri. Untuk dapat memposisikan kembali berbagai pemahaman yang keliru seputar hubungan laki-laki dan perempuan dalam Islam maka harus dikritisi lebih jauh dengan mengedepankan pemikiran yang mendalam tentang re-interpretasi al-Qur’an dan Sunnah yang berkaitan langsung dengan hal tersebut. Aminah Wadud Muhsin adalah tokoh yang memiliki pikiran yang berbeda kaitannya dengan hubungan laki-laki dan perempuan dalam kehidupan perkawinan. Dengan basic pendidikan yang tinggi, dia menjadi pakar dalam kajian Islamic studies. Karena itulah dengan menggunakan pendekatan yang beliau gunakan, dasar-dasar argument yang beliau pakai, serta hal-hal lain yang beliau pergunakan penulis ingin mengkaji lebih dalam mengenai nafkah keluarga dan kepemimpinan, yang dewasa ini tidak sedikit dipegang oleh kaum wanita. II. PEMBAHASAN A. Biografi Singkat Aminah Wadud Muhsin Beliau adalah salah satu dari feminis muslimah terkemuka yang kehadirannya menambah aktifis feminis muslim. Beliau membangun suatu paradigma baru tentang kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan berdasarkan perspektif al-Qur’an dan Sunnah. Bukunya Qur’an and Women merupakan bukti bagaimana kepeduliaannya melihat ketidakadilan yang dialami kaum wanita dalam sector kehidupan (domestic dan public) yang memicu semangatnya untuk menggali secara seksama dan rekonstruktif terhadap paradigma kesetaraan laiki-laki dan perempuan. Beliau lahir tahun 1952 M dan merupakan keturunan Afro-Amerika. Pendidikan dasar hingga perguruan tingginya ditempuh di Malaysia, dengan meraih gelar Sarjananya dari Universitas Antar Bangsa dan gelar Masternya dari Machigan University (1988-1989). Jenjang doctoral berhasil diraih dari Harvard University USA (1991-1993). Saat ini beliau menjadi salah seorang professor di Departemen Filsafat dan Studi Agama di Universitas Common Wealth di Virginia USA. Kehidupannya banyak didominasi oleh riset dan kegiatan-kegiatan di almamaternya. Sebagai theology, yurist dan aktifis sosok beliau dikenal baik di tingkat nasional maupun internasional terlebih dengan kehadiran bukunya Qur’an and Women sehingga beliau kerap melakukan kunjungan akademis maupun keagamaan. Meskipun beliau hidup dalam lingkungan berperadaban maju, beliau tergerak untuk menengok kembali pada khazanah dan bibliografi klasik maupun modern guna membangun sebuah paradigma baru tentang relasi gender, yaitu hubungan tanpa stereotype yang diatributkan pada sosok perempuan. Seperti yang beliau katakan bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan tidaklah terstruktur sebagaimana yang dibuat oleh nenek moyang (dikonsturk secara sosil dan cultural). Selain terlibat dalam riset ilmiah, beliau juga terlibat aktif dalam LSM yang secara intensif peduli pada advokasi bagi pembelaan hak-hak perempuan diantaranya SIS (Sister in Islam) yang berkonsentrasi pada gagasan kesetaraan dan pembebasan perempuan Islam di era modern. Visinya adalah menjadikan al-Qur’an sebagai primary source dalam menyelamatkan perempuan dari konservatisme Islam. Sekembalinya ke Amerika, beliau menjadi Guru Besar di Departemen Filsafat dan Studi Islam di Common Wealth University Virginia Amerika, dan menjadi dosen di Divitiny School Harvard University. Di sini beliau tergabung dalam komunitas yang sering disebut Moslem Wake Up (MWU) yang berjuang keras untuk meneguhkan integritas kaum muda progresif ditengah tuduhan kepada mereka sebagai kelompok radikalis. Bulan Maret 2005 beliau bersama komunitas ini menyelenggarakan jamaah shalat Jum’at yang mana beliau bertindak sebagai khatib sekaligus imamnya. Ini adalah kejadian yang sangat menghebohkan dan menarik perhatian dunia. Di antara alasan beliau adalah sebuah hadits Sunan Ibnu Daud ketika Nabi Muhammad Saw menyuruh Umi Waroqoh salah satu pengumpul al-Qur’an untuk mengimai orang-orang termasuk didalamnya laki-laki di lingkungannya. Dan masih banyak lagi agenda Aminah Wadud yang membuktikan bahwa kepeduliannya terhadap persoalan perempuan yang mengalami penindasan dan marginalisasi dari kerasnya hegemoni laki-laki sangat tinggi yang merupakan wujud tanggung jawab sebagai salah satu feminis muslimah yang tidak mau tinggal diam melihat kaumnya terus menerus mengalami penindasan dari budaya patriarkhi yang banyak dimotori oleh kaum laki-laki. B. Pendekatan dan metode yang digunakannya Beliau menggunakan pendekatan metode penafsiran untuk mendapatkan pemahaman mengenai al-Qur’an dalam mengatasai problematika dalam Islam yang pernah digunakan oleh Fazlur Rahman, yaitu metode dari rangkaian pemikiran neo-modernismenya yang terkenal dengan teori double movement (gerak ganda interpretasi). Fazlur Rahman berpendapat bahwa ayat-ayat al-Qur’an yang diturunkan dalam waktu tertentu dalam keadaan umum dan khusus yang menyertainya menggunakan ungkapan yang relative mengenai situasi yang bersangkutan. Oleh karena itu pesan al-Qur’an tidak bisa dibatasi oleh situasi histories pada saat diwahyukan saja. Seorang sahabat yang membaca al-Qur’an harus memahami implikasi dari pada pernyataan-pernyataan al-Qur’an pada waktu diwahyukan untuk menentukan makna utama yang dikandungnya. Di sisi lain umat Islam selanjutnya yang dihadapkan pada situasi dan kondisi yang berbeda dengan masa Rasulullah harus tetap membuat aplikasi praktis dari pernyataan-pernyataan al-Qur’an yang tetap mempertimbangkan makna utama yang dikandungnya. Untuk itu Aminah Wadud menggunakan metode hermeneutic yaitu sebuah bentuk metode penafsiran kitab suci yang dalam menyimpulkan makna dari suatu teks menggunakan tiga aspek, yaitu: 1. Konteks saat nash itu ditulis yaitu dimana al-Qur’an itu diwahyukan. 2. Komposisi nash dari segi gramatikanya bagaimana nas menyatakan apa yang dinyatakan. 3. Nas secara keseluruhan atau pandangan dunianya. Semua yang terkait dianalis dengan metode tradisional yang disebut dengan Tafsir a-Qur’an bi al-Qur’an (tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an). Dengan metode ini beliau berharap dapat menemekan interpretasi al-Qur’an yang mempunyai makna dan kandungan yang selaras dengan konteks kehidupan di dunia modern. Ia juga ingin agar makna utama yang menjadi dasar dari al-Qur’an dapat dipahami sehingga ayat-ayat al-Qur’an selalu tidak dapat dibatasi atau direduksi oleh situasi histories pada saat diwahyukan saja. Dengan argument ini beliau yakin bahwa dalam usaha memelihara relevansinya dengan kehidupan manusia al-Qur’an harus terus menerus ditafsirkan ulang. C. Nafkah dan kepemimpinan dalam keluarga berdasarkan pendekatan Aminah Wadud 1. Nafkah dalam keluarga Dalam menyoroti berbagai aspek yang dianggap penting terkait dengan nafkah keluarga oleh Aminah Wadud, terlebih dahulu kita lihat landasan pemikirannya bahwa al-Qur’an sebagai landasan utama dalam hukum Islam sejatinya memperlakukan perempuan sebagai individu sama dengan laki-laki. Satu-satunya yang menjadi pembeda adalah level ketaqwaannya yang tidak ditentukan oleh jenis kelamin. Hanya saja banyaknya problematika seputar perempuan di dunia ini ditinjai dari perspektif al-Qur’an berhubungan dengan pemahaman yang berkembang di masyarakat. Segala perilaku di dunia ini dibentuk dari sudut pandang hidup manusia demikian pula sebaliknya. Pada hakikatnya memang masyarakat muslim belum mampu mencapai gagasan ideal yang terkandung dalam al-Qur’an. Begitu ayat-ayat al-Qur’an dijadikan sebagai tumpuan di dalam pendapat tentang pelaksanaan ketentuan-ketentuan al-Qur’an di dunia ini, maka kontroversi tetap terjadi. Berbagai gagasan popular atau dominan di masyarakat mengenai status perempuan tidak memiliki pijakan yang ideal dalam al-Qur’an. Maka jalan keluar dari masalah ini adalah jangan terlalu banyak bergaul dengan analisis logika ayat-ayat, tetapi harus diterapkan analisis baru dalam konteks di mana masyarakat muslim melangsungkan kehidupannya. Dengan kata lain kita harus tetap melakukan interpretasi terhadap al-Qur’an sehingga tetap sesuai dengan dinamika kehidupan masyarakat yang sedang berkembang. Inilah yang dituangkan oleh Amniah Wadud dalam setiap pemikirannya. Nafkah yang pada pokoknya adalah pengeluaran yang biasanya dipergunakan oleh seseorang untuk sesuatu yang baik dan dibelanjakan untuk orang yang sudah menjadi tanggung jawabnya. Para ulama sepakat bahwa nafkah minimal yang harus dikeluarkan harus memenuhi kebutuhan berupa makanan, pakaian serta tempat tinggal. Terkait dengan fenomena social yang selalu mengalami perubahan khususnya dalam konteks sekarang, banyak perempuan yang terlibat dalam dunia kerja dalam sector kehidupan. Beliau mencotohkan kehidupan perempuan Amerika pasca perbudakan , bahwa perempuan kulit hitam justru lebih banyak yang terlibat dunia ketimbang pria kulit hitam. Bahkan wanitanya menjadi penyokong tunggal dalam keluarga ini. Padahal sejatinya ini merupakan beban tambahan bagi pundak perempuan, karena disisi lain perempuan masih harus mengerjakan tugas-tugas khususnya yang tidak bisa dikerjakan oleh laki-laki yaitu mengandung, melahirkan dan mengasuh anak. Namun yang terjadi meskipun perempuan menjadi objek beban ganda, kerapkali perlakuan kekerasan masih dialami dari suami-suami mereka. Hal ini sering terjadi karena dominasi laki-laki dalam kehidupan rumah tangga yang masih dibiarkan oleh struktur social, juga karena pola pembagian pekerjaan antara laki-laki dan perempuan. Padahal apabila mengacu pada al-Qur’an sebagai sumber utama hukum Islam ,ternyata memberikan kesempatan dan penghargaan yang sama kepada keduanya. Bisa kita lihat pada ayat al-Qur’an surat An-Nisa (4) ayat 32 yang artinya: “Bagi laki-laki ada bagian yang mereka usahakan dan dari wanita pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan”. Dengan demikian Aminah Wadud menginginkan untuk konteks sekarang sesuai dengan konteks perubahan social, sudah tidak pada tempatnya apabila kewajiban mencari nafkah diberlakukan secara kaku, tetapi harus diterapkan dengan system kerjasama yang fleksibel. Sebab kalau tidak bisa menyebabkan istri ketergantungan kepada suaminya. Bahkan bahaya bisa timbul apabila dipaksakan seperti ini, misalnya istri yang kebetulan memiliki suami penyandang cacat yang terhalangi mencari nafkah, maka istrilah yang harus tampil menggantikan suami bahkan urusan kepemimpinan keluargapun harus diambil alih oleh istrinya daripada keluarga bisa berantakan karena kondisi suami yang tidak memungkinkan. Dari pemaparan di atas, tercermin apa yang diinginkan oleh Aminah Wadud adalah terbukanya kesempatan yang sama antara laki-laki dan perempuan (istri dan suami)seperti dalam urusan maintenance di mana perempuan bisa membuktikan dirinya mampu berpartisipasi dalam pertumbuhan dan produktifitas sebuah keluarga. Aminah Wadud pun menuntut bahwa kaum pria pun harus bisa atau mampu ikut serta dalam memelihara, mengasuh serta merawat rumah tangga. Hal ini penting sekali artinya lebih-lebih ketika kondisi istri tidak bisa melakukan pekerjaan rumah tangga seperti biasanya, karena sakit misalnya. Sehingga diharapkan keduanya bisa menjadi pasangan yang serba bisa serta saling mengisi antara keduanya. Sehingga manfaatnya pun dapat dirasakan oleh keduanya, bagi anak-anak dan juga bagi masyarakat luas. Pembahasan tentang nafkah menurut pendekatan yang digunakan oleh Aminah Wadud ini, penulis akhiri dengan firman Allah yang dijadikan landasan pemikiran Aminah Wadud untuk mengatakan bahwa pada prinsipnya bahwa laki-laki dan perempuan itu setara dalam persoalan keluarga termasuk di dalamnya nafkah keluarga. Firman Allah yang melandasi pemikiran Aminah Wadud adalah dalam Qur’an surat An-Nisa (4) ayat 1 yang artinya: “Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya dan daripada keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak dan bertaqwalah pada Allah dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan peliharalah hubungan silaturrahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” Dari pemikiran Aminah Wadud di atas dapat disimpulkan bahwa memang pada dasarnya secara teologis, laki-laki (suami) itu diberi tanggung jawab utama dalam hal mencari nafkah bagi keluarganya, sebagaiman perempuan (istri) dibebani tanggung jawab terutama dalam hal reproduksi atau regenerasi. Seandainya perempuan masih dibebani dengan tanggung jawaab nafkah akan membahayakan tuntutan penting tanggung jawab yang hanya ia yang dapat memenuhinya. Idealnya menurut beliau, segala sesuatu yang dibutuhkan oleh perempuan (istri) untuk dapat melangsungkan kewajiban utamanya seharusnya disediakan oleh laki-laki (suami) berupa perlindungan fisik dan dukungan dari segi kebutuhan mainteannce. Adapun dalam situasi dan kondisi tertentu kadangkala juga harus memaksa istri harus ambil bagian dalam urusan mencari nafkah seperti misalnya suaminya yang lagi sakit. Inilah maksud ungkapan Aminah Wadud yang mengatakan bahwa sebuah keluarga pada hakekatnya merupakan arena awal untuk mengembangkan model kerjasama (partner) minimal antara suami dan istri, yaitu kerjasama yang menguntungkan kedua belah pihak. Pemikiran beliau mengenai kewajiban nafkah keluarga ini sealur dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Marhumah terhadap hadits-hadits Nabi Muhammad Saw yang mewajibkan nafkah atas suami. Marhumah berkesimpulan pada dasarnya suami berkewajiban atas nafkah, namun kewajiban ini menjadi relative jika keadaan berkata lain dan otomatis kewajiban itu menjadi tidak dapat dipaksakan. Dengan demikian adanya kerjasama yang fleksibel antara laki-laki dan perempuan (suami-istri) dalam kehidupan berkeluarga, maka diharapkan persoalan seputar nafkah ini seperti seringnya nafkah dijadikan tameng kekerasan terhadap istri ditambah lagi dengan konteks kehidupan sekarang yang masih terkungkung oleh krisis ekonomi ditambah naiknya harga BBM dan banyaknya pekerja yang di PHK dapat mengganggu keharmonisan keluarga, maka disinilah arti pentingnya kerjasama antar suami dan istri. Nafkah memang pada dasarnya merupakan tanggung jawab dan tugas utama suami namun, jika keadaan berkata lain, tentu kewajiban tersebut tidak dapat dipaksakan dengan sendirinya. Jadi bagi Aminah Wadud, nafkah itu bersifat kontekstual dan bukan tekstual. 2. Kepemimpinan dalam keluarga Mengenai kepemimpinan dalam keluarga, Aminah Wadud terlebih dahulu berbicara tentang kelebihan yang terdapat dalam al-Qur’an surat An-Nisa ayat 34. kalimat faddala merupakan ujian bagi seseorang yang dianugrahi Allah dengan faddala (kelebihan) itu. Tetapi faddala itu tidak bisa diperoleh dengan melakukan amal shaleh tertentu, tetapi hanya dapat diperoleh dari Allah untuk siapapun dan kapanpun kepada yang dikehendaki-Nya. Aminah mengatakan qiwamah hanya berkaitan dengan urusan anggota keluarga karena ayat-ayat berikutnya menyinggung masalah perkawinan dan penggunaan istilah tersebut untuk konteks suami istri. Karena itu qiwamah cenderung digunakan dalam hubungan suami istri untuk kebaikan kolektif antara keduanya sebagai bagian dari masyarakat secara keseluruhan. Aminah Wadud menjelaskan bahwa ayat ini secara klasik kerapkali sipandang sebagai salah satunya ayat yang paling penting yang berkaitan dengan hubungan laki-laki dan perempuan. Laki-laki merupakan qawwamun ‘ala wanita-wanita. Beliau membahas ayat tersebut dengan menekankan pada dua hal pokok yang menjadi kelebihan laki-laki sehingga diberi kedudukan oleh Allah sebagi pemimpin bagi perempuan, yaitu kelebihan yang seperti apa diberikan kepada laki-laki dan apakah yang telah mereka belanjakan dari harta benda yang mereka miliki (untuk mendukung perempuan), yaitu norma social-ekonomi dan idealnya. Beliau menyoroti kata bi dalam ayat tersebut, yang menurutnya karakteristik sebelum kata bi ditentukan atas dasar apa yang datang sesudahnya. Maka laki-laki (suami) akan dikatakan sebagai pemimpin atas perempuan apabila memenuhi dua syarat, yaitu preference yang mereka miliki dan maintenance yang mereka berikan kepada istri-istri mereka. Dan apabila kedua syarat tersebut tidak dapat dipenuhi maka perannya sebagai pemimpin perempuan tidak layak mereka emban. Hal yang begitu menarik dari pernyataan beliau adalah jika yang dimaksudkan dengan faddila (kelebihan) itu adalah kelebihan materi, maka hanya terdapat satu ayat saja yang menentukan bahwa bagian seorang laki-laki dua kali lipat dari bagian seorang perempuan. Dengan demikian QS. An-Nisa ayat 11 mendukung ayat 34 yang berbicara tentang kepemimpinan karena syarat lain dari kepemimpinan adalah adanya kemampuan dalam hal memberi nafkah. Sehingga terdapat unsur timbal balik antara kelebihan dan tanggung jawab. Dengan kata lain adanya kewajiban atau tanggung jawab dalam memberi nafkah dan kepemimpinan tersebut merupakan konsekuensi terhadap penerimaan harta waris yang banyaknya dua kali lipat dari perempuan. Menurut Aminah Wadud, kelebihan (faddala) yang dimaksudkan dalam QS.4:34 tidak bisa tidak bersyarat karena memang disitu tidak disebutkan bahwa laki-laki dilebihkan atas perempuan secara keseluruhan. Tidaklah semua laki-laki itu unggul dari perempuan dalam segala hal. Jadi, sebagian laki-laki memilih kelebihan atas perempuan dalam hal-hal tertentu demikian pula sebaliknya, perempuan juga bisa saja mengungguli laki-laki dalam hal-hal tertentu. Jika kelebihan dalam QS. 4: 34 bersifat material, maka hakekat dari kelebihan tersebut telah disebutkan pula pada QS. 4: 11, dan itu tidak bersifat absolute. Bahkan jika dimaknai lebih dari sekedar material pun tidak bersifat absolute. Bagaimanapun isu yang terdapat dalam QS. 4: 34 tidak dapat dilihat secara dangkal. Karena ayat tersebut memberikan suatu tanggung jawab yang ideal bagi laki-laki atau perempuan untuk membentuk suatu kehidupan yang seimbang. Tanggung jawab tersebut tidak berbentuk biologis atau inheren tetapi tanggung jawab yang valueable, yang tidak terbatas pada masalah material tapi hendaknya mencakup dimensi religius, moral, intelektual dan kejiwaan. Perspektif itulah yang dapat menghantarkan manusia dapat bersungguh-sungguh menjadi khalifah fil ardh. Juga dapat menghilangkan cara pandang kompetitif dan hierarkis strukturalis dalam suatu komunitas masyarakat. Sehingga diharapkan terciptanya hubungan suami-istri yang tidak tertutup dan tidka menciptakan ketergantungan para istri-istri terhadap suami-suami mereka. Aminah mencatat kenapa perempuan mendapat perlindungan dan dukungan materi (nafkah) dari laki-laki? Aminah menjawab bahwa perempuan berfungsi melahirkan keturunan yang membutuhkan tanggung jawab dan kekuatan jiwa yang serius dari perempuan dan sekaligus menonaktifkannya dari aktifitas luar. Al-Qur’an menegaskan kewajiban laki-laki sebagai qiwwamah tujuannya adalah untuk menjaga perempuan agar tidak dibebani kewajiban tambahan yang dapat membahayakan kewajiban utamanya yang berat yang hanya dapat dilakukan oleh perempuan. Di sini pengertian qiwwamah lebih berarti pelindung dan penegak terhadap urusan-urusan perempuan. Untuk lebih memperkuat argumentasi ini, Aminah Wadud pernah mempraktekan sebagai khatib dan imam dalam shalat Jum’at. Di antara alasannya adalah sebuah hadis Sunan Ibnu Daud ketika Nabi memerintahkan Umi Warakah sebagai salah satu pengumpul al-Qur’an untuk mengimami shalat dimana didalamnya terdapat laki-laki dan perempuan di lingkungannya. Alas an berikutnya adalah terkait dengan kepemimpinan Ratu Balqis yang disebutkan oleh al-Qur’an, merupakan indikasi adanya hak bagi perempuan dalam berbagai bidang untuk menjadi imam termasuk di dalamnya adalah ritual ibadah. Ini juga dapat dijadikan dasar argumentasi Aminah Wadud bahwa tidak semua kelebihan berpihak pada laki-laki tapi terdapat pula perempuan yang bisa mengungguli laki-laki. Berdasarkan alasan yang dikemukakan di atas terlebih pada alasan yang kedua, Aminah Wadud mengambil sejarah Ratu Balqis yang menjadi pemimpin kerajaan sebagai landasan pemikiran juga ikut mempengaruhi pemikiran Aminah Wadud sendiri mengenai posisi kepemimpinan laki-laki atas perempuan yang telah diuraikan di atas. III. KESIMPULAN 1. Beliau adalah salah satu dari feminis muslimah terkemuka yang kehadirannya menambah aktifis feminis muslim. Beliau membangun suatu paradigma baru tentang kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan berdasarkan perspektif al-Qur’an dan Sunnah. Bukunya Qur’an and Women merupakan bukti bagaimana kepeduliaannya melihat ketidakadilan yang dialami kaum wanita dalam sector kehidupan (domestic dan public) yang memicu semangatnya untuk menggali secara seksama dan rekonstruktif terhadap paradigma kesetaraan laiki-laki dan perempuan. 2. Meskipun beliau hidup dalam lingkungan berperadaban maju, beliau tergerak untuk menengok kembali pada khazanah dan bibliografi klasik maupun modern guna membangun sebuah paradigma baru tentang relasi gender, yaitu hubungan tanpa stereotype yang diatributkan pada sosok perempuan. Seperti yang beliau katakan bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan tidaklah terstruktur sebagaimana yang dibuat oleh nenek moyang (dikonsturk secara sosil dan cultural). 3. Beliau menggunakan pendekatan metode penafsiran untuk mendapatkan pemahaman mengenai al-Qur’an dalam mengatasai problematika dalam Islam yang pernah digunakan oleh Fazlur Rahman, yaitu metode dari rangkaian pemikiran neo-modernismenya yang terkenal dengan teori double movement (gerak ganda interpretasi). 4. Aminah Wadud menggunakan metode hermeneutic yaitu sebuah bentuk metode penafsiran kitab suci yang dalam menyimpulkan makna dari suatu teks menggunakan tiga aspek, yaitu: a. Konteks saat nash itu ditulis yaitu dimana al-Qur’an itu diwahyukan. b. Komposisi nash dari segi gramatikanya bagaimana nas menyatakan apa yang dinyatakan. c. Nas secara keseluruhan atau pandangan dunianya 5. Bagi Aminah Wadud, nafkah bersifat kontekstual dan bukan tekstual. Dengan adanya kerjasama yang fleksibel antara laki-laki dan perempuan (suami-istri) dalam kehidupan berkeluarga, maka diharapkan persoalan seputar nafkah ini seperti seringnya nafkah dijadikan tameng kekerasan terhadap istri ditambah lagi dengan konteks kehidupan sekarang yang masih terkungkung oleh krisis ekonomi ditambah naiknya harga BBM dan banyaknya pekerja yang di PHK dapat mengganggu keharmonisan keluarga, maka disinilah arti pentingnya kerjasama antar suami dan istri. Nafkah memang pada dasarnya merupakan tanggung jawab dan tugas utama suami namun, jika keadaan berkata lain, tentu kewajiban tersebut tidak dapat dipaksakan dengan sendirinya 6. Pada dasarnya Aminah Wadud menerima kepemimpinan laki-laki atas perempuan dengan dua syarat, yaitu Pertama, laki-laki harus dapat menunjukkan kelebihan yang mereka miliki, sementara kelebihan yang jelas dimiliki adalah dalam hal pembagian waris (2:1) dan inipun sangat terkait dengan keadaan harta yang akan diwariskan. Kedua, mendukung perempuan dengan harta benda yang mereka miliki. Maka dengan begitu Aminah Wadud berpendapat bahwa kepemimpinan itu bukanlah sesuatu yang bersifat normative tapi bersifat kontekstual. IV. PENUTUP Demikianlah sedikit pemaparan yang sangat sederhana mengenai nafkah dan kepemimpinan dalam Islam dengan menggunakan analais salah satu tokoh feminis musliah dunia, Aminah Wadud Muhsin. Semoga bermanfaat, dan tulisan ini penulis tutup dengan sedikit goresan kata yang diharapkan dapat memacu semangat kita untuk lebih semangat memperdalam kajian intelektual keberagamaan kita khususnya dengan pendekatan yang tepat. Agama Bukanlah singgasana yang membuatmu duduk lebih tinggi dari yang lain Bukan baju kebesaran yang membuatmu lebih agung dari yang lain Bukan tirai yang dapat menutupi borokmu dari yang lain Bukan pula ruang yang membuatmu terpisah dari orang lain Apalagi aksesoris yang membuatmu lebih meriah dari yang lain Tapi agama, Adalah cara kita meng-ada dalam penyatuan yang hakiki Sebagai pribadi, sebagai bagian dari masyarakat dan alam, Dan sebagai hamba ciptaan-Nya (Kota Pelajar, 2008) Bilahi fi sabilil haq fastabiqul khairat DAFTAR PUSTAKA Aminah Wadud Muhsin, Qur’an and Women, New York: Oxford UniversityPress, 1998 Fazlur Rahaman, Interpreting the al-Qur’an, Inquiry: 1986. ——————-, Islam and Modernity: Transformation of IntelectualTradition, Chicago: The Univercity of Chicago Press, 1982. Khoiruddin Nasution dalam Fazlur Rahman, Tentang Wanita, Cet. I Yogyakarta: Tazzafah+Akademis, 2002. Marhuman, Konsep Nafkah dalam Hadits, dalam Hamin Ilyas, dkk, Perempuan Tertindas, Kajian Hadits-Hadits Misoginis, Yogyakarta: PSW IAIN Sunan Kalijaga dan Ford Fondation , 2003. Masdar F. Mas’udi, Reinterpretasi Ajaran Islam Tentang Perempuan, dalam Lily Zakiyah Munir (ed), Memposisikan Kodrat: Perempuan dan Perubahan dalam Perspektif Islam, Bandung: Miza, 1999. Navin Reza Muslim Issues What Whould the ProphetDo? The Islamic Basis for Femail-Law Prayer, dalam http://www.muslimwakepu.com download pada tanggal 5 Mei 2008 Nik Nor’aini Nik Badlishah, Islamic Law and Justice For Muslim Women, Malaysia: Sister In Islam, 2003. sisterislam@pd.jaringan.my download pada tanggal 5 Mei 2008. Sayyid Qutb, Fi Dzila al-Qur’an,Kairo: Dar ar-Syuruq, 1980. Syekh Taqqiyudin Ahmad bin Abdul Halim, Muqaddimah fi al-Ushulil Tafsir, Beirut: Dar Ibn Hizam, 1997. http://www.iin.edu.my/islac-php download pada tanggal 5 Mei 2008.

Add a comment April 1, 2010

PARFUM DAN PEREMPUAN: Sebuah Kontroversi Yang Menjadi Kebutuhan

Abstrak

Based of eat my heart out when I read a hadis of our prophet Muhammad SAW who said that the girl who put on a perfume to run around from her home and passed trough the men so it’s means that adulterer, a hadis which not only must be figure out of what this word means by the write in plain language just based of the teks but also must be in true of the context. So it’s not accupied that the girl is in marginal of social function.

Keywords: Hadis, Perfume, Adultery, Woman.

I.    PENDAHULUAN

Perempuan yang dalam realita sekarang ini masih dipandang sebagai makhluk kelas dua dimana hak-hak mereka dibatasi pada wilayah-wilayah kehidunpan yang sangat eksklusif dan marginal. Kita terjebak oleh budaya patriarki di mana hidup perempuan seakan-akan ditentukan oleh orang lain yaitu makhluk yang mengunggulkan laki-laki. Bisa laki-laki atau perempuan itu sendiri.

Orang boleh menyanggah pernyataan ini tetapi realitas kebudayaan dan data-data empiris yang ditemukan oleh para pemerhati dan mereka yang peduli dengan masalah-masalah perempuan, masih memperlihatkan validnya pernyataan itu. Dalam hal ini pun terjadi ketika pelarangan penggunaan parfum diberlakukan pada perempuan. Ketika kini wanita dituntut dengan segudang aktivitasnya dituntut untuk berpenampilan rapi dan indah, salah satunya dengan menjaga penampilan aroma tubuhnya sehingga tidak mengganggu aktivitasnya dan orang-orang di sekelilingnya.

Masih jelas diingatan saya ketika saya bertemu dengan beberapa wanita yang begitu rapi, menjaga syariat dan aktif diberbagai kegiatan dakwah. Namun saya harus sedikit menaikkan alis menahan nafas karena perempuan itu tidak bisa menjaga kebersihan tubuhnya. Ketika saya bertanya apakah dia memakai parfum atau deodorant, dia dengan tangkasnya menjawab bahwa itu haram. Subhanallah begitu sempitkah pemahaman dia tentang hadis Nabi ini? Bukankah Allah itu indah dan mencintai keindahan, lalu mengapa kita sebagai perempuan harus memperindah diri pula sehingga perjuangan kita di luar dalam kompleksitas perannya dapat lebih indah sehingga tidak membuat orang-orang  disekeliling kita tidak nyaman berinteraksi dengan kita sehingga mereka menaikkan alis dan menahan nafas karena tidak tahan dengan bau badan kita.

Selain itu, banyak pula terobosan-terobosan mutahir dengan kemunculan parfum non-alkohol yang diyakini sebagian orang kehalalannya. Dari sinilah saya berangkat untuk mengangkat seputar parfum dan wanita. Berawal dari pemahaman yang sederhana saya berusaha untuk  mengurai dan mendekonstruksi sebuah kesakleklitasan yang perlu diperluas pemahamannya sehingga fleksibilitas suatu hukum dapat dipahami secara kompleks dan tidak jumud hanya pada sebatas pemahaman teks.

II.  PEMBAHASAN

A. Mengenal Parfum.

Parfum memang sebuah perangkat istimewa. Sejak dulu kala orang sudah menggunakan parfum untuk berbagai tujuan. Catatan sejarah manusia menunjukkan bahwa musia di masa lampau menggunakan wewangian alami. Bahan seperti resin, getah, karet dan kulit kayu dibakar untuk menghasilkan wangi tertentu yang dimanfaatkan dalam upacara ritual khusus (keagamaan). Jika ditinjau dari etimologi bahasa,, asal kata parfum sendiri berasal dari bahasa Labin yaitu Perfumus yang artinya asap yang merebak. Per artinya through atau merebak,dan fumus artinya smoke atau asap. Maka sasal kata perfume memang dari bahan alami yang dibaka untuk menghasilkan aroma tertentu.

Bukti sejarah sebagai fakta tentang penggunaan parfum ditemukan dalam makam batu Fir’aun Mesir pada masa 3000 tahun lalu. Pengawetan mumi para penguasa Mesir dilakukan dengan menggunakan bahan wewangian alami dari kayu dan resin dicampur minyak dan air yang dioleskan sebagai balsem ke seluruh tubuh jenazah.

Bukti lain, orang-orang Yunani dan Romawi kuno mengembangkan bahan pewangi berdasarkan pengetahuan orang-orang Mesir sebagai pengguna parfum yang pertama kali.

Walau bentuknya belum seperti parfum yang kita kenal, minyak wangipun sudah mulai dipakai pada ratusan tahun sebelum masehi sebagai pewangi tubuh orang-orang yang dihormati. Di masa lalu perkembangan parfum justru terjadi di wilayah Timur, dari Timur Tengah sampai Asia sebagai bagian dari seni oriental. Digunakan secara lebih meluas di kalangan bangsawan dan orang-orang terhormat. Pada catatan abad ke-13 sekitar tahun 1200-an pasukan Perang Salib (Crusader) memboyong teknologi parfum dari wilayah Palestina kuno ke Inggris dan Prances.

Lalu pada abad ke-16 sekitar tahun 1500-an parfumpun menjadi popular di daratan Eropa. Perkembangan teknologi dan penemuan bahan-bahan kimia mendorong industri parfum semakin berkembanga di Eropa pada tahun 1800-an dan kemudian wilayah Eropa menjadi produsen parfum yang paling terkenal dengan kualitas tinggi di dunia, terutama di Paris dan Prancis. Walaupun sesungguhnya dalam sejarah penggunaannya parfum lebih dulu dipakai oleh orang-orang Mesir dan Asia.

Pada zaman Nabi Muhammad Saw pun sudah ada penggunaan parfum walau dalam bentuk yang sangat sederhana. Ini bisa dilihat dari sabda Rasulullah SAW:

أطيب الطيب المسك

”Sebaik-baik harum-haruman buat kamu ialah misk atau kasturi. (Shahih riwayat Ahmad, Muslim, Abu Dawud, Nasa’i dari jalan Abu Said al-Khudri).

Nabi sangat menyukai harum-haruman karena ringan dibawa dan harum baunya, sebagaimana Shahih riwayat Ahmad, Nasa’i, Muslim dan Abu Dawud dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda :

من عرض عليه طيب فلا يرد ه فإ نه خفيف المحمل و طيب الرائحة

Barang siapa yang diberi harum-haruman maka janganlah ia menolaknya karena sesungguhnya itu ringan bebannya (ringan dibawa) dan harum baunya.”

حبب الي من دنيا كم : النساء و الطيب ، وجعلت قرة عيني فى الصلا ة

“Diberi kecintaan kepadaku dari (urusan) dunia kamu, ialah : wanita, harum-haruman/wangi-wangian dan dijadikan kesejukan dimataku di dalam sholat.” [Shahih riwayat ahmad, Nasa’i, Hakim dan Baihaqi dari jalan Anas bin Malik]

Hadis di atas dengan jelas menyatakan : sangat disukainya kita memakai harum-haruman/wangi-wangian. Dan hukum ini bersifat umum, yakni terkena kepada kaum laki-laki dan wanita, karena dihadits-hadits itu tidak dibedakan sama sekali antara laki-laki dan wanita. Bahkan dihadits ke-1 itu ada larangan menolak pemberian harum-haruman. Sedangkan hadits ke-2 itu menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam amat menyukai wangi-wangian. Padahal telah kita maklumi dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

َقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

” Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” ( Al Ahzab : 21 )

Semua orang pasti pernah memakai parfum. Namun tidak semua orang tahu apa sebenarnya parfum yang dikenal sebagai wewangian yang dipakai untuk meredam bau tubuh atau menonjolkan aroma tertentu yang wangi. Parfum memang sebuah substansi (biasanya cair) yang berfungsi untuk menebarkan aroma wangi dibuat dari bahan sintetis, alami atau campuran keduanya. Setiap parfum terdiri dari sejumlah kandungan zat kimia tertentu yang memberikan sensasi dan aroma tertentu. Bisa aroma aneka bunga, buah, dedaunan atau wewangian lain.

Masing-masing aroma diciptakan untuk memberikan sensasi yang berbeda yang kemudian bercampur dengan keringat dari tubuh si pemakai dan menghaislkan wangi yang khas. Maka sebagai penguat citra diri, peredam bau tubuh menjadi semakin memperkuat manfaat parfum.

B. Penggunaan Parfum Bagi Wanita

Parfum saat ini telah menjadi suatu barang yang tidak hanya identik dengan perempuan. Namun parfum juga  telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari gaya hidup perempuan. Terlebih dengan peran perempuan saat ini yang telah merambah wilayah social-ekonomi dan politik. Sebagian dari kita mungkin akan menganggap ini adalah perkara yang sangat sederhana, tentunya sangat wajar karena sejak lahir lingkungan kita telah mendidik kita untuk mengenal yang namanya parfum.

Khususnya bagi perempuan, sebagian ulama mengharamkan penggunaan parfum bagi perempuan terlebih lagi dengan adanya hadis Nabi Muhammad SAW:

كل عين زا نية وان المراةإذااستعطرت ثم مرت با لمجلس فهي زا نية (أخرجه أصحا ب النس)

“Dari Abu Musa, dia berkata Rasul bersabda: “Setiap mata adalah pezina dan sesungguhnya apabila wanita itu mengenakan wewangian kemudian mengenakan wewangian kemudian dia berlalu melewati majlis, maka dia adalah pezina) (Ditakhrij Ashhabus Sunan).[1]

Namun, yang menjadi pertanyaan bagi saya dengan keberadaan dan peran perempuan sekarang apakah hal ini tidak bisa ditolelir? Tidak berlebihan apabila dicermati secara seksama, hadis ini merupakan wujud diskriminasi atau subordinasi terhadap perempuan umumnya.

Kalau hanya karena menggunakan parfum wanita itu disebut pezina[2] sementara tujuan sesungguhnya hanyalah ingin menjaga diri dari bau badan agar tidak mengganggu orang lain sehingga aktivitas dan perannya dapat berjalan dengan baik, apakah itu disebut pezina pula? Bukankah jelas bahwa Allah itu indah dan sangat menyukai keindahan. Sementara laki-laki tidak dikenai keharaman terhadap penggunaan parfum. Di sini saya dapat memahami apabila keharaman itu berlaku bagi perempuan-perempuan yang tidak dapat menempatkan dirinya di posisi yang baik dan terhormat, tetapi apabila hadis ini di pahami secara sempit dan sebatas teks saja, tentunya itu akan sangat berpengaruh besar terhadap kemanfaatan yang akan diperoleh.

Bau badan pada perempuan[3] tentu sangat mengganggu sekali dan salah satu solusi untuk mengatasinya adalah dengan menggunakan parfum. Entah itu yang berupa parfum murni, colone ataupun toilette.[4] Tentu ini tidak bisa dianggap sepele. Karena itu bisa membuat perempuan tidak percaya diri dan bahkan bisa pula membangkitkan gairah laki-laki.[5] Selama ini dipahami bahwa penggunaan parfum pada perempuan dapat meningkatkan gairah laki-laki. Padahal itupun berlaku sebaliknya.[6]

Selain itu, sekarang inipun telah banyak muncul parfum-parfum non alcohol yang lembut harumnya dan tidak mencolok.[7] Proses pembuatannyapun menggunakan larutan lain seperti zat lain non-alkohol.

Kalaupun ada hadis lain yang menunjukkan pelarangan penggunaan parfum bagi perempuan, saya pahami bahwa itu hanya ketika kita akan melaksanakan shalat. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW yang berbunyi:

إذ ا شهدت احد ا كن العشاء فلا تمس طيبا

“Apabila salah seorang dari kamu (kaum wanita) menghadiri (sholat) isya’ (dimasjid) maka janganlah ia memakai wangi-wangian.” [Shahih riwayat Muslim, Ahmad, Nasa’I dari jalan Zainab]

أيما امرأ ة أصابت بخورا فلا تشهد معنا العشاء الآخر ة

“Siapa saja perempuan yang memakai harum-haruman, maka janganlah ia menghadiri (sholat) isya’ di (masjid) bersama kami.” [Shahih riwayat Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan Nasa’I dari jalan Abi Hurairah]

Hadis di atas secara eksplisit menegaskan haram hukumnya bagi perempuan keluar ke masjid untuk menghadiri shalat Isya dengan memakai harum-haruman. Disebutnya lafaz Isya’ karena shalat Isya’ dilakukan di malam hari dan bisa jadi fitnahnya lebih jelas. Namun, bagaimana apabila dengan memakai parfum kita lebih segar dan nyaman untuk melakukan ibadah?

Itulah salah satu yang perlu didekonstruksi, yaitu karena itu sudah menjadi  suatu  kebutuhan. Nilai hablumminallah dan hablumminannas-nya pun dapat dipertanggung jawabkan. Wujud hablumminallah kita dalam beribadah kepada Allah menjadi semakin bersih, nyaman, dan segar. Sehingga kekhusyu’an dalam beribadah dapat tercapai. hablumminannas pun berwujud kenyamanan orang disekeliling kita dalam berinteraksi sehingga hal-hal positif yang dapat diraih tidak terhambat. Bukankah berawal dari kenyamanan, semuanya akan menyenangkan dan berjalan seimbang.

III. KESIMPULAN

Dari sini dapat kita temukan kesimpulan dan solusi yang terbaik, khususnya bagi perempuan-perempuan yang merasa lebih percaya diri dan nyaman dengan menggunakan parfum, antara lain: Pertama, dengan menggunakan parfum yang rendah kadar alkoholnya. Di sini tidak menjadi keharusan menggunakan parfum non-alkohol karena seperti yang sudah kita bahas di atas bahwasanya alcohol itu hanya bersifat sebagai bahan penolong untuk melarutkan komponen wewangian. Tetapi ketika kita gunakan misalkan dengan dioles atau disemprotkan kebadan, maka ia akan segera menguap dan habis, tinggal bahan parfumnya saja yang masih menempel. Kedua, kita harus selektif dalam memilih jenis parfum yang mencakup bahan parfum itu sendiri dan proses pembuatannya.[8]

Ketiga, Ketika kita akan shalat kita mengganti  baju khusus untuk shalat, hal ini akan lebih baik kalau kita membiasakan menggunakannya. Bukan hanya karena parfum tapi juga sebagai wujud tindakan prefentif dan antisipatif apabila terdapat najis dalam baju yang sudah kita gunakan. Keempat, gunakan parfum secara proposional dan tidak berlebihan. Karena segala sesuatu yang berlebihan tidak baik. Kelima, dengan menjaga kebersihan badan khususnya untuk menghindari bau badan, dengan selalu membersihkan ketiak dengan sabun antiseptik setiap kali mandi. Setelah mandi, keringkan dengan handuk, tisu atau lap kering dan bubuhkan bedak antiseptik. Selain itu, konsumsi buah, sayur, serta minum air putih dapat menyebabkan keringat menjadi lebih encer sehingga?bau badan menjadi berkurang. Dan yang terakhir, niatkan semua itu karena Allah, bukan karena ingin bertabbaruj, pamer atau sombong. Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang dilindungi dan terlimpah berkah dari Allah SWT. Amin

IV. PENUTUP

Demikianlah secara sederhana makalah ini saya sampaikan, semoga di lain kesempatan saya dapat memperbaiki dengan lebih lengkap sehingga pembahasan ini dapat dipahami secara komprehensif dan jelas.

Billahi fi sabilil haq fastabiqul khairat.

DAFTAR BACAAN

Abdullah, Amin, dkk., Mazhab Jogja, Yogyakarta: Ar-Ruz Press, 2002

Al-Barik, Haya Binti Mubarok, Ensiklopedi Wanita Muslimah (Jakarta: Darul Falah, 1424H)

An-Na’im, Abdullahi Ahmed, Dekonstruksi Syari’ah, Yogyakarta: LKiS bekerjasama dengan Pustaka Pelajar, 1994.

Arifin, Bey, Terjemahan Sunan Abi Dawud juz V-VI, Semarang: Asy-Syifa, 1993.

Dahlan, Abdul Aziz, Ensiklopedi Hukum Islam Jilid 4 dan 6, Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1996.

Ghozali, Abdul Moqsit, dkk., Tubuh, Seksualitas dan Kedaulatan Perempuan, Jakarta: Rahima, 2002

http://www.duniawanita.com/index.php?option=com_content&task=view&id=35&Itemid=8. Download pada tanggal 25 November 2007.

http://www.edutainmentradio.com/modules/smartsection/item.php?itemid=32. Download pada tanggal 25 November 2007

http://mki5ska.wordpress.com/2007/11/14/konsultasi-ustadz-menggunakan-parfum-berakohol/ Download pada tanggal 25 November 2007.

Qardhawi, Yusuf, Panduan Fiqih Peempuan, Yogyakarta: Salma Pustaka, 2004.

Rochman, Fatchur, 160 Ayat-Ayat Hukum Al-Qur’an, Surabaya: Apollo, 1993.

Skinner, Quentin, The Return of Grand Theory In The Human Sciences, Cambridge: University Of Cambridge, 1985

Sumaryono, E., Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1993.

Supena, Ilyas dan M. Fauzi, Dekonstruksi dan Rekonstruksi Hukum Islam, Yogyakarta: Gama Media, 2002.


[1] Perbuatan tersebut bisa menjurus ke dosa besar. Sebab memakai wewangian agar baunya bisa dicium oleh kaum laki-laki sama dengan menampakkan dirinya di hadapan mereka dan membangkitkan birahi mereka. Maka tidak heran jika wanita semacam ini sebagai wanita pezina. Lihat: Haya BInti Mubarok al-Barik, dalam Ensiklopedi Wanita Muslimah (Jakarta: Darul Falah, 1424H).

[2] Ulama fiqih mengemukakan batasan-batasan tertentu terhadap zina karena hukuman bagi pelakunya dalam syariat Islam cukup berat. Ulama fiqih dalam berbagai mazhab mengemukakan definisi zina yang secara redaksional berbeda-beda, tetapi maksud dan kandungannya sama. Menurut mereka zina adalah hubungan seksual yang dilakukan seorang laki-laki secara sadar terhadap wanita yang disertai nafsu seksual dan diantara mereka tidak atau belum ada ikatan perkawinan secara sah atau ikatan perkawinan. Dasar hukumnya adalah Q. S. An-Nur: 2. Dalam sabda Rasulullah SAW bahwa zina termasuk salah satu dosa besar (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dalam hadis yang diriwayatkan al-Jamaah (mayoritas ahli hadis) dar Abdullah bin Mas’ud (w. 32/33H) dikatakan: “Tidak halal darar seorang muslim yang mengakui Tiada Tuhan Selain Allah dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah kecuali terhadap 3 orang, yaitu orang yang menghiangkan nyawa orang lain, orang yang pernah kawin dan melakukan perzinaan dan orang yang murtad. Lihat: Editor Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam (Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 1996). H. 2026-2027.

[3] Bau badan berasal dari keringat yang dihasilkan oleh dua kelenjar, yaitu kelenjar accrine dan kelenjar apocrine. Kelenjar accrine memproduksi keringat bening dan tidak berbau yang dikeluarkan sejak bayi, dan biasanya muncul di tangan, punggung, serta?dahi. Sedangkan kelenjar apocrine terdapat di tempat-tempat tertentu, terutama di daerah perakaran rambut, seperti Ketiak, kemaluan, dan di dalam hidung. Kelenjar apocrine bersifat aktif setelah masa pubertas. ?

Kelenjar accrine mengeluarkan cairan yang banyak mengandung air dan tidak berbau. Cairan tersebut berfungsi menurunkan kondisi tubuh pada waktu tertentu. Sedangkan kelenjar apocrine mengandung asam lemak jenuh dengan cairan lebih kental dan berminyak.Sebenarnya, cairan yang dihasilkan oleh kelenjar apocrine hanya berbau lemak. Namun, karena di setiap helai rambut terdapat satu apocrine dan mengandung bakteri yang berperan dalam proses pembusukan, maka timbullah bau badan yang tak sedap. Terkadang ada orang yang mempunyai kelenjar apocrine lebih besar, sehingga produksi keringatnya lebih besar dan pembusukan bakterinya juga lebih banyak.Bau badan tak sedap juga dipengaruhi oleh faktor genetik. Namun, hal itu tidak menjamin 100%. Lihat: http://www.dunia-wanita.com/index.php?option=com_content&task=view&id=35&Itemid=8

[4] Secara umum ketiga klasifikasi wewangian ini bisa dibedakan dengan komposisi persentase esense wangi dan cairan penyampurnya. Rata-rata parfum mengandung 10-20 persen esensi wewangian, sementara colognes hanya 2-5 persen dan toilete water di bawah 2 persen.

[5] Ternyata wanitapun menyambut positif bau keringat pasangan prianya. Senyawa kimia yang terkandung dalam keringat pria terbukti dapat membangkitkan gaira dan nafsu seksual wanita. Ini adalah hasil penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat yang diketuai oleh Claire Wyart dari Universitas California, Barkeley.

[6] Konon Kaisar Prancis yang tersohor Napoleon Bonaparte selalu meminta istrinya untuk tidak mandi sejak dua hari menjelang kepulangannya dari medan perang. Katanya, Napoleon sangat suka bau tubuh istrinya yang tidak mandi karena membuatnya bergairah.  Lihat: http://www.edutainmentradio.com/modules/smartsection/item.php?itemid=32

[7] Bahan yang sering dipermasalahkan oleh umat Islam dalam penggunaan parfum adalah adanya alcohol dalam produk tersebut. Bahkan ada yang mengaitkannya dengan khamr, sehingga menganggapnya najis untuk dipakai. Maka berkembanglah parfum non alcohol yang dibarcode sebagai parfum halal.Dalam parfum alcohol berfungsi sebagai pelarut bahan-bahan esensial yang menghailkan aroma tertentu karena banyak sekali bahan aroma parfum tersebut yang hanya dapat larut dalam alcohol. Dalam parfum, alcohol hanya bersifat sebagai bahan penolong untuk melarutkan komponen wewangian yang akan menguap dan habis ketika ia disemprotkan atau dioleskan ke badan, sehingga tinggal bahan parfumnya saja yang masih menempel.

Ulama fiqih seperti Abi Ibrahi Ismail bin Yahya al-Muzani dan fukaha kontemporer Mazhab Hanafi berpendapat bahwa alcohol bukan najis. Karena tidak mesti sesuatu yang diharamkan itu najis, banyak yang diharamkan dalam syara’ tapi tidak najis. Kalaupun najis ia tidak termasuk najis ‘aini tetapi hanya najis hukmi. Muhammad Rasyid Rida dalam Tafsir al-Manar mengatakan bahwa menghukumi najisnya alcohol yang kini sudah banyak digunakan untuk tujuan positif tentu akan menimbulkan haraj (kesulitan) bagi umat manusia dan ini bertentangan denan ajaran al-Qur’an yang menyatakan kesulitan itu harus dihilangkan.Menurut HBE, mengacu pada MUI alkohol dalam parfum, spidol, untuk keperluan medis, campuran di kosmetik tidak haram.Kecuali mungkin jika parfum itu menyebabkan/dipergunakan mabuk

Oleh karena itulah munculnya parfum non-alkohol dianggap oleh sebagian ulama sebagai salah satu alternative parfum yang aman digunakan oleh umat muslim. Walau begitu, parfum non alcohol juga gak selalu bagus, ada yg menyebabkan alergi /kulit – gatal2.

Bandingkan dengan hasil diskusi dengan Ustad Abu Uzair Boris (Alumni Ma’had ‘Ilmi) dalam http://mki5ska.wordpress.com/2007/11/14/konsultasi-ustadz-menggunakan-parfum-berakohol/

[8] Kemajuan tehnologi sekarang ini tentunya akan mempermudah kita dalam mengakses informasi tentang kehalalan dan penjelasan suatu produk. Seperti yang dapat kita browsing dalam website-website yang tersedia.

2 komentar April 1, 2010

PEMERINTAHAN NABI DAN PERUBAHAN SOSIAL


  1. PENDAHULUAN

TheEensyslopedia Brittanica says that:

“Muhammad is the most successful of all Prophets and religious personalities”.

The personalty of Mohammad! It is most difficult to gen into the truth of it. Only a glimpse of it I can cath. What a dramatic succession of picturesque scenes. There is Mohammad the Prophet, there is Mohammad the General; Mohammad the King; Mohammad the Warrior; Mohammad the Bussinessman; Mohammad the Preacher; Mohammad the Philosopher; Mohammad the Statesman; Mohammad the Orator; Mohammad the Reformer; Mohammad the Refuge of Orphans; Mohammad the Protetor of Slaves; Mohammad the Emancipator of Woman; Mohammad the Law-Giver; Mohammad the Judge dan Mohammad the Saint.

Itulah sosok Rasulullah yang sangat dihormati dan diagungkan sepanjang masa. Saat umat dalam kegelapan dan kehilangan pegangan hidupnya Nabi Muhammad Saw datang sebagai rahmatan lil’aamin. Nabi Muhammad Saw melahirkan peradaban baru yang demokratis, egaliter dan manusiawi[1]. Perjuangan dan model kepemimpinan Nabi Muhammad Saw yang membela rakyat kecil dan mendahulukan kepentingan public, patut kita aplikaskan.

Kebesaran Nabi Muhammad Saw sebagai seorang tokoh dunia yang berhasil mengubah keadaan masyarakatnya melalui pemerintahan beliau dan perubahan sosial yang dilakukan beliau sudah diakui oleh seluruh dunia dan tertoreh dalam  tulisan pujangga dan filosofis dunia. Seperti Muhammad Iqbal, Thomas carley, Arnold Toynbee, Will Durant dan Michael Hart yang menuliskan pujian yang sangat agung. Bahkan M. Hart meletakkan Nabi Muhammad Saw sebagai tokoh nomor satu di antra seratus tokoh yang paling berpengaruh di dunia. Will Durant menganggap Nabi Muhammad Saw sebagai pribadi yang lengkap, karena beliau adalah seorang sosiolog, psikolog, politisi, agamawan juga seorang pemimpin besar. Asghar Ali Enginger juga menegaskan bahwa  sosok pemimpin yang sangat redah hati, tapi berhati luhur dan berotak luar biasa cerdas. Dan meminjam istilah Antonio Gramsci dan Ali Syari’ati beliau adalah sosok intelektual organic dan rausyan fikr yang ideal. Karena dalam perjalanan hidupnya, beliau berhasil menyatukan idealisme intelektual dan aktivisme sosial sebagai pemandu perjuangan dan visi gerakan langkahnya dalam menjalani kehidupan ini.

Berangkat dari pemahaman itu saya mengawali  pembahasan saya dari situasi pemerintahan Nabi Muhammad Saw dan situasi masyarakat Arab menjelang lahirnya Islam dengan penekanan khusus pada aspek politik, ekonomi, sosial, agama dan sastra.. Lalu dilanjutkan dengan berbagai peran Nabi Muhammad Saw baik itu sebagai nabi, rasul, pendiri bangsa, pemimpin masyarakat, politik, militer, pendidikan dan sebagai perancang ekonomi. Dan di akhiri dengan sajian kondisi masyarakat dan perubahan sosial yang terjadi. Dengan mengkaji aspek-aspek itu maka akan jelas bahwa Islam lahir dalam suasana politik yang didominasi oleh dua kekuatan raksasa, yaitu Sasania (Persia) di Timur dan Bizantium (Romawi) di Barat[2].

Dan dalam waktu yang relative singkat, Islam berkembang pesat menjadi suatu kekuatan politik yang menentukan perjalanan sejarah. Di sini pun akan disajikan bagaimana peran Islam dalam menanmkan bentuk kepercayaan baru yang melahirkan sisterm sosial dan gaya hidup yang baru.

Semoga tulisan ini membawa manfaat bagi yang menulis dan membacanya sehingga dapat dimanfaatkan sebaik mungkin bagi perkembangan Islamic Education.

  1. PEMBAHASAN
    1. Pemerintaha Pada Masa Nabi Muhammad Saw

Pemerintahan Islam yang dipimpin oleh Nabi Muhammad Saw kekuasaan tertinggi ada pada syari’at Islam sebagaimana yang terkandung dalam Al-Qur’an, berlaku bagi seluruh ummat Islam termasuk Nabi Muhammad Saw sebagai pemimpin. Apabila ada masalah yang tidak ditetapkan dalam Al-Qur’an maka keputusannya berada di tangan Nabi.

Di sini Nabi Muhammad Saw menjabat peran ganda yaitu sebagai Nabi dan sebagai kepala pemerintahan. Walau Nabi Muhammad Saw menjabat otoritas tertinggi, namun beliau sering mengajak musyawarah para sahabat untuk memutuskan masalah-masalah penting.

Kebijakan pertama yang dilakukan Nabi Muhammad Saw di Madinah adalah membangun masjid yang dikenal sebagai Masjid Nabawi, yang menjadi pusat kegiatan pemerintahan Islam. Selain sebagai tempat ibadah, juga berfungsi sebagai kantor pemerintah pusat dan peradilan. Perjanjijan dan jamuan terhadap delegasi asing, penetapan surat perintah kepada para gubernur dan pengumpulan pajak pun diselenggarakan di masjid.

Sebagai hakim, Nabi memeriksa dan memutuskan perkara di masjid. Nabi Muhammad Saw merupakan orang yang pertama kali memperkenalkan kepada masyarakat Arab tentang sisterm pendapatan dan pembelanjaan pemerintahan.

Beliau mendirikan lembaga kekayaan masyarakat di Madinah. Lima sumber utama pendapat Negara Islam yaitu zakat, jizyah[3], kharaj[4], ghanimah[5], dan al-fay[6]. Zakat merupakan kewajiban bagi setiap muslim atas harta kekekayaan yang berupa binatang ternak, hasil pertanian, emas, perak, harta perdagangan dan pendapatan lainnya yang diperoleh seseorang.

Nabi Muhammad Saw juga merupakan pimpinan tertinggi tentara muslim. Beliau turut serta dalam peperangan dan ekspedisi militer. Bahkan memimpin beberapa perang besar seperti perang Badar[7],Uhud, Khandaq[8], Hunayn[9], Tabuk[10] dan dalam penaklukan kota Makkah. Peperangan dan ekspedisi yang lebih kecil diserahkan kepada para komandan yang ditunjuk oleh Nabi.

Nabi Muhammad Saw juga selalu mendorong masyarakat untuk giat belajar. Setelah hijrah ke Madinah, Nabi mengambil prakasa mendirikan lembaga pendidikan. Pasukan Quraisy yang tertawan dalam perang Badar dibebaskan dengan syarat setiap mereka mengajarkan baca tulis kepada sepuluh anak-anak muslim. Sejak saat itu kegiatan belajar baca tulis dan kegiatan pendidikan lainnya berkembang dengan pesat di kalangan masyarakat. Dan ketika Islam telah tersebar ke seluruh penjuru jazirah Arab, Nabi mengatur pengiriman guru-guru untuk ditugaskan mengajarkan al-Qur’an kepada masyarakat suku-suku terpencil.

  1. Peran Nabi Muhammad Saw

Selain sebagai Nabi bagi seluruh umatnya, dalam perkembangan Islam selanjutnya Nabi menduduki peranan yang sangat penting, di antaranya:

  1. Nabi Muhammad Saw Sebagai Nabi Dan Rasul

Sebagai Nabi dan rasul, Nabi Muhammad Saw mendakwahkan agama Islam dengan akhlak yang sesuai dengan Al-Qur’an. Sebagiai da’i beliau menunjukkan sifat-sifat sabar, lemah lembut, toleransi, tega dan istiqomah dalam ajaran yang dibawanya, terutama tentang aspek akidah. Beliau juga melakukan aktifitas dakwah dengan dedikasi yang sangat tinggi.

  1. Nabi Muhammad Saw Sebagai Pendiri Bangsa

Nabi Muhammad Saw tidak sekedar sebagai pembaharu masyarakatnya, tetapi Nabi Muhammad Saw juga berperan sebagai pendiri bangsa yang besar. Nabi berjuang pada tahap awal dengan mendrikan sebuah kebangsaan dengan menyatukan para pemeluknya, lalu beliau merancang sebuah imperium yang dibangun berdasarkan kesepakatan dan kerjasama berbagai kelompok yang terkait. Pada saat awal ini, Nabi Muhammad Saw berhasil mendirikan sebuah Negara Madinah, yang semula hanya terdiri dari suatu kelompok masyarakat yang heterogen satu sama yang lainnya saling bermusuhana. Maka dengan hadirnya Nabi Muhammad Saw masyarakat Madinah menjadi bersatu dalam kesatuan Negara Madinah. Selajutnya Nabi Muhammad Saw memberlakukan beberapa ketentuan hukum untuk semua tanpa pengecualian dalam kedudukan yang sama, tidak mengenal perbedaan kedudukan karena nasab, kelas sosial dan lain sebagainya.

  1. Nabi Muhammad Saw Sebagai Pemimpin Masyarakat

Peran Nabi Muhammad Saw dapat kita lihat juga sebagai pemimpin masyarakat ketika beliau sampai di Madinah, beliau berhasil menghapus permusuhan tradisi di antara suku Aus dan Khazraj yang keduanya digabungkan oleh Nabi Muhammad Saw menjadi golongan Anshar. Setelah itu, golongan Anshar ini digabungkan pula dengan orang-orang Quraisy yang datang dari Mekkah dan biasa disebut golongan Muhajirin. Dengan demikian keberhasilan Baginda merupakan tokoh pertama yang menyatukan bangsa Arab yang berasal dari keturunan yang berbeda menjadi satu umat yang kuat dan kokoh. Selain itu, sebagai pemimpin, beliau telah menentukan beberapa hal yang menjamin kesejahteraan masyarakatnya. Antara lain: ibadah, munakahat, jenayah, kenegaraan dan sebagainya.

  1. Nabi Muhammad Saw Sebagai Pemimpin Politik

Keunggulan Nabi Muhammad Saw sebagai pemimpin politik dapat kita lihat dari beberapa hal, antaranya:

-          Menyelesaikan Masalah Perpindahan Hajar Al-Aswad Ke Tempat Asal

Nabi Muhammad Saw menunjukkan citra kepemimpinanya ketika berhasil menyelesaikan masalah yang timbul di kalangan pemimpin bani-bani dalam kabilah Quraisy yang merebutkan hak untuk meletakkan hajarul aswad di tempatnya yang asa di penjuru dinding ka’bah. Peristiwa itu terjadi setelah kota Mekkah dilanda banjir dan sebagiian bangunan ka’bah runtuh. Ketika akan meletakkan hajar aswad ketempat semula yaitu di sudut dinding Ka’bah, bani-bani di Mekkah saling memperebutkannya. Karena batu itu dianggap sangat suci dan mulia sehingga hanya tangan yang mulia dari bani atau suku yang mulia saja yang layak meletakkan batu itu ke tempat semula. Akhrnya mereka memililih Nabi Muhammad Saw sebagai hakim untuk meyelesaikan masalah tersebut. Lalu Nabi Muhammad Saw meletakkan batu tersebut di atas sehelai kain. Setelah itu setiap wakil Bani memegang bagian ujung kain tersebut dan bersama-sama mengangkatnya. Nabi Muhammad Saw sendiri meletakkan batu tersebut ke tempat asalnya di sudut Ka’bah. Solusi dari Nabi Muhammad Saw menyebabkan seuruh pihak yang terlibat konflik itu merasa puas.

-          Membentuk Piagam Madinah

Pada tahun pertama Hijriah Nabi Muhammad Saw brhasil melahirkan piagam Madinah[11] yang merupakan perlembagaan tertulis yang pertama di dunia. Piagam Madinah ini berhasil mewujudkan sebuah Negara Islam yang pertama di dunia yang terdiri dari banyaknya rakyat dan ragam agama. Sesungguhnya perlembagaan ini lebih bersifat satu alat untuk menyelesaikan masalah masyarakat majemuk yang ingin hidup aman dan damai dalam sebuah Negara yang sama. Dengan kata lain, ini adalah teori dan aplikasi toleransi yang pertama  kali di lahirkan oleh Nabi Muhammad Saw sebagai pioneer sekaligus adanya legitimasi secara tidak langsung dari seluruh masyarakatnya baik yang telah memeluk Islam maupun yang belum.

-          Mengadakan Perjanjian Hudaibiah

Perhanjian Hudaibiah yang diadakan di antara umat Islam Madinah dengan kaum Quraisy Mekah merupakan satu lagi bukti yang menunjukkan bahwa beliau Nabi Muhammad Saw adalah pemimpin yang sangat bijaksana. Tak ada satupun yang menyangkalnya termasuk Sayyidina Umar sendiri bahwa perjanjian Husaibiah yang dianggap kontroversi itu telah memberikan ketegasan pada kaum Quraisy dalam semua bidang. Sebagai buktinya, setelah perjanjian Hudaibiyah, tiga pahlawan unggulan Quraisy yaitu Khalid bin Walid, Amr bin Ash, dan Osman bin Talba memeluk Islam, umat Islam bertambah sebanyak lebih dari lima kali lipat dari dua tahun saja. Serta tewasnya Mekkah tanpa pertumpahan darah dua tahun kemudian. Jelaslah sudah bahwa Nabi Muhammad Saw membuktikan kebijaksanaannya dalam dunia percaturuan politik tanah Arab.

-          Mengadakan Hubungan Diplomat

Walaupun Nabi Muhammad Saw buta huruf, namun beliau membuktikan kualitasnya sebagai seorang pemimpin sebuah kerajaan. Beliau mengadakan hubungan diplomatic dan mengirim utusan-utusan ke berbagai daerah di dalam dan di luar Tanah Arab seperti Habsyah, Farsi Byzantine, Ghassan, Hirah, dan lain sebagainya.

  1. Nabi Muhammad Saw Sebagai Pemimpin Militer

Nabi Muhammad Saw meletakkan akidah, syariat dan akhlak yang mulia sebagai asas kepemimpinannya. Beliau dan sahabatnya menetapkan dasar tertentu semasa perang seperti: tidak memerangi orang lemah, orang tua dan anak-anak serta wanita, tidak memusnahkan harta benda. Beliau juga mengaplikasikan sifat amanah dalam melaksanakan perintah Allah dan juga seluruh umat Islam dalam memimpin. Nabi Muhammad Saw bersifat adil terhadap harta rampasan perang, yaitu dengan membaginya secara rata pada tentara yang turut dalam peperangan dan tidak mengejar musuh yag sudah lari dari medan peperangan. Nabi Muhammad Saw adalah panglima tentara dan ahli strategi. Dengan ilmu dan pengalaman yang luas, beliau berhasil membawa kejayaan kepada tentara Islam.

  1. Nabi Muhammad Saw Sebagai Perancang Ekonomi

System ekonomi yang dikembangkan sebelumya adalah system ekonomi kapitasis dan absolutistic yang berpusat pada suku-suku tertentu. Nabi Muhammad Saw datang untuk  memperkenalkan system ekonomi baru yang menggantikan dasar ekonomi zaman Jahiliah. Beliau menggalakkan icon kerja keras dan rajin dalam bidang perniagaan dan pertanian. Nabi Muhammad Saw telah membangun ekonomi umat Islam seperti menebus blik dan mengolah tanah yang tergadai kepada kaum Yahudi.

  1. Kondisi Sosial Masyarakat Dan Perubahan Sosial Yang Terjadi

Periode Madinah adalah pekerjaan besar yang di lakukan oleh Rasulullah Saw berupa pembinaan terhadap masyarakat Islam yang baru terbentuk. Karena masyarakat merupakan wadah dari pengembangan suatu kebudayaan maka diletakkan pula dasar-dasar Islam[12]. Ini merupakan representasi dari sejumlah nilai dan norma yang mengatur manusia dan masyarakat dalam hal yang berkaitan dengan ibadah, sosial, ekonomi dan politik yang bersumber dari al-qur’an dan sunnah.

Ada banyak hal yang dirubah pada masa pemerintahan Nabi Muhammad Saw khususnya dalam era periodisasi Islam, antara lain:

  1. Politik

Seperti yang kita ketahui bahawa Arab pra Islam didominasi oleh dua kerajaan besar yaitu Bizantium dan Persia sehingga secara geografis Mekkah tidak hanya sulit dijangkau tapi juga sikap pemimpinnya yang menjalankan politik non-blok sehingga Negara-negara Asing menaruh hormat terhadap bangsa Arab pada saat itu. Setelah datangnya Islam, kebijakan politik itu pada awanya tetap dipertahankan, namun dengan berkembangnya Islam kebijakan itu mengalami perubahan menjadi sebuah kebijakan yang tidak hanya sekedar memihak salah satu Negara adi kuasa yang ada saat itu, tapi sudah mulai menancapkan pengaruhnya ke dalam daerah-daerah di bawah kekuasaannya[13].

Selain itu, tentang pemilihan pemimpin, bangsa Arab sudah memilliki nilai-nilai demokratis dengan dipraktikannya  musyawarah. Mereka memilih pemimpin yang bijaksana dan adil dan menekanan senioritas serta pengalaan berdasarkan kesepakatan bersama.

Kemudian model kepemimpinan tersebut dilanjutkan dan disempurnakan oleh Islam sebagaimana dapat kita lihat pada model kepemimpinan Nabi Muhammad Saw dan Khilafa Rasyidin. Yaitu model pemilihan yang tidak hanya didominasi oleh salah satu kaum atau suku Arab. Islam mengajarkan bahwa kepemimpinan bisa diperoleh  oleh kaum atau suku manapun asaka ia memenuhi kuaifikasi adil, egalite dan fraternity[14].

Demikian pula dengan ghanimah yang pembagiannya disempurnakan oleh Islam dengan bervisi adil dan pemerataan yaitu nabi, keluarga, memelihara anak yatim da administrasi Negara mendapat seperlima sedangkan sisanya di bagi sesuai dengan kualitas tentara.[15]

  1. Ekonomi

Dua ratus tahun sebelum masa kenabian Nabi Muhammad Saw, Arab sudah mengenal peralatan pertaniah semi modern[16]. Mereka pun mampu membuat bendungan raksasa yang dinamakan al-ma’arib. Mereka menggunakan tiga sistem dalam mengelola pertanian yaitu sewa menyewa, bagi hasil produk, dan sistem pandego.

Mekkah juga merupakan jalur persilangan ekonomi internasional sehinggga Mekkah memiliki peranan penting dan strategis untuk berpartisipasi dalam dunia perekonomian. Mereka digolongkan menjadi tiga yaitu, kolongmerat yang memiliki modal, pedagang yang mengolah modal dan para perampok dan rakyat biasa yang memberikan jaminan keamanan kepada para khafilah pedagang.[17]

Dapat dipahami bahwa tradisi pertanian dan perdagangan di Arab sebenarnya sudah ada jauh sebelum Islam, namun tidak ada landasan keadilan dan persamaan di dalamnya. Ini bisa kita lihat dietika permodalan dikuasai oleh elite politik penguasa permodalan.

Islam lalu memasukkan nilai-nilai keadilan dan persamaan dalam perekonomian masyarakat Arab. Sehingga tidak ada lagi monopoi perekonomian dan perbudakan serta mengimplementasikan niai keadilan,kejujuran dan kesamaan sehingga tidak ada yang dirugikan.

  1. Sosial

Tidak disesalkan apabila masyarakat arab mempunyai sifat keras dan perilaku yang kasar, karena hal ini dipengarhi oleh factor geografis negaranya yang bertanah tandus, berdebu, berpasir dan berbatu. Dikenalnya masyarakat arab sebagai masyarakat jahiliyyah lebih tepatnya karena mereka memiliki moral yang rendah. Walaupun tidak semuanya, tapi kepala sukulah yang memiliki muru’ah.

Strategi perng mereka terdiri dari lima pasukan inti, yaitu al-Muqaddam (pasukan pembawa bendera), al-Maimanah (sayap kanan),  al-Maisarah (sayap kiri), al-saqaya (pasukan pembawa obat-obatan serta sukarelawan) dan al-Qalb (pasukan inti). Strategi ini diadopsi total oleh Nabi Muhammad Saw dalam melakukan peperangan melawan orang-orang kafir Quraisy[18].

Mereka juga memiliki fanatis terhadap suku yang sangat tinggi sehingga kesenjangan perekonomian pun Nampak sangat mencolok. Selain itu, terdapat pula tradisi penguburan anak perempuan hidup-hidup pada beberapa suku. Juga menganut tradisi perkawinan mut’ah, zawaq, istibda, khadn, mutadamidah, badal, syighar, maq, saby, hamba sahaya, antar saudara lelaki dan saudara wanitanya atau ayah dan putrinya, atau suami istri[19].

Kondisi sosial arab tidak semuanya jelek, hanya saja ada beberapa yang perlu diperbaiki khususnya tatanan kehidupan sosialnya.karena itu setelah Islam datang kebiasaan mengubur anak perempuan hidup-hidup, tradisi perkawinan yang sama sekali tidak menghargai perempuan serta perlakuan yang tidak manusiawi terhadap budak-budak, Islam mengarahkan masyarakat arab tentang kemanusiaan dan memberikan world view yang luas tentang keberagamaan, kesamaan dan penghargaan terhadap gender. Konkritnya Islam mengajarkan agar memiliki istri maksimal empat, itupun jika suami bisa berbuat adil. Perlu digaris bawahi bahwa dalam konteks sekarang sangat perlu tafsiran yang baru dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berkembang saat ini.

  1. Sastra

Sastra jahiliyyah adalah cermin langsung bagi seluruh kehidupan bangsa arab pra Islam, karena di dalamnya dapat kita lihat kehidupan, alam, budaya dan peradaban yang murni maupun yang telah dipengaruhi oleh bangsa asing.

Namun demikian ada beberapa syair arab yang  sangat imaginer dan simbolis sehingga sulit dicerna oleh kalangan umum. Sastra Arab telah melahirkan penyair-penyair yang handal sehingga tidak heran jika umat Islam dikenal dengan kemahirannya membuat syair dan puisi yang mengandung unsur spiritual theologs dan humanism yang kental.[20]

  1. Agama

Mesikpun tidak berpengaruh besar, namun Yahudi dan Nasrani telah berkembang jauh sebelum Islam lahir di Mekkah. Melainkan kuatnya paganisme[21] yang bercokol dalan keberagamaan mereka. Ini merupakan pengkomparasian antara vetieisme[22], toteisme[23] dan animisme[24]. Namun adapula yang menganut ajaran hanif dari nabi Ibrahim a.s.

Di sinilah  Islam membawa dan mengarahkan bangsa arab untuk memiliki keimanan yang proporsional kepada Allah SWT. Islam meluruskan keimanan dan aqidah mereka yang tidak bisa disamakan dengan semua jenis makhluk di dunia ini. Di sinlah peran vital Islam  memberikan pemahaman tentang tauhid yang tidak hanya sekedar terbatas pada pengesaan Tuhan, tapi juga kemanusiaan yag kemudian diwujudkan dalam bentuk persamaan dan keadilan.

  1. Bargaining Position Islam Terhadap Peradaban Dunia Pasca Kepemimpinan Nabi Muhammad Saw

Sejarah telah mencatat sekian prestasi gemilang Muhammad. Bangsa Arab yang mula-mula hanya kabilah-kabilah yang saling memerangi satu sama lain, mudah dipecah-belah dan tidak menjadi subjek terhadap antroposentris sejarah bangsa-bangsa besar di Dunia. Walhasil, ajaran-ajaran Islam menjadi titik tolak semangat eksplorasi dan kejayaan bangsa Arab. Sangat bijak kiranya Michael H. Hart memposisikan Nabi Muhammad Saw sebagai tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah. Apakah pengaruh Nabi Muhammad yang paling mendasar terhadap sejarah umat manusia? Seperti halnya agama yang lain, Islam punya pengaruh luar biasa besrnya terhadap para penganutnya. Jika diukur dari jumlah banyaknya pemeluk agama Nasrani dua kali lipat besarnya dari pemeluk agama Islam, dengan sendirinya timbul tanda Tanya apa alas an menempatkan urutan Nabi Muhammad Saw lebih tinggi dari Nabi Isa dalam daftar tokoh yang paling berpengaruh?

Ada dua alasan pokok, menurut Michael H. Hart. Pertama, Nabi Muhammad Saw memainkan peranan jauh lebih pentin dalam pengembangan Islam ketimbang peranan Nabi Isa terhadap agama Nasrani. Biarpun Nabi Isa bertanggung jawab terhadap ajaran-ajaran pokok moral dan etika Kristen. Sebaliknya dengan Nabiyullah Muhammad bukan saja bertanggungjawab terhadap teologi Islam tapi sekaligus juga terhadap pokok-pokok etika dan moralnya. Di samping itu pula dia pencatat Kitab Suci al-Qur’an, kumpulan wahyu kepada Nabi Muhammad Saw yang diyakininya berasal langsung dari Allah. Sebagian terbesar dari wahyu ini disalin dengan penuh kesungguhan hingga kini. Dengan demikian al-Qur’an berkaitan erat dengan pandangan-pandangan Nabi Muhammad serta ajaran-ajarannya karena beliau bersandar pada wahyu Tuhan. Sebaliknya tak ada satupun kumpulan yang begitu terperinci dari ajaran-ajaran Nabi Isa yang masih dapat dijumpai di masa sekarang. Karena al-Qur’an bagi kaum Muslim sedikit banyak sama pentingnya dengan Injil bagi kaum Nasrani, pengaruh Muhammad dengan perantaraan al-Qur’an teramatlah besarnya. Kemungkinan pengaruh Nabi Muhammad dalam Islam lebih besar dari pengaruh Nabi Isa dan St. Paul dalam dunia Kristen digabung jadi satu.

Kedua, berbeda dengan Nabi Isa, Nabi Muhammad bukan semata pemimpin agama tapi juga pemimpin duniawi. Fakta menunjukkan selaku kekuatan pendorong terhadap gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab, pengaruh kepemimpinan politiknya berada dalam posisi terdepan sepanjang waktu. Membentang dari Irak hingga Maroko, terbentang rantai bangsa Arab yang berstu, bukan semata berkat anutan agama Islam tapi juga dari sudut bahasa Arabnya , sejarah dan kebudayaan. Posisi sentral al-Qur’an di kalangan kaum Muslimin dan tertulisnya dalam bahasa Arab, merupakan sebab yang sangat rasional mengapa bahasa Arab tidak terpecah-pecah ke dalam dialek-dialek yang berantakan.

Hingga Nabi kita Muhammad Saw telah wafat, ajaran-ajarannya senantiasa menjiwai dada kaum muslimin. Beliaulah orang pertama dalam sejarah, berkat dorongan kuat kepercayaan kepada keesaan Allah, pasukan Arab yang kecil mampu melakukan serentetan penaklukan yang mencengangkan dalam sejarah manusia.

Perlu dicatat pula bahwwa Islam bukanlah agama haus darah . Hal ini jelas sekali kita ketahui ketika Beliau memberi amnesty kepada kaum kafir Quraisy ketika kembali ke Mekkah. Sebuah penaklukan yang sangat indah dalam sejarah. Tanpa adanya pertumpahan darah, meskipun secara manusiawi balas dendam adalah hal yang sangat mendasar, namun beliau tidak melakukannya. Di era media global dan komunisasi instant saat ini, bermunculan banyak statemen sensasional yang menyudutkan Islam. Islam yang dihadirkan media Barat sebagai teroris, pembunuh berdarah dingin, rasial, dan lainnya. Hal ini sebagai titik distorsi pemahaman Barat tentang Islam. Paradigma Islam yang dideskripsikan Nabi dalam periode penaklukan Mekkah menjadi sanggahan yang sangat kuat untuk itu.

  1. PENUTUP

Seorang penulis biographi Nabi Muhammad yang cukup dikenal, yaitu Muhammad Ahmad Djadil Maula Beik dalam bukunya Muhammad al-Matsalul Kamil mengemukakan tiga macam kerja raksasa yang dibawa Nabi Muhammad Saw yang telah dapat direalisasikan selama masa kerasulannya yang berlangsung selama 23 tahun, yaitu 13 tahun di kota Mekkah dan 10 tahun di kota Madinah. Semoga ini dapat menjadi stimulus bagi kita semua para generasi Muslim muda untuk lebih memajukan dunia ini dengan cinta Islam.

‘Ala kulli hal, makalah ini tidak luput dari kekurangan dan kealpaan. Karena itu kritik dan saran amat penulis harapkan. Semoga setiap amal kebaikan kita diridai Allah Swt. Amin.

  1. KESIMPULAN

Dari beberapa uraian di atas dapat saya simpulkan bahwa pemerintahan Nabi Muhammad Saw adalah suatu karya cipta pemerintahan yang sempurna melalui usaha yang tidaklah mudah. Dan merupakan reperesentasi dari pemerintahan yang berdaulat.. Modal intelektual kepemimpinan Nabi Muhammad Saw adalah pelajaran bagaimana meneumbuhkan rasa kebersaman dan optimisme dala bingkai ketaatan. Perjalanan kepemimpinan Nabi Muhammad Saw adalah suatu proses kreatif dan berlangsung secara continue, berkembang dan beradaptasi denga kebutuhan. Intelektual capital merupakan konsep yang tidak dapat ditawar lagi dalam membangun sebuah tim menjadi lebih baik. Dengan kalimat lain, intelektual capital ini berfungsi untuk learn how to learn da sebagai uatan utama dalam membangun performance management of war.

Selain itu, sebenarnya bangsa arab memiliki khasanah tersendiri di bidang politik, ekonomi, sosial, sastra dan agama. Lalu proses interaksi yang dilalui Islam melahirkan pemeliharaan dan pengembangan beberapa hal seperti system moral, tata pergaulan strategi perang dan hokum keluarga. Islam juga memperbaiki dan menyempurnakan system tersebut dengan kadar dan kodrat manusia. Dan dengan didukung oleh kreatifitas umat Islam, al –qur’an dan sunah memberikan perubahan yang nyata tentang pandangan dunia, tujuan hidup, peribadatan dan sebagainya yang mejadikannya sebagai core system dari pemikiran dan peradaban Islam.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Sejarah Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997

Aqqod, Abbas Mahmod, Keagungan Muhammah Saw, Solo: pustaka Mantik 1994

Ar-raziq, Ali Abd, Islam Dasar-Dasar Pemerintahan, Yogyakarta: Penerbit Jendela, 2002.

Esposito, John, Dinamika Kebangkitan Islam, Jakarta: Rajawali, 1987.

Hart, Michael H., Seratus Tokoh yang paling Berpengaruh dalam Sejarah, Terj. H. Mahbub Djunaidi, Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1982.

Karim,Abdul, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: pustaka Book Publisher, 2007

Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam, Yogyakarta: Fakultas Adab, 2002

Nurhakim, Muhammad, , Malang: UMM Press, 2004

Team Penyusun Text Book Sejarah dan Kebudayaan Islam Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI, Sejarah dan Kebudayaan Islam (Ujung Pandang Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama IA IN “Alauddin” Ujung Pandang, 1981/1982

Yatim, Bari,  Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyyah II, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004

Widjan, Aden, dkk,  Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: PSI UII, 2007


[1] Tentunya hal ini seharusnya bisa kita transfer ke Negara kita yang sedang sakit ini

[2] Sebagai catatan bahwa pemikiran Timur (Persia-India) bercorak isoteris sedangkan pemikiran Barat (Bizantium) bercorak eksoteris. Datangnya Islam menyerap dua konsep pemikiran tersebut sehingga pemikiran Islam menjadi berimbang/ummatan washatan. Lihat, Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, (Yogyakarta: pustaka Book Publisher, 2007), h. 38-41.

[3] Jizyah merupakan pajak yang dipungut dari masyarakat non muslim sebagai biaya penggantian atas jaminan keamanan jiwa dan harta benda mereka. Penguasa Islam wajib mengembalikan jizyah jika tidak berhasil menjamin dan melindungi jiwa dan harta kekayaan masyarakat non muslim.

[4] Kharaj merupakan pajak atas kepemilikan tanah yang dipungut kepada masyarakat non muslim yang memiliki tanah pertanian.

[5] Ghanimah adalah hasil rampasan perang yang 4/5 dari ghanimah tersebut dibagikan kepada pasukan yang turut berperang dan sisanya yaitu 1/5 didistribusikan untuk keperluan keluarga Nabi, anak-anak yatim, fakir miskin dan untuk kepentingan masyarakat umum.

[6] Al-Fay’ pada umumnya diartikan sebagai tanah-tanah yang berada di wilaya negeri yang ditaklukkan, kemudian menjadi harta milik Negara. Dan pada masa Nabi Muhammad Saw, Negara memiliki tanah-tanah pertaniah yang luas yang hasilnya dimanfaatkan untuk kepentingan umum masyarakat.

[7] Perang Badar adalah perang pertama yang sangat menentukan masa depan Negara Islam. Ini merupakan perang antara kaum Muslimin dengan musyrik Quraisy. Pada tanggal 8 Ramadhan tahun ke 2 Hijriah. Nabi bersama 305 orang Muslim bergerak keluar kota membawa perlengkapan yang sedehana. Di daerah badar, kurang lebih 120 km dari Madinah, pasukan nabi bertemu dengan pasukan Quraisy yang berjumlah sekitar 900 samapi 1000 orang, dan nabi sendiri sebagai komandan. Dalam perang ini kaum Muslimin keluar sebagai pemenang. Lihat, Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyyah II, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), h. 27.

[8] Perang ini disebut juga perang Ahzab karena musuh yang menyerang Madinah terdiri dari berbagai golongan yang bersekutu. Disebut khandaq karena menggunakan parit sebagai benteng pertahanan. Lihat juga dalam Al-Qur’an surat ke 33. dalam perang ini gugur enam orang sahabat Rasulullah dan dari pihak lawan tiga orang. Dari sini rasulullah belajar bahwa taktik bertahan tidak menguntungkan sehingga perang-perang berikutnya Rasulullah menggunakan taktik menyerang ketika musuh sudah jelas siap akan menyerang. Sehingga serangan yang dilakukan tetap dalam rangka pembelaan diri. Lihat, Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam, (Yogyakarta: Fakultas Adab, 2002), h. 37.

[9] Perang Hunain merupakan perang umat Islam yang melawan Bani Tsaqif di Taif dan Bani Hawazin di antara Taif dan Makkah yang berkomplot untuk memerangi Islam. Dalam perang ini Nabi mengerahkan kira-kira 12.000 tetara menuju Hunayn untuk menghadapi mereka. Tentara Islam memenangkan pertempurang dalam waktu yang tidak terlalu lama. Lihat, Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyyah II, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), h. 32

[10] Perang Tabuk merupakan perang terakhir yang diikuti Rauslullah Saw. Perang ini melawan pasukan Heraklius yang mundur melihat banyak pahlawan Islam yag siap berperang melawan nabi. Namun nabi tidak melakukan pengejaran tetapi berkemah di Tabuk. Lihat: Badri, Sejarah, h. 32.

[11] Piagam Madinah menyepakati lima perjanjian, yaitu: tiap kelompok dijamin kebebasannya dalam beragama, tiap kelompok berhak menghukum anggota kelompoknya yang bersalah, tiap kelompok arus saling membantu dalam mempertahankan Madinah, baik yang muslim maupun yang non muslim, penduduk Madinah semuanya sepakat mengangkat Nabi Muhammad Saw sebagai pemimpinnya dan memberi keputusan hokum segala perkara yang dihadapkan kepadanya dan meletakkan landasan berpolitik, ekonomi dan kemasyarakatan bagi negeri Madinah yang baru terbentuk. Lihat, Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007), h. 70.

[12] Team Penyusun Text Book Sejarah dan Kebudayaan Islam Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI, Sejarah dan Kebudayaan Islam (Ujung Pandang Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama IAIN “Alauddin” Ujung Pandang, 1981/1982), h. 46. Lihat juga, , Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam, (Yogyakarta: Fakultas Adab, 2002), h. 30.

[13] Arab pada saat itu terbagi menjadi tiga daerah, yaitu daerah selatan (Himayar), daerah utaa (Petra, Gazah) dan di tengah (Kindi). Lihat. Aden Widjan, dkk. Pemikiran dan Peradaban Islam, (Yogyakarta: PSI UII, 2007), h. 7-9.

[14] Lihat, Q. S. 49: 10, 13 dan 49.

[15] Aden, Pemikiran, h. 9

[16] M. Abdul, Sejarah, h. 54

[17] Aden, Pemikiran, h. 10-11

[18]Karim, Sejarah, , h. 53

[19] Aden, Pemikiran,, h. 15

[20] Karim, Sejarah, h. 59

[21] Paganisme adalah penyembahan terhadap berhala

[22] Vetieisme adalah kepercayaan yang diwujudkan dalam bentuk penyembahan terhadapa benda sperti batu dan kayu.

[23] Toteisme adalah pengkultusan terhadap hewan atau tumbuh-tumbuhan yang dianggap suci.

[24] Animisme adalah kepercayaan terhadap roh baik dan jahat yang berpengaruh dalam kehidupan manusia.

Add a comment April 1, 2010

Manajemen Sumber Daya Manusia

KOMPENSASI (Dalam Manajemen Sumber Daya Manusia)


  1. PENDAHULUAN

Liding dongeng pendidikan dan guru pada umumnya, di negri zamrud khatulistiwa selama ini memang tidak direken, diabaikan dan menempati prioritas kesekian. Realisasi angka anggaran APBN yang harus bocor di sana-sini sehingga anggaran yang menetes sampai di bawah pun dapat pembaca bayangkan sendiri. Memang alokasi dana pendidikan bukan satu-satunya factor dan ukuran, namun dampaknya sangat terasa hingga kini oleh penikmat pendidikan. Sehingga jangan heran ketika ada tukang ojek nyambi jadi guru, dan jangan heran pula ada guru TK bergaji hanya 2$US (baca: lebih kurang dua puluh ribu rupiah). Akibat yang lebih jauh adalah suber daya manusia yang rendah, tingkat disiplin warga dan aparat Negara yang juga rendah, gejala ribalisme dan belum ada tanda-tanda realisasi perbaikan hingga saat ini.

Bicara tentang perbaikan pendidikan di Indonesia, pertama dan paling utama yang harus diperbaiki adalah kondisi guru. Bukan yang lain. Gedung sekolah boleh saja ambruk, tapi kalau gurunya cerdas dan kreatif, proses belajar mengajar tetap akan berlangsung dengan baik, walau belajar di bawah pohon, tengah sawah dengan dan tanpa peralatan dan laboratoriumpun bisa dilaksanakan.

Karena itu agar kinerjanya baik maka ada banyak hal yang harus terpenuhi, salah satuna adalah well paid atau dengan kata lain kompensasi yang mampu memenuhi kesejahteraan guru. Sehingga tidak ada lagi cerita, guru ngantuk ketika mengajar karena kebanyakan ngerjain lemburan proyek catering, atau guru sering gak masuk karena sibuk jualan pakaian. Miris kan…karena itulah sebagai salah satu komponen dalam dunia pendidikan, pemberdayaan Sumber Daya Manusia dengan memperhatikan aspek kompensasi pun tidak bisa dianggap sebelah mata.

Tidak dapat disangkal bahwa motivasi dasar bagi kebanyakan orang menjadi pegawai (guru) pada suatu lembaga tertentu adalah untuk mencari nafkah. Karena itu kompensasi dipandang sebagai salah satu tantangan yang harus dihadapi oleh manajemen suatu lembaga. Ini adalah suatu tantangan karena kompensasi oleh penikmatnya tidak lagi dipandang semata-mata sebagai alat pemenuh kebutuhan materialnya akan tetapi sudah dikaitkan dengan harkat dan martabatnya. Karena itulah sebaiknya suatu lembaga lebih memperhatikan apa itu kompensasi beserta seluruh aspek yang meliputinya.

Apabila suatu lembaga tidak dapat mengembangkan dan menerapkan suatu system kompensasi yang memuaskan, maka lembaga tersebut bukan hanya akan kehilangan tenaga-tenaga trampilnya dan berkemampuan tinggi tapi juga akan kalah bersaing dengan lembaga lainnya. Karena itulah kita sebagai calon pengelola lembaga (pendidikan) harus memahami apa itu kompensasi khususnya dalam manajemen sumber daya manusia. Dalam makalah ini saya akan mengawali tulisan saya dari pengertian kompensasi, fungsi kompensasi, macam-macam kompensasi, motede penentuan tingkat kompensasi,  factor-faktor yang mempengaruhi besarnya kompensasi dan di akhiri dengan penyajian kompensasi dalam dunia pendidikan.

  1. PEMBAHASAN
    1. Pengertian Kompensasi

Kompensasi mungkin merupakan fungsi manajemen personalia yang paling sulit dan membingungkan. Bukan hanya karena pemberian kompensasi merupakan salah satu tugas yang paling kompleks, tetapi juga salah satu aspek yang paling berarti baik bagi karyawan maupun organisasi. Meskipun kompensasi harus mempunyai dasar yang logic rasional dan dapat dipertahankan, hal ini menyangkut banyak factor emosional dari sudut pandang para karyawan.

T. Hani Handoko mengartikan kompensasi sebagai segala sesuatu yang diterima para karyawan sebagai balas jasa untuk kerja mereka.[1] Melalui kompensasi inilah suatu lembaga meningkatkan prestasi kerja, motivasi dan kepuasan kerja karyawan. Khususnya bagi bagian personalia yang biasanya merancang dan mengadministrasikan kompensasi karyawan.

Sedangkan Sihotang mendefinisikan kompensasi sebagai pengaturan keseluruhan pemberian balas jasa bagi pegawai dan para manajer baik berupa financial maupun barang jasa pelayanan yang diterima oleh setiap karyawan.[2] Arti penting kompensasi itu akan dapat meningkatkan prestasi kerja. Kepuasan kerja dan dapat juga untuk memotivasi karyawan. Apabila kompensasi yang diterima setiap karyawan sesuai dengan jumlah yang diharapkan dari pekerjaan itu, maka dapat disebut telah mencapai tingkat kepuasa kerja sekaligus merasa telah tercipta rasa keadilan di dalam hubungan kerja.

Untuk lebih jelasnya definisi kompensasi menurut beberapa ahli, antara lain sebagai berikut:[3]

  1. Drs. Malayu SP. Hasibuan

Adalah semua pendapatan yang berbentuk uang, barang langsung dan tidak langsung yang diterima karyawan sebagai imbalan atas jasa yang diberikan kepada perusahaan atau lembaga.

  1. Willian B. Werther dan Keith Davis

Adalah apa yang seseorang pekerja terima sebagai balasan dari pekerjaan yang diberikannya. Baik upah per jam ataupun gaji periodic didesain dan dikelola oleh bagian personalia.

  1. Andrew E. Sikula

Adalah segala sesuatu yang dikonstitusikan atau dianggap sebagai suatu balasan jasa.

Dari beberapa pengertian di atas jelaslah pentingnya kompensasi ini untuk karyawan dan perusahaan atau lembaga sehingga membuat anggota tim kerja dapat bekerja sama dan berprestasi dengan optimal.

Begitupula dalam pemberian kompensasi di sebuah lembaga pendidikan memiliki pengertian yang sama, pentingnya untuk mempertahankan kelangsungan hidup lembaga dan pengajar serta pegawainya secara bertanggung jawab. Pengaturan kompensasi pada instansi pemeringtah pun sudah diatur dan ditetapkan dengan UU dan PP dengan jalur hokum positif. Bebeda dengan pengaturan kompensasi pada perusahaan swasta yang diatur sendiri oleh masing-masing perusahaan sesuai dengan kondisi kemampuan yang bersangkutan sehingga wajar kalau kompensasi pegawai negri lebih kecil dibanding mereka.

Perlu dipahami pula bahwa pengertian kompensasi lebih luas dari pada pembayaran gaji dan upah, karena gaji dan upah lebih menekankan pada wujud financial saja. Sedangkan kompensasi mencakup balas jasa berupa uang dan fasilitas lain berupa perumahan, tunjangan beras dan sembako termasuk kesehatan.

Singkatnya  kompensasi adalah imbalan yang diterima seseorang baik dalam financial maupun fasilitas karena dia bekerja di tempat tersebut sehingga  kompensasi menempati posisi sebagai factor penting khususnya bagi guru, pegawai maupun karyawan di manapun karena disadari atau tidak, uang adalah factor penting dalam kehidupan yang dapat meningkatkan motivasi walaupun sulit untuk bisa memuaskan manusia.

  1. Fungsi Kompensasi

Fungsi kompensasi antara lain sebagai berikut:[4]

  1. Ikatan kerjasama

Dengan kompensasi, terjalinlah ikatan kerjasama formal antara lembaga dengan karyawan, sehingga tugas dapat dikerjakan dengan baik.

  1. Kepuasan kerja

Dengan kompensasi dapat memenuhi kebutuhan fisik, stasus social, dan egolistiknya sehingga memperoleh kepuasan kerja dari jabatannya.

  1. Memperolah dan mempertahankan pegawai yang berkualitas

Sebuah lembaga ingin mendapatkan pegawai yang bekerja secara professional tertarik untuk melamar ditempatnya dan tidak tertarik untuk keluar atau pindah ke lembaga lain. Karena itu perlu diberi kompensasi yang sesuai dan dijaga agar tetap kompetitif dengan lembaga yang lain. Bahkan jika kompensasinya ditetapkan cukup besar, pengadaan pegawai atau karyawan yang qualified pun lebih mudah.

  1. Memotivasi pegawai untuk berprestasi tinggi

Pegawai yang telah masuk harus memberikan kontribusi yang diharapkan lembaga setinggi-tingginya sesuai dengan kemampuan mereka. Karena itu kebijakan dalam system imbalan harus dirancang sedemikian rupa sehingga mampu menstimulus gairah kerja.

  1. Mendorong peningkatan kualitas SDM dan stabilitas karyawan

Kualitas SDM harus ditingkatkan sebagai misi suatu lembaga, karena itu mengisyaratkan bahwa lembaga tersebut akan menerapkan konsep manajemen yang leibh cepat dicapai. Bila kebijakan dan system kompensasi yang digunakan juga dirancang sedemian rupa sehingga mampu merangsang lembaga untuk berminat belajar terus menerus. Dan dengan program kompensasi atas prinsip adil dan layak. Konsistensi yang kompentatif maka stabilitas pegawai akan lebih terjamin karena turn over relative kecil.

  1. Disiplin

Disiplin akan semakin baik dengan kompensasi yang cukup besar, karena mereka akan menaati peraturan yang berlaku.

  1. Mengurangi pengaruh serikat buruh dan pemerintah

Karena pegawai akan berkonsentrasi pada pekerjaannya dengan program kompensasi yang baik dan sesuai dengan UU yang berlaku.

  1. Menghargai perilaku yang diinginkan

Kompensasi hendaknya mendorong perilaku yang diinginkan. Prestasi kerja yang baik, pengalaman, kesetiaan, tanggung jawab dan perilaku lain yang dapat dihargai melaui rencana kompensasi yang efektif.

  1. Membantu mengendalikan biaya

Suatu program kompensasi yang baik dan rasional membantu organisasi untuk mendapatkan dan mempertahankan SDM pada tingkat yang layak. Sehingga tidak terjadi underpay atau overpay. Dan juga dapat memantau peningkatan biaya tenaga kerja, menilai efektivitasnya berdasarkan fungsi yang telah disebutkan dan mengevaluasi apakah seimbang atau tidak.

Karena itu fungsi kompensasi hendaknya memberi kepuasan kepada semua pihak, pegawai dapat memenuhi kebutuhannya, lembaga mendapat laba, PP ditaati, dan pengguna jasa kita puas.

  1. Macam-Macam Kompensasi

Pada instansi pemerintah dan lembaga swasta yang tergolong bonafit, sering memberikan berbagai tunjangan kepada karyawannya, antara lain berupa:[5]jabatan, perumahan, istri/suami, anak, transportasi, cuti, kesehatan, kecelakaan, dsb.

Sedangkan dalam bukunya WInarni dan Sugiyarso membagi kompensasi menjadi dua, yaitu[6]

  1. Langsung, yaitu kompensasi yang diterima secara langsung, rutin atau periodic, antara lain berupa upah atau gaji pokok, tunjangan tunai sebagai tambahan upah atau gaji, tunjangan hari raya keagamaan dan gaji ke- 13, dst, bonus, insentif, segala jenis pembagian catu yang diterima rutin, dsb.
  2. Tidak langsung, yaitu kompensasi yang tidak diterima secara rutin atau periodic yang diterima “nanti” atau “bila terjadi sesuatu”, antara lain berupa fasilitas kemudahan seprti transportasi, pemeliharaan kesehatan, dll, upah atau gaji yang tetap diterima selama ia menjalankan cuti dan izin meninggalkan pekerjaan, bantuan dan santunan untuk musibah, bantuan biaya pendidikan Cuma-Cuma, iuran Jamsostek yang dibayarkan perusahaan, iuran dana pension, premi asuransi jiwa, dll.
  3. Metode Penentuan Tingkat Kompensasi

Antara jabatan yang satu dengan yang lain berbeda penentuan kompensasinya karena itu harus dilakukan dengan perhitungan yang tepat sehingga mencegah ketidakpuasan dari pegawai. Ada beberapa cara untuk menentukan tingkat kompensasi , antara lain:

  1. Survei tentang kompensasi

Terutama untuk mendapatkan keadilan eksternal. Memang bukan hal yang mudah tapi bisa dilakukan secara formal (yang biasanya lebih sering mendapat kendala) atau secara informan (berdasarkan hubungan pertemanan).

  1. Melakukan evaluasi jabatan

Yaitu menilai bobot atau harga suatu pekerjaan dalam rangka menentukan tingkat kompensasi yang layak diterima oleh pemegang jabatan tersebut. Ada beberapa metode untuk melakukan evaluasi jabatan, yaitu:[7]

  1. Metode penetapan urutan jabatan, meliputi: mencari informasi tentang suatu jabatan (analisi jabatan), memilih penilaian dan jabatan yang akan dinilai, memilih factor pembanding, mengurutkan jabatan.
  2. Metode klasifikasi
  3. Metode nilai
  4. Metode dengan menggunakan factor pembanding
  5. Evaluasi jabatan yang menggunakan system komputerisasi.
  6. Mengelompokkan pekerjaan ke tiap jenjang kompensasi
  7. Menetapkan besar kompensasi
  8. Memastikan tingkat kompensasi
  9. Keadilan Kompensasi

Suatu lembaga harus mempraktikkan prinsip keadilan dalam penetapan kebijaksanaan kompensasinya, antara lain:[8]

  1. Keadilan dalam pemberian kompensasinya

Ini harus sesuai dengan keadilan social seluruth rakyat yaitu proporsional dan sebanding dengan tingkat kontribusi dan partisipasi setiap oragn. Dr. Heidjrahman Ranupandoyo mengatakan bahwa dalam pemberian kompensasi harus dapat dikaitkan antara pengorbanan dengan produktivitas hasil yang diberikan.

  1. Keadilan eksternal kompensasi

Yaitu tariff kompensasi yang pantas dengan jumlah relative sama dan berlaku pada pekerjaan yang serupa di pasar kerja eksternal. Misalnya honor dosen per SKS di Universitas Mpu Tantular hamper sama atau sama persis dengan honor dosen di Tri Sakti per SKS tatap muka. Demikian juga dengan honor dosen di Universitas Ahmad Dahlan. Tariff yang relative sama ini disebut sebagai keadilan eksternal.

  1. Keadilan internal

Yaitu terdapatnya keseimbangan antara masukan yang diberikan dengan hasil yang diperoleh.

  1. Keadilan individu tentang kompensasi

Yaitu individu merasakan bahwa mereka diperlakukan secara wajar da adil disbanding dengan rekan sekerja mereka. Sehingga tidak terdapat unsure diskriminasi.

  1. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Besarnya Kompensasi

Ada beberapa factor yang mempengaruhi besarnya kompensasi, yaitu: penawaran dan permintaan tenaga kerja kemampuan dan kesediaan perusahaan serikat buruh atau organisasi karyawan, produktifitas kerja karyawan, pemeringath dengan UU da kePerPresnya, cost of lving, posisi jabatan karyawan, pendidikan dan pengalaman karyawan, kondisi perekonomian nasional, jenis dan sifat pekerjaan.[9]

Sedangkan dalam buku yang lain disebutkan bahwa ada lima factor yang mempengaruhi besarnya kompensasi, yaitu: tingkat upah dan gaji yang berlaku, tuntutan serikat pekerja, produktivitas, kerjasama organisasi mengenai upah dan gaji, Peraturan Pemerintah.[10]

Beberapa hal di atas harus diperhatikan secara menyeluruh agar proses pelaksanaan pekerjaan di lembaga dapat berjalan dengan baik.

  1. Kompensasi dalam Pendidikan: Guru

Miris pabila kita mulai membahas kompensasi dalam pendidikan khususnya dalam pendidikan Islam kita. Berbagai pemasalahan sepertinya tidak mau berhenti mendampingi mulai dari gaji guru yang sangat pas-pasan, tunjangan yang tidak adil, kesejahteraan yang kurang terjamin dan masih banyak lagi.

Kondisi di lapangan memperlihatkan bahwa penghargaan terhadap jabatan profesi guru belum sejajar dengan profesi lain. Bahkan banyak guru merasa kurang bangga dengan predikat gurunya. Menurut Arif Rachaman, banyak orang tidak mau menjadi guru karena penghargaan terhadap profesi ini secara ekonomi tergolong kecil. Jika pemikiran dan opini seperti ini langgeng dalam masyarakat, maka jangan heran jika pada gilirannya yang mau menjadi guru adalah orang-orang yang tidak terlalu cerdas karena lebih memilih profesi lain yang menurut opini masyarakat cukup menjanjikan.

Guru tidak bias lagi dihibur dengan gelar pahlawan tanpa tanda jasa yang sangat identik dengan keprihatinan. Status guru dengan julukan Umar Bakri pun secara social budaya masih menempati kelas ke sekian dibandingkan dengan profesi-profesi lainnya yang juga setingkat sarjana. Padahal peran guru menentukan perjalanan bangsa. Semakin tinggi tingkat penghargaan yang diberikan kepada guru, semakin tinggi pula pengabdian dan dedikasi guru terhadap profesinya. Karena itulah dibutuhkan tindakan nyata dari pemerintah yang tidak terhenti pada lahirnya sebuah kebijakan baru.

Meskipun gaji khusus pun tidak memberi jaminan professional guru karena bagaimana pun mengukur kembali kompetensi gurupun perlu dilakukan. Namun apakah kebijakan kenaikan gaji guru di awal 2008 ini bisa diterapkan secara tepat dan komprehensif dengan semua kewajiban dan resiko yang harus guru jalani. Terlebih guru-guru kita yang harus dengan lapang dada menerima gaji pada tanggal 60 setiap bulannya? Ironi sekali bukan? Menerima gaji tiga bulan sekali sementara itu dia harus menyibukkan dirinya mencari hutang kesana kemari. Tentunya masih banyak lagi hal yang memprihatinkan dialami oleh guru-guru kita.

Buru bantupun diharapkan lebih diperhatikan kesejahteraannya oleh pemerintah, karena guru Bantu pun telah ikut membantu pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Mereka melaksanakan tugas tersebut dengan penuh rasa tanggung jawab dan dilandasi semangat pengabdian yang tinggi.

Di Cilacap misalnya, selama ini guru Bantu hanya menerima honor Rp 425.000/bulan. Honor sebesar ini saya kira belum sesuai dengan pengabdian dan jenjang pendidikan mereka. Sebab semua guru Bantu berpendidikan sarjana.[11]

Agar seorang guru bermartabat dan mampu “membangun” manusia muda, berapa seharusnya gaji yang pantas? Kita ambil paradigma pendidikan klasik Yunani Kuno. Sekitar abad ke-6 SM, di masyarakat polis Yunani sudah muncul kelompok guru profesional yang disebut kaum sofis, yang mengajar anak-anak muda Yunani. Kaum sofis ini mahir dalam ilmu mengajar, dialektika, dan retorika, mempunyai status terhormat di masyarakat polis sehingga disebut kaum cendekiawan yang dikontrak mahal untuk mengajar. Dalam catatan sejarawan pendidikan HI Marrou dijelaskan gaji yang diminta guru Protagoras untuk mendidik seorang anak selama tiga tahun adalah 10.000 drachma dan 1 drachma sama dengan gaji sehari seorang tukang profesional saat itu (HI Marrou 1986). Jika dikonversi dengan gaji seorang kepala tukang profesional di Indonesia kini-katakan sekitar Rp 70.000-itu berarti gaji seorang guru di zaman Yunani Kuno adalah Rp 19.444.000 per bulan! Bandingkan dengan gaji guru di Indonesia saat ini dengan masa kerja 33 tahun hanya bergaji pokok Rp 1 juta .[12]

Tren pembangunan manusia LPMI 2004, yang menggunakan pendekatan kuantitatif, berujung pada penambahan anggaran dan itu pas untuk memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia. Namun, perspektif Amartya Sen perlu diterapkan karena menekankan pendekatan kualitas dalam pembangunan manusia dan menggarisbawahi kapabilitas, kesejahteraan, kemerdekaan, dan hak asasi.

Jika Bambang Sudibyo ingin dikenang sebagai Mendiknas yang manusiawi, ia perlu memperjuangkan aplikasi peningkatan anggaran pendidikan. Namun, anggaran itu bukan untuk dikorupsi atau pemekaran berbagai direktorat yang rawan inefisiensi, melainkan untuk memanusiawikan para guru bangsa agar mereka sejahtera, bangga akan profesinya sebagai guru, mampu membeli buku-buku pedagogis-didaktis, dan mempunyai “waktu luang” untuk membaca dan berlibur setahun sekali bersama keluarganya. Tanpa guru yang bermartabat, manusiawi, sejahtera, dan profesional, mutu pendidikan kita akan tetap rendah meski anggaran pendidikan mencapai 20 persen. Bangsa yang bermartabat adalah bangsa yang mau menjadikan guru anak-anak bangsa bermartabat dan sejahtera.

Oemar Bakri…Oemar Bakri pegawai negri jadi guru jujur berbakti memang makan hati! Kata Iwan Fals (apalagi GTT, Guru Tidak Tetap). Tapi tidak bijak juga kalau kita, para guru dan insane pendidikan, hanya mengeluh dan merintih. Tidak akan berubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu berusaha mengubahnya (Hadits Nabi Muhammad SAW sang guru sejati kita). Artinya kalau pemerintah masih lamban, lembaga-lembaga pendidikan masih bingung sementara pendidik (guru-guru) tidak sabar lagi untuk berubah menjadi lebih baik maka perlu usaha sendiri sekuat tenaga dan pikiran, secara sungguh-sungguh untuk memperbaiki keadaan (Jihat! Kata Abah Yai).

III. KESIMPULAN

  1. Kompensasi adalah imbalan yang diterima seseorang baik dalam bentuk financial maupun fasilitas karena dia bekerja di tempat tersebut termasuk non financial  berupa tunjangan kesehatan, tunjangan anak, fasilitas mobil, fasilitas parker, dan lain sebagainya.
  2. Fungsi kompensasi hendaknya memberi kepuasan kepada semua pihak agar dapat meningkatkan kualitasnya dengan optimal.
  3. Kompensasi dibagi menjadi dua oleh Winarni dan Sugiyarso yaitu kompensasi langsung dan kompensasi tidak langsung
  4. Ada beberapa cara untuk menentukan tingkat kompensasi, yaitu survey tentang kompensasi, melakukan evaluasi jabatan, mengelompokkan pekerjaan ke tiap jenjang kompensasi, menetapkan besar kompensasi dan memastikan tingkat kompensasi.
  5. Prinsip keadilan dalam penetapan kebijaksanaan kompensasi, antara lain keadilan dalam pemberian kompensasi, keadilan eksternal kompensasi, keadilan internal dan keadilan individu tentang kompensasi.
  6. Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya kompensasi antara lain tingkat upah yang berlaku, produktifitas, Peraturan Pemerintah, Undang-Undang, dan lain sebagainya.
  7. Kompensasi dalam dunia pendidikan khususnya bagi guru perlu lebih diperhatikan lagi tidak hanya sebagai guru tanpa tanda jasa tapi juga bagaimana kesejahteraanya karena peran guru yang begitu urgen sebagai pondasi kecerdasan masyarakatnya.

IV. PENUTUP

Demikian sedikit pemaparan makalah yang sangat sederhana ini, sebelum diakhiri, penulis ingin menyisipkan pesan dari Arai, seorang lakon dalam novel Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata, bahwa tanpa mimpi dan semangat, orang seperti kita akan mati. Boleh saja permasalahan selalu menggelayuti dunia pendidikan kita, namun semangat tidak boleh luntur dari jiwa kita untuk memotivasi kita menata kembali serpihan mozaik-mozaik keberhasilan pendidikan kita khususnya untuk membentuk sosok pengelola pedidikan yang memiliki sumber daya manusia yang terbaik.

Semoga bermanfaat khususnya bagi pelaksanaan kompensasi yang sangat berperan penting dalam dunia pendidikan kita.

DAFTAR PUSTAKA

Cahayani, Ati, Strategi Kebijakan Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: Ikrar Mandiri Abadi, 2005.

Handoko, T. Tani, Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia Edisi 2, Yogyakarta: BPFE, 1992

Hasibuan, Malayu SP, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: Bumi Aksara, 2007.

Siagian, Sondang P, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: Bumi Aksara, 1993.

Sugiyarso, dan Winarni, Administrasi Gaji dan Upah, Yogyakarta: Agromedia Pustaka, 2006.

Sihotang, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: Pradnya Paramita, 2007.

Tambuan, Frietz R., http://www.atmajaya.ac.id/content.asp?f=0&id=926, Download, 4 April 2008.


[1] T. Hani Hanoko, Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia, Yogyakarta: BPFE., 1992, h. 155

[2] Sihotang, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: Pradnya Paramita, 2007, h. 220.

[3] Malayu SP. Hasibuan, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: Bumi Aksara, 2007, h. 118-120

[4] Selengkapnya baca, Hani Handoko… h. 156-158, Winarni dan Sugiyarso…h.23-24, dan Hasibuan…h. 121-122

[5] Sihotang, Manajemen Suber Daya Manusia, Jakarta:Pradnya Paramita, 2007,h. 222

[6] Winarni dan SUgiarso, Administrasi Gaji dan Upah, Yogyakarta: Pustaka WIdyatama,2006, h. 10-12

[7] Ati Cahayani, Strategi dan Kebijakan Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: Ikrar Mandiri Abadi, 2005, h. 86-87

[8] Sihotang, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: Pradnya Paramita, 2007, h. 233-234

[9] Malayu SP. Hasibuan, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: Bumi Aksara, 2007, h. 127

[10] Sondang P. Siagian, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: Bumi Aksara, 1993, h. 265-267

[11] http://www.suaramerdeka.com/harian/0406/16/ban03.htm

[12] Frietz R. Tambunan, http://www.atmajaya.ac.id/content.asp?f=0&id=926, download 4 April 2008

2 komentar April 1, 2010

Salsabila

Nez Arsip

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 8 pengikut lainnya.

Nez Facebook

Nez Yahoo

Nez Penanggalan

April 2010
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Klik favorite ^_^

Komentar Terakhir

printer parts on Manajemen Sumber Daya Man…
Mitsubishi Cakung on PARFUM DAN PEREMPUAN: Sebuah K…
Umi Arifah Yunianing… on AKTA MENGAJAR YANG DIKEJA…
PEMIKIRAN PENDIDIKAN… on PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM K.H…
auliah siska on Manajemen Sumber Daya Man…

Pos-pos Terakhir

Halaman

Kategori

Arsip

Tulisan Teratas

Blogroll

Meta

Yuk Gabung di twitterku

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.